Dunia Lingga

5 Hal yang Perlu Dilakukan Agar Terhindar Dari Pelecehan Seksual di Transportasi Umum


Sahabat, pernahkah mempunyai pengalaman tidak menyenangkan saat di dalam kendaraan umum khususnya bus? Saya pernah dan kejadian saat itu membekas banget. Waktu itu saya masih bekerja di Jakarta dan kerap memakai bus antar kota. Dompet saya raib entah kemana dan yang menyedihkan, saya nggak berasa terjadi apa-apa waktu kecopetan.

Entah dihipnotis atau bagaimana, dompet raib begitu saja dicopet. Pernah pula tas saya disilet waktu bus lagi penuh-penuhnya pas pulang kantor. Beruntung isi tas tak sempat digondol. Yang saya khawatirkan, perilaku tidak menyenangkan lainnya di kendaraan umum seperti pelecehan seksual, bahkan kekerasan seksual.

Alhamdulillah sih belum pernah yang sampai gimana-gimana di bus. Tapi pernah banget merasakan dilihat secara intens dari atas ke bawah oleh penumpang pria lainnya. Saya jadi merasa sangat nggak nyaman diperlakukan seperti itu sih. Pernah juga di kereta api jaman dulu kuliah, bapak-bapak dengan enaknya bersandar di belakang badan saya karena saat itu ramai sekali.

Menunggu bus sepi
Semua kejadian tersebut memang agak sedikit membuat saya parno. Terkadang saya menunggu sampai bus selanjutnya yang tidak terlalu sesak. Namun, kejadian demi kejadian tidak menyenangkan di bus tersebut nggak membuat saya trauma naik bus. Karena naik bus bukan hanya murah, tapi juga praktis karena tanpa ribet mencari parkir dan punya jalur khusus seperti Transjakarta sehingga lebih cepat. Namun, ya itu kelemahannya kadang-kadang mengalami keterlambatan dan yang jelas rawan tindak kriminalitas, seperti kejadian pelecehan seksual yang saya sebutkan tadi.

Sebuah artikel dari Magdalene.co menyebut, hasil audit keamanan di tiga wilayah Jakarta yang dilakukan Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan memperlihatkan memang kaum wanita dan anak perempuan tidak merasa aman pergi sendiri terutama di ibukota. Pasalnya, mereka lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual di tempat publik, salah satunya di transportasi umum. 

Terdapat pula jajak pendapat dari Thomson Reuters Foundation News yang mendaftar 16 kota dengan sistem transportasi paling berbahaya buat perempuan. Sudah dapat ditebak, Jakarta Indonesia masuk ke dalamnya, bahkan berada di urutan ke lima. Berbahaya bagaimana? Ya itu tadi, bahaya dilecehkan secara verbal maupun fisik, bahaya bepergian di malam hari dan lainnya.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi tidak menyenangkan terlebih pelecehan seksual terhadap kaum wanita di transportasi umum? 

Pertama, saya biasanya tak segan-segan bertanya dan berkonfrontasi langsung sama pelaku. Meski biasanya bercanda, cat call atau apapun bentuknya, sebagai wanita kita harus tegas. Nggak perlu ragu atau takut menyinggung si pelaku. Dengan bersikap tegas, pelaku dapat menyadari kesalahannya dan kapok untuk berbuat lebih jauh.

Sikap tegasnya ya itu, pelototin aja, hehe..dan bilang, perlakuannya itu nggak sopan. Tetap tegas tapi tidak agresif. Misalnya, "Tolong pak, lihatnya biasa saja, saya nggak nyaman," atau kondisi lainnya.

Kedua, melihat situasi sekeliling bila perlu meminta bantuan. Ini sih yang paling gampang, minta bantuan ke penupang lainnya atau kondektur dan sopir, juga petugas keamanan bila di busway misalnya. 

