Dunia Lingga

Ngapain Saja 4D3N di Raja Ampat? Day 2: Hampir Mati di Puncak Wayag


Hari ini merupakan kedua di Raja Ampat. Kami berangkat pagi, sekitar pukul 06.00 untuk menuju gugusan pulau Wayag. Dari Pulau Mansuar hingga gugusan Wayag praktis memakan waktu selama 5 jam.

Menurut kapten Noak, untuk sampai ke gugusan Wayag dan balik lagi ke Pulau Mansuar, dibutuhkan sekitar 500 liter bensin. Satu liternya seharga Rp 13.000. Ini artinya, perjalanan ke gugusan pulau Wayag bisa menghabiskan Rp 6.500.000. Pantas saja wisata ke tempat ini cukup mahal. 

Masih seger mau berangkat ke Wayag
Selama di perahu, sebagian besar dari kami melakukan aktivitas yang sama: TIDUR. Haha, mungkin akumulasi lelah diperjalanan kemarin.


Selama dua jam perjalanan tanpa henti, perahu akhirnya disandarkan ke dermaga di permukiman Desa Selpele. Di desa ini, kami meminta izin kepada tetua adat agar perjalanan lancar. Di sini, kak Richard memberikan uang sebesar satu juta Rupiah sebagai tanda masuk ke wilayah Wayag. Uang ini merupakan retribusi untuk kemajuan Wayag.

Biota laut terlihat jelas. Ikan-ikan kecil seakan-akan menari manja menikmati sinar matahari pagi yang sudah mulai memanas. Kami tak lama di sini, sedikit foto-foto bersama anak Desa Selpele. Kapten Noak meminta kami kembali ke perahu dan meneruskan perjalanan.


Anak-anak Desa Selpele
Tak lama dari Desa Selpele, kapten kembali menyandarkan perahu di dermaga pos Wayag. Di sini, pin masuk Raja Ampat dikumpulkan untuk didata. Pin ini sendiri didapatkan saat di Pelabuhan Wasai atau di Sorong Tourist Information Center. Pin ini seharga Rp 500.000 yang bisa dipakai selama satu tahun. Jumlah ini dibagi menjadi Rp 75.000 untuk retribusi daerah, dan Rp 425.000 untuk biaya pemeliharaan Raja Ampat.

Segera saya tersadar, saya meninggalkan pin di jaket. Ahh..panic mode on. Jauh-jauh kemari dan nggak bawa pin terus nggak boleh masuk gimana? Ya Allah, teledor banget saya. Cuma saya yang nggak bawa pin tersebut. 

"Yang gak bawa pin gak bisa masuk,"kata Kak Richard lempeng. Saya mulai panik, terancam bakal sendirian di perahu dan melihat hiu-hiu seorang diri.

"Pasti ada datanya Kak, masa tidak bisa,"pinta saya. Kak Richard ngeloyor aja langsung menuju pos Wayag. Harap-harap cemas sambil melihat ratusan ikan baronang menari-nari di sekitar darmaga. Masya Allah, cantiknya alammu ini, gumam saya dalam hati.

Kak Richard kembali mendekat dan bilang, "Ayo naik perahu," Ya Allah, ternyata bisa kan, sudah deg-degan saya dari tadi.

Hampir mati di Puncak Wayag

Sekitar satu jam kemudian, Kapten Noak menyandarkan kapal ke tepian. Kami masih tertawa haha hihi saling bercanda satu sama lainnya untuk melepas penat.

"Ayo ibu-ibu dan bapak-bapak, kita sudah sampai,"ujar pemandu kami, Kak Richard asal Bima, kepada rombongan.

Seketika itu semua terdiam. Melongo. Dan terkaget-kaget. Tante Fitri, salah satu dari rombongan sempat teriak. "SERIOUSLYYYY???"tanyanya pada Richard.

Kak Richard mengangguk mengiyakan. 

"Kak Richard ini serius?"tanya saya.

