Dunia Lingga

Lewat HPL, Apa yang Harus Dilakukan?



Assalamualaikum semua..

Januari 2018 hujan kerap menyapa Klaten. Rintik hujan konon bikin galau? Ah memang benar ternyata yang aku rasakan saat ini. Galau menunggu kelahiran anak kedua ini. Padahal sewaktu menunggu persalinan anak pertama nggak segalau ini. Kenapa? Karena cemas dan galau berlebihan sudah lewat Hari Perkiraan Lahir (HPL). Lantas apa yang harus aku lakukan?

Bayangin saja, waktu kehamilan Arfa dulu HPL maju semingguan-lah. Dan luar biasanya beratnya 4.3 kilogram. Dokter dan bidan banyak yang nggak menyangka aku bisa melahirkan normal saat itu. Karena ketika di USG seminggu sebelumnya, berat  janin cuma 3.1 kilogram.


Dan kenapa sekarang galau semakin menjadi? Karena harapannya anak kedua juga bisa lahir secara normal, meski seperti kelahiran sebelumnya yang penuh drama karena entah berapa jahitan setelah melahirkan. 

Dan riwayat dengan berat janin besar kayaknya bakal terjadi lagi. Padahal, aku sudah melakukan berbagai cara misalnya mengurangi karbohidrat dan sama sekali tidak minum-minuman manis. Kata dokter Uki, berat janin besar juga bisa dipengaruhi faktor genetik.

Eh benar saja, mertua bilang, keempat anaknya lahir dengan berat badan di atas 3.7 kilogram dan yang terberat adalah suamiku, hahaa..sama seperti Arfa yang beratnya mencapai 4.3 kilogram. Jadi jangan menyalahkan emaknya yang mungkin ada yang nyinyir dan bilang rakus saat hamil.

Ketika menulis blogpost ini, tepat di hari HPL dan aku masih belum juga merasakan mulas atau kontraksi teratur. Nambah galau saja karena ketika di USG beratnya sudah 3.7 kilogram! Waaw..aduuuhh challenging banget ini. Dokter Uki memberi tenggat waktu seminggu setelah HPL. 


Jika tidak ada tanda-tanda kontraksi, terpaksa harus dipacu dan diinduksi. Dan melakukan tindakan c-section jika diperlukan. Sebenarnya aku takut banget kalau harus di caesar karena seumur-umur alhamdulillah belum pernah dioperasi dan ketemu dokter bedah. Mungkin ini yang jadi biang galau dan cemas HPL sudah lewat. Aku belum mempersiapkan mental untuk di c-section.

Tapi toh persalinan tidak bisa diprediksi. Yang penting terus berusaha yang terbaik untuk si buah hati. Normal atau c-section sama saja, si anak yang memilih jalan untuk dilahirkan seperti apa dan kapan. 

Untuk jaga-jaga, aku diminta untuk mengecek gula darah di Rumah Sakit Islam Klaten. Pasalnya, nenek ada riwayat gula darah. Kenapa penting mengecek gula darah saat hamil? Karena berjaga-jaga kita memiliki diabetes, khususnya diabetes gestasional. Diabetes jenis ini memang tidak mematikan, namun beresiko tinggi menyulitkan ibu saar persalinan. Misalnya kondisi tensi darah tinggi dan eklampsia menghantui ibu yang mengidap diabetes ini. 
mengecek gula darah saat hamil

Dan biaya mengecek gula darah terjangkau kok. Kalau di apotek-apotek gitu Rp 20 ribu ya..tapi aku nggak jamin keakuratannya. Kalau di RSI Klaten, cek gula darah cuma Rp 68 ribu. Alhamdulillah hasil gula darah juga normal yakni 103 mg/dl.

Lalu apa saja yang harus aku lakukan  ketika HPL sudah lewat? 

1. Berdoa dan tetap tenang
Tidak lain tak bukan ini yang bisa bikin hati menjadi lebih tenang. Aku pasrah sama takdir Allah namun tetap meminta keselamatan buat aku dan adik bayi. Membaca Alquran lebih sering dan membaca surat-surat yang disarankan agar mempermudah persalinan. 

