Dunia Lingga

Pengalaman Melahirkan dan Menyusui Si Kecil


Kado terindah di hari ulang tahun

Tanggal 22 Agustus 2014. Baby boy yang kami beri nama Fathi Arfa AlGhazi lahir ke dunia. Berat Arfa mencapai 4,3 kilogram. Dokter kontrol sekaligus yang menangani persalinan saya, dr Maya, bahkan terkaget-kaget. Seminggu sebelumnya, ketika di USG, berat bayi hanya sekitar 3 kilogram. "Kalau tahu begini, seharusnya sesar,"kata dia.

Sebelum proses persalinan, air ketuban sudah pecah duluan. Saat itu saya tidak panik. Justru sangat senang karena saya dan Arfa bisa berulang tahun di tanggal dan bulan yang sama. Arfa menjadi kado terindah ulang tahun saya. Sementara suami dan orang tua saya sangat terlihat panik melihat air ketuban saya semakin deras keluar.

Pukul 5.00 pagi kami langsung pergi dari Cilegon ke Rumah Sakit Sari Asih Serang,Banten. Jarak dua kota ini memang lumayan jauh, sekitar 35 menit memakai kendaraan pribadi. Saya memilih di RS ini karena rekomendasi dari beberapa teman. Rumah sakit dengan sistem room in dan pro ASI jadi pilihan utama kami, meski harus ditempuh dengan jarak yang cukup jauh. Dengan sistem room-in, ibu dan bayi tidak terpisah ruangannya. Dengan rumah sakit yang pro ASI, kami tidak khawatir akan proses menyusui nanti.


 

Saat di rumah sakit, saya tak merasakan mulas sama sekali. Selang 30 menit kemudian, dokter menyarankan agar saya diinduksi untuk merangsang kontraksi. Ada beberapa pertimbangan mengapa dokter menyarankan saya untuk diinduksi. Pertama, karena sudah masuk masa melahirkan namun saya tidak merasakan kontraksi. Kedua, air ketuban sudah pecah. Menurut dokter, setidaknya 24 jam setelah itu saya harus segera melahirkan. Jika tidak, akibatnya bisa sangat berbahaya buat saya dan bayi.

Saya menyetujui saran dokter. Kemudian, saya diberi setengah pil induksi oleh bidan. Ukuran pil sangat kecil, seperti satu tablet dibagi menjadi beberapa bagian. Selang setengah jam, rasa mulas itu mulai terasa. Aduhai, tak bisa digambarkan dengan kata-kata rasa mulas ini. Seperti ratusan kali lipat sakitnya saat nyeri haid.

Saat mulas seperti ini, saya hanya ingin ada suami dan mamah. Saat itu juga saya menangis, "Oh begini ya rasanya melahirkan. Oh begini ya saat itu Mamah melahirkan saya". Saat itu juga saya jadi teringat dosa-dosa saya sama Mamah. Saya juga minta keridha-an suami jikalau saya harus meninggal saat melahirkan. "Aa ridha ya sama neng,"kata saya lirih. Ia mengangguk.

Menit-menit masih bisa tersenyum sebelum diinduksi
 
Huaaa, rasanya pengen teriak sekencang mungkin menghadapi sakitnya kontraksi. Dalam hati apa saya harus caesar saja karena tak kuat menghadapi sakitnya diinduksi. Namun, saya terus memberi pikiran positif pada diri sendiri agar kuat menghadapi ini, agar saya bisa melahirkan secara normal meskipun melalui induksi. Saya pun mengajak bayi berkomunikasi dan membujuknya agar segera keluar. Suami pun terus menyemangati.

"Ayo nak, katanya mau ketemu Ibu, yuk, Ibu pengen lihat kamu. Ibu juga mau ultahnya bareng sama kamu," terus saya ucapkan kata-kata tersebut sambil mengelus-elus perut.


Arfa seperti mendengar permintaan saya. Mulas semakin menjadi-jadi. Ingin mati saja saat itu rasanya. Namun sekali lagi saya berkata dalam hati. Semakin mulas, semakin Arfa ingin bertemu dengan saya, begitu yang selalu saya tanamkan saat itu. Suami pun jadi korban kekerasan saya, haha. Entah itu saya jambak, cakar, bahkan saya bentak.