Mukanya lempeng, tanpa senyum atau candaan. Ya, ini serius, terlihat dari guratan wajahnya.


Kami akan mendaki puncak Wayag, tanpa bantuan apapun. Baik tali atau alat bantu lainnya. Tahu kan pemandangan ikonik Raja Ampat di kalender atau televisi? Itu gugusan pulau di Wayag. Buat berfoto cantik dengan background seperti itu, kita harus mendaki gunung batu karang yang sering disebut puncak Wayaq 1.

Tak ada satu pun dari kami yang membayangkan medan akan seterjal ini, bahkan hampir vertikal. Kemiringan mungkin hampir 80 derajat. HAH? Ini sih rock climbing. Gila, bisa mati konyol di sini. Tanpa pengaman, tanpa sarung tangan atau helm.

NEKAT. Semuanya nekat untuk naik ke puncak Wayaq. Bahkan, tiga orang rombongan adalah ibu-ibu berusia kepala empat. Semua mendaki demi melihat indahnya gugusan Wayag dari puncak tertinggi.

Oke,kami akhirnya memberanikan diri. Manim, salah satu pemandu, membuka jalan. Sudah ada bekas tapak berwarna kekuningan dari wisatawan sebelumnya. Kita tinggal mengikuti lajur tersebut.


Ya Allah, begini ya rasanya untuk merasakan pemandangan cantik gugusan Wayag? Batin saya.

Semua anggota tubuh bekerja. Kedua tangan digunakan untuk menjangkau bebatuan yang tak rapuh. Sementara kaki mencari pijakan yang kokoh.

Anggota badan harus berkoordinasi sempurna. Kalau tidak, bisa terperosok dan kembali pada-Nya, hikss..

Mendaki selama setengah jam belum juga terlihat puncaknya. Beberapa orang sudah sampai puncak. Sementara saya, tebak dimana? HAHA. Saya berada di urutan paling buncit karena beurat ku bujur. Belum lagi saya memakai rok celana yang ternyata nggak simpel untuk dipakai mendaki. Sebagian dari kita juga tanpa persiapan. Pakai sepatu seadanya bahkan sendal jepit, bukan sepatu kets. 

Tante Erika dan Tante Fitri menyerah. Sudah sepertiga perjalanan padahal. Tante Erika hampir black out di perjalanan. Kami memberinya air agar tenaganya pulih kembali. Sementara saya mencoba melanjutkan perjalanan. 

Kaki dan dengkul mulai gemetar. Saya sesekali berhenti untuk mengatur nafas. Sesekali pula saya menenggak air minum. Seketika itu saya merasa mual. Sudah lama saya tidak naik gunung. Terakhir kali mungkin saat kuliah.


Namun, ketika mengintip gugusan pulau Wayag dari dua pertiga perjalanan saya, hati mulai berdesir. CANTIKNYAAA Indonesiaa...Masya Allah..saya harus kuat dan terus mendaki untuk melihat lebih luas lagi cantiknya Wayag.

Selangkah demi selangkah saya tapaki. Bebatuan mulai terasa panas. Tangan dan kaki lecet karena batu karang yang cukup tajam. Beberapa orang sudah sampai puncaknya. Saya bersusah payah untuk naik.


Puncaknya sudah terlihat dan akhirnya SAMPAAI juga. Brukkk, saya duduk untuk menenangkan diri seraya menyeruput segelas air. Segarnya..

Tenaga sudah mulai kembali, meski kaki ini masih terasa gemetar. Saya pandangi pemandangan indah gugusan Wayag. Masya Allah, indahnya seperti gambar-gambar di wallpaper handphone. Begitu nyata dengan laut biru gradasi hijau semakin menambah pesona gugusan Wayag.

Sampai juga di puncak wayag


Lelah selama mendaki sekejap hilang melihat gugusan pulau yang memanjakan mata. Tak lupa kami mengabadikan momen langka di puncak bukit. Sebagian malah dengan berani berfoto di atas pohon untuk mendapatkan potret terbaik gugusan Wayag.

