Dunia Lingga

Pelan-pelan Menjauhi Riba


"Yang..ayoo KPR rumah..itu lihat si A udah punya rumah. Neng bosen di kontrakan, gak bebas isi-isi furnitur"pinta saya.
"Lihat tuh, kamar mandinya juga mampet melulu. Neng kan KZL, nyentornya harus berkali-kali..πŸ˜†"sambil pijet-pijet manja biar di acc.
"Kalau harus bersabar, harga properti makin naik, sementara isi tabungan kita nggak linier dengan harga properti. Belum lagi kebutuhan ini itu yang akan menggerus tabungan. Kapan punya rumah kalo gak KPR?"

Lagi-lagi rengekan saya pada suami agar segera punya rumah. Suami udah bosen kali mendengar permintaan saya.  Akhirnya suami ikhtiar lihat iklan properti di situs jual beli rumah. Banyak pilihan dengan berbagai fasilitas. Bahkan ada agen yang menawarkan DP nol Rupiah. Siapa yang nggak tergoda? Ternyata bukan Pertamina aja yg mulai dari nol..πŸ˜†

Kawasan Depok jadi pilihan, karena dekat dengan kantor suami saat itu. Juga harganya yang masuk kantong untuk buruh tinta partikelir macam suami saya itu. Pun saya yang seorang freelancer yang nggak punya slip gaji. Pun saya bukan pengusaha macam Bu Dendy yang gampangnya nyawer duit..Nyoooh nyooohh...duit..nyoooh..

Rumah di kawasan Cinere memikat hati kami. Uang panjernya dua juta. Tapi ternyata setelah diproses,  tidak disetujui bank. Melayanglah si dua juta itu. Padahal kalau dibelikan lipen, emak bisa punya ratusan lipen kayak sesembak beauty vlogger keturunan Arab yang baru nikah mewah *mamak korban akun gosip

Cari lagi, ketemulah rumah second di kawasan Sawangan. Lingkungannya nyaman, masjid dekat, tinggal loncat. Bismillah, kata saya. Pasti kali ini kami bisa punya rumah. Dengan luas 90 meter, harga rumah sekitar 300 juta saat itu.  Uang pangkalnya 10 persen dari harga rumah. Belum lagi biaya pajak jual beli yang juga harus kami bayar.

Dengan begitu, biaya uang pangkal dan pajak lebih kurang 50 juta Rupiah. Belum lagi biaya renovasi dan lain-lain. Hutang kami ke bank berarti sebesar 250 juta yang dicicil selama 15 tahun. Kurang lebih kami mencicil 3 juta setiap bulannya. Kalau dijumlah, hutang kami jadi 540 juta karena bunganya.

Berjalan satu tahun, cicilan tidak terkendala. Tapi kok hati ini selalu was-was. Seperti ada yang mengejar-ngejar. Tidur kok nggak sepules sebelum punya hutang. Makan rasanya kurang nikmat dan solat makin nggak khusuk. Terus ada saja kejadian yang bikin kepala cenut-cenut. Kalau diceritain bisa berapa episode Tukang Bubur Naik Haji ini sih. Inikah namanya hutang dan riba..deritanya tidak ada akhiir? πŸ˜‚

Jadi selama satu tahun itu, kami cuma mencicil bunganya. Ya Allah..makin-makin deh saya ngerasa enek mual kayak orang hamil. Jadi pengen bilang ke Dilan..yang berat itu bukan rindu, tapi ri...ba..hikkss hikss

Dibayar tiap bulan kena bunga, terlambat didenda dan kalau dilunasin malah kena penalti. Ohh God, begitukah derita riba..? Begini maksud dari hadis riba itu kejamnya lebih-lebih dari zina?