Pembukaan yang tadinya lambat bergerak kini semakin cepat. Pukul satu siang, sudah mencapai pembukaan tujuh. Namun, karena kehabisan tenaga, proses mengejan dibantu oleh dorongan bidan. Dan Alhamdulillah, pukul 15.00 Arfa lahir dengan sehat dan selamat. Sayangnya Arfa tidak langsung saya susui karena ada sedikit masalah pernapasan pada Arfa sehingga memerlukan perawatan dari dokter anak. Namun, selang beberapa jam kemudian, Arfa mulai proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).




Ketika menghadapi baby blues syndrome dan ASI yang tak kunjung keluar



Setelah melahirkan, rasa sakit dan ngilu semakin terasa saat dokter menjahit perineum yang robek. Robekan ini menyebabkan rasa sakit hingga sebulan lamanya, hiks..hiks.. Rasanya itu masih kebayang hingga sekarang. Kata dokter Maya, banyaknya jahitan ini karena ukuran bayi yang besar dan disertai bantuan dorongan bidan.

Entahlah. Rasa bahagia bercampur dengan sakit yang masih terasa membuat saya galau dan selalu menangis. Ketika melihat Arfa untuk pertama kalinya saya bahagia. Namun, ada rasa seperti hilang kepercayaan diri dalam diri saya. Saat melihat perut gendut yang mengempes menjadi gelambir. Terlihat pula guratan-guratan strechmark pada perut. Belum lagi kantong mata yang menghitam seperti panda, rambut acak-acakan dan lepek kayak sapu ijuk serta muka yang sulit tersenyum karena menahan sakit.



Bayi gede yang bikin galau

Saat itu juga saya merasa kebahagiaan saya diambil oleh Arfa. Sepertinya saya mengalami baby blues syndrome atau juga dikenal dengan postpartum distress syndrome. Kondisi ini  dimana perasaan sedih dialami ibu pascamelahirkan. Entah ini yang namanya baby blues atau bukan, tapi ketika itu saya sangat merasa tidak nyaman ketika melihat Arfa. Ada rasa gemes sekaligus sebal melihat Arfa.

Ternyata, baby blues syndrome ini menurut beberapa penelitian, dialami hampir 50 persen ibu pascamelahirkan. Kadar hormon estrogen dan progesteron yang menurun menyebabkan ibu merasa depresi, mood yang tidak baik dan rasa lelah yang berlebihan pascamelahirkan.Terlebih lagi, ketika menyusui Arfa pertama kalinya, air susu tidak lancar mengalir. Di saat itu saya semakin merasa sedih. Apa bisa saya menjadi ibu yang baik dan bisa memberikan ASI selama 2 tahun untuk Arfa?

Namun alhamdulillah, ada suami yang selalu mendukung dan memberi motivasi kepada saya untuk melalui tahap baby blues ini. Suami juga terus menyemangati agar saya terus menyusui Arfa, tanpa ada bantuan susu formula (sufor). Suami saya menjadi Ayah ASI yang baik untuk Arfa.


Me vs My Parents and Sufor


 
Meski sudah membaca ratusan halaman buku petunjuk perawatan bayi, mengikuti kelas online, dan searching internet, saya belum berani untuk mengurus Arfa sendiri. Akhirnya saya memilih untuk tinggal di rumah orang tua selama satu setengah bulan. Sebagai ibu baru, mungkin saya dianggap orang yang belum banyak tahu dan belum berpengalaman  oleh mereka.

Saking exited-nya punya cucu, mereka memberi banyak anjuran dan terkadang membuat saya bingung sebagai ibu baru. Melihat cucunya seperti kehausan, orang tua saya terutama Bapak meminta saya untuk memberi tambahan susu formula. Arfa juga selalu menangis sejak tiba di rumah. "Menangis terus tandanya kehausan dan kelaparan karena air susu tidak keluar,"kata Bapak. Ia berkali-kali meminta saya untuk memberikan sufor untuk Arfa, namun saya kekeuh hanya ingin eksklusif ASI.