Ketiga, bersikap waspada. Memang perlu perhatian khusus juga kita kaum wanita untuk waspada di transportasi umum. Misalnya jangan terlalu keasyikan bermain smartphone sampai lupa kejadian sekitar. 
Jangan keasyikan bermain smartphone
Keempat, mempersenjatai diri. Selain mencoba belajar bela diri, coba bawalah semprotan merica kemana pun kita pergi. Selain itu, bisa dengan teiak dan lari jika memungkinkan. 

Kelima, melapor pada pihak berwenang. Jika benar-benar serius, peristiwa pelecehan seksual ini bisa ditindaklanjuti dengan melaporkannya kepada pihak berwenang.  Meski merasa ragu karena tak terdapat luka secara fisik, tapi cedera yang paling umum dialami ialah luka secara emosional. Melapor kepada penegak hukum sangat disarankan untuk memberikan pelajaran pada pelaku dan hal serupa tidak terulang pada orang lain.

Peristiwa pelecehan di tempat umum khususnya transportasi publik ini memang menimbulkan keresahan. Di satu sisi bukan hanya infrastruktur yang kurang, namun pendekatan hukum dan kebijakan yang kurang mengatur penanganan korban pelecehan seksual. Belum lagi korban yang mengalami pelecehan tidak melapor karena takut disalahkan bahkan mungkin tidak tahu mekanisme pelaporannya. 

Puji Syukur, sudah banyak dilakukan solusi oleh pihak terkait untuk meminimalisir pelecehan seksual. Di tahun 2011, Transjakarta meluncurkan fasilitas ruang khusus perempuan. Mengapa menerapkan kebijakan itu? Katanya setelah adanya survei yang hasilnya menunjukkan 90 persen responden menyetujui adanya ruang khusus perempuan. Kemudian lima tahun berikutnya pada 21 April 2016, Transjakarta meluncurkan bus berwarna merah muda khusus untuk penumpang perempuan.


Penyediaan ruang khusus perempuan memang bukan solusi terbaik, namun menjadi solusi cepat mengingat tumpah ruahnya laporan perihal plecehan dan kekerasan di transportasi umum.

Kita juga tahu, kereta listrik Jabodetabek bahkan sudah terlebih dahulu menerapkan gerbang khusus perempuan yan tujuannya kurang lebih sama. Di awal 2017 ini, armada bus Transjakarta pun ditingkatkan menjadi total 1.200 bus. Ini artinya, perempuan mempunyai rasa aman yang lebih dibanding sebelumnya. 

Pemisahan penumpang ini memang solusi, namun sifatnya sementara. Kita, harus lebih responsif dan menjadi active bystander (saksi). Kita tidak hanya mematung dan cuek ketika melihat pelecehan atau kkerasan seksual yang terjadi di sekitar kita. 

Selain itu, peran pemerintah juga sangat-sangat diperlukan. Niat baik Kemenhub melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek untuk kenyamanan transportasi publik memang patut diapresiasi namun tak lepas juga perlu dikritisi. Karena jika transportasi yang aman dan nyaman belum tercipta juga, bukan hanya korban pelecehan yang semakin banyak, tapi juga dampaknya lebih luas lagi, seperti kemacetan yang tak juga reda.

Mencipta transportasi yang aman dan nyaman khususnya untuk perempuan memang bukan kerja satu pihak. Semua pihak mulai dari masyarakat, instrumen hukum, infrastruktur yang mumpuni menjadi sebuah kesatuan yang sangat diperlukan. Jika semua terkendali, kita tentu tidak akan takut untuk naik kendaraan umum. Kita tentu tidak akan memilih pilihan berkendara pribadi jika transportasi umum sudah disediakan dengan layan. Semoga transportasi umum Indonesia semaki baik, sehingga kita tentu akan mudah berujar, "AYO NAIK BUS" kepada teman, keluarga dan anak-anak. 









Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "5 Hal yang Perlu Dilakukan Agar Terhindar Dari Pelecehan Seksual di Transportasi Umum"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)