Hampir setengah jam kami di puncak Wayag. Waktunya untuk turun dan makan siang. Saya memberanikan diri untuk turun secepatnya. Sayang, saat turun lelah itu semakin menjadi-jadi. Lutut seperti tak sanggup menahan beban. Sebagian rombongan mendahului saya. Saya lebih banyak berhenti untuk minum dan meredakan mual.

Dan akhirnya, tinggal saya yang belum sampai juga di kaki bukit terjal. Koh Deddy dan Kak Richard sengaja menunggu saya di atas. Eiitss, kaki mencari pijakan namun tak sampai. Bruuuuuk...Akkkkkk..jatuh terguling sejauh satu meter. 

Di saat ini saya berpikir, saya akan meninggal di sini. Ya Allah, apa saya bakal meninggal di sini? Sedih rasanya saat itu. Namun saya kembali berdialog dengan diri sendiri bahwa saya bisa, saya pasti bisa.

"Mba gak papa?"tanya Michella, kawan satu rombongan saya. Saya meyakinkannya bahwa saya tidak apa-apa. Saya harus bisa ke bawah, sedikit lagi, batin saya.

Saat hampir sampai, rombongan sudah ada di perahu dan meneriaki saya sambil bertepuk tangan. "Ayoo mba Lingga..ayoo mba Lingga,"riuh rendah suara tepukan dari perahu. 

Bruuk..loncat dan sampailah saya di perahu dengan selamat dengan lecet dan lebam di kaki. Alhamdulillah..


Menikmati pantai Wayag
  


Wajah-wajah lelah dan lapar sangat terlihat jelas. Kapten Noak memberhentikan perahu di bibir pantai Wayaq. Masya Allah, pantainya sangat indah. Makanan rumahan pun kembali dihidangkan. Ada terong balado, sayur labuh, ikan balado, dan camilan. Sedapnya tak terkira. Saking laparnya, kami bahkan tak banyak berkata-kata. Hap-hap,makan dengan lahap.

Sesudah mengisi perut, sebagian berenang di pantai untuk melepas lelah. Airnya sangat jernih dan terlihat gradasi warna hijau dan biru. Belum lagi pulau-pulau kecil menambah pesona pantai Wayag. 

Kapten Noak memanggil agar kami segera ke perahu. Langit di sisi utara sudah terlihat mendung. Kapten khawatir jika tak segera pulang, rombongan bisa menghadapi hujan dan badai di lautan. Petualangan hari ini yang sangat melelahkan namun begitu memorable. Tak salah jika Raja Ampat disebut-sebut sebagai pesona bahari paling cantik di seluruh dunia. 

Meski begitu, perlu persiapan khusus untuk menaiki puncak Wayag ini. Berdasarkan pengalaman, berikut tips mendaki puncak Wayag Raja Ampat,Papua.

1. Bawa air minum yang cukup
Well, mendaki gunung Wayag bukan perkara mudah. Selain keringat bercucuran, juga matahari yang menyengat bisa membuat kita dehidrasi. Sediakan selalu air minum di tas kita masing-masing.

2. Pakai topi
Meskipun kami pergi pagi-pagi sekali, sampai di Wayag sekitar jam 9.00 atau 10.00. Matahari pagi memang bagus, namun, sayangnya di sini sinar matahari sangat menyengat. Pakai alat pelindung seperti topi agar tak kepanasan.

3. Pakai sunblock dengan SPF tinggi
Pulang-pulang dari Wayag, muka saya belang-belang karena kepanasan. Ini sih karena kurang pelindung berupa nilai SPF yang tinggi.Jangan lupa pakai SPF tinggi misalnya SPF +130, bahkan +150.

4. Bawa sarung tangan
Untuk mendaki Wayag, sarung tangan sepertinya sangat diperlukan. Batu karang sangat tajam sehingga membuat tangan luka-luka dan lecet.