Memang saya akui produksi ASI memang masih sedikit. Namun yang saya baca dari beberapa referensi bahwa bayi yang baru lahir perutnya masih sebesar kelereng. Nah, kalau perutnya aja sekecil itu, berarti ASI saya cukup-cukup saja bukan? Memang sulit dan menjadi tantangan tersendiri memberi pengertian kepada orang tua. Nasihat yang baik memang harus kita ambil, namun saya juga harus berani mengatakan tidak jika hal itu tidak sesuai dengan medis.


Ketika Arfa semakin kurus
Pancingan menggunakan susu formula semakin kerap dilontarkan Bapak dan Mamah ketika melihat Arfa semakin berkurang berat badannya. Dari berat 4,3 kilogram, dalam seminggu berat Arfa menjadi 4 kilogram. Padahal, cukup wajar berat badan bayi turun dalam seminggu pertama karena cairan yang dibawa di tubuhnya sebagai cadangan makanan. Belum lagi melihat puting lecet dan berdarah karena gigitan Arfa. Bapak dan Mamah terus mendorong saya untuk memberikan Arfa susu formula. Saya sempat goyah dan hendak menuruti nasihat tersebut.

Namun, suami menguatkan. Sabar, katanya. Selama ini suami juga belajar banyak mengenai teknik perawatan bayi dan menjadi Ayah ASI. Ia selalu men-support saya agar tetap semangat dan memberikan ASI. Dia bahkan menjelaskan pada saya, banyak sedikitnya ASI tergantung dari supply dan demand. Semakin sering ibu menyusui bayi, semakin banyak pula ASI yang diproduksi. Semakin ibu merasa bahagia, semakin banyak pula ASI yang dihasilkan. Jadi, sebagai ibu menyusui, kita harus terus menjaga mood agar tetap menyenangkan. Makan-makanan yang digemari, menonton televisi, berolahraga dan hal lainnya yang membuat kita senang.

Wah, memang dukungan dari suami sangat manjur agar kita terus bisa memberikan ASI ekslusif pada bayi. Apalagi kalau suami mengerti saat istri sedang kelelahan menyusui, dipijat-pijat leher istrinya, dibuatkan susu hangat dan diberi kata motivasi. Sungguh, hanya perhatian yang tuluslah yang membuat ibu menyusui kembali semangat memberi ASI. 


 
Selain masalah penambahan sufor, anjuran-anjuran lain dari orang tua yang berbeda dengan orang tua saat ini kerap menjadi bahan 'percekcokan'. Memang menantang sih memberi pengertian kepada mereka. Apalagi kalau menyangkut anjuran yang agak-agak mitos dan tidak masuk diakal, hehe. Misalnya pemberian koin pada pusar bayi, pemberian bedak tabur di pantat bayi, pantangan makanan tertentu dan hal-hal lainnya.

Memang sih agak-agak rempong menghadapinya. Namun pada dasarnya anjuran mereka baik, meskipun tetap ya itu versi mereka. Kalau saya sih memberi sedikit-sedikit pengertian, edukasi dan memberikan referensi tulisan-tulisan terbaru mengenai perawatan bayi. Saya meminta Bapak untuk membaca artikel tersebut. Lama kelamaan mereka toh mengerti dan memahaminya. Yang penting, kita sebagai orang tua harus percaya apa yang kita lakukan itu semata-mata demi kebaikan anak. Jangan dengar bisik-bisik tetangga yang nyinyir jika anak tidak diberi sufor, tidak dibedong dan tidak diberi gurita. Yakinlah dengan diri sendiri bahwa kita adalah ibu yang baik untuk anak-anak.


