Dunia Lingga

Menikmati Staycation yang Instagenic di Adhisthana Hotel


Jogjakarta. Nampaknya glosarium Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun tak akan sanggup memberikan definisi dari kata itu. Kata dan kota tepatnya. Terlalu banyak definisi untuk Jogyakarta.

Berlebihankah? Entahlah. Saya tak paham benar kata yang tepat mewakili kata Jogjakarta. Kemungkinan karena terlalu banyak. Kenangan, eksotik, romantis, murah, kuliner, batik, Kaliurang, Parangtritis, Beringharjo, alun-alun, Gudeg Yu Djum, sego kucing, kopi joss, prawirotaman dan sebagainya dan sebagainya.

Saya memang bukan orang Jogja. Kuliah juga tak di Jogja. Tapi saya jatuh cinta. Lebih jatuh cinta setelah benar-benar jatuh cinta dengan pria yang menghabiskan delapan tahun hidupnya di Jogja. Ya suami saya memang bukan orang Jogja. Suami saya orang Klaten, satu jam perjalanan dari Jogja. Tapi bagi suami yang kuliah di Jogja, kota itu adalah segalanya. Dan rasa itu, entah kenapa menular kepada saya yang keturunan Prabu Siliwangi ini (sundanessee akut..haha).

Liburan ke Jogjakarta awal menikah. Masih imut kinyis-kinyis.

Liburan ke Jogjakarta setelah punya anak. Mbuleet dan membengkak T.T

Saya semakin intens menginjakkan kaki ke Jogja setelah menikah memang. Jika mudik ke kampung halaman suami, kami selalu melewati Jogja. Entah lewat jalur udara atau kereta api. Pokoknya wajib hukumnya lewat Jogja. Sebab kami tak akan langsung pulang ke Klaten. Kami harus menyisihkan waktu barang sehari menikmati Jogja dan segala isinya. Baru kemudian menuju ke rumah simbahnya Arfa di Klaten. Dan saya tidak pernah bosan menyapa Jogjakarta.

Jika sampai di Jogja, kami tentu harus mencari penginapan. Maklum, suami tidak punya saudara di Jogja yang bisa kami tumpangi. Selain itu kami memang senang untuk tinggal di penginapan dan menikmati Jogja. Apalagi kalau tidak soal bebas hehe. Kalau singgah di rumah saudara, seringnya malu-malu. Apalagi di Jogja ada namanya ewuh-pekewuh. Tidak enak kalau mau santai-santai menikmati liburan sementara nebeng di rumah orang.

Maka cari penginapan adalah pilihan tepat. Apalagi Jogja menawarkan berbagai jenis, harga, lokasi dan konsep penginapan yang amat buanyaak. Saya saja hampir kaget ketika ke Parangtritis suatu kali dan membaca papan di pinggir jalan ada penginapan Rp 50 ribu semalam.

Penginapan di Jogja juga banyak yang berkonsep budaya. Ornamen-ornamen ala Jogja membuat menginap di Jogja sama sekali berbeda rasanya jika menginap di Jakarta misalnya. Nampaknya betul apa yang pernah dibilang Mbah Sujiwo Tedjo:

"Pergi ke Jogja adalah caraku untuk menertawakan kesibukan orang Jakarta."

Staycation di Jogjakarta nampaknya menjadi pilihan saya setelah lelah dalam perjalanan. Setelah lelah pula dalam menjejaki kota romantis ini. Staycation sendiri berasal dari gabungan kata bahasa Inggris, Stay yakni berdiam diri, dan Cation dari kata vacation yang berarti liburan. Ini berarti, berlibur berdiam diri di rumah atau di penginapan/hotel.

Mengapa saya dan suami butuh staycation?



Pertama, merefresh lahir dan batin. Staycation di hotel membebaskan ibu rumah tangga dari segala macam rutinitas. Tak lagi melihat dapur penuh cucian piring, tumpukan cucian baju, setrikaan dan lantai yang kotor karena remah makanan. Melupakan hari-hari tak perlu ribet membuat sarapan karena sarapannya sudah disiapin hotel.

Staycation semacam melupakan realita yang ada setelah berumah tangga. Melupakan kegaduhan berita di televisi yang lagi-lagi memutar Jessica, pilkada DKI, tangkap tangan KPK,  dan seterusnya hingga berulang. Staycation bagi suami, mungkin akan membebaskannya dari tang ting tung bunyi Whatsapp yang tak lain membicarakan pekerjaan. Mungkin baginya, liburan tanpa terganggu bunyi handphone menjadi liburan paling dinanti.

Kedua, membangkitkan kembali romansa yang mulai memudar. Pernikahan, menjadi ekspektasi para gadis bakal diperlakukan romantis bak princess setelah memiliki suami. Atau seenggaknya dikirimi bunga dan dibanjiri kata-kata romantis. Realitanya? Mau romantis, selalu saja ada kendala. Mulai dari kamar bau ompol Arfa, bantal bau iler, hingga bau badan karena abis goreng terasi. Mau mesra-mesraan? Sepertinya mood langsung berantakan hanya gara-gara hal tersebut, haha.

