Dunia Lingga

Sekata Cinta

Doni...!! Tungguu!” teriak seseorang berpakaian rapi dengan tas gendong di bahunya, menghampiri Doni dengan tergesa-gesa hingga napasnya tersengal-sengal tak karuan.

What happens, Bro? Kayak dikejar-kejar setan aja” tanya sohibnya yang baru saja dua tahun menjadi temannya, namun mereka terlihat sangat akrab sekali.

“Liat deh! Gue engga ngerti, Don!” suruh Alan kepada temannya yang suka banget sama komik jepang, padahal sudah sebesar itu. Apalagi kalau sudah menemukan komik Detektive Conan, matanya langsung saja berbinar.

Kemudian kening Doni berkerut, menelaah selembar kertas yang diberikan temannya itu. Lalu ia membaca secara perlahan…”YA TE BYA LIUBLIU” lalu kemudian ia masih mengerutkan keningnya.

“Ini buat elo, Lan?” tanyanya. Dan Alan mengangguk yakin bahwa selembar kertas yang berisi kata-kata yang tidak ia mengerti itu untuknya, di sana tertulis: untuk Alan.

“Gue juga engga ngerti. Dikirimnya pake pos” jawabnya keheranan.

“Heuhh…tenang Lan, gue pasti bakalan bisa memecahkan kasus ini, pokoknya, kalo orang ini ngirim lagi, elo kasih ke gue ya” Doni yang jadi korban komik, hingga tergila-gilanya ia sama Detektive Conan, ia pun ingin menjadi seorang detektif seperti tokoh idolanya itu.

***

“Dee, liat deh ini! Kamu ngerti engga apa maksudnya?” titah Alan kepada adiknya yang memiliki lesung pipi hingga membuatnya semakin manis saja. Alan memberikan selembar kertas yang tadi ditunjukkan kepada Doni, sahabatnya.

“Dee engga ngerti, Kak! Kali aja salah ngirim!” Deelani pun membulak-balikkan kertas tersebut, memandangnya lagi.

“Ya udah deh kalo gak tau, Kak Alan ke kamar dulu ya!” sambil mengacak-acak rambut adiknya yang panjang terurai. Alan memang sayang banget sama adiknya. Adiknya, satu-satunya yang bisa membuat ia selalu tertawa, dan mencurahkan kasih sayang yang jarang diberikan oleh kedua orang tua mereka. Kedua orang tua mereka sekarang masih ada di luar negeri, bekerja di sana, mungkin dalam jangka waktu yang lama.

*** JEG ELSKER DIG. Lagi lagi surat itu muncul, dengan kata-kata asing yang tidak ia mengerti. Alan semakin tidak mengerti, ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh si pengirim. Untuk apa orang itu mengiriminya surat tanpa nama, dengan kata-kata yang membuatnya menjadi semakin penasaran, begitu pula sahabatnya.

Doni yang gemar baca buku-buku detektif pun belum bisa memecahkan “kasus” yang dialami sobatnya. Ia hanya bisa manyun-manyun sendiri melihat surat terbaru yang dikirimkan oleh orang tersebut. Masih dengan amplop yang berwarna biru, kesukaan Alan, Doni mulai menebak-nebak.

“Kayaknya ini orang kenal elo, tapi dia engga mau elo kenal dia” Doni menebak-nebak. “Tenang aja Bro! Lo engga usah khawatir, gue pasti orang pertama yang bakalan bisa nyelesain kasus lo ini” ujarnya mantap.

Hari-hari dilewati Alan dengan rasa penasarannya, setiap dua minggu sekali surat kaleng itu selalu datang, lebih anehnya lagi surat itu selalu datang selasa pagi hari. Alan berpikir keras, apa mungkin ada seseorang yang membencinya atau menaruh dendam kepadanya, sehingga mengirim surat kaleng tersebut. Kali itu, surat kaleng itu pun datang lagi, masih dengan amplop biru, hari selasa pagi.

TAIM I’NGRA LEAT. Begitulah kira-kira tulisan yang ada di surat tersebut. Alan semakin bingung, benar-benar bingung. Langsung saja ia memanggil adiknya, mungkin saja adiknya tahu.

“Kak, kakak masih penasaran sama si pengirim surat itu ya? Entar deh, Dee nyari tau apa maksud dari tulisan tulisan itu, kakak tenang aja!” sambil melihat kertas yang berisi tulisan asing itu.

“Iya nih, Dee. Kakak engga pernah denger kata-kata itu, coba deh nanti kakak tanya ke anak bahasa” Alan yang bermata sipit semakin menipitkan matanya tanda bahwa ia sangat penasaran. Sebelumnya, Alan engga pernah sesemangat ini. Mungkin, karena adanya surat itu.