Ketika Menghadapi Growth Spurts


Praktis ketika sampai di rumah, Arfa nggak mau jauh-jauh dari saya. Ia selalu pengen nempel ke ibunya yang sudah kelelahan. Benar-benar hayati lelah, kata anak-anak zaman sekarang, hehe. Si bayi gede ini sejak minggu pertama semakin parah di minggu kedua hanya fokus pada nenen dan nenen. Nenen-nya sepanjang malam sepanjang hari. Hampir setiap jam sekali minta ASI. Saya sempat stress dibuat tingkah Arfa yang nggak mau lepas dari nenen.

Ternyata, kondisi seperti ini dianggap normal. Kondisi ini disebut dengan growth spurts atau percepatan pertumbuhan. Kondisi growth spurts ini juga berulang ternyata, hiks..hiks..Saat usia Arfa tiga bulan, enam bulan dan satu tahun. Kondisi ini diindikasikan dengan Arfa menyusu lebih sering dan lebih lama, bahkan nggak mau dilepaskan dari payudara. Sudah selesai disusui, ditinggal lima menit, Arfa nangis lagi. Saya seperti zombie berjalan saat itu. Saya juga semacam apotik 24 jam yang harus sedia melayani Arfa mengobati fase nenen yang tiada berujung. 



Arfa dalamfase grow spurt

Hingga akhirnya saya mencoba lying breastfeeding atau menyusui dalam posisi tidur. Posisi ini memang cukup nyaman dilakukan karena bisa sambil tiduran. Kita tidak harus selalu dalam posisi duduk saat menyusui, bisa encok nanti, hehe. Karena posisi tidur ini bikin ibu cepat mengantuk dan tertidur, kita harus waspada jangan sampai membekap hidung bayi. Waspadai juga jika si bayi hanya menghisap puting saja bukannya memompa susu di sekitar areola.

Alhamdulillah, meskipun Arfa rewel saat fase growth spurts, saya percaya bahwa fase seperti ini tak akan saya alami lagi ketika Arfa beranjak dewasa. Saya percaya, semakin sering saya menyusui Arfa, semakin banyak ASI yang Arfa dapatkan.

Di saat-saat seperti ini kita memang harus tetap berpikir positif meskipun kadang merasa lelah dan bosan. Untuk itu, agar selalu bertenaga, saya selalu menjaga asupan makanan dengan gizi seimbang dan air putih yang banyak untuk menjaga produksi ASI. Lupakan sejenak diet ketat dan makan apa yang ingin kita makan, hehe. Anak senang ibu senang. Alhamdulillah.


Ketika sakit dan tak punya stok ASI


Perjuangan memberikan ASI tidak berhenti sampai masa-masa growth spurts. Ada kalanya Arfa sering menggigit puting sehingga pecah sudah tangis saya karena sakitnya. Fase Arfa menggigit puting ini selalu ada dalam jangka waktu hampir dua tahun ini. Bahkan kadang masih hingga menginjak 2 tahun meski intensitasnya sudah jarang.

Di awal-awal bulan Arfa lahir, puting susu lecet dan berdarah. Bahkan, ada indikasi mastitis atau radang payudara. Rasanya sungguh luar biasa, nikmat! Hahaha..Mungkin karena diawal Arfa masih belajar mengenal puting dan juga saya masih belajar proses melekatkan puting pada mulut bayi. Mungkin Arfa kesal ya, nenen-nya nggak pas di mulut dia.

Saat tumbuh gigi, tantangannya beda lagi. Saya sampai panas dalam dan keringat dingin karena sakit gigitan Arfa. Hap! Gigit! Ketawa.. Begitu tingkahnya yang bikin gemas. Karena belum mengetahui cara mengatasinya, saya menutup hidung Arfa hingga dia kesulitan napas.



Arfa dijaga oleh simbah
Itu dulu, saat awal-awal saya belum membaca artikel dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Ternyata, caranya cukup mudah. Jika anak mulai menggigit puting, selipkan jari di mulutnya. Saat mulutnya terbuka, segera tarik payudara. Yang penting saat digigit, kita jangan menjerit, berteriak, atau tertawa karena bayi justru kesenangan. Komunikasikan terus ke anak bahwa digigit itu sakit, kalau nenen-nya sakit dia nggak bisa dapat ASI lagi. Ternyata, cara ini cukup berhasil.

