Dunia Lingga

Fototerapi Karena Bayi Kuning, Berapa Biayanya?



Sewaktu Arfa lahir, alhamdulillah tidak mengalami gejala bayi kuning (jaundice) hingga harus fototerapi (terapi sinar biru). Karena Arfa lahap menyusuinya dan selalui saya jemur setiap hari.  Lumayan juga kan kalau harus menginap lagi di RS karena bayi kuning, belum lagi biaya dan fisik yang pasti terkuras.

Ketika Filza lahir, saya merasa tidak ada yang salah. Dokter anak pun membolehkan adik pulang. Sampai di rumah, adik sukanya tidur dan tidur. Kadang harus saya bangunkan untuk menyusui. Meski begitu, setiap kali menyusui adik juga lahap.

Sayangnya saat adik lahir, saya memang jarang menjemurnya saat pagi karena cuaca selalu mendung. Maklumlah musim hujan, pagi hingga sore matahari tak mau muncul.

Awalnya saya nggak terlalu curiga kulit adik menguning. Saya sih melihat bagian putih matanya tidak putih, justru sedikit kekuningan. Mungkin mata baru lahir seperti itu, pikir saya. Jadi saya nggak khawatir adik terkena jaundice. 

Malah yang mengkhawatirkan, adik batuk pilek parah. Apalagi kalau bukan tertular kakaknya. Sampai-sampai napasnya sesak, bunyinya grok-grok begitu. Namanya batuk pilek kan penyakit common cold. Kata dr Apin, anak sakit batuk pilek kuncinya sabar dan gendong.

Cuma kan orang-orang di sekitar yang khawatir, kenapa adik nggak berobat saja. Mau nggak mau saya dan suami mencari rumah sakit yang bisa nebu atau menguap adik biar batuk pileknya mereda.

Pilihan jatuh pada RSIA Aisyiyah Klaten. Pagi-pagi kami ke rumah sakit dekat bypass itu. Setelah sampai, adik harus didaftarkan terlebih dahulu, diukur berat badannya dan informasi lainnya. Adik dapat urutan keempat kalau tidak salah.

Karena masih pagi, kami dilayani di IGD. Poli anak belum buka saat itu. Nama adik dipanggil untuk observasi. Saat itu ada perawat dan dokter jaga. Napas adik diperiksa dan detak jantungnya juga. Wajah dokter mulai berubah.

"Ini sepertinya kuning, ibu"kata dokter yakin.

Sambil mengecek mata dan kulit adik, dokter meyakinkan kami bahwa adik harus di tes laboratorium karena terlihat kuning.

Tes lab bayi kuning
Kemudian dokter membawa peralatan untik menyuntik adik. Arfa yang melihat diminta untuk keluar ruangan. Jadi suami dan Arfa di luar, saya menunggu adik di ruangan. Oweeeeekkk...tangisan adik pecah saat disuntik. Sedih sih lihatnya, tapi saya harus kuat terlebih jika harus menginap di rumah sakit.

Hasil lab keluar setengah jam kemudian. Kadar bilirubin adik 13 mg/dl. Cukup tinggi karena maksimal kadarnya 10 mg/dl. Dokter jaga belum memutuskan apakah adik harus dirawat atau tidak karena menunggu keputusan dokter anak.

Dokter anak kemudian menginformasikan adik harus menginap di rumah sakit, di ruang khusus fototerapi BBRT. Saya yang saat itu tanpa persiapan, agak shock mendengar saran dokter. Kasian adik harus menginap di RS, pasti nggak nyaman.

Kenapa harus difototerapi? Kata dokter, kelebihan bilirubin ini jika tidak diterapi bisa berbahaya buat kesehatan adik terutama bisa menembus ke otak  dan merusak sel-sel otak. Sebenarnya kondisi bayi kuning wajar karena memang organ hatinya belum berkembang sempurna. Alhasil, bilirubin yang seharusnya dibuang terhambat saat dikeluarkan. Kondisi bayi kuning biasanya terjadi selama seminggu, nah adik sudah lebih dari itu.

Akhirnya, mau tidak mau adik harus menginap di RS Aisyiyah Klaten untuk fototerapi. Suami saat itu mendampingi dan menghubungi keluarga untuk membawakan baju ganti dan alat mandi.

Setelah itu, saya disuruh menunggu di ruang tunggu BBRT. Ada sekitar lima kasur yang disediakan untuk ibu-ibu yang menunggu bayi yang difototerapi. Terdapat telepon yang akan berdering memanggil nama ibu yang bayinya menangis atau mengalami masalah tertentu.

Sejak siang adik sudah difototerapi. Bajunya dilepas, menyisakan popok saja. Sementara kedua matanya ditutup kassa kemudian dilapisi penutup. Hal ini untuk menjaga matanya dari sinar fototerapi.

Adik kemudian ditaruh dikasur fototerapi. Apa reaksinya? Nangiiis kejeer masya Allah..namanya juga di tempat baru, mata ditutup dan baju dilepas. Adik nggak berhenti-hentinya menangis. Sedih sekali saya saat itu, tapi saya harus kuat.