Sebenarnya semua surat bagus, tapi aku percaya saja sama nasihat Mamah yang sudah berpengalaman melahirkan empat anaknya. Membaca surat al Mulk, al kahfi, ArRahman, Yusuf, Maryam, At Taubah dan Yasin.  Selain itu juga berdoa kepada Allah untuk membuka jalan lahir bayi dengan mengucap Ya Fattah..Ya Fattah..Ya Fattah..Ya Allah yang Maha Membuka...Wallahu a'lam semoga semua amalan Allah terima.

Aku pun mencoba untuk tetap tenang dan rileks dengan melakukan sesuatu yang disukai seperti menulis blog ini, hehehe

2. Belajar lagi, because knowledge ia power
Meski sudah membaca beberapa metode melahirkan nyaman seperti gentle birth, tetap saja rasa khawatir tidak bisa dihilangkan. Aku coba untuk sedikit-sedikit mengikuti arahan metode gentle birth yakni metode melahirkan nyaman minim trauma.

Di Klaten ada Bidan Kita yang dikomandoi Bidan Yessi yang sangat aktif memberi pengetahuan mengenai gentle birth. Meski nggak pernah ikutan kelas gentle birth, aku kerap membaca postingan-postingan tentang metode ini di instagram dan website-nya. 

Yang penting katanya kita harus menguasai napas kita. Karena dengan menguasai napas, kita bisa menguasai pikiran kita. Pikiran selama ini yang telah melahirkan anak pertama dengan penuh drama dan kesakitan, bisa dialihkan dengan pikiran yang nyaman, rileks dan tenang.

Ya meski belum sepenuhnya bisa aku praktek-kan karena masih sering galau. Bahkan suami pun kena getahnya dimanyunin melulu sama istrinya. Sampai ia nyeletuk, "Kan udah follow Bidan Kita..kok galau,"katanya. Hadeuuh..


3. Terus berkomunikasi dengan adik bayi
Bayi dalam kandungan terus aku bisikin dan curhatin biar segera keluar dengan selamat. "Adiik..kapan adik siap keluar? Bapak, Bubu dan Mas Arfa sudah kangen mau lihat adik,"kataku. 

Kata-kata ini terus saja aku dengungkan pada si adik yang mungkin sedang mencari-cari jalan lahir. Kadang-kadang ia masih begitu aktif di usia kehamilan tua ini. 

4. Beraktivitas seperti biasa dan berolahraga
Di kehamilan tua ini mengerjakan aktivitas kayaknya agak mager ya..perut sudah begah banget, kaki bengkak, jalanpun susah. Tapi aku tetap maksain diri biar nanti saat persalinan nggak kaget. Nyuci, ngepel, nyuci piring dan semua aktivitas domestik rumah tangga dilakukan semampu mungkin. Malah kayaknya lebih rajin dibanding kehamilan tua anak pertama. Jalan kaki di sekitar kompleks sampai jalan-jalan saat car free day pun nggak pernah absen. 

5. Mengkonsumsi makanan yang memicu induksi alami
Konon beberapa makanan dapat memicu induksi alami yang menyebabkan kontraksi seperti durian, nanas, kurma, kiwi, air kelapa dan minyak zaitun. Semua sudah aku coba sih, tapi yang paling sering adalah nanas. 

Apalagi kalau nanas madu, nggak terlalu asam dan nggak gatal. Harganya pun gak terlalu mahal cuma Rp 10 ribu per buah.  Cuma kalau di tukang buah langganan jarang sediain nanas madu asal Pemalang, akhirnya kalau di jalan suka lewat ada abang-abang yang jual aku beli cukup banyak.

Aku nggak tahu sih seberapa efektif makan pemicu induksi ini mempermudah proses persalinan. Karena efeknya kalau kebanyakan malah bikin mules mau buang air besar, hahaha..

6. Stimulasi puting payudara
Sewaktu kehamilan Arfa, aku juga melakukan stimulasi puting payudara. Tapi harus digarisbawahi stimulasi ini jangan dilakukan oleh penderita diabetes dan tekanan darah tinggi. Stimulasi puting katanya dapat mendorong kontraksi awal. Caranya sih gampang, lakukan gerakan melingkar, melakukan gosokan atau pijatan pada daerah sekitar aerola. Dengan melakukan stimulasi puting, payudara akan melepas hormon oksitosin yang membantu proses persalinan.

