Dunia Lingga

Masakan Rumah Silent Killer?

masakan rumah silent killer minyak goreng sunco


Jujur keluarga kecil kami adalah keluarga doyan jajan di luar. Kok kayaknya makanan di luar itu menggoda iman dan (keuangan) ya setiap harinya..hihii..Entah soto ayam, bakso, mie ayam, dan makanan jajanan lain terlihat memanggil-manggil minta disantap.*kalap*

Padahal, makanan di luar belum tentu terjaga kebersihannya dan kethayyibannya. Dalam Islam bilang, makanlah makanan yang halal dan thayyib. Thayyib di sini yaitu zatnya dinilai baik, tidak membahayakan tubuh dan akal. Sementara makanan di luaran sana, apa bisa saya menjamin bakal thayyib? Apa saya yakin saya bisa menjamin gizinya?

No. I guess not.

Saya dan suami pun berjanji akan lebih sering makan di rumah dan yang healthy. Meski baru berjanji, blah. Saya sih yakin-yakin saja kok makanan yang saya masak di rumah terjaga kebersihannya dan gizinya.

Tapi ternyata, tak hanya makanan di luar rumah, makanan dalam rumah pun berpotensi tidak baik dan tidak menyehatkan. Dalam Simposium Sunco 25 Februari 2017 di RSPP, Makanan Rumah Silent Killer? Pemikiran saya terbuka mengenai potensi masakan rumah yang ternyata bisa juga silent killer.

masakan rumah silent killer minyak goreng sunco


Makanan yang Thayyib

Oke, sebelum ngomongin makanan yang silent killer, kita fokus dulu apa itu makanan yang baik (thayyib) dan bergizi. Menurut Sekjen Persagi, Dr Entos Zainal, manusia digerakkan oleh sel saraf. Nah, agar sel saraf membelah sempurna dan melakukan peranannya, tentu dibutuhkan gizi yang baik. Gizi yang baik untuk pembelahan sel saraf dibentuk dari protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. 

masakan rumah silent killer minyak goreng sunco

Ibu hamil yang anemia, maka sel saraf anak tidak akan tercukupi. Alhasil, anak akan terhambat perkembangan otaknya, ringkih, dan anak anak gampang terkena penyakit karena daya tahan tubuh kurang. Akumulasi juga akan terjadi nanti ketika anak tumbuh dewasa dengan mudah terkena penyakit degeneratif (penyakit tidak menular) di usia yang relatif masih muda. Untuk itu, pemenuhan gizi untuk anak berawal dari ibu yang juga terpenuhi gizinya. 

Ibu hamil, kata dia, sangat penting untuk tercukupi gizinya karena gizi merupakan kunci terciptanya anak yang cerdas. Vitamin A, D, E, K sangat dibutuhkan di 1000 hari pertama kehidupan. Beberapa vitamin ini belum bisa digunakan jika tidak ada lemak. Sumber lemak bisa kita dapatkan dari lemak nabati dan hewani. Lemak nabati di antaranya minyak sawit. 

"Lemak itu untuk transportasi vitamin,"kata Dr Entos.

Konsumsi Lemak Sesuai Takaran

So, anggapan selama ini, lemak itu jahat, gak semua benar. Ternyata lemak diperlukan kok, asal tahu takarannya. Menurut Ibu Dr Theresia Irawati, Kasi Kemitraan Subdit Advokasi dan Kemitraan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, pola makan harus seimbang antara gula, garam, dan lemak. 

Menurut Permenkes No.30tahun 2013, batas konsumsi gula, garam, dan lemak adalah:
- Gula per orang per hari yaitu 50gram (empat sendok makan)
- Garam 2000 mgr natrium/soidum atau 5 gram garam (1 sendok teh)
- Lemak 67 gram (5 sendok makan)

Sayangnya, tidak semua orang melakukan pola makan seimbang. Akibatnya, konsumsi ketiganya berlebihan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2003, sebanyak 26,2 persen penduduk Indonesia mengkonsumsi garam berlebih, naik dari tahun 2009 yakni 24,5 persen dan lemak berlebih 40,7 persen dari tahun 2009 yakni 12,8 persen. 

Kenaikan ini menyebabkan perubahan pola penyakit yang mulanya terbesar penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Penyakit menular seperti infeksi saluran pernafasan atas, tuberkulosis, dan diare. Sedangkan penyakit tidak menular yaitu tekanan darah tinggi, stroke, jantung, dan diabetes.



Perubahan pola penyakit ini dikarenakan kita kurang melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga. Kita juga kurang makan sayur dan buah, terlalu banyak merokok dan minum alkohol. Untuk itu, memang perlu mengubah pola hidup sehat. 

Seperti yang dilakukan artis Christian Sugiono yang hadir saat simposium.Ia mengaku harus selalu tidur cukup dan juga berolahraga secara teratur. Tak lupa pula untuk mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak dalam makanan. "Anak saya pun sudah dibiasakan untuk tak selalu mengkonsumsi garam,"kata dia.

Lemak Jenuh Jahat?

Lain halnya dengan dr Theresia, dr Tirta Prawita Sari justru mengatakan, konsumsi lemak setiap orang berbeda-beda takarannya, karena tergantung kebutuhan tubuh. Yang menjadi persoalan di negara kita adalah gaya hidup yang tidak baik, akhirnya kini banyak penderita penyakit tidak menular. 

