Dunia Lingga

Perlukah Penggunaan Minyak Telon Pada Bayi dan Balita?




"Ling, itu si Arfa udah mandi belum?" tanya Mamahku.
"Ling, itu si Arfa bau sih, gak dipakein minyak telon?" 

Yak Mamah mulai ngomel jika saya berkunjung ke rumah beliau di Sukabumi.

Di awal masa kelahiran Arfa, neneknya Arfa getol meminyaki Arfa dengan minyak telon sehabis mandi. Tak lupa pula menaburkan bedak ke seluruh tubuh dan muka. Minyak telon biar enggak kembung dan anak tetap hangat, kata beliau.

Saat itu saya sih ikutin apa kata Mamah biar tidak terjadi huru hara dan dianggap tidak patuh jika berkomentar. Maklum, ibu baru dianggap minim pengalaman. Tentu saya dianggap sebelah mata dan akan dianggap 'membangkang' jika tidak ikut tradisi keluarga.

Sekarang, setelah Arfa berusia 2 tahun dan tinggal berpisah sama Mamah, saya sangat jarang memakaikannya bedak dan minyak telon. Bahkan sejak usianya setahun saya mengurangi penggunaan bedak dan minyak telon. Alhasil, semprotan datang dari Mamah jika saya bertandang ke rumah Mamah di Sukabumi.

"Ieu budak teu diurus, pake minyak telon bisi kembung"
"Meuni barau kie budak teh" (bau banget anak ini)

Dan omelan-omelan lainnya.

Bukan tak mau memakaikan minyak telon, tapi sekarang Arfa selalu kabur kalau saya pakaikan minyak telon. Sepertinya dia tidak suka bau minyak telon. Saya hanya sesekali memakaikan minyak telon saat bepergian, biar wangi hehe.

Selain itu, emaknya udah males banget kalau harus ngejar-ngejar Arfa buat ngasih minyak telon ke badannya. Anaknya juga udah sering menolak. "Gak tukaa" (gak suka) katanya. Minyak telon juga mahal dibanding minyak lainnya, jadi lebih mengurangi karena buat pengiritan. Haha..emak-emak perhitungan.

Nyatanya, pemberian minyak telon ini nggak terlalu penting-penting amat. Menurut DSA Arifianto Apin, minyak telon memang bisa memberi kehangatan tetapi bukan berarti bisa mencegah bayi kembung. Menurutnya, definisi kembung pada bayi itu sangat-sangat subjektif.

Struktur perut bayi dan balita memang tampak buncit, tapi tidak berarti "kembung" penyakit. Isi lambung terdiri dari air (susu), makanan dan udara, jadi wajar kalo ada bunyi dung dung. Campuran semua itu menciptakan bunyi "dung dung" yang wajar pada bayi. Yang tidak wajar adalah: ketika perut membuncit, disertai muntah hijau berulang, akibat sumbatan saluran cerna.

Penggunaan minyak telon yang tidak cocok pada bayi akan menyebabkan  dermatitis kontak (alergi kulit, akibat teriritasi/hipersensitif). Kulit bayi jadi kering, merah, bahkan sampai mudah luka. Semata mata akibat bayi "tidak cocok" dengan penggunaan minyak, atau kosmetik bayi lain. Padahal niat orangtuanya baik, tapi bayinya yang tidak cocok.

Jadi menurutnya, tidak perlu khawatir lagi ya jika tidak pakai minyak telon, bedak, atau apapun setelah bayi mandi. Ritualnya cukup mandi, boleh pakai sabun dan sampo bayi, kemudian langsung pakai baju aja. Nggak usah ditambahi macam macam.


Di sisi lain, dr Inggrid Tania, dokter (conventional medicine) yg juga belajar ilmu herbal dan aromaterapi (traditional, alternative and complementary medicine) minyak telon justru punya efek rileks dan bisa meningkatkan bonding antara ibu dan anak.

Minyak telon terdiri dari campuran 3 minyak, yaitu minyak adas, minyak kayu putih dan minyak kelapa. Secara farmakologis, minyak tersebut memang mempunyai efek menghangatkan melalui efek vasodilatasi pembuluh darah yg kemudian menimbulkan sedikit efek anestesi; melemaskan otot, memberi rasa nyaman (relaksasi), jika 'dihirup' (sebagai aromaterapi) dan dioleskan serta dipijat pada kulit.

Kadang-kadang memang terjadi dermatitis kontak pada bayi akibat pemakaian minyak telon. Namun umumnya itu terjadi karena komposisi minyak telon yg kurang tepat. Misalnya komposisi minyak adas 30 persen, minyak kayuputih 30 persen dan minyak kelapa 40 persen cenderung menimbulkan dermatitis kontak karena minyak adas 30 persen itu terlalu berlebihan (kandungan anethol dlm minyak adas bersifat iritan), dan minyak kayuputih 30 persen juga terlalu berlebihan (terlalu panas).

Sebaiknya pilih minyak telon dengan komposisi yg tepat untuk menghindari risiko terjadinya dermatitis kontak pada bayi (dan, pakai/ oles secukupnya, jangan berlebihan). Contoh komposisi yg aman adalah minyak adas 15 persen, minyak kayuputih 20 persen, minyak kelapa 65 persen.

Menurutnya, pemakaian minyak telon memang tidak wajib. Tapi jika bayi dan ibu menjadi senang dan rileks, apalagi efek massage dgn minyak telon akan meningkatkan bonding antara ibu dengan bayi, tidak mengakibatkan kulit kering, dan tidak menimbulkan iritasi/ dermatitis kontak, penggunaan minyak telon tentu feel free to use. 

Jadi, perlukan penggunaan minyak telon pada bayi dan balita? Semua tergantung kita ya..tergantung kebutuhan kita. 

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Perlukah Penggunaan Minyak Telon Pada Bayi dan Balita? "

  1. anak saya tuh alergi pada minyak telon suka gatal-gatal jadi saya ngak pernah pakaikan anak saya minyak telon hehehe

    ReplyDelete
  2. Jadi balik lagi ke kulit si bayi ya, mba. Ya kasihan juga sih kalau kulitnya jadi iritasi, apalagi kulit bayi kan halus banget :D

    ReplyDelete
  3. Setuju sama endingnya...
    Tergantung kebutuhan. Dan aku termasuk yang tidak terlalu sering menggunakan terutama buat si kecil.

    ReplyDelete
  4. anakku sampe umur 2 tahun pake minyak telon, karena sering aku titipin di neneknya ... namanya orang jaman dulu klo ada bayi/batita gak pake minyak telon + bedak tabur itu kayak belum mandi

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)