Dunia Lingga

Memaknai Empat Tahun Pernikahan


Empat tahun pernikahan. Sejatinya umur pernikahan saya ini diibaratkan seperti balita. Berbicara pun masih cadel tapi sering banyak pertanyaan tak jelas muncul. Laiknya dosen penguji skripsi. Bertanya hal-hal di luar tema skripsi menjebak mahasiswanya.

Pernikahan memang tak seindah yang dibayangkan. Romantisme ala drama Korea. Dari temen jadi demen. Atau lebih banyak seperti ini, dari benci jadi cinta. Kawin kontrak sebel-sebelan jadi yang-yangan. Menikah lalu bahagia selamanya. Dengan anak cucu mengelilingi dan hidup tanpa kurang apapun. Sebagian diantaranya memaknai pernikahan layaknya mesra-mesraan ala gilingan tepung Fatimah dan Ali. Meski hidup susah namun tetap cinta.

Atau sebagian sudah tahu, bahwa menikah, sepenggal kisahnya mirip Romeo dan Juliet yang berakhir tragis. Sebagiannya berakhir di meja hijau atau digantung cintanya tanpa keputusan berarti. Atau juga pernikahan yang dihiasi kaum pelakor dan paltit penerkam binor-binor yang lagi-lagi mengisi akun gosip tetangga. 

Pernikahan dengan materi melimpah ruah, rumah ada, anak pun ada. Sayang, KDRT melekat bermuram durja, layaknya pak dokter yang menembak mati istrinya sendiri, ya begitulah berita yang sempat viral di Indonesia. 

Menikah, apapun itu pasti bentuknya ingin bahagia. Sayang, bahagia itu rupa-rupa bentuknya. Mungkin bagi sebagian istri, ia bahagia ketika bisa mandi dengan tenang dan berlama-lama di kamar mandi membersihkan diri. Sebagian lagi, bahagia pergi ke salon hingga pulang berwujud setengah artis  -jadi jadian- dengan wewangian yang tahan berhari-hari. Sebagian kaum istri mungkin sudah cukup bahagia jika suami mau membantu keriweuhan di dapur. 


Atau lihat, sebagian lainnya bahagia jika anak-anaknya doyan makan dan mampu membelikan anak boneka hafidz dan buku berjuta-juta. Sebagian lainnya bisa bahagia jika hadir anak dalam hidupnya sementara sebagian lainnya ingin anak cepat besar agar nggak perlu repot kalau mau arisan.

Bagi para suami, bahagia dalam pernikahan mungkin bisa menikmati waktu sendirinya. Mengumpat seenaknya jika tim sepak bolanya keok di kaki lawan. Juga bisa bercanda tentang poligami bersama rekan-rekan se-grup WA-nya. Di sisi lain, ada suami yang bahagia jika bisa membelikan istri dan anaknya macam-macam. Tanda ia 'sakses' sebagai kepala keluarga.

Oh, bahagia memang rupa-rupa bentuknya. Tak bisa kita menyamaratakan rasa bahagia menjalani pernikahan. Apalagi memaksa orang lain untuk bahagia seperti yang kita rasakan. Nyatanya kehidupan pernikahan memang penuh dengan tantangan. 

Hal-hal yang membuat gelisah, khawatir akan bagaimana biduk rumah tangga ini ke depannya. Akankah berjuang berdua, kala sakit kala senang. Akankah berjuang sendirian dan menahan sakit?

Memaknai Pernikahan
Sampai saat ini pun saya masih belum paham konsep pernikahan yang bahagia itu seperti apa. Sudahlah jelas, menjalani pernikahan bukan sekadar tenang tanpa adanya riak. Jelaslah memang pernikahan memang sebuah perjanjian yang agung dan maha berat. 

Kata Alquran, pernikahan itu, mistaqon gholidoh, akad pertama yang dilakukan oleh manusia kepada Allah setelah perjanjian Allah dengan Rasul Ulul Azmi dan perjanjian dengan Bani Israil. Berat ya? Iya seberat badan kami yang menggemuk bersama -_-

Sebagai pasangan muda (menuju tua), riak-riak menjalani kehidupan rumah tangga tentu selalu menghiasi setiap langkah. Kehidupan suami istri tanpa dimintapun pasti akan diguncang hujan badai. Tapi anggap badai menjadi penguat cinta, suami istri layaknya karang yang dihantam badai namun tetap tegak berdiri. 