Selain puting lecet hingga menyebabkan demam, ada kondisi dimana kesehatan saya menurun. Ini yang saya alami ketika Arfa berumur 6 bulan. Takdir Allah saya harus dirawat di rumah sakit karena demam berdarah selama seminggu. Selama seminggu itu pula saya harus meninggalkan Arfa. Pihak rumah sakit tidak memperkenankan Arfa untuk masuk karena rawan tertular penyakit dari pasien lain.

Di situ saya menangis sejadinya. Saya tidak pernah meninggalkan Arfa dalam waktu yang cukup lama. Saya selalu cepat tanggap jika dia ingin nenen. Di saat seperti itulah saya sedih karena tidak bisa memberikan ASI kepada Arfa secara langsung. Belum lagi saya tidak terlalu banyak menyimpan stok ASI. Saat sakit yang terpikir hanya Arfa. Apa ia minum ASI perah dengan senang atau selalu menangis.

Inilah yang menjadi pelajaran buat saya agar tetap menyetok banyak ASI di kulkas untuk Arfa. Saat sakit, untungnya rumah sakit tidak jauh dari rumah. Sehingga, setiap suami dan adik giliran datang untuk menemani saya, saya mengirimkan ASI yang saya perah di rumah sakit. Saya juga mengatakan kepada dokter agar saya diberikan obat-obatan yang aman karena saya ibu menyusui.

Alhamdulillah, setelah sehat saya diperbolehkan ke rumah. Rasa kangen ke Arfa semakin menjadi-jadi. Tapi, apa yang justru terjadi? Arfa lupa sama ibunya. Huhuhu..Dia aneh melihat saya, seperti kembali mengingat-ingat. Saya coba menyusui Arfa tapi dia menolaknya.

Orang di rumah pun tertawa geli melihat tingkah Arfa yang menolak menyusu. Bingung juga mengapa Arfa bisa menolak menyusu. Mungkin karena ia sudah lama tidak bertemu dengan Bubunya ini. Meski terus menolak, saya terus menawarkan ASI padanya. Saya timang-timang dan saya peluk Arfa. Alhamdulillah, ia kembali mau menyusui.


Weaning with love, menyapihmu dengan segenap sayang Bubu



Setelah dua tahun lamanya, akhirnya tiba juga waktu untuk menyapih Arfa. Alhamdulillah, perasaan haru biru saya rasakan ketika hendak menyapih Arfa. Namun, saya menguatkan diri agar Arfa bisa disapih tanpa  ada kebohongan berupa pahit-pahitan atau pura-pura berdarah pada puting.

Sebelum sukses menyapih dengan sayang, saya sudah sounding dan memberi pengertian pada Arfa sejak usianya satu tahun. Saya memberi sugesti positif dan bilang padanya setiap kali dia nenen, nanti saat usianya dua tahun Arfa minum air putih, susu atau jus, tanpa harus nenen.

"Nak, nanti pas Arfa dua tahun, Arfa nggak bisa nenen lagi ya..karena Arfa udah besar, udah pinter. Anak soleh minumnya nggak nenen lagi dari Bubu," saya ulang-ulang perkataan itu setiap dia mau nenen.

Arfa cuma menganggung-angguk. Entahlah apa dia mengerti, pikir saya saat itu. Ternyata, anak itu cerdas loh, jangan kita anggap anak belum mengerti. Di bulan Agustus, intensitas nenen Arfa semakin berkurang. Saya punya tim sukses juga untuk mengalihkan perhatian Arfa. Suami berperan penting mengalihkan perhatian Arfa jika terlihat ingin nenen. Entah dibawa bermain, ditimang-timang atau cara lainnya.





Di hari pertama proses penyapihan, kami mengajak Arfa jalan-jalan ke Taman Safari. Dari pukul 04.00 pagi hingga sore hari, Arfa seakan lupa dengan nenen saking asyiknya melihat binatang dan bermain di wahana permainan. Namun, saat sampai rumah pukul 22.00, ia kembali mengingat dan meminta nenen. Yah, akhirnya saya berikan lagi.

