Dunia Lingga

Ngapain Aja di Raja Ampat? Day 3: Sensasi Mendaki Puncak Pianemo



Raja Ampat Hari Ketiga.

Raja Ampat memang surga bagi pecinta bahari dan biota laut di dalamnya. Di Pulau Mansuar saja, lokasi homestay kami, kami terkaget-kaget karena anak hiu hilir mudik di bibir pantai. Aih, memang masih anak-anak sih, tapi ya kalau si ibunya ikutan nemenin gimana? *lambaitangankekamera *benderaputih atau *benderakuning nih? Hahaha

Di hari ketiga ini, kami akan ke beberapa tempat. Memang tidak sesuai dengan itenerary karena mengingat kondisi cuaca yang galau. Kami akan menuju puncak Pianemo, Batu Pensil dan snorkeling di Desa Yenbuba dan Jembatan Arborek.

Snorkeling? Hmm..berenang saja nggak bisa. Tapi saya memberanikan dirilah, toh pakai life jacket ini. Oke, baju ganti sudah disiapkan, hingga sisir dan alat tempur lainnya.

Kami berangkat sekitar pukul 07.00 pagi. Kali ini perjalanan tidak akan sejauh ke Wayag. Kak Ricard bilang, seharian ini kita hanya membutuhkan 300 liter bensin. Artinya, jarak destinasi kali ini tidak sejauh ke puncak Wayag.  Mungkin hanya sekitar2-3 jam pulang pergi.

1. Menyesapi kecantikan Batu pensil

Sebelum ke puncak gugusan Pianemo, kapal disandarkan di landmark yang diberi nama Batu Pensil. Batu pensil ini terletak di Teluk Kabui yang tersusun seperti labirin-labirin pulau kecil. Kapten Noak sudah tahu betul wilayah Raja Ampat ini. Meski bentuknya labirin, ia tak pernah tersesat menuju destinasi wisata yang menarik wisatawan ini.

Tibalah kami di Batu Pensil. Lain dari karang-karang lainnya yang berbentuk oval atau bulat, batu pensil ini menjulang tinggi ke langit dan mengerucut layaknya pensil. Ada cerita dari Kapten Noak bahwa mengapa diberi nama batu pensil bukan karena bentuknya. Namun, saat membuka daerah ini, di batu tersebut ada pensil, entah milik siapa.

Well, Batu Pensil ini memang unik sehingga seperti menjadi destinasi wajib wisatawan Raja Ampat. Tak lupa kami mengabadikan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Saya melihat ke sekitar, lautan tenang dengan langit yang biru sempurna. 

Masya Allah, sulit untuk menggambarkan cantiknya gugusan batu karang ini. Meski terik matahari terasa sangat menyengat, rombongan semangat mengabadikan Batu Pensil dalam jepretan kamera masing-masing.

Mirip kepala laki-laki dan wanita berhadapan, abaikan yang di tengah, haha
  
Ada yang bilang juga, Batu Pensil ini sudah ada sejak zaman purbakala. Di seberangnya, terdapat dua batu karang mirip kepala manusia berhadapan. Batu yang besar merupakan kepala laki-laki sementara batu karang yang lebih kecil adalah kepala wanita. Ya, mungkin karena bentuknya mirip kepala dengan hidung yang terlihat lumayan mancung, wisatawan menyebut ini adalah batu pasangan.



Karena seringnya Batu Pensil ini dikunjungi, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat membuat dermaga kecil di sini. Selain wisatawan, konon katanya sering pasangan yang akan menikah berfoto prawedding di sini. Emang nggak salah tempat ini jadi spot prewedding karena memang indahnya luar biasa.


2. Mendaki puncak Pianemo

Setelah puas mengunjungi Batu Pensil, spot selanjutnya adalah gugusan Pianemo.Pianemo sendiri merupakan gugusan pulau di Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat. Hampir serupa dengan puncak Wayag, Pianemo ini gugusan bukit karst yang cantik dengan gradasi laut yang ciamik.