***

“Dee, kakak sama Doni udah tau, orang yang ngirim dari daerah sini!” tegasnya pada Dee yang masih berkutat dengan laptop yang unik. Dan Dee langsung saja memalingkan wajah ke arah Alan.

“Terus, orangnya siapa?” tanya Deelani penasaran.

“Ya kakak sih belum tau, tapi yang jelas, dia bukan dari luar kota, Dee!” Alan menyakinkan Dee. Dan dalam hati Dee, ada sesuatu yang berjingkrakan dalam hatinya.

Minggu-minggu berikutnya, surat itu datang lagi, masih dengan amplop berwarna biru, selasa pagi.

KIMI O AISHITHERU. Doni mengingat-ingat kata-kata tersebut. Sepertinya ia pernah mendengar atau pun membacanya. Ia menimang-nimang kertas tersebut, mondar-mandir kesana kemari, mengingat-ingat maksud dari kata-kata tersebut.

Namun, jawabannya masih nihil. Doni lupa-lupa ingat kata-kata itu pernah ia baca di mana. Yang jelas ia familiar dengan kata asing itu. Namun, detektif amatir itu sudah dapat mencari tahu. Si pengirim mengirim surat itu setiap hari selasa, itu berarti ia mengirim dari pos setiap hari minggu, dua hari setelahnya.

“Kak Alaaan! Dee pergi dulu ya” sambil melambaikan tangannya, Dee langsung menaiki sedan mini miliknya, langsung saja ia menuju tempat klub menulis yang diikutinya itu.

“Hati-hati ya Dee!” Alan tersenyum, kemudian langsung saja ia meneguk segelas teh manis yang sudah disuguhkan Bi Asih, pembantu yang selama ini setia menemaninya, dan Doni pun ikut-ikutan menyeruput teh hangatnya.

“Lan, gue pulang dulu. Entar kalo udah ada perkembangannya gue kasih tau elo deh!” sambil menepuk pundak sahabatnya, Doni bergegas pulang, membuntuti seseorang dari belakang. Dan Alan hanya bisa mengangguk, menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh.

“Kak, liat deh. Ada surat lagi nih” Dee langsung saja menyerahkan surat beramplop biru itu. Alan tak kuasa untuk segera membukanya, siapa tahu saja orang itu akan memberitahu apa maksud ia mengirim surat kaleng kepadanya.

S’AGAPO. Kali ini kata tersebut sangat singkat, Alan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kebingungan menerpa hingga otaknya semakin berputar kencang, menebak-nebak dari kata-kata tersebut. Kali ini, ia harus bertemu Doni, memperlihatkan surat tersebut.

Namun, tak dinyana, sahabatnya itu datang tepat pada waktunya. Ia membawa komik kesukaannya, raut mukanya terlihat lain. Ia berseri-seri memandang Dee. Tak tahu mengapa, ia seperti melihat sesuatu pada diri Dee yang sangat menarik hatinya. Deelani memang pintar, sangat pintar.

“Eh, kebetulan elo datang, ada surat baru lagi nih” sembari memberikan surat yang sudah dibacanya. Doni melihatnya sebentar, kemudian memulai pasang aksi ala detektifnya. Lagi-lagi ia merengut.

Memang, ada-ada saja ulah Doni, terkadang suka ngejailin Dee, tapi juga sering manjain adik temannya itu. Namun, dibalik itu. Ada sesuatu yang disembunyikan Doni, tentang Alan dan adiknya, Dee.

Akhir-akhir ini, Alan terlihat lebih bersemangat. Setelah dirinya di cap mengidap kanker paru-paru, hari-harinya seperti membisu. Apalagi ditambah kedua orangtuanya yang sibuk, hanya adiknya yang dapat melupakan penyakitnya itu. Dan Dee pun merasakan hal yang sama. Walaupun Dee tahu, Alan sangat menderita dengan penyakitnya itu, namun Alan tak pernah menunjukkan kesedihannya.

Dee senang, dengan adanya surat itu, Kak Alan lebih bersemangat, lebih ceria menjalani hidup. Kak Alan, satu-satunya teman, saudara, juga ayah baginya, takkan dapat tergantikan. Akhirnya, Dee benar-benar senang. Dia harap, ia tetap bisa melihat Kak Alan tetap seperti itu. Bersemangat.

“Lan, Alaaan! Asyik!” Doni menghampiri Alan, bersalaman ala mereka. Kemudian duduk di kantin kampus. Tempat yang membuat semua orang happy, apalagi kalau dapat makan sepuasnya.

