Dunia Lingga

Alam, Sumber Inspirasi Batik Sukabumi

diperankan oleh model SMA



Sukabumi. Daerah yang terletak di sebelah barat Bandung ini penuh dengan kekayaan alam, sejarah dan tradisinya. Salah satu kekayaan  daerah yang dikenal dengan makanan khas mochi ini yaitu batik Sukabumi. Adalah wanita kelahiran Sukabumi, Tenny Hasyanti, seorang desaigner yang menggagas perkembangan batik Sukabumi.

Tenny menuturkan, batik Sukabumi digagas tahun 2008. Pada awalnya, ia melihat tetangga sekitar rumahnya yang kurang berdaya. Sampai pada akhirnya, timbul ide untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Salah satunya dengan keahliannya dalam merancang desain batik.

"Awalnya ibu-ibu mencari pendapatan dari buruh sawah dan menjadi kuli setrika yang cukup berat pekerjaannya. Kemudian saya terpikir untuk menciptakan ekonomi kreatif masyarakat, ya dengan batik,"ujar Tenny saat mengisi pelatihan membatik kepada 150 pelajar dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung yang diadakan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung belum lama ini.

Karena sukabumi kaya sumber alam, motif batik yang Tenny buat terinspirasi dari kekayaan alam Sukabumi. Motif pertama yang dibuatnya adalah motif pala. Pemilihan motif ini bukan semata-mata gagasannya saja, namun juga telah didiskusikan dengan pemerintah, inohong (tokoh masyarakat) dan budayawan asal Sukabumi.

Motif pala dipilih karena rempah-rempah ini memang sangat melimpah di Sukabumi. Motif ini menonjolkan biji dan daun pala yang meruncing hijau. Dipadukan dengan warna kecokelatan, motif batik ini menjadi perpaduan serasi.

Motif selanjutnya, Tenny terinspirasi dari pohon paku jajar atau lebih dikenal dengan hanjuang siang. Pohon ini dahulu banyak ditemukan di daerah jalan R.E. Martadinata. Motif ini menampilkan paku jajar yang berbatang lurus dan melengkung dengan warna hijau cerah.

"Yang ketiga itu motif batik teh, motif dengan warna hijau segar ini terinspirasi dari pohon teh yang termasyur di Sukabumi,"ujar dia.

Tenny juga mengembangkan motif batik lainnya seperti motif pisang kole atau pandan Bali dan motif ikan emas. "Pisang kole itu dipilih karena banyak ditemukan di jalan R.Syamsudin dan motif ikan emas karena banyak petani ikan di daerah Cibaraja, Cisaat,"kata Tenny

Selain motif-motif alam Kota Sukabumi, motif dari Kabupaten Sukabumi juga semakin dikembangkan. Sebut saja batik bermotif penyu dan laut. Menurut Tenny, penyu dipilih menjadi motif batik karena merupakan binatang yang hampir punah dan juga banyak terdapat di pesisir Pangumbahan, Ujung Genteng.

"Kami mencoba membuat Batik GURILAP atau singkatan dari Gunung, Rimba, Laut dan Pantai.  Ide Awal Gurilap ini dari usulan Pemerintah Kabupaten Sukabumi,"ujar dia.

Sampai sekarang, ada sekitar 25 orang yang menggantungkan hidupnya dari batik Sukabumi. Dari jumlah tersebut, enam diantaranya adalah penyandang tuna rungu. Ia mengaku, jumlah pembatik yang dimilikinya masih sangat minim sehingga menjadi kendala untuk memproduksi batik lebih banyak dari hari biasanya.

Untuk memperluas jangkauan batik Sukabumi ke masyarakat, Tenny banyak mengikuti pelatihan dan seminar. Tenny juga mengajar dan melatih ibu-ibu untuk membatik. Tenny juga melakukan pemasaran batik Sukabumi melalui pameran. Karena usahanya mengembangkan bati Sukabumi, Tenny belum lama ini memeroleh penghargaan dari Kementerian UMKM untuk kiprahnya sebagai inspirator motif batik khas sukabumi.

"Nanti bulan Agustus saya terbang ke Kedutaan Besar Brunei Darussalam untuk memamerkan batik Sukabumi,"kata dia.

Sementara itu, agar lebih diterima masyarakat, motif batik dikemas modern dan disesuaikan dengan kondisi pasar. Untuk batik yang dibuat, sebagian besar adalah batik cap, sementara 30 persennya adalah batik tulis. "Batik cap lebih mudah dan cepat dibuat. Kalau batik tulis kita menunggu pemesan,"ujar dia.

Harga batik Sukabumi yang dipopulerkan Tenny sangat bervariasi. Mulai dari yang termurah Rp 60.000 sampai Rp  5 juta. "Sebulan bisa 20 juta,"ujar dia.

Meski begitu, batik Sukabumi belum populer di kalangan masyarakatnya sendiri. Salah satu kendala yang dihadapi Batik Sukabumi adalah sangat sulit mendistribusikan batik karena jalanan rusak dan kemacetan yang terjadi di Sukabumi. Tenny mengaku, pemerintah Provinsi Jabar belum maksimal mengangkat batik Sukabumi. Padahal, jika batik diangkat, bisa menjadi ajang promosi Jabar itu sendiri.

"Belum ada perda yang mengatur Batik Sukabumi,"ujar dia.

Tenny juga kerepotan jika ada pesanan dari rekanan dan pelanggan. Hal tersebut karena Tenny kekurangan modal untuk menutup biaya produksi. "Kalau ada pesanan dari pejabat untuk membuat batik tulis misalnya, kami terkadang kewalahan,"ujar dia.

Ia berharap, Pemerintah Kabupaten/Kota Sukabumi dapat mengoptimalkan eksistensi batik Sukabumi. Pemerintah diminta untuk mendukung baik dari sisi kebijakan maupun teknis dan non teknis lainnya.

"Produksi juga masih terbatas karena permodalan yang kurang,"ujar dia.

Keinginan Tenny itu sepertinya mulai didengar oleh Pemkab Sukabumi. Pemkab Sukabumi rencananya akan merumuskan tentang batik khas Sukabumi. Peraturan tersebut akan menjadikan batik asli daerah ini sebagai salah satu seragam yang wajib dikenakan para PNS. Seperti yang pernah diberitakan, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi mengatakan, batik Sukabumi wajib dilestarikan dan dikembangkan. Salah satunya melalui Perda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Alam, Sumber Inspirasi Batik Sukabumi"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)