Selain mudah dijangkau, Pianemo juga tidak seekstrem Wayag. Di Pianemo sudah ada tangga untuk mendaki puncaknya, jadi medannya nggak terlalu susah.
Perjalanan kami tempuh lebih kurang dua jam dari Pulau Mansuar. Sebelumnya, kapten Noak memberhentikan kami di pos Pianemo untuk membayar uang masuk. Biaya masuk per speedboat adalah Rp 300.000. Menurut beberapa penjaga pos Pianemo, dalam satu harinya ada sekitar 10 speedboat yang masuk ke Pianemo. Sementara kapal besar hanya sekali atau dua kali kunjungan setiap harinya.


Sampailah kami di kaki puncak Pianemo. Wah, ternyata lebih ramai dibandingkan puncak Wayag yang tidak ada penjual satu pun. Di sini, banyak dijajakan kelapa muda, sate kerang, ikan asin, pinang, hingga minyak kelapa.

Saya memilih untuk naik ke Puncak Pianemo terlebih dahulu, sebelum mencicipi makanan di kaki Pianemo. Untuk sampai ke puncak Pianemo tidak terlalu sulit karena sudah ada tangga kayunya. Meski tak terlalu sulit seperti Wayag, menapaki 336 anak tangga Pianemo cukup melelahkan juga. Terlebih kemarin baru saja mendaki ke puncak Wayag, kaki ini rasanya seperti batu, sulit digerakkan.
Syukurnya, terhadap pos istirahat dengan bale-bale yang cukup menyejukkan. Saya dan ibu-ibu lainnya naik santai ke atas puncak. Tak lupa juga untuk mengambil foto anak-anak yang sedang bermain di sana. Memang cukup melelahkan untuk naik ke puncak Pianemo. 


Namun, lelah itu terbayarkan juga. Gugusan pulau-pulau kecil dengan gradasi hijau dan biru laut menjadikan landmark ini seperti dalam foto atau kalender. Saya sempat berpikir, ini pasti gambar di wallpaper komputer yang sudah diedit sedemikian rupa hingga terlihat indah.



Tapi nyatanya tidak. Ini adalah pemandangan nyata dari puncak Pianemo. Tak heran jika ratusan wisatawan datang ke sini setiap harinya. Rombongan bahkan harus mengantri untuk berfoto dengan latar gugusan pulau Pianemo ini. Meski cuaca sangat terik, kesempatan untuk mengabadikan Pianemo seperti tak boleh dilupakan. 

Sudah puas berfoto dan menikmati alam Pianemo, kami segera turun ke kaki bukit Pianemo. Rasa haus seakan tak tertahankan. Saya dan mba Levina memesan kelapa muda. Satu buah dihargai Rp 15.000 saja. Begitu pula sate kerang yang hanya Rp 15.000. 

Segarnya kelapa muda mengalir di tenggorokan setelah lelah keluar keringat untuk mencapai puncak. Rasanya seperti menemukan oase di padang pasir. Halaah..*dikeplak. Sayang seribu sayang, tidak ada es disini T.T. Menemukan es di Raja Ampat seperti menemukan jarum dalam jerami, hahaha..

Tante Fitri membeli delapan ekor kepiting kenari untuk dimakan nanti malam. Satu ekor dihargai sekitar Rp75.000. Ya lumayan mahal sih, tapi apa salahnya untuk mencoba seafood asli tanah Raja Ampat bukan?

Pelabuhan selanjutnya adalah Telaga Bintang. Sayang, kami sudah tak bersemangat dan sudah lapar berat. Sudah tidak ada tenaga untuk mendaki puncak kecil kembali. Telaga Bintang ini sendiri tak jauh dari puncak Pianemo. 

Sedikit mendaki, kita bisa melihat telaga gradasi biru dan hijau berbentuk bintang. Bagus sih untuk difoto, tapi, melihat keramaian yang ada, kami mengurungkan niat. Lanjut ke spot selanjutnya saja Kapteen!! Makaaaan, hati kecil saya.


