Dunia Lingga

Menikah Bukan Untuk Bahagia


Sesungguhnya pernikahan itu taaruf sepanjang waktu. Benar adanya pepatah ini. Tepat tiga tahun pernikahan saya dan suami, selama tiga tahun pula saya harus terus mengenalnya.

Kalau bicara soal pernikahan, memori saya terbang ke masa lulus kuliah. Saat itu, 2010 kiranya, banyak teman saya yang menemukan separuh agamanya. Saya? Allah belum mempertemukan saya dengannya hingga tiga tahun kemudian.

Pertemuan kami adalah pertemuan yang 'dilarang', masa iya nikah dengan teman sekantor, banyak dong..haha. Siapa menyangka pula saya akan menikah dengan seorang jawa tulen Hafidz Muftisany,sementara saya di ujung pulau Jawa.

Allah kok mempertemukan kita ya? Waktu itu, bapak saya langganan koran Republika dan saya terus melihat setiap harinya lowongan menjadi jurnalis. Tak ada cita-cita menjadi jurnalis sebenarnya, tapi entah mengapa Allah menggerakkan saya untuk menulis lamaran kerja. 

Akhirnya, tepat setahun saya bekerja di Republika, seorang Hafidz Muftisany sms (masih zaman sms-an yak). Kita belum kenal saat itu, bertemu muka pun tidak. Saya di koran dia di online. Blas nggak pernah tahu yang mana orangnya.

Ceritanya doi sms karena dia pendatang baru di Republika. Dia melihat tulisan saya mengenai konflik Palestina-Israel saat itu. Ya cuma tulisan berita biasa sih. Dikira saya udah expert nulis yang begituan, sampai sekarang aja suka bingung kalau disuruh menjelaskan.

Singkat kata, kita setuju untuk berumah tangga. Pilihannya, dia atau saya yang harus resign dari kantor. Dan saya memilih untuk resign, padahal saya suka sama pekerjaan ini, sering jalan-jalannya hehe.

Memasuki pernikahan tahun ketiga ini, nyaris tanpa pertengkaran besar di dalam rumah tangga. Meski yang namanya love-hate relationship pasti sering terjadi.

Pernah dikomentarin kaya paus terdampar? Pernah. 
Pernah ngomentarin kulitnya kaya panci gosong? Pernah. 
Pernah dibully sama suami sendiri? Sering. 
Pernah ngebully dan ngerjain suami? Sering banget.

Pernah dikomentarin macam-macam, ah jangan ditanya. Pasangan kita adalah komentator sejati kita. Kalau dia udah cuek dan nggak komen apa-apa, ini yang patut diwaspadai. 

Kalau ditanya sering ada masalah di rumah tangga? Eh jangan ditanya, pasti adalah. Fatimah Az Zahra aja  kadang punya masalah rumah tangga sama Ali bin Abi Thalib, bahkan ketahuan nangis sama Rosulullah. Lalu siapa saya kalau nggak ada masalah sama sekali?

Tapi saya belajar bahwa, suami adalah pakaian saya, begitu pun sebaliknya, saya adalah pakaian buat dia. Seberat apapun masalah rumah tangga, haram hukumnya saya ceritakan ke luar, begitu pun kepada keluarga besar. Sebisa mungkin masalah diselesaikan berdua, tanpa diumbar ke linimasa.

Lalu, apa kami bahagia dengan pernikahan ini? Apa benar menikah untuk bahagia? Saya masih mencari arti bahagia di sini. Karena pasti ukurannya relatif. Tapi memang apa benar menikah untuk bahagia? Padahal sejatinya menikah itu untuk beribadah kepada Allah, untuk mencari keberkahan dari Allah.

Kalau kata Salim A. Fillah, keberkahan itu ziyaadatul khairi fii kulli hal, bertambahnya kebaikan di segala keadaan, semakin mesra kepada Allah di semua peristiwa, semakin dekat kepada Allah  di berbagai ujian hidup-lapang ataupun sempitnya, susah ataupun senangnya, kehilangan ataupun mendapatkannya. Semua keadaan itu dalam rangka ibadah. Maka kita mengharapkan ada berkah.

Lantas, di mana letak kebahagiaan? Bahagia hanya makmum bagi keduanya. Kebahagiaan hanyalah makmum di dalam kehidupan pernikahan kita. Hanyalah makmum bagi ibadah dan berkah yang kemudian kita tegakkan. Jadi pada dasarnya, menikah itu harus senantiasa bersyukur saat senang atau sedih. Tujuan menikah bukan hanya untuk meraih bahagia, tapi juga meraih berkah Allah.

Apakah pernikahan saya ini sudah penuh berkah? Yang saya mohonkan kepada pembaca blog ini, semoga pernikahan kami penuh dengan berkah, begitupun pernikahan sahabat-sahabat sekalian, atau sahabat yang mau memasuki gerbang pernikahan. 

Last but not least, selamat milad suamiku, kecup sayang dari neng dan Arfa. Semoga keluarga kecil kita diberkahi Allah. Terima kasih telah menjaga kami dan mencintai kami. Love u


Bubu Arfa

Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to "Menikah Bukan Untuk Bahagia"

  1. Menikah itu untuk bahagia hanya ada di drakor atau novel hihihi.
    Mungkin menikah itu semacam "petualangan" gtu ya mbak, trus bahagianya terletak pd prosesnya :D

    ReplyDelete
  2. Aminn pernikahannya menjadi berkah dan diberkati ya Lingga, saya belajar banyak nih dr artikel kamu, dan saya setuju dg judul artikel nya, menikah bukan unt bahagia.. saya berprinsip bahagia dg diri sendiri maka ketika menikah akan bisa menciptakan pernikahan yang bahagia.. :)

    ReplyDelete
  3. semoga langgeng terus..bahagia... menikah emang untyk bahagia..dengan cara kita sendiri...., klo nikah gak bahagia..itu nikah dipaksa...he2

    ReplyDelete
  4. Amin... Semoga langgeng dengan segala dinamikanya.

    ReplyDelete
  5. Semoga pernikahan Mbak bisa semakin berkah...Aamiin.
    Yang menciptakan bahagia itu hanya diri kita sendiri, Mbak. Bukan orang lain. Jadi...selamat berbahagia ya... ^_^

    ReplyDelete
  6. Jadi buat apa dong yak, garuk-garuk kepala. Hahaha, ta pikir dulu deh apa maknanya, ntar bikin artikel juga ah buat apa menikah. Untuk bahagia atau yang lainnya. Wkwkwk...

    ReplyDelete
  7. Kalau taarufnya kelamaan sebelum nikah itu pacaran namanya kan?? :)😁

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)