Dunia Lingga

Membuka Mata dan Hati Lewat Kearifan Lokal Masyarakat Raja Ampat



Menjelajahi nusantara bukan berarti kau memiliki beragam foto bagus di daerah tersebut, selfie dan membaginya di sosial media. Tapi perjalanan yang bisa membuka mata dan hatimu. Perjalanan yang membawa pengetahuan, toleransi dan kebaikan dalam hatimu. Perjalanan dengan memori terbaik yang ditangkap oleh kedua mata dan juga hati.

Cerita bermula ketika saya berkesempatan menjelajahi surga di timur Indonesia, Raja Ampat. Bukannya mudah menjelajahi The Ultimate Pristine Paradise di Papua Barat ini. Kesempatan yang takkan datang dua kali karena saya memenangkan lomba menulis. 

Seperti yang kita tahu, perjalanan ke timur Indonesia ini memang menantang, terutama dari segi biaya. Jauhnya perjalanan dan akomodasi yang cukup mahal acap kali membuat traveler berpikir ulang untuk mengunjungi kepulauan yang terdiri dari 1.500 pulau-pulau kecil ini.

Pada awalnya saya juga agak khawatir karena berpikir orang-orang Papua punya pemikiran tertutup, jauh dari kesan ramah dan galak. Namun, perjalanan kali ini membuka mata dan pikiran saya bahwa, surga di timur Indonesia ini membuka wawasan saya tentang toleransi, budaya, hingga kearifan lokalnya luar biasa.
Foto-foto sebelum menuju Sorong

Saya bersama dua teman saya Koh Deddy Huang dan Mba Levina bertemu di Bandara Soekarno Hatta menuju Sorong, Papua. Untuk menuju Raja Ampat bisa menggunakan penerbangan dari Jakarta atau Bali ke Sorong melalui Makassar atau Ambon dan Manado. 

Kami transit di Bandara Internasional Sultan Hasanudin Makassar. Namun, ada penerbangan langsung Jakarta-Sorong dengan pesawat Garuda Indonesia yang tersedia setiap harinya. Kita juga bisa pesan tiket pesawat Garuda Indonesia lewat website atau aplikasi Skyscanner.

Karena transit terlebih dahulu di Makassar, perjalanan menjadi lebih panjang. Tak mengapa, karena itulah perjalanan, menemukan hal-hal baru yang bisa diambil hikmahnya. Melihat lalu lalang orang berwajah khas Timur menuju Sorong sambil menjinjing oleh-oleh. Mungkin di antara mereka sudah lama tak berjumpa dengan sanak keluarga. Mungkin di antara mereka, ada keluarga yang menunggu pelukan hangat nan penuh sayang.

Memang ini bukan perjalanan pertama saya yang cukup jauh, namun, perjalanan kali ini terasa sakral karena saya mendapat banyak pembelajaran dari jelajah secuil nusantara ini. Saya dan kawan-kawan tiba di Bandara Domine Eduark Osok Sorong pagi hari. Telepon berdering kencang, rupanya Bu Uce, pemilik penginapan Wombon Swadiwe sudah menunggu kami. 

Layaknya angkot di Jawa. Foto by Deddy Huang

Saya berkenalan dengan teman satu rombongan yang ternyata memiliki karakter unik masing-masing. Ada kakak beradik Hanna dan Aris yang pendiam, pasangan suami istri muda Temmy dan Andre yang energik. Ada juga emak-emak gaul tante Fitri, Elpina dan Erika. Juga Mishella dan Devika, kakak beradik yang penuh semangat.

Sebelum menuju Pelabuhan Pelayaran Rakyat Sorong, kami membeli berbagai perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan di penginapan. Perjalanan di Sorong membuka mata saya bahwa pulau dengan julukan Kepala Burung ini sudah sangat modern, layaknya kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mungkin sebagian dari kita berpikiran Papua itu kuno, Papua itu tertinggal. 

"Jangan salah, kami pun selalu apdet berita loh, Mbak!"kata Bu Uce.