3. Mencari nemo di Desa Yenbuba dan Desa Arborek

Spot selanjutnya adalah snorkeling di Desa Yenbuba. Di desa ini, tak perlu jauh-jauh untuk snorkeling. Karena di sekitar jembatan dermaga Desa Yenbuba ini biota laut sangat lengkap. Mulai dari reef fish, angel butterfly fish dan ikan karang lainnya. Belum lagi karang laut yang indah mulai dari soft coral hingga hard coral tersebar di Desa Yenbuba. 

Sebelum main air, kita mengisi perut terlebih dahulu. Kak Richard dan Manim menyajikan makanan yang dibawa dari homestay. Ada ayam rica-rica dan sayur labuh. Sambil menyantap makanan, sesekali saya memejamkan mata, merasakan embusan angin pantai yang tenang.

Desa Yenbuba memang sangat tenang. Terletak di Distrik Meos Mansar, penghuni desa disini dikenal karena cintanya terhadap lingkungan. Saya sempat bertanya kepada salah satu warga Yenbuba. Katanya,tak boleh memancing di sekitar dermaga, harus mancing ke tengah-tengah.

Beningnya...

Mengapa? Karena biota laut yang beragam dan langka yang sulit ditemukan di daerah lain. Haram hukumnya juga menginjak karang hidup yang sedang berkembang. 

Beberapa teman rombongan sudah snorkeling ke laut. Sementara saya, mba Levina dan koh Deddy terdiam. Hahaa, secara ini adalah snorkeling kami untuk pertama kalinya. Dan ternyata, kedalaman snorkeling kali ini mencapai 5-6 meter. Tuhan..saya nggak mau mati di sini, bisik hati saya.

Teh Levi: Ayo Lingga nyebur!
Gue: Teteh aja dulu.
Teh Levi: Lingga aja dulu *dan terus sampai malam, hehe becanda

Akhirnya, kami memberanikan diri untuk snorkeling, tentu dengan life jacket, kacamata dan alat nafasnya. Tak lupa saya membawa case handphone plastik yang biasa digunakan untuk menyelam. 

Byuuuurrr...gelagapan..
Baru inget masih dalam masa haid meski sudah nggak banyak keluar.
Aduh, jangan-jangan ada hiu mengincar lemak-lemak saya..

Tanpa sadar, case handphone kurang rapat saya kunci, alhasil air laut masuk ke dalam case. Ya Allah..handphone dengan banyak dokumentasi di Raja Ampat bisa wassalam.


Sedikit down, namun meneruskan snorkeling. Saya mencoba berenang-renang dan melihat keindahan bawah laut. Banyak ikan-ikan lucu menari-nari mengikuti arus air. Saya pun demikian. Menari-nari di tempat tanpa bisa kemana-mana. Setali tiga uang, teh Levina dan koh Deddy pun demikian. Hahaa..kami seperti diam ditempat tanpa harapan.

Tapi, teh Levi dan koh Deddy dengan cepat menyesuaikan diri. Sedikit-sedikit berpindah tempat. Sementara saya? Antara shock hape kena air dan shock melihat kedalaman laut. Hanya bisa terdiam dan minum air laut. Gelagapan..Sesekali Tante Fitri membantu saya untuk kembali berenang. Tapi, saya menyerah dan kembali ke speedboat. Masih ada satu spot lagi snorkeling, kali ini cukup sampai sini, Ling.

Pak Yana, salah satu rombongan kerap menertawai saya. Hahaa...katanya, saya sudah panik duluan dan tidak percaya diri. Iya sih, ya memang begitu ya, haha..seenggaknya, saya sempat melihat Dory dan Nemo berkeliaran di sini. Alhamdulillah..


Desa Arborek
Setelah puas snorkeling di Desa Yenbuba, rombongan meluncur ke Desa Arborek. Desa ini masih termasuk ke dalam Distrik Meos Mansar.

