Dunia Lingga

Ngapain Saja 4D3N di Raja Ampat? Day 1: Perjalanan Panjang Sorong-Pulau Mansuar


Raja Ampat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa menapaki surga kecil Indonesia Timur ini. Selain karena cukup jauh, biaya ke Raja Ampat dikenal mahal. Awalnya hanya bisa bermimpi menjelajahi gugusan 1.800-an pulau ini.

Kesempatan ke Raja Ampat datang, setelah saya memenangkan lomba blog yang diadakan oleh Cheria Travel. Lomba ini berhadiah tur ke Raja Ampat gratis sekaligus diberi uang sakunya. Dua pemenang lainnya yaitu Koh Deddy Huang dan teteh Levina Mandalagiri. Raja Ampat, kini bukan hanya mimpi bahkan ilusi, hehe.


Seperti yang kita tahu bersama, tur ke Raja Ampat terbilang cukup mahal. Mulai dari tiket, dan biaya hidup selama di sana. Saat kesempatan itu datang, tak laik lah jika tidak dimanfaatkan.

Pihak travel menjadwalkan tur Raja Ampat pada 9-13 November. Sayangnya, koh Deddy tidak bisa pada tanggal tersebut karena akan pindahan rumah. Menurut doi, pindahan rumah ini jadi hal yang sakral dan tidak bisa dimaju mundur cantik jadwalnya. Oke, akhirnya kami mencari jalan tengah. Mulai dari opsi tur di akhir November hingga Desember.

Akhirnya, dipilihlah tanggal 16-21 November untuk trip kali ini. Kami tak hanya bertiga, karena ini adalah open trip. Di Raja Ampat nanti, kami akan bergabung dengan rombongan lainnya. Dan saya baru ingat, ditanggal segitu adalah jadwal my period. Oh my, bakal dikecup hiu-hiu nih..huaa..

Begitu sudah fiks semua, saya ke Sukabumi untuk menitipkan si kecil ke nenek kakeknya. Beruntung kakek neneknya tidak berkeberatan. Bahkan, sangat senang cucu pertamanya itu bisa tinggal lebih lama. Sebenarnya, saya tidak pernah meninggalkan Arfa lama. Ketika harus meninggalkannya cukup lama, rasa galau itu makin terasa. Begini ya rasanya ibu-ibu bakal pergi lama dan nggak ketemu anak, ahh, melooow sangaat, *cari tisu.

Tapi saya yakin bahwa Arfa bakal baik-baik saja di Sukabumi dengan penjagaan kakek neneknya. Saya menyiapkan segala keperluannya, mulai dari susu hingga makanan. Kakek nenek Arfa tinggal terima beres. *tears lagi*

Saya tak banyak melakukan persiapan untuk ke Raja Ampat. Padahal, ini akan jadi pelajaran bagi saya mengapa tak mempersiapkan sedemikian hingga alat tempur di sana. Mulai dari jatuh saat naik puncak wayaq, hingga handphone harus tercebur ke laut saat snorkeling. Ceritanya akan saya bagi di part selanjutnya, haha. Terima kasih buat koh Deddy yang bisa diminta foto-foto selama di Raja Ampat karena hape saya yang wassalam itu T.T

Hari yang dijadwalkan tiba. Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.00. Saya menyempatkan ke kantor Cheria di kawasan Mampang untuk dibrief seputar trip ke Raja Ampat kali ini. Kantor Cheria memang berwarna warni sesuai dengan namanya. Saya bertemu dengan pemilik Cheria Travel, Pak Cheriatna. Pak Cheriatna sendiri belum pernah menapaki Raja Ampat. Setelah beramah-tamah sebentar, saya pamit. 

Handphone saya sudah berdering beberapa kali. Panggilan sopir online mungkin, pikir saya. Ternyata benar, sopir taksi online sudah menunggu untuk mengantarkan saya ke Bandara Soekarno Hatta.

Tak perlu cukup lama untuk sampai bandara. Keahlian sopir taksi dalam mengemudi seperti tiada duanya. Kecepatan mobil ditingkatkan. Jantung ini berdetak lebih cepat melihat aksi pak sopir. Tolong Pak..saya masih ingin hidup..bisik saya dalam hati.