Di hari kedua, dia meminta kembali nenen saat jam tidur siang. Untuk WWL memang kita jangan menawarkan dan juga jangan menolak. Akhirnya, saya berikan lagi mimik padanya. Di malam hari, sempat meminta nenen namun teralihkan dengan minum air putih yang banyak. Ia juga minta banyak diceritakan cerita binatang dan di-ninabobo-kan. Akhirnya ia tidur tanpa nenen. Di hari ketiga, sepertinya ada rasa ingin nenen namun saya beri ia makanan yang banyak sehingga Arfa kekenyangan dan tidur siang dengan nyenyak. Malamnya, Arfa terbangun minta air putih.

Kunci dari keberhasilan menyapih Arfa adalah sikap disiplin dan kompak dengan orang sekitar seperti suami dan lingkungan sekitar. Kemudian, tetap sabar dalam menghadapi anak yang mungkin akan sedikit rewel menghadapi penyapihan. Kita juga harus senantiasa berdoa agar diberi kemudahan untuk melakukannya.

Peran si Ayah ASI


Dari segala macam permasalahan menyusui, keterlibatan suami dalam mendukung istri menjadi peran penting suksesnya menyusui. Ayah ASI, yakni suami yang melibatkan diri sehingga bayi memeperoleh ASI semestinya, sangat besar peranannya. Alhamdulillah, suami memiliki inisiatif untuk melibatkan diri. Suami berperan penting meskipun tak semuanya ia rasa menyenangkan dan mengasyikkan, kadang ada menyedihkan hingga melelahkan karena ia pun harus begadang.

Suami juga yang terus menguatkan saya untuk terus memberi ASI hingga usia dua tahun. Ternyata, dukungan suami ini sangat  berpengaruh dalam keberhasilan menyusui. Menurut penelitian Clinical Pediatric (1994) dengan melibatkan 115 ibu postpartum, kelompok ayah mengerti ASI mendukung keberhasilan sebesar 98,1 persen. Bedanya dengan kelompok ayah yang tidak mengerti ASI hanya 26,9 persen. 


Bagaimana caranya agar suami menjadi ayah ASI yang baik? Berdasarkan pengalaman, suami saya ikut jika saya membaca aneka buku bacaan tentang perawatan bayi dan seputar ASI, bertukar pikiran dengan dokter atau saudara atau juga teman yang pernah menyusui. Malah suami juga mengikuti beberapa sosial media pegiat ASI seperti @ID_ayahASI dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. 




Nah, bagaimana Ayah ASI mendukung ibu menyusui? Founder @ID_AyahASI, A. Rahmat Hidayat, sempat memberi beberapa cara. Pertama, ayah harus mencari tahu cara kerja payudara. Dalam payudara, terdapat dua hormon yang bekerja yakni hormon oksitosin untuk mengeluarkan ASI dan hormon prolaktin untuk memproduksi ASI.

Nah,  agar hormon oksitosin yang membuat ASI keluar ini terjaga, tentu dipengaruhi oleh perasaan senang dan gembira si ibu. Untuk itu, yang kedua dengan menghibur istri agar ASI keluar dengan lancar, entah itu membantu mengurus rumah tangga, memijiti istri dan hal-hal lain yang membuat istri senang.

Ketiga, ayah ASI harus memahami bahwa pemberian sufor hanya terdapat indikasi medis pada bayi. Istilahnya, suami harus kekeuh dan menjadi benteng pertahanan untuk seorang ibu dalam memberikan ASI ekslusif. Kuatkan istri jika ada orang-orang yang nyinyir terhadap ASI. Kemudian, yang keempat, suami menjadi orang pertama yang siap 24 jam jika istri membutuhkan bantuan saat menyusui.  Terakhir, suami hendaknya menabung untuk membelikan istri alat tempur menyusui. Mulai dari breastpump, bantal dan apron menyusui, cupp feeder dan lainnya.