 “Satu dirham dari riba yang dimakan oleh seseorang dan ia tahu itu (riba), maka lebih besar di sisi Allah dari pada berzina tiga puluh enam kali“. (HR. Imam Ahmad dan At-Thabrani)

Tobat ya Allah..saya dan suami niat banget pengen keluar dari kekezzaman riba. Entah bagaimana Allah kasih jalan. Ada kejadian yang mengharuskan kami pulang ke kampung halaman di Klaten dan meninggalkan Depok secepatnya. Tapi saya dan suami bingung..mau lunasin KPR, uang belum cukup pula. Mau di over kredit kok ya sama saja nyuruh orang buat ngeredit juga, deketin riba juga. Jalan tengahnya sih dijual ke orang yang mau beli tunai terus kami lunasin hutang ke bank.

Tapi siapa yang beli dengan segera dengan harga bisa nutupin hutang ke bank? Pasang iklan di website jual beli rumah sudah dicoba dan belum berhasil. Ada teman tertarik tapi dia mau cicil juga ke bank. Wah sama saja saya menjerat teman tersebut. Kami sih nothing to lose..niat buat segera meninggalkan riba begitu kuat. Biar Allah yang kasih jalan.

Dan puji syukur, tiba-tiba saja sebuah partai politik -nomer 8- mencari basecamp untuk daerah Sawangan. Masya Allah..kenapa rumah kami? Rumah yang gak strategis-strategis amat untuk dibuat basecamp. Rumah yang nggak di pinggir jalan karena harus mendaki gunung..lewati lembah πŸ˜‚. Kenapa juga rumah kami, diantara rumah-rumah tetangga yang juga mau dijual? Memang sudah jalan yang diberikan Allah kalau niat kayaknya.

Harganya pun nggak rendah atau tinggi. Yang penting kami bisa melunasi hutang ke bank. Prosesnya pun mulus banget. Pihak pembeli melunasi dengan tunai dan kami tak kena pinalti bank karena cicilan masih di bawah dua tahun.

Alhamdulillah, pulang kampung ke Klaten kembali ngontrak rumah. Suami melepaskan pekerjaan tetapnya di Jakarta dan kini menjadi freelancer. Kembali ke titik nol untuk mulai bersabar dan ikhlas. Karena kalau dipikir-pikir, rumah yang dimiliki nggak akan dibawa mati 😣. Pun suami yang kini pekerjaannya lebih 'sehat' dan bisa lebih menghabiskan waktu dengan anak-anak.

Dan kini, selama hampir satu tahun di Klaten, kami tak menyangka akan bisa membeli tanah yang luasnya bahkan dua kali lipat dari luas rumah yang kami cicil sebelumnya. Sedikit demi sedikit tabungan cukup untuk membelinya dengan dukungan keluarga besar tentunya.  Meski perjuangan mempunyai rumah impian masih banyak prosesnya, insyaAllah kami terus meluruskan niat agar tak kembali terjerat riba.

Buat teman-teman yang masih terjebak riba, percayalah kalau kita benar-benar ingin menjauhi riba, luruskan niatnya. Insya Allah, Allah bakal kasih jalan keluar. Memang menurut kita nggak enak nih jalan yang Allah kasih. Ada saja masalah yang akan dihadapi.

Tapi percaya deh, rezeki akan barakah kalau niat kita lurus. Toh rezeki dari Allah akan selalu cukup untuk hidup, meski gak akan terus cukup untuk gaya hidup. Cacing saja Allah kasih rezeki kok..

Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang menghindari riba. Kalau bisa menghindari, kenapa nggak? Toh harta nggak akan dibawa sampai liang kubur. Bismillah saja..meski saya juga belum sepenuhnya lepas dari riba, sama-sama yuk pelan-pelan jauhi ribaπŸ€—πŸ€—

Teman-teman apa ada pengalaman terjebak riba dan bisa lepas dari riba? Atau masih berjuang untuk lepas dari riba? Share juga yaa pengalamannya πŸ€—

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pelan-pelan Menjauhi Riba"

  1. Pelan-pelan menjauhi riba, walaupun orang sekitar terutama keluarga terdekat mengatakan "Kalau nggak gitu, gimana bisa punya?" tetapi asalkan kita yakin bahwa Allah Maha Kaya niscaya rejeki kita pun akan dipermudah.

    ReplyDelete
  2. akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan.waspadalah temn2

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)