Ferry Bahari Ekspress yang berwarna merah

Memang perbedaannya, transportasi dan makanan masih mahal. Karena sebagian besar didatangkan dari Pulau Jawa. Seperti nasi ayam kremes yang saya makan di sebuah warung makan Sunda, seporsinya bisa sampai Rp 50.000. Lumayan harganya untuk sekadar makan di warung nasi. Memang perlu jadi perhatian pemerintah agar warga Papua bisa menikmati kemudahan transportasi dan akomodasi.

Penginapan kami terletak di Wasai, salah satu dari empat pulau besar di Kabupaten Raja Ampat. Sementara tiga pulau besar lainnya yakni Batanta, Salawati dan Misool. Untuk jadwal keberangkatan ferry cepat Bahari Express pada Senin, Rabu dan Jumat pukul 09.00 dan pukul 14.00. Sementara hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu hanya ada satu kali keberangkatan pada pukul 14.00.

Sayangnya, jadwal keberangkatan konon kerap kali molor. Kami berangkat pukul 15.00, menunggu sekitar satu jam sampai mesin ferry dinyalakan. Ferry memang cukup bersih, namun karena pendingin udara tidak berfungsi, saya mencoba naik ke lantai dua. Melihat birunya laut dan deburan ombak bersahut-sahut dengan angin laut. 

Dengar pepatah yang mengatakan, bumi ini bagaikan buku, tanpa menjelajahinya, kita hanya membaca halaman pertama. Dengan perjalanan ini saya dapat bertemu dengan wajah-wajah baru, karakter baru dan pelajaran baru. 
Menikmati sore di Wombon Swadiwe Homestay

Akhirnya kami sampai di penginapan dengan menempuh dua jam perjalanan. Wombon Swadiwe Homestay di Pulau Mansuar. Melihat pulau ini, membuat saya berdecak kagum. Pantai pasir putihnya indah. Air lautnya pun sangat jernih sehingga saya bisa langsung melihat biota laut di dalamnya. Di pulau ini juga kita bisa langsung snorkeling atau sekadar duduk-duduk di putihnya pasir pantai. Benar-benar pengalaman yang menakjubkan bisa menghirup udara di belahan bumi Allah lainnya ini.

Homestay di sini dikelola masyarakat lokal. Harganya pun terjangkau, per kepala hanya Rp 250.000-Rp400.000. Bandingkan dengan resort yang harganya bisa mencapai Rp1,5juta per malam. Dengan menginap di homestay, saya juga banyak belajar tentang kebudayaan dan juga kulinernya. Kami berkenalan dengan pengurus homestay di sini. Juru masak ada Kak Usi dan Kak Pesi. Sementara di bagian perahu ada Kak Richard, Kapten Noak, Manim dan Pak Hengki sebagai mekanik. 

Anak-anak Papua yang pemberani

Terdapat tiga homestay dengan masing-masing dua kamar. Ada satu ruangan besar untuk makan bersama. Kamar mandinya cukup bersih dan terdapat WC duduknya. Di dalam kamar di pasang kelambu untuk menangkal serangga-serangga jahat berkeliaran. 

Semburat jingga dari arah barat semakin tampak. Suara deburan ombak bersahutan dengan bunyi mesin boat penduduk sekitar. Saya melihat anak usia tujuh tahunan menjalankan perahu tanpa dengan cekatan. Wah, inilah wajah kehidupan masyarakat pesisir, pikir saya. Tak ada pilihan selain harus bisa melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan orang dewasa, termasuk perahu cukup besar yang ia kemudikan.

Merasakan kuliner laut yang menggugah selera

Pikiran menerawang saya dikejutkan suara dari tempat makan. "Teman-teman..makanan sudah siap,"kata Andre. Mendekati tempat makan, saya mencium bau ikan bakar. Perut pun tanpa dikomando berbunyi kencang. 

Ikan yang dihidangkan cukup besar. Mereka menyebutnya ikan pelangi. Rombongan tur seperti terkena hipnotis akan nikmatnya makanan jelang maghrib ini. Ditemani tes manis hangat, kami pun saling bertukar cerita dan mendalami karakter teman-teman baru. 