Seputar ASI dan pekan ASI dunia


Semua pasti sudah banyak tahu mengenai keutamaan memberi ASI kepada bayi. ASI mengandung gizi yang luar biasa komplit mulai dari air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, kolostrum dan kandungan-kandungan lainnya yang tidak bisa digantikan oleh sufor.

Dengan memberi ASI, Arfa jadi jarang terkena penyakit karena imunitasnya terjaga. Selain itu, ASI dapat membentuk ikatan batin yang kuat antara saya dan Arfa. Yang juga penting buat emak-emak seperti saya, ASI bikin hemat pengeluaran rumah tangga. Saya nggak perlu membeli sufor yang harganya bisa ratusan ribu itu.

Nah, manfaat-manfaat ini sesuai dengan tema perayaan World Breastfeeding Week atau pekan ASI Dunia yang bertema Breastfeeding A Key to Sustainable Development. Untuk Indonesia, tema nasional yang diangkat yakni "Ibu Menyusui sampai dua tahun lebih hemat, anak sehat dan cerdas; untuk mewujudkan keluarga sejahtera". Benar banget ya tema pekan ASI dunia di Indonesia ini, dengan memberi ASI, kita bisa jauh lebih hemat.

ASI juga bermanfaat untuk kesehatan dan kecerdasan anak. Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya sehat dan cerdas? Salah satu cara mudahnya ya dengan memberi ASI. Mari dukung ibu menyusui, dimana pun dan kapanpun. Dengan dukungan orang sekitar, masyarakat, dunia pendidikan, pemerintah hingga sosial media, keluarga sejahtera di Indonesia akan terwujud dengan sendirinya. Semangat ng-ASI dan selamat pekan ASI dunia..

Subscribe to receive free email updates:

19 Responses to "Pengalaman Melahirkan dan Menyusui Si Kecil"

  1. anak saya dulu kalo menyusu, seperti tiada henti, nemplok terus kayak lampu hehe...
    tinggal di cilegon? kita tetanggaan dong, saya di serang :D

    BalasHapus
  2. waah lagi rame pekan Asi dunia ya..
    selamat2 buat yang masih menyusui, bagaimana pun AsI is the best yaa..

    btw 22 agustus kemaren donk, selamat ultah ya my baby nya, moga sehat selalu yaaa..

    BalasHapus
  3. Saya jadi ingat, waktu anak saya baru mau tumbuh gigi. Suka gigit waktu menyusu, rasanya pengen nangis nahan sakitnya...huhuhu...
    Dukungan keluarga memang kita perlukan setelah persalinan. Untuk menghindari depresi pasca melahirkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pas gigit trus si kecil malah ketawa, jd gemeess tp sakit. Hehe.

      Iya mba prlu bgt dukungan orang sekitar kl abis mlahirksn

      Hapus
  4. Menjadi seorang ibu itu luar biasa ya pengorbanan dan jalanan yang ia lalui. Saya sampe-sampe kepo apa itu perineum yang robek dan hiiii serem-serem gambarnya >.<

    BalasHapus
  5. WWah gedhe ya mbak, anak2ku lahirnya mungil2 di bawah 2 kg semua :D

    Alamdulillah punya suami yg dukung ASI ya mbak, jdnya sukses ngASI :)

    BalasHapus
  6. Waw besar sekali bayinya pas dilahirkan. Sama kayak temenku juga lahiran normal dengan BB lebih dari 4 dan anaknya pun sama namanya Arfa, hihi.

    BalasHapus
  7. Baru satu bayi kok ya lengkap bgt, dr puting lecet, babyblus, tetep semangat lagi

    Typomu mbak, "waspada jangan sampai bayi membekap hidung bayi"

    BalasHapus
  8. Wuaa.. arfa saking rindunya mungkin ya mba. Hihi.. lucu juga ngebayanginnya.



    Selamat ya Arfa. Lulus sempurna.. mamanya hebat... :-)

    BalasHapus
  9. Ternyata butuh perjuangan ekstra ya mbak untuk memberikan ASI dan harus didukung oleh suami juga ya :)

    BalasHapus
  10. Gemesnya liat foto baby Arfa :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)