7. Berhubungan suami istri
Ini juga katanya bisa melepas hormon oksitosin ya..bagaimana caranya? Gak usah ditanya kali, Moms..hahahaa...

8. Tetap Rutin kontrol ke dokter
HPL bukanlah hari saklek buat melahirkan bukan? Ada yang maju ada pula yang mundur hari persalinannya, namanya juga perkiraan. Namun tetap harus rajin kontrol ke dokter. Apakah ketuban masih cukup, bagaimana berat janin, hingga tanyakan segala kemungkinan yang akan terjadi. Intinya, sebagai ibu kita harus tetap aktif. 

Doain ya semoga nanti persalinannya lancar, aku dan adik bayi sehat-sehat dan pulih sedia kala. Meski masih harap-harap cemas, doakan semoga kegalauan karena lewat HPL dapat segera berlalu.  

Siapa Moms di sini yang juga HPL-nya lewat? Atau justru maju? Lalu apa yang biasanya dilakukan?

Subscribe to receive free email updates:

16 Responses to "Lewat HPL, Apa yang Harus Dilakukan?"

  1. Wah saya ga tahu kapan HPL waktu mengandung Fahmi. Tiba2 aja mules2 gitu saat nonton sepak bola Persib. Persib menang 4 - 0 dan saya diangkut keluarga ditemani bidan ke RSUD Cianjur dg jarak 2 jam kendaraan. Beruntung gak brojol di jalan. Hahaha...
    Saat itu prediksi dokter mau operasi. Tapi nyatanya alhamdulillah bisa normal.

    Yang penting tenang dan tetap dzikir aja ya. Yakin semua ada ketentuan dari Nya ;)

    semoga lancar sehat semua sampai waktunya ya...

    ReplyDelete
  2. Penting nih buat calon bini saya. hahaha. Btw makasih sharingnya

    ReplyDelete
  3. Mba lingga, sehat2 sama dede bayinya ya.. Smoga dimudahlan dan dilancarkan prosesnya aamiin

    ReplyDelete
  4. Ternyata gula naik bikin bahaya ya pada bayi. Mpo kirain darah tinggi doang

    ReplyDelete
  5. Induksi alami, asik. Makan enak tuh kalau lagi musim kaya duren. Nanas madu di Jakarta 7000.

    ReplyDelete
  6. anak keduaku lewat hpl, alhamdulillah lahir selamat.
    ngerti banget gimana deg2annya. keep calm ya mba lingga, semoga lungsur langsar :)

    ReplyDelete
  7. Makasih ya mba sharingnya. Kedepan aku ingin VBAC jadi kudu ngerti ilmu ginian. Hehe :)

    ReplyDelete
  8. Bidan di desa saya kalau sudah melewati HPL, langsung disuruh operasi karena gak mau ada resiko apa2. Hal ini mungkin berbeda dg para dokter yang berpengalaman di kota

    ReplyDelete
  9. semoga lancar ya Mbak Lingga, emak dan anak sehat... aamiin

    aku dulu, HPL maju 3 hari, berat bayi cuma 2.7 itupun SC karena panggul sempit.. gpplah.. tetap semangat :)

    ReplyDelete
  10. Semoga lancar dan sehat semuanya ya mbak.. Makasih sharingnya.. ^^

    ReplyDelete
  11. mba nomer 7 itu bikin ngakak wkwkwk ga usah dijelasin yess :p

    semoga lahiran keduaku lancar, normal aku dan debay sehat aamiin ya ALlah :)

    ReplyDelete
  12. Ilmu baru nih untuk aku. Nice info, makasih mbak

    ReplyDelete
  13. Tips no.7 itu sesuai saran dsog aku. Hahaha.
    SID alhamdulillah lahir di minggu ke 41.

    ReplyDelete
  14. Mba makasih banyak info nya, InsyaAllah 4 bulan lagi aku lahiran, tapi dari sekarang juga udah mulai deg degan huhuuuu

    ReplyDelete
  15. Recomended banget nuh tips nya buat ibu yang lagi hamil :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)