Ketiga, family time. Berkumpul bersama suami dan anak adalah surga dunia. Menikmati guyonan konyol suami, ekspresi lucu anak dan mengobrol ngalor ngidul. Bukan lagi ngomongin Jessica dan Mirna. Tapi berbicara tentang saya, suami dan Arfa. Momen berkumpul seperti inilah yang agaknya jarang didapatkan jika suami dan saya sibuk masing-masing. Staycation, jadi hal yang paling dinanti.

Keempat, nostalgia. Jogjakarta adalah kenangan. Dan kenangan bersama Jogjakarta membekas hingga saat ini. Saat dimana setelah menikah saya dan suami ngebolang seharian naik motor. Dari Kaliurang sampai Parangtariris kami jabani. Ingin rasanya kembali menjejaki kenangan tersebut bersama si dia.Lagi.

Akhirnya saya putuskan untuk mencari hotel di Yogyakarta untuk staycation nanti. Lihat review dari mba Putrikpm, agaknya Adhisthana Hotel jadi pilihan yang menarik.  Berlokasi di daerah Prawirotaman, Adhisthana Hotel menyuguhkan gaya rumahan Jawa yang sangat hommy banget. Saya semakin menjatuhkan pilihan pada hotel ini setelah melihat video profil Adhisthana Hotel yang keren abis.


Mengapa pilihan saya jatuh pada Hotel Adhisthana?

1. Dekorasi yang hommy dan budaya Jawa yang kental

Sumber: Adhistana Hotel 
Sumber:viva.co.id

Sumber:viva.co.id

Lihat saja material dari bangunan Adhisthana Hotel ini, bahan-bahan kayu jadi prioritas utama. Meski demikian, sentuhan Cina dan Eropa memperkaya dekorasi hotel. Hotel terasa sejuk dan bergaya rumahan menjadikan tamu betah berlama-lama. Dekorasi kamar dengan nuansa Jawa dan batik menambah eksotisme ruangan. Saya seperti mengunjungi litle Jogjakarta di hotel ini.

Selain itu, dekorasi unik dari Adhistana hotel ini buat para 'banci foto'seperti saya sangat instagenic banget gak sih? Jeprat jepret sana sini semua sisi hotel sangat fotoable banget. Sayang kalau dilewatkan jika kita lagi berada di Jogja.


2. Lokasi yang strategis

Sumber: Putrikpm

Kalau dilihat dari lokasinya, Adhisthana Hotel ini dekat dari pusat kota. Hanya beberapa menit menuju Keraton Yogyakarta dan juga Stasiun Tugu. Sementara dari Bandara Adisucipto hanya berkisar 35 menit. Wah, kebetulan banget nanti ke Yogyakarta mau naik kereta dan ternyata letaknya nggak jauh dari stasiun. Cocok banget sama staycation saya dan suami nanti.


3. Pilihan kamar yang beragam

Saya nggak perlu bingung memilih tempat staycation. Apa pasal? Karena Adhisthana Hotel menyajikan banyak pilihan kamar sesuai referensi. Saya sih memilih yang pas di kantong dan pas dipakai staycation berdua suami dan anak.

Adhisthana menyediakan pilihan kamar dormitory, superior, deluxe dan studio suiteDormitory sepertinya sangat cocok buat backpacker yang ngebolang sendirian atau berkelompok nih.

 Sumber: Adhistana Hotel 

Sumber: Adhistana Hotel 

Sementara kamar Superior cocok juga dipakai oleh keluarga kecil. Di dalamnya terdapat meja, bathroom air panas dan dingin, AC, telepon, fasilitas teh dan kopi, free Wifi, dan yang terpenting TV kabel. Paling enak memang bersantai-santai di kamar sambil nonton TV kabel. Ah, i miss that moment.

Sumber: Adhistana Hotel 

Sumber: Adhistana Hotel 

Di kamar deluxe, terdapat deluxe twin room dan deluxe double room. Fasilitasnya sama dengan Superior namun luasan kamarnya yang lebih besar. Arfa bisa lari-larian nih kalau di sini.

Sumber: Adhistana Hotel 

Kamar dengan kasta teratas yakni studio suite. Dengan luas 24 meter persegi dan ukuran kasur king, Arfa bisa jumpalitan di sini. Sofa yang empuk keliatan minta dijamah banget tuh buat leyeh-leyeh di situ. Selain itu juga ada dressing table yang juga asyik buat santai-santai.

Sumber: Adhistana Hotel 

4. Fasilitas lengkap

Yang paling penting dari sebuah hotel adalah fasilitasnya. Semakin lengkap, semakin besar peluang saya memilih hotel tersebut. Adhisthana Hotel ini memberikan fasilitas yang cukup lengkap, seperti di rumah.

