Dunia Lingga

Bencana, Momentum Menebar Kebaikan Di manapun dan Kapanpun



Belum usai kesedihan atas bencana di Lombok, kini Palu, Donggala Sulawesi Tengah diberi ujian gempa dan tsunami. Per tanggal 3 Oktober, korban meninggal dunia mencapai 1.211 jiwa, 700 jiwa luka-luka dan lebih dari puluhan ribu jiwa mengungsi. 

Indonesia memang dianugerahi potensi alam yang menakjubkan, juga potensi bencana alam yang tak kalah hebatnya. Banjir, longsor, kebakaran hutan, gunung meletus, hingga tsunami silih berganti menghampiri penduduk negeri.

Rentetan bencana ini Lombok, terakhir Palu tentu amat sukar diprediksi. Negara memang memiliki BNPB yang konon dana taktisnya triliunan. Namun, tentu ini tak akan mampu menutup bencana yang kerap terjadi di berbagai daerah.

Alhamdulillah, potensi masyarakat Indonesia besar. Kesulitan bencana diterima dengan lapang dada, lalu bangkit dengan kaki mereka sendiri. Tak perlu menunggu lama, tak perlu menunggu status bencana dinaikkan menjadi bencana nasional misalnya, masyarakat melakukan aksi nyata untuk anak-anak bangsa yang kesulitan. Misi kemanusiaan memanggil, tak masalah jika bendera mereka banyak, entah ACT, DD, BSMI dll. Yang jelas, masyarakat yang kita sebut relawan ini memperpanjang nafas pemerintah menyelesaikan kewajibannya.

Para relawan, para aktivis-aktivis kemanusiaan ini, hadir menjejakkan kaki paling pertama. Merekalah yang pertama kali mengetuk hati sesama untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Sambil mengumpulkan dana, beberapa dari mereka terjun terlebih dahulu. Dana titipan masyarakat segera dialokasikan untuk membantu evakuasi bencana. Seakan-akan mereka tak mendengar kegaduhan tarik ulur status bencana, mereka hanya tahu bahwa amanah dari masyarakat harus segera ditunaikan.

Sebagian dari mereka pun tak pulang. Relawan ini mencanangkan program-program pasca bencana. Tentu untuk memastikan masyarakat di wilayah bencana bisa bangkit kembali.

Tak hanya mereka yang turun ke lapangan, kekaguman kepada para penyumbang dana juga perlu diapresiasi. Tak perlu disuruh-suruh, mereka bahkan menyalurkan hartanya sembunyi-sembunyi. Selalu hadir peran masyarakat di dalamnya.

Bahan logistik seperti makanan dan pakaian sudah tak perlu dirisaukan lagi. Meski berbagai kendala dalam penyalurannya, tetap masyarakat Indonesia memang berhati emas.

Momentum bencana ini memang mesti dijadikan momentum tafakur. Untuk relawan, bahwa Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk menjadi umat terbaik. Tentu dengan menunjukkan prestasi terbaik sepanjang tahun, sepanjang masa hingga maut akhirnya datang mengetuk pintu, dengan membantu sesama. Relawan terus membangun semangat memberi, semangat berbagi. 

Momentum bencana untuk korban yang tertolong, semoga dapat berimbas kepada semangat kebaikan yang terus meluas. Mereka-mereka ini -para korban- juga akan melahirkan semangat untuk menolong sesama. Entahlah, kebaikan itu menular. Mereka akan berusaha melakukan kebaikan kepada orang lain dimanapun dan kapanpun. Mereka pun akan bergetar jiwanya jika melihat ketidakberdayaan orang lain karena mengingat dirinya dulu. Semoga. Dan selamat menebar kebaikan, kapan pun dimana pun.

Semangat terus untuk para relawan kemanusiaan, entah yang turun ke lapangan, entah yang memberi sejumput materu, atau yang mengirimkan doa-doa terbaik untuk saudara2nya yang kesusahan. 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Bencana, Momentum Menebar Kebaikan Di manapun dan Kapanpun"

  1. Setuju, karena panggilan jiwa kita ditantang untuk melakukan kebaikan di sana ... kunbal ya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)