Masih terkenang dalam ingatan bahwa menikah bagi saya pada awalnya hanya memenuhi separuh agama. Atau hanya menjadi sebuah cara agar tak selalu mendengar bisik-bisik saudara dan tetangga dengan muka culas dan bilang, kapan menikah? Kapan kawin? Embooh

Beruntung lelaki itu datang di saat yang tepat, meski bukan yang sempurna. Lah memang, tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada hanyalah pasangan yang tepat bagi kita, bukan? 

Di awal pernikahan, rasanya memang bunga-bunga cinta yang baru bersemi seperempat abad itu merekah. Yang ada suka tanpa duka. Setelah mulai mengenal, mulailah saya tahu kelebihan dan kekurangan suami yang sebenar-benarnya. Pernah baca buku 'Men are from Mars Women from Venus'? Bukunya John Gray ini benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi pada kami. 

Ambil contoh deh, terkadang saya merasa tidak didengarkan saat curhat atau bicara remeh temeh. Tapi menurut suami, dia sudah mendengarkan. Kata John Gray, laki-laki mendengarkan dengan kecenderungan memalingkan muka agar bisa memikirkan apa yang sedang dikatakan istrinya. Suami berpikir, konsentrasi dengan memalingkan diri. 

Tapi bagi kami para wanita, kontak mata itu sangat penting. Jadi, siapa yang salah? Ya nggak ada yang salah karena fitrahnya laki begitu, begitupun wanita. Tapi, alangkah bahagianya kalau si dia bersedia mendengarkan dengan tanggapan yang menentramkan, ya nggak moms

Saya dan suami sempat sedikit mengobrol tentang makna pernikahan. Apa sih yang paling dia suka dalam menjalani pernikahan? Jujur kalau saya, saya suka mencurahkan isi hati, curhat-curhat, dan mengeluh nggak jelas. Hahaha...apa ini fitrahnya wanita ya, banyak ngomel dan menumpahkan rasa senang, sedih, kecewa, sebal? Meski terkadang saya luput mencurahkan isi hati karena merasa terkadang hal tersebut agak sia-sia karena tanggapannya cuma 'Hmmm' atau 'Sabar aja'. 

Kalau dia, dari pernikahan katanya dia merasa nyaman dan tentram. Katanya kalau bobo nggak ada anak istri kok kayaknya ada yang kurang. Ditinggal istrinya 'me time' aja katanya kok bingung mau ngapain? Ini dia kok seperti ayat Alquran Ar Rum 21 yang ada di surat-surat undangan yaa hehe? 


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Ya apapun alasannya, toh menikah itu memang seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik, menjadi berkah karena bertambahnya ibadah (harusnya). Bukan hanya sekadar status sudah menikah dan berkeluarga. Di milad pernikahan kami yang ke empat 30 November lalu, memang tak pernah ada perayaan khusus. Makan ke luar? Tidak. Kasih hadiah? Tidak. Ia bahkan harus ke Jakarta dan meninggalkan saya dan Arfa selama empat hari. Tapi, milad yang gak ada perayaan ini saya memintanya membuat tulisan, biasa sih cewek kan sukanya digombalin, haha..ya biar tambah semangat gitu menjalani rumah tangga ini, weleeh

Kami memang bukan pasangan sempurna. Saya banyak kekurangan, pun dia. Lantas apa yang kami lakukan untuk tetap dapat merayakan cinta?
1. Saling asah asuh asih
Kalau kata KBBI saling itu adalah kata yang menerangkan perbuatan yang berbalas-balasan. Ketika suami perlu dimanja, istri melayani, begitu pula sebaliknya. Ketika istri lelah, suami harus peka untuk meringankan kelelahannya tersebut. Ketika istri malas masak, suami yang gantian memasak (coba tiap hari), terus dilempar emak-emak garis keras yang mungkin bilang saya istri durhaka, haha

Semakin tua usia pernikahan, laiknya memang harus juga tetap saling memuji pasangan seperti awal pernikahan. Saya sih sering puji dia ganteng, kalau ada maunya..hahaha..dia juga, sering puji saya istri solehah..tapi kalau ada maunya kayaknya, bahaha...