“Ada apa?” tanya Alan singkat.

“Lan, Gue tau sekarang. Lo punya penggemar, Lan. Kayaknya ada yang suka sama elo” sambil mengunyah roti yang baru saja dibelinya.

“Mak-maksud lo apa Don?” tanya Alan aneh. Kalau memang ada yang menyukainya, hal tersebut sudah wajar. Alan terbilang cowok yang popular di kampus, karena sifat coolnya.

“Gu, gue udah ngerti maksud si pengirim, Lan. Gue bilang apa, gue pasti bisa menyelesaikan kasus ini. Lo tau gak? Semua isi surat-surat itu artinya Aku Cinta Kamu dalam berbagai bahasa dunia, Lan! Gue baru inget waktu gue baca yang KIMI O AISHITHERU, itu artinya Aku Cinta Kamu, dalam bahasa Jepang, Lan!” jelasnya panjang.

“Lo kok bisa tau?” tanya Alan penasaran.

“Lo tu gimana, gue kan sering baca komik Jepang, waktu itu gue rada-rada lupa sih. Tapi akhirnya, gue inget”

“Terus, elo tau orang yang ngirim surat itu gak?” tanya Alan bersemangat.

“Gue, gue belum tau sih” jawabnya ragu, terlihat samar bahwa ia berbohong..

Alan pulang dengan wajah berseri-seri. Memandang lagi surat-surat kaleng tersebut. Kemudian Dee, langsung saja menghampirinya, merangkul kakak tercintanya. Dee turut gembira melihat perubahan kakaknya. Ia pun tersenyum, kemudian kembali lagi ke kamarnya.

Doni, di seberang sana mengendap-endap. Membuntuti seseorang dari balik topinya. Takut kalau-kalau orang yang dibuntutinya itu tahu, Doni memperlebar jarak dengan orang itu. Kemudian, seseorang memasukkan amplop surat tersebut ke kotak pos, melihat kesekitar, berharap tidak ada yang melihatnya.

Doni akhirnya semakin yakin, namun ia belum mengerti apa alasan orang tersebut mengirim surat kaleng kepada Alan. Akhirnya, Doni harus segera mengabarkan hal ini kepada Alan.

Motor balap Doni melaju dengan cepatnya. Berharap Alan senang apa yang akan ia katakan. Alan masih diam menonton tv, memainkan jari-jemarinya mengganti channel. Tiba-tiba…

“Lan, gue, gue tau….” Seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak juga ia mengeluarkannya. Alan berpaling, tersenyum melihat Doni, disusul adiknya, Dee.

“Eh, Kak Doni, gue pengen ngomong sebentar ya!” pintanya pada Doni. Alan aneh, ngomong kok pakai izin segala. Tidak biasanya adiknya seperti itu.

“Ok, di mana?”

***

Akhirnya mereka sampai di restoran terkemuka di daerah tersebut. Dee memulai pembicaraan. Sebelumnya diseruput jus alpukat yang sudah dipesannya.

“Kak Doni, sebenernya, gue yang bikin surat itu. Gue harap Kak Doni bisa merahasiakannya dari Kak Alan” Doni hanya terdiam.

“Tapi, tapi buat apa?”

“Gue, gue ngelakuin semua ini biar Kak Alan semangat lagi, biar Kak Alan bisa mengalihkan rasa sedihnya, dengan adanya surat itu. Gue sedih, semenjak Kak Alan di cap punya penyakit kanker paru-paru, dia seperti engga punya gairah hidup”

Doni akhirnya mengangguk, mengiyakan permintaan adik sahabatnya. Doni menerawang, betapa besar rasa sayang Dee kepada Alan, hingga membuat Alan kini lebih bersemangat, hingga melupakan sejenak tentang penyakit kronisnya.

Gue tahu itu, Dee. Dari pertama kali surat itu elu kirim buat Alan, tapi waktu itu gue belum yakin kalau elu yang ngirim. Biarlah, biarlah ini tetap seperti adanya. Alan tak perlu tahu ini semua, kalau Alan tahu, mungkin ia tidak akan bersemangat lagi. Karena Alan, sudah punya elu Dee, yang menyayanginya. Bisik Doni dalam hatinya, dibalik itu ia melihat seseorang yang tulus, mencintai apa adanya. Mengajarkan ia tentang kasih sayang. Mengajarkan ia tentang hangatnya persaudaraan. Mengajarkan ia tentang caranya mencintai…

Kayaknya gue juga pengen dikirim surat kayak gitu dari Dee, pikirnya sesaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sekata Cinta"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)