Dunia Lingga

Menjejaki Eksotisme Gua Pawon




Sekitar akhir Juni, saya meliput cagar budaya di jawa Barat. Salah satunya cagar budaya Gua Pawon. Saya berangkat bersama sekitar 50 peserta dari mahasiswa, dosen, Paguyuban Jeep Bandung, wartawan, dan polisi. Maksud liputan ini sih sebenarnya untuk lebih menambah wawasan para peserta ekspedisi cagar budaya. Selain itu juga untuk mengembangkan situs-situs cagar budaya yang ada di Jabar. You know laah....Jabar merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan kebudayaan dan kearifan lokal yang melimpah.

Gua pawon terletak di kawasan karst atau batu kapur Citatah, Desa Gunung Masigit, Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Gua ini merupakan gua purba dengan luas lebih dari 200 meter persegi. Berdasarkan penelitian arkeolog, gua pawon merupakan rumah bagi orang Bandung purba.

Untuk mencapai Gua Pawon, kami melalui Jalan Raya Bandung-cianjur. Tepat di daerah Citatah Kabupaten Bandung Barat, terdapat papan bertuliskan Situs Sejarah Gua Pawon. Sebelum menuju Gua Pawon, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Gunung Pawon atau yang biasa disebut Pasir Pawon.

penambangan batu kapur 

Penambangan batu kapur terlihat menghiasi sekitar gunung. Setelah ditelisik, terdapat penambangan batu kapur di sekitar pegunungan. Pendakian ke puncak Gunung Pawon tak terasa sulit. Kenapa bcoooss?? jalan setapak menuju puncak terlihat jelas. Tim ekspedisi hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di puncak.

Dari atas puncak, terdapat bongkahan permukaan tanah yang menjadikan puncak bukit ini seperti taman batu. Di samping puncak Pawon terdapat Pasir Masigit dan Pasir Tanjung. Usut punya usut, gua di kedua gunung tersebut sudah tidak berbekas karena diledakkan untuk kepentingan penggalian batu kapur.

gunung masigit


Setelah puas mengitari puncak gunung, kami menuju Gua Pawon. Dinamakan Pawon yang dalam bahasa Sunda adalah dapur. Kata Peneliti Utama Bidang Prasejarah Badan Arkeologi (Balar) Bandung Luthfi Yondri yang memandu kami sih, di sekitar gua banyak penambangan batu kapur yang asapnya menyerupai proses memasak di dapur. Selain itu, karena bentuk gua yang menyerupai tungku sehingga dinamakan Gua Pawon.

Ketika sampai di mulut gua, saya langsung membaui amis kotoran kelelawar yang amat sangat menyengat hidung (lebaaii). Tim ekspedisi tidak terlalu kesulitan menelusuri isi gua. Pasalnya gua diterangi sinar matahari. Meski demikian, tim ekspedisi harus melewati jalur menanjak dan jalur seperti labirin jika ingin ke tempat kuburan manusia purba berada. Gua Pawon terdiri dari beberapa rongga kamar dan jendela alami yang sangat besar.

Luthfi bilang ke kami, di dalam gua ditemukan berbagai artefak dari bahan obsidian, kwarsit, rijang, pisau, gelang batu, batu asah dan gerabah. Hasil ekskavasi tahun 2003 juga ditemukan benda non artefak seperti tulang dan moluska. Penemuan alat-alat ini merupakan bukti hadirnya manusia prasejarah di Bandung. Kehidupan di Gua Pawon menjadi pemahaman sejarah asal muasal masyarakat Bandung.

"Penemuan ini mendasari sebuah kesimpulan, manusia purba Pawon disinyalir hidup dengan berburu dan meramu. Mereka juga memenuhi kebutuhan hidup dengan menggunakan peralatan yang dibuat,"ujar dia.

Di sisi utara gua, ungkap Luthfi, terdapat semacam tempat yang digunakan untuk pemakaman. Letaknya paling belakang dari mulut gua. Menurut Luthfi, manusia purba pada zaman itu sengaja membuat rongga kamar untuk kuburan di tempat yang jarang dilalui. Di sinilah terdapat replika tulang manusia yang sedang meringkuk. Kerangka aslinya yang berupa tempurung kepala dan beberapa tulang iga serta rahang bawah tersebut telah diamankan di Pusat Arkeologi Bandung.

Diperkirakan manusia purba telah menghuni Gua Pawon sejak 9.000 tahun lalu. Mayat manusia purba diperkirakan diletakkan di atas permukaan tanah dalam posisi badan ditekuk. Setelah menjadi kerangka, kemudian dilumuri butiran tanah merah agar kerangka saat dikuburkan tidak mengalami kerusakan.

replika manusia purba Pawon, gambar sedang meringkuk

Setelah penemuan tersebut, ekskavasi dilanjutkan dari tahun 2003 hingga 2009. Dari satu kerangka yang ditemukan, kemudian ditemukan lima kerangka lainnya. Luthfi yang beperawakan sedikit tambun ini bilang, usia manusia purba berkisar antara 17-35 tahun dengan gigi lengkap. Ukuran tubuhnya pun tak berbeda jauh dengan manusia saat ini, yakni 150 cm. Setelah diteliti, kerangka manusia itu diperkirakan berumur 7.000 tahun.

"Angka harapan hidup memang sampai 35 tahun, karena mereka menghabiskan hidup dan memanfaatkan sumber-sumber alam di sekitar gua,"ujar dia.

Menurut Luthfi, eksotisme Gua Pawon menjadi nilai tambah bagi pelestarian cagar budaya di Jabar. Namun sayangnya, keberadaan gua pawon hari ini terancam punah karena terdapat kegiatan oknum perusahaan penambangan batu kapur yang kurang terkontrol dan tidak ramah lingkungan. Pemerintah pun seperti kurang perhatian dengan kebersihan sekitar gua. Papan penunjuk jalan kurang lengkap sehingga wisatawan yang datang bisa saja tersesat.

Bahkan, parahnya, kami menemukan bangunan baru mirip patung tanpa kepala di dalam situs. Menurut Luthfi, penambahan bangunan tersebut merupakan bukti kurangnya kontrol pemerintah dan masyarakat terhadap pelestarian situs Gua Pawon. Terlebih lagi, penelitian terhadap cagar budaya yang memakan waktu lama tidak sejalan dengan perusakan yang sudah sangat sering terjadi.

"Dari 30 titik gua di Jabar, hanya beberapa yang benar-benar diteliti dan dilakukan ekskavasi. Sehingga, memang benar butuh perhatian serius dari semua pihak,"ujar dia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjejaki Eksotisme Gua Pawon"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)