"Kalian bukannya solat magrib ya? Ini sudah waktunya loh,"ingat Temmy padaku. 

Benar saja, sudah waktunya salat. Hanya saya dan Mba Levina yang harus menjalankan kewajiban salat. Meski berbeda, kawan seperjalanan kami sering mengingatkan. Saya jadi teringat sebuah petuah mengatakan, hal terbaik saat menjelajahi nusantara dan melakukan perjalanan adalah kita bisa menemukan banyak orang baik.

Belajar Kearifan Lokal dari Penduduk Setempat

Mendaki Puncak Wayag
Selama di Raja Ampat, kami melakukan banyak perjalanan laut, bisa sampai lima jam perjalanan satu kali destinasi. Kami menuju ke gugusan pulay Wayag yang terkenal dan sering ada di kalender-kalender. Selama di perahu, kami banyak bercengkerama dan juga tidur. 
Menghormati keberagaman selama perjalanan

Kak Richard, pemandu sekaligus penunjuk arah adalah asal Bima. Ia merantau ke Raja Ampat dan menjadi pemandu tur kami di sini. Perawakannya besar dengan kulit hitam eksotis, menandakan ia banyak menghabiskan waktu di pantai. 

Icad panggilannya. Ia kerap menjelaskan mengenai sejarah tempat yang kami sambangi. Di Desa Selpele misalnya, ia dengan cekatan memberikan uang satu juta Rupiah sebagai tanda masuk ke gugusan Wayag. "Ini buat kemajuan Wayag, kakak.."ungkapnya.

Perjalanan ke Wayag mencapai akhirnya. Kapal disandarkan ke tepian tebing batu karst. Tebingnya cukup tinggi dengan bebatuan kapur menghiasi. Kak Icad bilang, kami sudah sampai di lokasi.

Kak Icad yang penuh keberanian saat memberikan makan hiu

Semua terdiam seakan tak percaya. "Seriously?"tanya Tante Fitri pada Icad.

Icad mengangguk mengiyakan dengan muka datarnya. Kami kira ia bercanda, tapi ternyata tidak. Mendaki puncak Wayag saya kira sudah terdapat tangga atau jalan setapaknya. Ternyata tidak. Kami seperti melakukan panjat tebing, bisa meninggal seketika karena tidak ada pengaman, sarung tangan atau helm. Tapi semuanya penasaran, sudah jauh-jauh ke Raja Ampat tidak puas rasanya untuk melihat indahnya gugusan Wayag dari puncak tertinggi.

Meski sudah ada bekas tapak berwarna kekuningan dan kita tinggal mengikuti jalur tersebut, kita tetap perlu berhati-hati. Semua anggota tubuh bekerja. Kedua tangan digunakan untuk menjangkau bebatuan yang tak rapuh. Sementara kaki mencari pijakan yang kokoh.

Anggota badan harus berkoordinasi sempurna. Kalau tidak, bisa terperosok dan tinggal nama. Mendaki selama setengah jam belum juga terlihat puncaknya. Beberapa orang sudah sampai puncak. Sebagian dari kita juga tanpa persiapan. Pakai sepatu seadanya bahkan sendal jepit, bukan sepatu kets. Tante Erika dan Tante Fitri menyerah. Sudah sepertiga perjalanan padahal. Tante Erika hampir pingsan di perjalanan. Kami memberinya air agar tenaganya pulih kembali. Sementara saya mencoba melanjutkan perjalanan. 

Pendakian puncak Wayag yang penuh tantangan

Kaki dan dengkul mulai gemetar. Saya sesekali berhenti untuk mengatur nafas. Sesekali pula saya menenggak air minum. Seketika itu saya merasa mual. Sudah lama saya tidak naik gunung. Terakhir kali mungkin saat kuliah. Selangkah demi selangkah saya tapaki. Bebatuan mulai terasa panas. Tangan dan kaki lecet karena batu karang yang cukup tajam. Beberapa orang sudah sampai puncaknya. Saya bersusah payah untuk naik.