Ruang tamunya sangat nyaman membuat tamu akan betah berlama-lama. Terdapat beberapa buku dan games untuk membuat tamu terhibur menunggu check in. Konon katanya, kita juga bisa meminta staf hotel untuk memainkan permainan tradisional untuk para tamu.

Sumber: Adhistana Hotel 

Sumber: Adhistana Hotel 

Selain ruang tamu yang nyaman, tersedia juga ruangan untuk pertemuan bisnis dan korporat. Dengan luar 100 meter persegi, ruangan meeting ini bisa menampung hingga 70 orang.  Fasilitas meeting pun ternyata disediakan loh. Mulai dari papan tulis, LCD proyektor, mikropon, sound system, flip chart dan lainnya.

Sumber: Adhistana Hotel 
Mau kecipak kecipuk main air? Ada kolam renang yang keliatan sangat menyegarkan. Arfa bisa bermain sampai puas, sampai jari-jari mungilnya mengkerut karena kelamaan di air.

Sumber: Adhistana Hotel 
Yang tak kalah penting, restoran yang ciamik untuk mencicipi makanan enak. Adalah Lawas no, 613 yang berada di pojok depan bangunan hotel. Di sini, kita bisa merasakan atmosfer kedamaian sambil menikmati makanan, baik saat sarapan, makan siang hingga makan malam. Harganya pun sangat affordable banget.

Sumber: Adhistana Hotel 
Lebih kerennya lagi, makanan di sini cocok buat Arfa karena makanan yang dibuat bebas MSG. Wih, makin keren aja kan. Kita bisa menikmati makanan Indonesia hingga makanan internasional yang dibuat dari bahan-bahan yang segar.

Untuk lebih jelasnya bisa langsung cek ke web Adhisthana Hotel di www.adhisthanahotel.com. Atau bisa langsung ke Jalan Prawirotaman II No. 613 Mergangsan, Yogyakarta 55153, T : +62 274 4138888,E : info@adhistanahotel.com

Well, dengan segala fasilitas yang ada, nampaknya Adhisthana Hotel jadi pilihan paling oke untuk staycation saya di Jogjakarta nanti. Kalau teman-teman bagaimana, ada rencana staycation kemana nih?

“TULISAN INI DIIKUTSERTAKAN DALAM #PUTRIJALANJALAN GIVEAWAY YANG BERLANGSUNG SELAMA 3 – 30 OKTOBER 2016”

Subscribe to receive free email updates:

13 Responses to "Menikmati Staycation yang Instagenic di Adhisthana Hotel"

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Staycation emang perlu banget. Aku juga suka staycation kalo lagi mumet.

    BalasHapus
  3. Waaaah asyik banget nginep di Adhisthana Hotel, suasana nyaman dan tenangnya dapat :)

    BalasHapus
  4. Whoaaa terima kasih sudah ikutan giveawaynya ya mbak ^^ wish you luck :)

    BalasHapus
  5. Arsitekturnya baguuuuss, aku suka sama yang pajangan jendela-jendela kuno itu.

    BalasHapus
  6. Dihhh, Adhisthana Hotel cakep banget mba Lingga :-D
    mupenggg

    BalasHapus
  7. Si Mbak bisa aja nemu hotel yang kece seperti ini... bikin jalan-jalan keluarga tambah nikmat ya, hehe...

    BalasHapus
  8. staycation itu hobiku ama suami :D.. tiap bulan kita pasti spare budget khusus staycation, tp memang kbnyakan di jkt krn kita tinggal di sana..

    Akupun cinta ama jogja mba... kulinernya terutama yg bikin aku slalu kgn ke sana :D.. tp memang kita jrg nginep di jogja, krn kampung suamiku di solo... so, tiap k jogja kita biasanya pulang hari, krn ga jauh dr solo itu.. tp nanti kalo mudik lg, aku pgn bujukin stay 1-2 hari ah :)

    BalasHapus
  9. wow nyaman banget tempatnya. mau nginep di sana juga ah

    BalasHapus
  10. Salah satu destinasi yg saya dan suami pengen datengin.. boleh juga nih ini hotel jd referensi kami. Tfs mba ;)

    BalasHapus
  11. Hahahaha sukaaa banget sama kata kata ini ----> "Pergi ke Jogja adalah caraku untuk menertawakan kesibukan orang Jakarta."


    Aku merasa di ketawain nih sama mbak lingga. Saya memang bukan orang jakarta, tapi kesibukan jakarta seprtinya sudah melekat pada diri saya.

    Benar sekali, jogja memang sulit terdefinisikan *ciee

    Karna sluruh penjuru jogja itu romantis.

    BalasHapus
  12. aduh, cakep banget suasana di dalam hotel itu... di Jogja selalu ada aja yg unik dan baru (maksudnya baru utk di instagram ^_^ )

    BalasHapus
  13. Kangen jogja, mau ke jogja lagi gara2 baca tulisan mb lingga

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)