Alhasil saya harus masuk dan duduk menjaga adik, lebih sering menggendongnya di dekat kasur. Lelahnya jangan ditanya, karena adik nggak mau ditidurkan. Pinggang saya rasanya mau copot, bahu pegal-pegal dan mata berkunang. Saya jadi merasakan ibu-ibu yang sehari-harinya harus menginap di RS karena anak sakit.

Di sebelah saya, seorang ibu baru yang juga anaknya harus difototerapi kerap kali bukan berada di ruang BBRT, namun di ruang tunggu karena bayinya tidak rewel dan sering tidur. Namun sayang, kadar bilirubinnya lebih tinggi dari adik Filza yakni sekitr 17 mg/dl, sehingga harus menginap di RS Aisyiyah lebih lama.

Karena adik nggak mau dilepas, praktis saya duduk dari siang hingga dini hari. Luar biasa, ditinggal ke kamar kecil dan beristirahat di ruang tunggu sebentar saya langsung ditelepon dari ruang BBRT. "Halo, ibu Lingga, anak Filza menangis,"begitu terus setiap 15 menit sekali. 

Selama fototerapi, adik buang air kecil sangat sering. Popok 2 jam sekali sudah penuh, mungkin gara-gara nggak lepas menyusui. Sementara buang air besar sebanyak satu kali selama fototerapi. Untuk peralatan seperti popok, tisu basah dan keperluan adik tidak disediakan oleh pihak RS. Tapi kita bisa membelinya di koperasi karyawan RS yang cukup lengkap.

Kalau soal pelayanan, perawat-perawatnya agak cuek yah. "Kalau bisa ganti popok sendiri lebih baik, ibu.."kata salah satu suster. Duh...sebeel sih...tapi ya sudahlah..

Pagi harinya adik dimandikan sementara saya disuruh istirahat. Pukul 10.00, adik di tes lab untuk mengetahui hasil bilirubinnya. Kalau di bawah 10mg/dl adik bisa pulang. Hampir satu jam setelah adik diambil darahnya, hasilnya positif. Kadar bilirubin total adik turun menjadi 9 mg/dl. Alhamdulillah..adik nggak harus lama-lama menginap di rumah sakit.

Setelah itu, proses administrasipun tiba. Karena adik nggak pakai BPJS Kesehatan, fototerapi pakai biaya pribadi. Untuk biaya fototerapi mulai dari kamar hingga obat sekitar Rp 1,3 juta. Lumayan juga pikir saya, coba kalau sampai berhari-hari..Tapi namanya juga biar sehat, biaya berapapun akan dikeluarkan, apalagi untuk anak. Pernah punya pengalaman serupa anak harus difototerapi?



Subscribe to receive free email updates:

11 Responses to "Fototerapi Karena Bayi Kuning, Berapa Biayanya?"

  1. Beberapa waktu lalu anak teman kantor saya juga alami kuning.
    Sayangnya berhubung belum ada dokter spesialis anak di Jayapura, akhirnya anaknya dirujuk ke Makassar dan syukur sudah membaik.
    Kayaknya kalo soal biaya, apa aja pasti disanggupin orang tua ya demi kesehatan anaknya :)

    ReplyDelete
  2. Mahal sekali biayanya. Tapi demi anak ya bu semua akan dilakukan. Dulu waku bayi saya kuning saya jemur sampai berhari2, Alhamdulillah teratasi semuanya

    ReplyDelete
  3. Iya biaya bayi opname itu gede. SID sejuta lebih juga di RS Muhammadiyah. Dulu sempat kuning :(

    ReplyDelete
  4. Aduh, perawatnya bikin gemes ya bun. Btw, bayiku jg smpt kuning loh dulu. Baru tau soal fototerapi begini. Dulu ak jemur aj dy kalau pagi. Untungnya gapapa. Smg sehat terus ya debaynya. :)

    ReplyDelete
  5. Baru tau kalau biaya semahal itu...semoga anak sehat selalu ya...,

    Ngeliat anak sakit rasanya kok pengen ditukar kita yang sakit...

    ReplyDelete
  6. Mereka nggak mau direpotkan dengan mengganti popok bayi ya, ada ibunya kok, mungkin mereka pikir begitu. Btw lumayan harganya untuk waktu singkat begitu, gimana kalau berhari-hari, btw mbak aku lihat video diluar negeri seringkali dokter merekomendasikan sesuatu bukan karena kebutuhan pasien, tapi karena ingin menguntungkan diri dan instansi tempatnya bekerja, jadi bertanya-tanya bagaimana dinegara ini, setiap lihat kasus orang saya selalu curiga jadinya

    ReplyDelete
  7. semoga sehat selalu ya mbak anaknya

    ReplyDelete
  8. Demi anak dan kesehatan semua akan dilakukan ya mbak. Semoga sehat selalu anaknya mbak.

    ReplyDelete
  9. Anakku yang kedua juga waktu bayi nangis kejer kalau diperiksa dokter. Tapi waktu itu bukan karena kuning sih. Semoga anak-anak sehat terus ya mba

    ReplyDelete
  10. Lumayan juga ya biayanya, semoga adek selalu disehatkan ya Mba Lingga.

    ReplyDelete
  11. Anak saya juga sempat kuning dan dirawat 4 harian malah. Jujur saya ga tau biayanya berapa karena kebetulan ditanggung asuransi kantor suami. Tapi berkat artikel ini jadi ada gambaran biaya yang dikeluarkan waktu itu.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)