Lelah selama mendaki sekejap hilang melihat gugusan pulau yang memanjakan mata. Tak lupa kami mengabadikan momen langka di puncak bukit. Sebagian malah dengan berani berfoto di atas pohon untuk mendapatkan potret terbaik gugusan Wayag.

Ekspresi ketika sampai Puncak Wayag

Indahnya gugusan Wayag. Foto by Deddy Huang

Hampir setengah jam kami di puncak Wayag. Waktunya untuk turun dan makan siang. Saya memberanikan diri untuk turun secepatnya. Sayang, saat turun lelah itu semakin menjadi-jadi. Lutut seperti tak sanggup menahan beban. Sebagian rombongan mendahului saya. Saya lebih banyak berhenti untuk minum dan meredakan mual. Saat hampir sampai, rombongan sudah ada di perahu dan meneriaki saya sambil bertepuk tangan. "Ayoo mba Lingga..ayoo mba Lingga,"riuh rendah suara tepukan dari perahu. 

Bruuk..loncat dan sampailah saya di perahu dengan selamat dengan lecet dan lebam di kaki. 

Dari pendakian ini saya belajar untuk lebih bersabar, layaknya hidup penuh ujian, kadang terjal, kadang landai. Saya hirup udara dalam-dalam. Melihat Icad yang sudah terbiasa mendaki sambil membersihkan ranting-ranting kering. Saya melihat di matanya, betapa ia mencintai Raja Ampat.

Snorkeling di Desa Yenbuba dan Arborek

Bercengkrama dengan masyarakat setempat di Desa Wisata Yenbuba

Setelah mendaki Wayag dan juga Pianemo, kami bersnorkeling di Desa Arborek dan Desa Yenbuba pada hari selanjutnya. Di desa ini, tak perlu jauh-jauh untuk snorkeling. Karena di sekitar jembatan dermaga Desa Yenbuba ini biota laut sangat lengkap. Mulai dari reef fish, angel butterfly fish dan ikan karang lainnya. Belum lagi karang laut yang indah mulai dari soft coral hingga hard coral tersebar di Desa Yenbuba. 

Sebelum main air, kita mengisi perut terlebih dahulu. Icad dan Manim menyajikan makanan yang dibawa dari homestay. Ada ayam rica-rica dan sayur labuh. Sambil menyantap makanan, sesekali saya memejamkan mata, merasakan embusan angin pantai yang tenang.

Menikmati keindahan biota laut Raja Ampat 

Desa Yenbuba memang sangat tenang. Terletak di Distrik Meos Mansar, penghuni desa disini dikenal karena cintanya terhadap lingkungan. Saya sempat bertanya kepada salah satu warga Yenbuba. Katanya, tak boleh memancing di sekitar dermaga, harus mancing ke tengah-tengah.

"Tak boleh kakak, tak boleh injak karang, juga memancing. Boleh memancing tapi di sana,"kata salah satu warga Yenbuba sambil menunjuk tengah laut.  

Pun demikian dengan Desa Arborek yang kaya akan kearifan lokalnya. Desa ini masih termasuk ke dalam Distrik Meos Mansar. Suasana deburan ombak berpadu dengan lagu-lagu rohani di gereja desa terdengar sayup di telinga. Juga anginnya yang tak terlalu kencang. Desa Arborek sangat rapi dan bersih. Warga desa pun sangat ahli dalam konservasi lingkungan. Tidak boleh mancing dekat dermaga, tak boleh menginjak karang dan buang sampah sembarangan.

Saya lihat anak-anak bermain di bibir pantai. Beberapa diantaranya memakai pakaian khas Papua dengan wajah dicoret kapur putih. Lucu dan menggemaskan. 

Di desa ini, kita bisa melihat ikan dan karang yang berwarna-warni. Tak menyelampun, biota laut terlihat dengan jelas. Banyak ikan bergerak bergerombol melawan arus air. Awalnya saya memutuskan tak menyelam. Namun saya penasaran dengan keindahan bahari di dalamnya. 
Kali ini saya cukup tenang dan bisa berenang ke sisi dermaga. Ikan-ikannya cantik seakan sedang menari dan bermanja-manja.  
reef fish yang sering ditemukan di laut Raja Ampat


Masyarakat Raja Ampat sangat menjaga wilayahnya. Masyarakat dilarang memburu ikan hiu, pari, dugong dan penyu di kawasan Raja Ampat. Nelayan pun tak boleh memancing di wilayah bank ikan, tempat ikan berkembang biak. "Supaya ikan-ikan tambah banyak,"kata Icad. 

