Dunia Lingga

Wayang di Cupumanik


 Kisah percintaan Rama dan Sinta pasti sudah sering dipertunjukkan dalam wayang atau teater. Sementara Galeri Cupumanik di Jalan Hj.Akbar No.10 Kebon Kawung Bandung justru mengabadikan kisah itu dalam bentuk suvenir. Ketika menjejakkan kaki ke dalam galeri, pengunjung dapat melihat pelbagai jenis wayang golek Rama dan Sinta.

Wayang golek tersedia mulai ukuran 5 centimeter sampai 1,25 meter terpajang dalam tabung kaca dan plastik. Saat melihat karya seni ini, pengunjung seolah terbawa pada nilai-nilai kebudayaan yang seringkali terlupakan.

Untuk sekarang, suvenir wayang dimodifikasi dengan tampilan pakaian batik. Menurut Wida, selain melestarikan wayang, cara ini juga untuk mempromosikan batik sebagai ciri khas Indonesia. Respons dari pelanggan pun cukup bagus. Dahulu, wayang golek terlihat membosankan. Sekarang wayang golek dibuat menarik dan dapat dijadikan suvenir sampai ke luar negeri.

Tak salah jika Cupumanik dianggap sebagai wujud pelestarian seni budaya dan pernah menyabet penghargaan Upakarti pada tahun 1997 dari Presiden Soeharto.

Pelanggan utama Cupumanik sendiri adalah dari kalangan instansi pemerintah dan swasta. Sebagian lainnya dijual lagi ke grosir seperti Sarinah, Pasaraya dan bandara-bandara. Walaupun belum sampai ekspor besar-besaran ke luar negeri, Cupumanik punya pelanggan tetap seperti dari Skotlandia, Finlandia dan Austria.

Para pelanggan tersebut biasanya datang dari kedutaan besar Indonesia dan beberapa restoran Indonesia di luar negeri. Para pelanggan, kata Wida, semakin menyukai wayang dan langsung membelinya jika mengetahui panjangnya proses pembuatan karta seni ini.

Meski demikian, ujar Wida, keinginan untuk mempromosikan wayang golek ke luar negeri masih terhambat. Pasalnya, banyak perajin yang tidak menjadikan usaha ini sebagai pekerjaan utama. Wida mengaku, jika masa panen padi tiba, para perajin akan beralih menjadi petani musiman. Belum lagi usaha lainnya seperti menjadi tukang ojek atau tukang bangunan yang langsung diupah.

"Perajin wayang mengeluh lamanya proses membuat wayang, sehingga mereka tidak menjadikan ini mata pencaharian utama,"kata Wida.

Pantas saja, produksi wayang bisa membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Tahap pembuatan diawali dari meraut dan mengukir kayu hingga menyerupai bentuk wayang. Mulai dari kepala, tangan dan tubuh. Tahap kedua dihaluskan dengan diampelas beberapa kali supaya lebih optimal. Kemudian, penyablonan dilakukan untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir serta motif di kepala wayang.

Setelah itu, polesan cat menjadikan wayang tampak lebih cerah dan menarik. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun untuk mempercantik, wayang dibalut dengan pakaian sesuai dengan karakter pewayangannya.



Wida tak terlalu ngoyo menargetkan penjualan produk-produknya. Setidaknya, wayang golek dapat dijadikan suvenir dan hiasan di Jawa Barat sendiri. Karena, menurutnya, siapa lagi yang membanggakan dan melestarikan budaya selain kita sendiri.

Setiap harinya, Cupumanik bisa memproduksi 200-an wayang golek dengan berbagai jenis. Mulai dari pulpen wayang, pin, kalender, dan magnet kulkas.

Bisnis keluarga ini dimulai dari kecintaan sang ayah terhadap senirupa. Wida dan adiknya Shanti, meneruskan usaha ini sejak 2006. Terlebih ketika sang ayah meninggal di tahun 2009, bisa dikatakan semua tanggung jawab jatuh kepada Wida. Ia bersyukur, usahanya ini masih bertahan dan dapat terus dikembangkan.



Perajin wayang sebenarnya bukan hanya di Bandung, tapi juga ada di Purwakarta, Bogor, dan Subang. Hingga saat ini, Wida mempekerjakan 10 perajin wayang dan 30-an karyawan.

Untuk membedakan wayang buatannya dengan para pesaing lainnya, ia terus menjaga kualitas baik bahan mentah hingga tahap finishing. Ia setiap hari mengontrol kualitas bahan mentah yang terbuat kayu lame dan albasiah. Sementara sang adik, Shanti, mengecek kualitas finishing wayang golek.

Wayang juga dibuat ekslusif dan tidak diproduksi secara massal. Harga wayang setelah dilempar ke pasar bervariasi, tergantung besar dan bahan yang digunakan. Para pelanggan dapat memeroleh suvenir wayang dari harga Rp10ribu hingga Rp 5 juta. Tokoh-tokoh wayang yang paling diminati yakni cepot dan rama shinta.

Wida terkadang miris melihat wayang yang dijual secara borongan dengan harga yang miring. Padahal, wayang adalah karya seni yang turun temurun ada di bumi Pasundan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wayang di Cupumanik"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)