Dunia Lingga

Berbakti Kepada Orang Tua Setelah Berumah Tangga



Belum lama ini saya menangis sesegukan di depan suami. Melow gara-gara kangen Bapak dan Mamah. Suami cuma diam sambil puk puk-in saya. Jauh dari orang tua setelah berumah tangga terasa berat rasanya akhir-akhir ini. 

Padahal sebenarnya, saya sudah biasa jauh dari orang tua sebelum menikah. Ketika kuliah, saya empat tahun di Bogor sementara bapak mamah di Cilegon. Saya pulang setidaknya sebulan sekali ke Cilegon sekadar bertatap muka dengan mereka berdua.


Setelah menikah, saya tinggal di Depok. Masih tidak terlalu jauh untuk bersua karena bapak mamah pulang ke kampung halaman di Sukabumi. Naik kereta hanya dua jam dari Bogor. Saya usahakan untuk pulang sebulan atau dua bulan sekali. Nah, jadi tantangan sekarang saya sudah menetap di Klaten, Jateng ikut suami. 


Praktis waktu untuk bertemu semakin jarang karena jarak yang cukup jauh dari orang tua. Mengendarai mobil bisa  menghabiskan waktu belasan jam-an, tak berbeda juga jika naik ereta. Naik pesawat, berat diongkos. Tahu sendiri sekarang tiket pesawat naik gila-gilaan. Belum lagi nggak ada bandara langsung ke Sukabumi. Alhasil saya hanya bisa pulang dua atau tiga kali dalam setahun.

Terkadang terbersit keinginan untuk pindah rumah dekat dengan orang tua. Apalagi keduanya sudah cukup sepuh. Bapak sudah 62 tahun, Mamah 57 tahun. Ke-melow-an saya salah satunya karena belum lama ini Bapak sakit dan sedikit curhat kesepian. Maklum, cucunya pun dua-duanya jauh di Klaten. Sampai-sampai Bapak bilang mau mengangkat anak yatim agar bisa menemani beliau.

Deg..saat Bapak bilang begitu di telepon, saya menahan tangis. Saya nggak punya daya untuk segera pulang karena banyak kendala di sini, apalagi adek masih kecil. Pas Bapak bilang begitu, saya jadi membayangkan, apakah di hari tua nanti anak-anak akan hidup jauh dari saya dan acuh sama saya. Saya nangis kencang saat itu.


Kesedihan saya juga semakin memuncak kalau habis menelpon Mamah. Meski Mamah kalau ditelpon selalu ceria, tapi saya tahu dia merindukan cucu-cucunya. Setiap saat Mamah minta dikirimkan foto dan video cucu-cucunya. 

"Mamah mah kalau si ade ke sini mau cium-cium pipinya,"kata beliau.

Mamah juga curhat, rumah selalu sepi. Kakak laki-laki saya yang tinggal sama mamah selalu sibuk di luar karena kerja. Adik saya Anggit sudah menikah dan sekarang tinggal di Cilegon, sementara si bungsu, masih kuliah di Bandung.

Bapak, untuk mengusir sepinya, kerap pergi memancing atau mengobrol dengan teman-teman masa kecilnya di kampung sebelah. 

Saya merasa sangat bersalah. Saya juga merasa menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tua. Pernah nggak sih kalian yang jauh dari orang tua merasakan hal yang sama seperti saya?

Apalagi kalau mendengar mereka sakit dan anak-anaknya tidak ada di dekat mereka, saya semakin merasa down. Eh, nangis lagi deh. Kegalauan saya terbesar saat ini sih jauh dari orang tua. Pengen banget rasanya peluk mereka dan mengobrol secara langsung dengan keduanya.

Tapi saya harus strong kan, apalagi yang harus dipatuhi sekarang adalah suami. Karena tanggung jawab kedua orang tua saya sekarang ada pada suami. Tapi, bukan berarti saya cuma bisa meratapi dan malah nggak berbuat baik  kepada kedua orang tua. 

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu dan bapakmu. Jika salah seorang atau keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali – kali mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. “ (QS. Al Israa 23)

Lalu, apa yang biasa saya lakukan agar terus dapat berbakti kepada orang tua meski sudah berumah tangga?

