Dunia Lingga

TBM Alternatif Minimnya Perpustakaan Umum




Perpustakaan di Jawa Barat belum masuk kondisi ideal untuk masuk ke taraf internasional. Pasalnya, menurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Jawa Barat (Jabar), Enny Heryani Rahmasari Soebari, perpustakaan masih minim fasilitas dan koleksi buku.

Untuk perpustakaan berstandar internasional, minimal harus ada sekitar empat juta judul buku. Namun, hingga saat ini koleksinya baru 200 ribu buku. Selain kekurangan koleksi judul buku, jumlah pustakawan di Jabar juga masih kurang. Perpustakaan internasional standarnya memiliki 60 pustakawan. Sekarang baru ada 19 pustakawan.

Maka dari itu, ada beberapa alternatif untuk mengatasi minimnya perpustakaan, salah satunya adalah adanya Taman Baca Masyarakat (TBM). Program TBM sendiri sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1992-1993 sebagai lanjutan dari program Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang telah ada sejak tahun 1950-an.

Menurut Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Jabar, Heni Rohaeni, perkembangan TBM di Jawa Barat cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas pengurusan periode lalu mencapai puncak dengan terbukanya jumlah TBM se-Jabar yang mencapai 1.000 lebih. “Perkembangan yang lebih nyata adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan TBM semakin berkualitas,”jelas Heni.

Kegiatan yang semakin sering dilakukan, kata Heni, diantaranya kegiatan mendongeng, lomba, membaca cepat, resensi buku, ilustrasi buku, membaca puisi, menulis, hingga pementasan atau nonton bareng film yang berbasis novel.

Sebenarnya, TBM dan Perpustakaan memiliki fungsi yang sama sebagai sarana pemberdaya masyarakat melalui bacaan. “Mungkin yang berbeda hanya institusi yang menaunginya, kalau TBM sebagai bagian dari Pendidikan Non Formal jelas berada di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas) sedangkan Perpustakaan bernaung di perpustakaan nasional (Perpusnas).,”kata Heni.

TBM dimiliki masyarakat secara perorangan atau organisasi akar rumput di masyarakat. “Kalau perpustakaan yang dikenal masyarakat selalu berada di kantor-kantor baik pemerintah maupun swasta misalnya yang  terendah perpustakaan Desa, perpustakaan Daerah, perpustakaan kampus, perpustakaan masjid,”ungkapnya.

TBM pada awalnya didirikan untuk meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat, meningkatkan jumlah aksarawan baru dan menjaga orang yang telah melek aksara agar tidak buta aksara kembali. Selain itu, TBM kini bergeser lebih jauh selain meningkatkan minat baca tapi juga memfasilitasi agar masyarakat mempunyai kemampuan menulis baik berupa berita, laporan, dan fiksi.

TBM itu ada dua macam, yaitu  yang berdiri sendiri seperti TBM Sudut Baca Soraeng, adapula di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Sebagai salah satu inti kegiatan di PKBM tersebut contohnya TBM Melati Panghegar, bersama PAUD Melati Panghegar, Majelis Taklim Nururrahman, Sanggar Seni Jag-Jag Waringkas berada dibawah naungan PKBM Melati Kota Bandung.

Adapun Forum TBM JABAR mulai dirintis sejak tahun 2006.  Forum TBM ini dimaksudkan  untuk memfasilitasi TBM-TBM agar maju bersama, saling mendukung, berdiskusi untuk kemajuan TBM, berbagi informasi dan saling memberikan solusi bagi TBM yang menghadapi kendala.

Heni Rohaeni berharap agar masyarakat turut serta menggelorakan kembali semangat membaca buku, menghidupkan organisasi yang motivasi kegiatan membaca seperti dengan mendirikan TBM atau perpustakaan rumah.

“Terlebih jika kaum ibu diberdayakan untuk memupuk minat baca sejak dini pada anak-anaknya akan memperoleh hasil yang maksimal, karena ibu adalah pendidik pertama dan yang utama bagi anak-anaknya,”ungkapnya.

Masalahnya kini, kaum ibu yang memiliki hobi membaca juga semakin berkurang. “Coba perhatikan kaum ibu lebih banyak yang memasukan anaknya di sanggar/les yang memberikan pelatihan membaca dari pada mengajar anaknya sendiri. Ibu juga semakin jarang mendongeng atau membacakan cerita kepada anaknya padahal kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pengoptimalan otak anak,”jelasnya. Heni berharap,  kaum ibu menjadi agen perubahan melalui bacaan. “Ayo ibu rajin membaca buku pasti anak-anaknya akan mengikuti kebiasaan itu,”ungkapnya.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "TBM Alternatif Minimnya Perpustakaan Umum "

  1. Teh lingga cantikkk pa kabar, keren tulisannya, share ya ke kami.. please deh da geulis..

    ReplyDelete
  2. keren. makasih ya.. kapan ketemuan lagi neng?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)