Seakan tak mendengar bisikan hati saya, laju mobil semakin bertambah. Hanya butuh waktu 40 menit sampai di Bandara Soetta. Ya Allah, bapak sopir ini mungkin jelmaan si bocah ajaib Marc Marquez.

Saya sudah berada di bandara pukul 18.00. Sementara penerbangan pada pukul 10.20 malam. Sepertinya waktu selama itu bisa mengepel lantai bandara terminal 2 ya, hehe. 

Untuk kali pertama saya bertemu koh Deddy Huang blogger asal Palembang, juga teh Levina blogger asal Cilegon. Tak mau menghabiskan waktu, kita mengobrol ngalor-ngidul untuk membunuh waktu. Tak lupa pula untuk berfoto bersama.

Transportasi ke Raja Ampat

Penerbangan kami tidak langsung ke Bandara Domine Eduark Osok di Sorong, namun transit dahulu di Makassar, Sulawesi Selatan. Memang sebagian besar penerbangan ke Sorong transit terlebih dahulu di Makassar atau pun Manado. Kalau tidak salah sih, penerbangan langsung Jakarta-Sorong hanya dilayani oleh Garuda Indonesia.

Setelah transit di Makassar, kami akan terbang lagi menuju Sorong pada pukul 04.00 waktu Makassar. Wah, rasanya mata sudah ingin terlelap. Namun sayangnya, bandara Sultan Hasanudin Makassar tak cukup asyik untuk dibuat tidur barang sebentar. 


Kursi ruang tunggu masih sedikit membuat penumpang agak berdesakan. Belum lagi kamar kecilnya yang kotor dan tidak hiegenis. Begadang jangan begadang deh jadinya. Akhirnya kami memilih untuk berkeliling dan berfoto-foto di bandara internasional ini. Berada di bandara ini membuat saya ingin berucap, Mama..sumber air suudeekaaat..Karena lihat orang-orang yang berwajah khas timur di sini.

Syukurnya tidak ada delay dan kendala apapun selama penerbangan menuju Sorong. Sesampainya di Bandara Domine Eduark Osok, telepon berdering beberapa kali. Rupanya Bu Uce, travel mitra Cheria Travel yang akan menjemput kami di sana sudah menunggu dari pagi.

Kami merupakan rombongan kedua yang sampai di Sorong. Sebelumnya, rombongan pertama berjumlah 4 orang sudah terlebih dahulu melaju ke Pelabuhan Rakyat Sorong. Kami diminta Bu Uce untuk menunggu rombongan terakhir untuk sama-sama pergi ke Pelabuhan dengan mobil tur.

Dari Bandara Domine Eduark Osok, alat transportasi menuju Pelabuhan Rakyat Sorong adalah taksi. Eitts..jangan salah. Taksi di Sorong tak seperti taksi pada umumnya di daerah lain. Di sini, taksi bisa berupa penyewaan mobil atau angkutan kota (angkot).



Untuk penyewaan mobil di Sorong, biaya dihitung per-jam. Biasanya satu jam-nya Rp 100.000. Ya, kalau bisa sih pintar-pintar menawar karena harga masih bisa diturunkan meski sangat tipis. Kalau angkot (disana mereka sebut taksi), tak berbeda harganya dengan di Pulau Jawa. Angkot dalam kota berwarna kuning jauh dekat Rp5000. Sementara angkot biru melayani rute kabupaten.

Sebelum ke pelabuhan, kami membeli beberapa perlengkapan selama di homestay. Oiya, di Sorong dan Raja Ampat, hanya ada satu provider yakni Telkomsel. Untuk itu, siap-siaplah membeli paket data atau kartu baru untuk menghubungi sanak-saudara. Kami juga sempat mampir ke tempat makan Sunda di Sorong. Porsi nasi di sini lebih besar dibanding Jakarta ya. 

Saya memesan nasi ayam kremes. Murah, pikir saya. Hanya Rp 25.000 per porsi. Tapi saat meminta bill, mengapa harganya Rp 40.000? Wah, ternyata, ini belum sepaket dengan tempe tahu yang harganya RP15.000. Hahaa..ini sih mahal-mahal juga yak..



