Dunia Lingga

Menilik Kebudayaan Sumedang




Tarian Umbul dibawakan delapan penari wanita dan delapan penari pria dalam penyelenggaraan Pesona Budaya Jawa barat di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jabar atau Dago Tea House belum lama ini. Tarian asal Sumedang ini salah satu gerakannya seperti pencak silat. Konon, gerakan ini mengandung makna seorang perempuan harus bisa menjaga diri dengan ilmu bela diri.

Beberapa gerakan lain seperti gerakan tangan seperti memetik tanaman. Makna dari gerakan memetik tanaman adalah berhubungan dengan fungsi awal dari seni tersebut, yakni sebagai tanda syukur hasil panen. ciri khas lain terdapat pada unsur lagu yang menggambarkan bahwa kesenian ini merupakan warisan nenek moyang terdahulu.
 
Bukan hanya Tarian Umbul, beragam kebudayaan dan kesenian Kabupaten Sumedang ditampilkan. Mulai dari budaya berupa kriya, kuliner serta benda peninggalan sejarah. Sejumlah benda peninggalan sejarah yang biasa dipamerkan di museum keluarga Museum Geusan Ulun Sumedang diboyong dan dipamerkan di ruangan Galeri Teh, Dago Tea House. berdasarkan data Dinas pariwisata dan Kebudayaaan Kabupaten Sumedang, setidaknya terdapat 152 benda cagar budaya yang terbagi dalam kategori makam atay bangunan dari zaman Kerajaan Sumedang Larang hingga Zaman Bupati.

Ada baiknya kita tilik peninggalan budaya Sumedang dengan berkunjung ke Museum Prabu Geusan Ulun yang beralamat di Jalan Prabu Geusan Ulun Nomor 40, Kelurahan Regol Wetan Sumedang Jabar. Di museum ini, banyak dijumpai peninggalan-peninggalan kerajaan terdahulu, diantaranya Mahkota Binokasih, Pedang Ki Mastak, Keris Ki DUkun, Keris Nagasasra, Kujang, Tombak, Trisula, Kereta Kencana Nagapaksi dan masih banyak lainnya. Namun, jika tak sempat, beberapa waktu lalu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar menyelenggarakan potensi warisan budaya Sumedang di Dago Tea House. 

Menurut pemandu museum, Ila Gilang Kencana, salah satu peninggalan sejarah yang menjadi pusat perhatian masyarakat adalah mahkota Binokasih. Mahkota peninggalan raja-raja Sumedang ini secara turun-temurun dipakai dalam acara-acara kerajaan atau pernikahan anak raja. Selain mahkota, terdapat pula pakaian raja dan ratu yang berwarna keemasan. Pakaian tersebut dihiasi dengan hiasan kilat bahu yang dipasang di lengan atas. Untuk pria, hiasan tersebut berupa naga yang melambangkan kebijaksanaan dan baik perkataan. 

"Sementara untuk wanita, hiasan berupa burung yang melambangkan kasih sayang dan melindungi rakyatnya,"ujar Ila.

Terdapat pula tombak Trisula yang digunakan sebagai alat perang pada abad ke-15. Tombak ini, ujar Ila, melambangkan masyarakat Sunda yang memiliki sifat silih asah, silih asuh, dan silih asah. "Di museum ini juga terdapat Kereta Nagapaksi yang dulu dipakai untuk alat transportasi raja,"ujar dia. Selain itu, Pedang Ki Mastak yang merupakan peninggalan Prabu Tajimalela menjadi peninggalan sejarah yang sangat berharga. Prabu Tajimalela merupakan raja yang memberi nama sumedangSumedang berasal dari perkataannya yakni //insun medal insun madangan// yang berarti saya lahir memberi penerangan. 

Sementara itu, museum keluarga yang juga sering mendapat dana operasional dari sumbangan masyarakat dan pemerintah ini sering didatangi turis dari luar negeri. Sebagian besar merupakan turis dari Belanda, sementara sisanya dari Jepang, Malaysia dan Singapura. Untuk lebih mengenalkan masyarakat mengenai kebudayaan Sumedang, pihak museum sering bekerja sama dengan dinas pendidikan dan dinas pariwisata. "Jadi anak-anak sekolah diminta untuk jangan selalu keluar Jabar untuk studi banding, tapi cukup di Jabar,"ujar dia.  

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Nunung Sobari, potensi seni budaya tradisi di Jabar sebagai warisan perlu mendapat perhatian khusus dengan melestarikan budaya dan kebijakan yang mendukung kebudayaan tersebut. Meski begitu, ujar dia, diharapkan kebudayaan tersebut dipadukan dengan inovasi dan kreativitas agar menarik bagi para penikmat seni. 

"Melalui Pesona Budaya Jawa Barat ini, diharapkan mampu mengangkat potensi seni budaya inovasi dan kreativitas. Sehingga, budaya tak sekadar dinikmati masyarakat internal, tapi hingga luar negeri,"ujar dia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menilik Kebudayaan Sumedang"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)