5. Pakai sepatu kets
Nah, buat jaga-jaga, pakailah sepatu kets saat naik ke puncak Wayaq.Kenapa?  Karena medannya yang terjal dan membahayakan jika pakai sepatu biasa bahkan sendal. 


  

Subscribe to receive free email updates:

19 Responses to "Ngapain Saja 4D3N di Raja Ampat? Day 2: Hampir Mati di Puncak Wayag"

  1. Itu sengaja...kita udah janjian..kalo lingga muncul harus dikasih semangat. Duh maaf yak daku turun duluan, soalnya kalian pada masih betah di atas foto-foto, sedangkan aku sudah tidak kuat panas-panasan di puncak. Untung sampe bawah juga. Udah mau nyerah di tengah jalan....xixi.

    BalasHapus
  2. Mba Lingga pandangannya SubhanaAllah cakep banget. Baru tahu kalau harus liat pemandangan sekece itu harus mendaki jauh juga ya mba. Selamat ya mba. Pengalamannya keren :)

    BalasHapus
  3. Hmm, mupeng liat poto2nya, emang kece banget ya pemandangannya di sana, apalagi yang dateng langsung, ikoot atulaah!

    BalasHapus
  4. Keren banget pesona alam di Raja Ampat ya Mba.. Beruntung banget bisa sampai di tempat eksoktik tsb..

    BalasHapus
  5. Wuihh..keren banget mbak..kapan ya bisa kesana..

    BalasHapus
  6. Luar biasa perjuangannya ya mbaaaa.... Semoga bisa menjejakkan kaki juga di Raja Ampat. Amin...

    BalasHapus
  7. Hadeeh pesona alamnya bikin Ngiler nih,,
    Tapi harganya juga lumayan ya mbk, hehe

    BalasHapus
  8. ayiknya..jalan2...
    eh beneran unik ya pulau wayag.. kaya rumah adat dimana..gitu aku lupa..he2

    BalasHapus
  9. Ya Allah Mbak...rasanya saya gak habis-habis mengagumi keindahan di sana. Subhanalloh indah sekali. Ternyata untuk dapat pemandangan bagus itu, harus mendaki di tebing yg terjal ya...Kayaknya rasa capek hilang, saat melihat keindahan Raja Ampat.

    BalasHapus
  10. Cantik banget pemandangannya Mbk, tapi ngeri juga ya harus mendaki terjal tanpa alat bantu, hiiks

    BalasHapus
  11. Subhanallah indahnya. Tapi perjuangannya Subhanallah juga beratnya. Mbak itu klo turunnya gimana krn gak ada bantuan alat sama sekali. Berarti klo mau ke Raja ampat gak bisa travelling bareng anak ya

    BalasHapus
  12. Makasi mbk lingga dpt pengalaman serunya, siapa tau saya bisa berkesempatan juga ke Raja.Ampat

    BalasHapus
  13. Raja Ampaaaat, kapan aku bisa kesana yaa. Huhuu... selamat mbaa, doakan aku bisa nyusul ke sana ikut jejakmu yaa

    BalasHapus
  14. Ibarat mu lihat surga, mesti lewat neraka dulu, ya mbak.

    BalasHapus
  15. asyik banget pemandangannya subhanallahu jadi pengen kesana . momen yang menyenangkan ya

    BalasHapus
  16. Wonderful Indonesiaaaaaa <3 <3 <3
    Beruntungnya dirimu bisa menjejakkan kaki di sana Mba, gratis pulak :D

    BalasHapus
  17. Mbak Lingga, how lucky you are. Bisa menikmati pemandangan yang nggak semua orang punya kesempatan menikmatinya secara langsung. Moment tak terlupakan banget nih.

    BalasHapus
  18. Kudu jaga stamina kalau ke Wayag. Noted.
    Aku ikut-ikutan tegang euuui, saat membacanya.
    Hal yang sama pernah aku alami saat mendaki Anak Krakatau. Stamina kudu dijaga.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)