Kami menuju Pelabuhan Pelayaran Rakyat Sorong sebagai salah satu akses menuju Raja Ampat. Terdapat pula Pelabuhan Usaha Mina, namun masih jarang dipakai untuk ke Raja Ampat. Tujuan kami adalah Wasai, salah satu dari empat pulau besar di Kabupaten Raja Ampat. Tiga pulau besar lainnya yakni Batanta, Salawati, dan Misool.



Pada hari Senin, Rabu dan Jumat terdapat dua kali perjalanan ferry cepat bahari Exppress. Jadwal tetap biasanya pukul 09.00 dan pukul 14.00. Sementara hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu hanya ada satu kali keberangkatan pada pukul 14.00 waktu Papua. 


Kami dibelikan tiket kelas ekonomi oleh Bu Uce seharga Rp 130.000. Jika ingin lebih ekslusif, bisa memesan tiket VIP yang dibanderol dengan harga RP230.000. Ferry-nya lumayan bersih, meski agak kecewa karena keberangkatan tidak sesuai jadwal. Belum lagi AC yang tidak bekerja maksimal. Serasa jadi dendeng di sini, hehe. 


Kami sudah berada di ferry sejak pukul 12.00 dan ferry baru menyalakan mesinnya pada pukul 15.00. Di lantai dua ferry, terdapat pedagang pop mie atau makanan sejenisnya. Di sini, semua jenis makanan dihargai sama. Mulai dari pilus, ciki-cikian, sampai teh botol dipukul rata RP 10.000. 

Perjalanan ferry dari Pelabuhan Rakyat Sorong sampai ke Wasai memakan waktu 2 jam. Sebenarnya ada akses ke Wasai dengan menggunakan pesawat Susi Air dengan harga tiket sekitar Rp400.000. Tapi, sepertinya sensasi naik ferry bisa jadi pilihan yang cukup bagus.


Deburan ombak dan sapaan lembut angin laut menerpa wajah saya. Sekejap saya memejamkan mata seraya berucap, Masya Allah..bumi-Mu ini sangat luas, indahnya ciptaan-Mu membuatku selalu ingin mengucap syukur. Benar kata pepatah, bumi ini bagaikan buku. Tanpa travelling, kita hanya membaca halaman pertama. Bepergian dan bertemu wajah-wajah baru yang tak pernah saya kenal sebelumnya, membuat saya banyak belajar.

Perjalanan selama dua jam tak terasa hingga keujungnya. Kami tiba di Pelabuhan Wasai. Ternyata, saya kira sudah sampai homestay. Ternyata beluuum. Masih ada satu kali perjalanan lagi dengan menggunakan speedboat selama lebih kurang 40 menit untuk sampai di homestay kami.

Menginap di Pulau Mansuar


Perjalanan panjang ini akhirnya berakhir di sore hari. Praktis, saya habiskan 24 jam dari Jakarta menuju Raja Ampat. Akhirnya, kami sampai di homestay kami, Wombon Swadiwe Homestay. Homestay ini terletak di Pulau Mansuar. 

Pulau Mansuar ini adalah salah satu pulau di Kabupaten Raja Ampat. Pulai ini terletak di Pulau Gam dan Pulau Batanta. Pulau Mansuar terdiri dari Pulau Mansuar Besar dan Pulau Mansuar Kecil yang berada berdampingan Namun Pulau Mansuar Kecil tersebut lebih dikenal dengan nama Pulau Kri karena adanya sebuah resort bernama Kri Eco Resort.



Melihat pulau ini, membuat saya berdecak kagum. Pantai pasir putihnya indah. Air lautnya pun sangat jernih sehingga saya bisa langsung melihat biota laut di dalamnya. Di pulau ini juga kita bisa langsung snorkeling atau sekadar duduk-duduk di putihnya pasir pantai. Benar-benar pengalaman yang menakjubkan bisa menghirup udara di belahan bumi Allah lainnya ini.

Jika ingin liburan hemat, Pulau Mansuar bisa jadi pilihan. Pasalnya, homestay di sini dikelola masyarakat lokal. Harganya pun terjangkau, per kepala hanya Rp 250.000-Rp400.000. Bandingkan dengan resort yang harganya bisa mencapai Rp1,5juta per malam, bisa berat diongkos.

