Dunia Lingga

Pendidikan Berbasis Kasih Sayang ala Wa Een

 
foto by Edi Yusuf/Republika

Lumpuh akibat penyakit Rheumatoid arthritis tak menyurutkan semangat Een Sukaesih (49 tahun) untuk mengabdi kepada masyarakat. Penyakit autoimun yang membuat sekujur tubuhnya lumpuh itu sudah menyerangnya selama 28 tahun. Selama itulah, perempuan asal Sumedang ini tak lelah mengajar anak-anak di sekitar rumahnya.

Dengan segala keterbatasan yang ada,  Een mengajar meski dilakukan di kamar tidurnya yang hanya berukuran 2x3 meter. Setiap saat, Een yang merupakan lulusan D3 Bimbingan Konseling UPI ini mengajar tanpa pamrih. Bahkan rela tanpa dibayar.

Dalam acara penganugerahan terhadap pengabdian dirinya pada dunia pendidikan di Balai Pertemuan UPI, Een dengan terbata-bata memberi kuliah umum dihadapan ratusan tamu yang terdiri dari dosen, mahasiswa dan tamu.

Sejak kelas enam sekolah dasar, Een bercita-cita menjadi guru. Een terinspirasi oleh gurunya saat SD karena penuh dedikasi dan tanggung jawab. Ia mencoba untuk belajar dari sang guru dan menjadi guru. Setelah tamat SMP, mimpinya itu diwujudkan dengan masuk ke sekolah guru dan kemudian D3 IKIP Bandung yang sekarang menjadi UPI.

"Pendidikan yang saya tempuh di UPI menghadapi bukit terjal. Penyakit yang saya derita tidak ada obatnya, seketika mimpi saya menjadi guru sirna,"ujar Een bercerita.

Namun, ia tetap yakin penentu penentu segalanya adalah Allah. Ia masih bisa melanjutkan kuliah meski terasa berat. Saat kuliah, ia merasakan sakit yang teramat sangat. "Tapi alhamdulilah saya sampai wisuda,"kata dia.

Setelah diwisuda, Een memeroleh SK pengangkatan untuk mengajar di SMA di Cirebon. Namun sayang, baru diangkat menjadi guru, ia harus kembali ke rumah karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Sejak itulah, Een tidak bisa bergerak sampai sekarang.

Setelah beberapa bulan tidak dapat berjalan dan lumpuh, Een juga divonis terkena infeksi usus. Een berusaha tetap tegar meski kemudian kembali divonis sisa usianya tinggal seminggu lagi. Di saat mengalami keterpurukan, Een merasa Yang Maha Kuasa berkehendak lain.

"Dengan hadirnya anak-anak yang menimba ilmu, saya semangat, saya bangkit kembali. Dengan niat ikhlas, saya mencoba berbagi ilmu dengan mereka,"kata dia sambil menitikkan air mata.

Meski ia merasa pengetahuannya terbatas, dengan tekad ingin mencerdaskan anak bangsa, ia bangkit dari keterpurukan. Bahkan, murid-muridnya kini sudah mencapai 35 orang. Ia mengatakan, kunci keberhasilan dari pendidikan harus berbasis kasih sayang. Dengan cinta dan kasih sayang, selain kewibawaan dan kebijakan yang adil, pendidikan di Indonesia akan lebih maju ke depannya

Murid Een sejak sekolah dasar dan kini berkuliah di Pendidikan Luar Biasa UPI, Laila mengatakan, terinspirasi dengan pendidikan berbasis cinta kasih yang diberikan oleh gurunya itu. "Karena Wa Een, saya dapat terus semangat meraih cita-cita,"kata Laila yang menyandang disabilitas ini.

Een kemudian berbagi cara kepada peserta kuliah umum dalam menghadapi masalah dan cobaan. Pertama, dengan menguatkan keimanan, karena penentu segalanya hanya Allah. Manusia, kata Een, tetap  wajib selalu berikhtiar. Kedua, selalu berprasangka baik kepada Allah, semua yang ditakdirkan pasti yang terbaik bagi kita.

"Kemudian, sikap optimis, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Dengan tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi kehidupan. Allah berfirman, janganlah kita berputus asa atas rahmat Allah,"kata dia.

Sebelumnya, Een bertemu dengan Presiden SBY dan Yusuf Kalla, dianugerahi penghargaan dari sebuah stasiun televisi swasta dengan kategori pendidikan, pengabdian masyarakat dan kemanusiaan. UPI yang diwakili oleh Rektor UPI Sunaryo, juga memberi anugrah pengabdian sepanjang hayat dalam kategori pendidikan dan kemanusiaan.

Rektor UPI, Sunaryo Kartadinata mengatakan, penghargaan yang diberikan pada Een karena wanita yang masih lajang itu menginspirasi nilai-nilai pendidikan dan nilai pengabdian kepada bangsa negara. Atas nama UPI, ujar dia, penghargaan yang diberikan secara tulus atas pengabdian yang tidak pernah putus tanpa pamrih apapun.

"Semoga Allah memberi kesehatan dan kemaslahatan. Saya berharap Wa Een tidak akan berhenti memberi pengabdian. Semoga cita-cita menunaikan ibadah haji dikabulkan,"ujar Sunaryo sambil memberi penghargaan secara simbolis sebuah buku kumpulan penelitian dosen.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Pendidikan Berbasis Kasih Sayang ala Wa Een"

  1. semoga saja sosok guru seperti Een Sukaesih, mampu ditiru oleh guru lainnya, yang dalam menunaikan tugasnya, tanpa mengenal kata lelah dan berkeluh kesah. tetapi bekerja dengan ihlas dan ketulusan hati dan kasih sayang

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)