Desa ini juga cukup tenang. Terdengar lagu-lagu rohani di gereja desa. Juga anginnya yang tak terlalu kencang. Desa Arborek sangat rapi dan bersih. Warga desa pun sangat ahli dalam konservasi lingkungan. Tidak boleh mancing dekat dermaga, tak boleh menginjak karang dan buang sampah sembarangan.

Saya lihat anak-anak bermain di bibir pantai. Beberapa diantaranya memakai pakaian khas Papua dengan wajah dicoret kapur putih. Lucu dan menggemaskan.


Di desa ini, kita bisa melihat ikan dan karang yang berwarna-warni. Tak menyelampun, biota laut terlihat dengan jelas. Banyak ikan bergerak bergerombol melawan arus air. Awalnya saya memutuskan tak menyelam. Namun saya penasaran dengan keindahan bahari di dalamnya.

Kali ini saya cukup tenang dan bisa berenang ke sisi dermaga. Ikan-ikannya cantik seakan sedang menari dan bermanja-manja. Hanya sepuluh menit di dermaga, saya putuskan untuk udahan. Ternyata, sebagian rombongan pun tak berlama-lama di dalam air. Mungkin sudah kelelahan.

Menjelang sore, kami kembali ke homestay dengan jalan memutar karena terlihat badai di seberang sana. Benar saja, meski sudah memutar, kami harus merasakan hujan saat di speedboat. Angin laut dan percikan hujan menyapa kami. 

Untuk menghindari hujan, sebagian dari kami menutup anggota tubuh dengan life jacket. Lumayan, mengurangi kadar menggigil setelah snorkeling tanpa sempat berganti pakaian. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang tak akan saya lupakan seumur hidup.

Menjelang malam, kami sudah siap untuk menyantap kepiting kenari yang dibeli di Pianemo tadi. Mau tau rasanya? Diwakilin aja sama saya yah..





Subscribe to receive free email updates:

10 Responses to "Ngapain Aja di Raja Ampat? Day 3: Sensasi Mendaki Puncak Pianemo"

  1. Hihihi...pengalaman pertama snorkeling nih...demi ngeblog. Kalau ngga, mah jangan harap dah. Biasanya juga cuma jadi wasit doang di atas perahu. Tapi bersyukur juga sih akhirnya nyempung..

    BalasHapus
  2. Hahaha, itu quotesnya keren. Iya ya, ngapain juga galau kok ngajak-ngajak pohon :D

    BalasHapus
  3. Subhanallah raja ampat keren pisan euy....mudah mudahan ada kesempatan kesana..katanya biayanya mahal ya..lebih mahal daripada ke negara tetangga..

    BalasHapus
  4. Mba Lingga aku fokus ke mas2 yang ciuman Ama gunung #Eh. Hahhaa
    Duh asyinya pengalamannya

    BalasHapus
  5. Gambar yang kedua lucu..hihihi..jadi keliatan lagi ngesun batunya :)
    Saya selalu berharap bisa ke Raja Ampat, Mbak. Liat postingan ini, jadi tambah pengeen ..

    BalasHapus
  6. ya ampun..itu air bening banget... brrr..berasa dinginnya..
    seru banget snorkelingnya...

    BalasHapus
  7. Tambah kepingin ke sana.. bnr2 indah.y masyaAllah

    BalasHapus
  8. Nikmat manakah yg kau dustakan?
    Duuuhhh, Raja Ampaaaattt tunggu akuuuu ...

    Seru banget mbak Lingga.
    Mauuu ...

    BalasHapus
  9. Waaaah, cantik banget *Love
    Btw, itu kok bisa pas yah, model di tengah batu couple itu ahhahaa...
    Ada- ada aja nih :D

    BalasHapus
  10. Itu Koh Deddy, acara nge-sun batunya, keren!
    Alhamdullillah, berasa jalan-jalan ke Raja Ampat ne.
    Yang pasti, ke Raja Ampat, stamina kudu kuat!

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)