1. Mendoakan keduanya
Salah satu bakti kepada kedua orang tua adalah dengan mendoakan keduanya. Kita kerap meminta doa dari orang tua namun kita sendiri terkadang lupa mendoakan mereka. 

“Rendahkanlah dirimu terhadap kedua orang tuamu dengan kasih sayang dan katakanlah: ‘ Ya Tuhanku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mengasihiku sewaktu aku kecil’.” (QS. Al Israa 24)

2. Tidak mengabarkan hal buruk dan membuat mereka khawatir
Saya sebisa mungkin tidak mengabarkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya, apalagi mengumbar aib  keluarga. 

Sebisa mungkin saya mengabarkan hal-hal baik yang membuat mereka senang dan tidak khawatir akan anak dan cucunya.  Kalaupun hendak mengabarkan berita buruk, saya harua berbicara santai dan tidak membuat mereka semakin khawatir.

3. Selalu menghubungi keduanya
Dahulu sebelum menikah, saya jarang menelepon karena kesibukan kuliah dan bekerja pada saat itu. Sekarang, saya mengusahakan untuk menghubungi mereka dan menanyakan kabar keduanya. Ternyata, orang tua itu enunggu-nunggu telepon dari anaknya. Saya sempat tanya, kenapa nggak menelepon dulian. "Kasian, takut Lingga sibuk,"kata Bapak. 

Ya Allah, saya jadi merasa makin sedih pas Bapak bilang begitu. Makanya,sekarang pasti saya yang menelepon duluan dan dengan ditelpon saja mereka sudah senang.

4. Membantu memenuhi kebutuhan orang tua
Bapak saya sudah pensiun dan Mamah membuka warung kelontong di depan rumah. Tentu, pendapatan mereka nggak sebanyak ketika bekerja dahulu. Apalagi Bapak masih punya kewajiban untuk menyekolahkan si bungsu.

Untungnya si bungsu ini baaiik banget Ya Allah..nggak minta macam-macam di kuliahnya. Sebagai kakak, saya sedikit membantu Idam untuk uang kuliahnya, meski jumlahnya nggak besar. 

Buat Bapak dan Mamah saya memberi sedikit untuk biaya listrik dan pulsa. Saya biasa membeli token tagihan listrik dan pulsa ke Tokopedia. Cek Tap Tap Kalender Promo Tokopedia karena cashback hingga Rp 500.000. Lumayan banget kan buat dibeliin pulsa lagi😁.

5. Membahagiakan mereka dengan mengunjunginya
Belum afdhal rasanya kalau berbakti kepada keduanya tanpa langsung bertemu. Meski tidak bisa seintens dahulu, saya usahakan kalau ada rezeki lebih untuk pulang bertemu keduanya, mendengar keluh kesahnya dan bercanda tawa dengan mereka. 

Insya Allah kalau tidak ada halangan awal April ini saya merencanakan ke Sukabumi dengan naik kereta atau pesawat dengan promo Tap Tap Mantap Tokopedia. Tiket pesawat ada cashback sampai satu juta. Lumayan ya Allah..

Berbagai cara dilakukan untuk tetap berbakti pada orang tua tak akan sanggup membalas jasa keduanya. Yang saya lakukan juga..ahh seperti remah rengginang untuk membalas cintanya mereka.

Cuma Bapak sempat berpesan kepada kami anak-anaknya untuk menjadi anak yang soleh dan solehah yang mendoakan kedua orang tuanya. "Amalan yang nggak putus sampai ke akhirat itu doanya anak-anak saleh. Bapak cuma minta itu,"kata Bapak. Insya Allah..

Kalau Sahabat, apa yang dilakukan saat jauh dari orang tua, apalagi yang sudah berumah tangga? Share dong😊

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Berbakti Kepada Orang Tua Setelah Berumah Tangga"

  1. Betul banget mbaa
    Kalau telfon orang tua itu mending cerita yang bagusbagus aja

    Yang bikin kuatir, disimpen dulu didalam hati supaya mereka enggak kalut.

    Aku belum menikah , tapi aku tau rasanya jauh dari orang tua. Aku juga kalau pulang cuma stahun sekali atau dua kali.
    Bedanya, orang tuaku itu masih tinggal sama kakakku jadi masih rame.

    Semoga kedua orang tua mbak lingga sehat selalu ya ^^

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)