Kami berkenalan dengan pengurus homestay di sini. Juru masak ada kak Usi dan kak Pesi. Sementara di bagian perahu ada Kak Richard, kapten Noak, Manim dan Pak Hengki sebagai mekanik. 

Terdapat tiga homestay dengan masing-masing dua kamar. Terdapat satu ruangan besar untuk makan bersama. Kamar mandinya cukup bersih dan terdapat WC duduknya. Di dalam kamar di pasang kelambu untuk menangkal serangga-serangga jahat berkeliaran. Huss..huss..sanaaah..

Homestay yang kami tempati ini lebih banyak menangani wisatawan lokal. Saya ajak Pak Hengki untuk sekadar chit chat. Menurutnya, wisatawan mancanegara lebih repot dalam hal makanan. "Susah kalau nggak suka nasi, kami harus sedia buah, roti dan banyak yang lain,"kata dia.

Selain itu, wisatawan mancanegara lebih lama tinggal di homestay hingga berbulan-bulan. Ini tentu dirasa menyulitkan pihak travel karena terkait biaya yang akan dikeluarkan.

Menjelang magrib, semburat jingga di arah barat semakin tampak. Suara deburan ombak bersahutan dengan bunyi mesin boat nelayan yang bersiap melaut atau mengantarkan wisatawan. Makan malam sudah disiapkan oleh kak Usi. Wah, bau bakaran ikan semerbak menyapa indra penciuman kami.


Dua ikan besar disajikan. Sebelum dicolek, patutlah untuk difoto terlebih dahulu. Kak Usi bilang, ini ikan pelangi. Rasanya mirip-mirip tongkol namun lebih lembut dan tidak amis. Tak hanya rebutan ikan, kami pun rebutan sambal buatan kak Usi. Rombongan tur seakan dihipnotis oleh nikmatnya makanan rumahan ini. 


Teh manis hangat jadi teman asyik saat makan. Ah, nikmatnya makan malam bersama, saling bercengkerama mendalami karakter teman-teman baru. Di hari pertama selama di Raja Ampat, mengingatkanku pada sebuah petuah, one of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are.










Subscribe to receive free email updates:

13 Responses to "Ngapain Saja 4D3N di Raja Ampat? Day 1: Perjalanan Panjang Sorong-Pulau Mansuar"

  1. Serasa ikut perjalanannya, mengalir...
    Gak sabar baca petualangan selanjutnya...

    BalasHapus
  2. Mba,angkotnya samaan kayak di Bengkulu

    senang banget baca pengalamannya

    BalasHapus
  3. Duh Indah nian Mba bisa jalan-jalan ke Raja Ampat. Salah satu destinasi impian saya. Dari cerita diatas memang tidak salah menjadikan Raja Ampat sebagai destinasi impian ya :)

    BalasHapus
  4. Wah asiknya ke Raja Ampat. Masih menjadi wish list. Ditunggu kelanjutannya :)

    BalasHapus
  5. Raja Ampat, I'm comiiiiiiiing.

    Duh, mupeng banget pengen ke Raja Ampat.
    Berarti dari sini bawa bekal pilus & chiki yg banyak yak.

    *ga rela beli pilus 10rb-an

    BalasHapus
  6. Waah walopun gak menang, saya seneng baca tulisan pengalaman teman-teman yang menang. Ditunggu cerita berikutnya ya

    BalasHapus
  7. Aku balik ini langsung nulis hihi

    BalasHapus
  8. Wahhh bak Lingga bikin sirik benar ke Raja Ampat. Pemandangannya keren yahh

    BalasHapus
  9. Mbaaa mau donk diajarin cara nulis yang kece biar bisa sering menang lombaaa XD

    BalasHapus
  10. huwoww keren...kapan yaa aku bisa ke sana

    BalasHapus
  11. Turut berduka soal hpnya mbak. Bt kalau dibaa ke tukang servis filenya bisa diselamatkan tdk?
    Pengalaman yg beresan banget ya mbak, moga2 bisa ke sana jg nanti hehehe
    TFS :D

    BalasHapus
  12. Senengnya yang habis menikmati reward ke Raja Ampat mbak Lingga😉

    BalasHapus
  13. keren banget mba perjalanannya mba, kiraa'' kapan saya bisa kesana yah? hehehe

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)