Kearifan lokal yang disebut sasi ini memang sudah jadi aturan tidak tertulis di Raja Ampat. Tradisi ini diwariskan dari leluhur untuk menjaga kehidupan hewan laut dari eksploitasi berlebihan. Pun dengan aturan Sasi darat, di mana masyarakat tidak boleh menebang pohon sembarangan. 


Saya jadi belajar, tak perlulah berkoar-koar mencintai nusantara, jika kita tidak bisa menjaga lingkungan sendiri. Tak perlulah aktif berbagai lsm lingkungan jika kita tidak menepati tradisi menjaga keseimbangan yang telah dilakukan kakek nenek kita. Saya belajar dari masyarakat Raja Ampat tentang cara mereka mencintai alam, tentang cara mereka mencintai negeri ini.

Nah, jika teman-teman ingin lebih jauh mengenal kearifan lokal di Raja Ampat, bisa loh ke sini dengan memesan tiket pesawat Garuda Indonesia di Skyscanner.  Pesan tiket pesawat di Skyscanner banyak keuntungannya karena gratis dan jujur, hemat waktu dan uang, serta merupakan situs travel terpercaya di seluruh dunia

Untuk rute penerbangan Jakarta – Sorong PP Garuda Indonesia akan semakin memudahkan para wisatawan baik dari mancanegara maupun wisatawan lokal untuk dapat menjangkau secara langsung kawasan wisata bahari Raja Ampat yang sudah sangat terkenal di dunia. Yuk, belajar lebih dekat dari masyarakat Papua yang menjaga kearifan lokal untuk lingkungannya..

 *Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

  

Subscribe to receive free email updates:

10 Responses to "Membuka Mata dan Hati Lewat Kearifan Lokal Masyarakat Raja Ampat"

  1. Wah keren, jadi pengen ke Sorong lagi. Orangnya ramah-ramah pula. Alamnya indah

    ReplyDelete
  2. Di rombongan, yang muslim cuma Mbak Lingga sama Mbak Levina doang, mbak?
    Enak kalau pas dapet temen-temen satu rombongan yang pengertian kayak gini. Meskipun berbeda keyakinan, tapi mereka tetep ngingetin kita yang muslim, buat ibadah :)

    ReplyDelete
  3. Asiknya naik garuda indonesia, aman dan nyaman. Indahnya alam indonesia terasa dekat dengan penerbangan sampai penjuru negri

    ReplyDelete
  4. suka sama photo ikan nemonya dan benar banget, perjalanan mebawa kita pada kebijakan ketika melihat dunia lain yang berbeda dengan keseharian kita

    ReplyDelete
  5. Salah satu surga bagi pemburu keindahan dunia. Semoga bisa menjejak ke sini suatu saat nanti.

    ReplyDelete
  6. seru banget ya mbak bisa ke raja ampat dan belajar tentang kearifan lokalnya. kepingin suatu hari bisa kesana, sepupuku ada yang sudah menetap di sorong. tapi mengingat biaya yang lumayan mahal, lebih mahal dari tiket PP ke eropa, kayaknya aku harus bisa menang lomba yang hadiahya ke raja ampat juga

    ReplyDelete
  7. rindu bisa balik ke raja ampat, benar-benar tempo lalu itu mujizat dan rejeki banget bisa ke sana.

    ReplyDelete
  8. sumpah raja ampat memang keren kak, kapan yah kira2 aku bs ksna, ceritanya seru kak

    ReplyDelete
  9. Salah satu tempat impian, musti kesini dah sebelum tulang keropos

    ReplyDelete
  10. Selamat ya udah menangin lomba menulis berhadiah wow banget ... travelling ke Raja Ampat.

    Indah banget pemandangannya ya, keren.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)