Memang terdengar kata saling ini mudah diucapkan, tapi nyatanya sangat sulit untuk dilakukan. Ketika ego masing-masing mengemuka misalnya lagi saling capek, yang ada, kata saling ini lebih mirip saling berbalas menyakitkan. 

2. Komunikasi dua arah
Jujur, komunikasi yang baik itu saya pun belum paham. Tapi dulu belajar mata kuliah Dasar-dasar Komunikasi, komunikasi dua arah adalah komunikasi yang ideal. Kenapa? Karena proses komunikasi ini ada timbal balik (feedback) atau respons saat pesan dikirimkan oleh sumber atau pemberi pesan kepada penerima pesan (ini sisa2 jadi asisten Daskom dulu masih ada bekasnya, haha). 

Komunikasi suami istri yang baik itu seperti apa sih? Agaknya setiap pasangan punya cara yang berbeda-beda dalam menjalin komunikasi. Kalau dalam rumah tangga kami, komunikasi dengan saling memberi kabar adalah hal penting, terutama jika suami kerja ke luar kota. Seenggaknya saya tahu dimana dan sedang berbuat apa. Memang tak seintens dulu yang tiap jam harus mengabarkan. Mungkin karena saya sudah menanamkan kepercayaan bahwa dia nggak akan macam-macam.

3. Menutup aib
Mungkin terdengar mudah, tapi menutup aib pasangan kadang luput pasangan lakukan. Lagi arisan, pada ngomongin suami. Begitu pula sebaliknya, ketika bapak-bapak ngumpul, omongannya nggak jauh dari membongkar aib pasangannya. Mulai dari urusan dapur hingga urusan kasur segala dicurhatin, amit-amitnya kalau sampai membanding-baningkan urusan rumah tangga sampai urusan seksual. Mungkin tujuannya mulia, buat curhat dan menyelesaikan masalah. Tapi, tanpa sadar itu sama saja membuka keburukan pasangan. Bukankah istri adalah pakaian suami dan begitupun suami pakaian istri. 

Kalau aib dalam pernikahan diumbar kemana-mana, sampai keterlibatan pihak ketiga keempat dan seterusnya ikut campur. Yang ada, bukan mengurangi masalah malah tambah masalah. Saya sebisa mungkin menghindari obrolan-obrolan yang menyerempet membuka aib suami. Pun semoga suami saya demikian. Menutupi kekurangan dan aib istrinya dari orang lain. Kalau mau curhat tentang suami kemana dong? Emang enak ditahan sendiri? Ya kalau bisa simpan dalam hati ya simpan, kalau mau curhat, curhat ke penciptanya, lalu ke orang yang melahirkannya. 

Masih banyak sih penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh pasangan menikah agar bahtera rumah tangga diberkahi Allah. Pernikahan, apapun bentuknya tentu ingin menggapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang seperti apa? Tentu bukan hanya soal materi, tapi tentu berharap pasangan kita dapat membawa kita ke surga, makin membuat kita rajin beribadah, juga tetap bisa mengaktualisasikan diri. Doakan kami agar tetap tegar menjalani biduk rumah tangga, di kala senang dan di saat sedih. Doakan agar tak ada kalimat, Ada Uang Abang Saya, Tak Ada Uang Abang Ditendang 

Tabik

Bubu Arfa







Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Memaknai Empat Tahun Pernikahan"

  1. Wah, kita sama-sama menikah di bulan November ya Mbak.. tapi saya tanggal 28, dan kemarin udah sewindu usianya..hihi..

    Iya, bahagia itu ngga bisa dilihat dari kacamata orang lain. Bahagia itu kita sendiri yang rasa. Jadi antara satu dengan yang lainnya pasti beda-beda.

    Betewe, happy wedding anniversary ya Mbak, semoga sakinah mawadah warahmah selama-lamanya.. aamiin..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)