Yang perlu diwaspadai juga, kata dia, adalah lemak trans yang berasal dari lemak yang tak jenuh jenuh menjadi lemak jenuh. Lemak sendiri terbagi menjadi dua, lemak alam dan lemak sintetis. Nah, lemak alam inilah yang menghasilkan lemak jenuh, lemak tak jenuh dan lemak trans. 



Lemak jenuh trans ini yang mesti diwaspadai karena merupakan faktor resiko penyakit jantung. Lemak ini stabil pada ruang temperatur dan stabil pada pemanasan, contohnya minyak kelapa sawit.

Apa lemak trans jahat? Iya kayak Rangga yang nggak ada kabarnya hingga belasan purnama..*terAADC

Lalu bagaimana menghindari lemak trans ini?
- Kurangi konsumsi makanan yang sudah diproses
- Pilih butter daripada margarin
- Pilih olive oil atau minyak kelapa daripada minyak sayur
- Untuk menggoreng, lebih baik memilih minyak kelapa/kelapa sawit daripada minyak yang lainnya
- Baca label pada kemasan,jika terdapat kandungan hydrogenated oil dan partially hydrogenated vegetable oil sebisa mungkin dihindari.

Pilih Minyak yang #DikitNempel
Persepsi masyarakat mengatakan semua minyak goreng itu sama saja sudah melekat selama ini. Mulina Wijaya, Deputy Marketing Manager Sunco mengungkap, masyarakat kerap menganggap minyak goreng semua sama dan tidak berbahaya. Padahal, pemilihan minyak goreng yang baik bisa meminimalisir masakan rumah menjadi silent killer.

Untuk itu, agar terhindar masakan yang silent killer, pastikan jangan gunakan minyak secara berulang. Jika minyak berubah warna, sebaiknya ganti dengan minyak yang baru. Selain itu, hindari penggunaan suhu panas saat memasak, karena dapat membentuk radikal bebas yang merugikan kesehatan dan merusak kandungan vitamin dalam minyak goreng.

Kemudian, pilihlah #minyakgorengbaik, salah satu cirinya adalah warnanya yang bening. Minyak goreng juga memiliki tingkat kekentalan yang menyerupai air, bahkan lebih encer. Ciri-ciri lainnya, minyak tidak mudah beku, yang berarti mempunyai kandungan lemak jenuh yang lebih sedikit. 

Supaya lebih yakin, bisa dibuktikan dengan tes organoleptic, yakni dengan cara mengecap sejumlah minyak goreng (kira-kira 1 sendok). Jika tanpa ada rasa atau rasanya seperti air, itu salah satu tanda minyak goreng yang baik. Jika makanan digoreng, minyak Sunco hanyak sedikit nempel di makanan. 

masakan rumah silent killer minyak goreng sunco
Babang Tian nyeruput minyak Sunco *kalap*
masakan rumah silent killer minyak goreng sunco
Chef  Nanda membuat mayonaise ala Sunco

Nah, uji coba dilakukan Christian Sugiono yang saat itu hadir di simposium sebagai brand ambassador Sunco. Bapak ganteng ini mendapat tantangan untuk tes organoleptic dengan mengecap satu sendok minyak goreng Sunco. Diakuinya, minyak tidak berasa dan tidak nyangkut di tenggorokan. Hal yang sama diakui tiga ibu-ibu lainnya yang juga mencoba tes organoleptic ini.

Menurut Mulina, minyak goreng Sunco mengandung mengandung 57% asam lemak tak jenuh dan difortifikasi vitamin A 30% AKG (angka kebutuhan gizi). Pada Januari 2012, Sunco menerima penghargaan "Peduli Gizi 2012 Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng". Jadi, vitamin A akan tetap ada di minyak goreng meski memang berkurang kadarnya. 

Cuss ah ke Facebook Fanspage SunCo Indonesia buat tahu lebih banyak mengenai minyak goreng ini atau informasi menarik lainnya. Bisa juga kunjungi webnya di www.minyakgorengsunco.com  atau www.resepsehat.com untuk resep-resep sehat yang bisa dipraktikkan di rumah. So, gak usah khawatir lagi kalau masakan rumah jadi silent killer keluarga, huss huss sanaa... 









Subscribe to receive free email updates:

9 Responses to "Masakan Rumah Silent Killer?"

  1. Wah allhamdulillah di rumah pake Sunco. Soalnya harganya juga lebih ramah di kantong :)

    BalasHapus
  2. Pernah beberapa kali pakai sunco mba. Hasilnya memang lebih bening. Sebening Babang Tian #eaaa. Hihii
    Skarang makin aware nih dengan masakan rumahan :)

    BalasHapus
  3. Aku terpana fotonya. Kok ya bisa foto sambil ngintip di antara botol minyak.

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah...ilmu bermanfaat😍😍

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah...ilmu bermanfaat😍😍

    BalasHapus
  6. Foto bang Tiannya cakep, di antara sunco. Tips CERDIK nya keren, aku save ya, Mbak.

    BalasHapus
  7. kayaknya mesti make sunco, biar bisa bening katak brand ambasadornya. hehe.

    BalasHapus
  8. minyak goreng memang harus dikurangi, harusnya sih malah pake minyak kelapa...atau zaitun tp mahal hihi

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)