Dunia Lingga

Disleksia

Di malam sunyi, catatan hati seorang Dwina
Na mai buan din. Kata-kata itu terpampang jelas di papan tulis. Aku melihat dengan seksama dan tiba-tiba aku berpikir, kata-kata apa itu. Aku semakin tidak mengerti maksud dari kalimat itu. Bahasa asingkah? Atau sebuah kata mutiara yang ditulis oleh dosen baru yang tinggi semampai itu.

Hingga kini, kalimat baru itu membuatku semakin penasaran. Ah, ada-ada perilaku dosen baru itu. Dosen yang menjadi pembimbing mahasiswa baru di kampusku. Namanya Andinia Calwize, nama yang indah menurutku. Ia lebih mirip artis kebanyakan dibanding seorang pengajar dan pembimbing. Dan lihatlah, kali ini ia menuliskan kalimat asing yang seharusnya aku tahu. ibua kanmem ban tumu. Ah, ia semakin mengada-ngada. Menghampiri dan memberikan secarik kertas padaku yang semakin aku tak mengerti apa maksudnya.

Kulihat teman-teman di kelas menatap aneh saat aku mengrenyitkan dahi. Entah apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka bisa mencerna kalimat itu. Karena menurutku mereka pun tak tahu. Karena kupikir, mereka juga tidak tahu apa-apa mengenai semua itu.
“Dwi, kamu kok aneh? Membaca tulisan seperti itu kamu kelihatan pusing sekali. Jangan-jangan pikiran kamu lagi melayang entah ke mana!” tanya Lika, teman dekatku selama kuliah di universitas yang cukup terkenal di Indonesia. Aku akhirnya tidak berdiam diri lagi karena aku merasa aku yang dipermainkan.
“Apanya yang aneh, Li? Mungkin kamu yang aneh. Jelas-jelas kata-kata itu sangat baru bagi kita. Aku tekankan sekali lagi, kata-kata itu sangat baru bagi kita!” aku mulai meninggikan suaraku. Aku semakin kesal saja dengan Lika. Ia seperti sedang mengolok-ngolok aku. Apakah Lika sengaja mempermainkan aku? Atau apakah aku memang terlalu mudah untuk dipermainkan.Akhirnya, aku sudahi saja perdebatan panjangku dengannya karena aku ingin meneruskan pertentangan diriku sendiri, seorang Dwina...
-----


Aku masih saja berkonsentrasi dengan tulisan-tulisanku yang indah ini. Aku dijuluki Si Weird yang suka menulis. Ah, tidak tahu apa, aku tidak seperti yang mereka bayangkan. Karena aku layaknya Dwi yang normal dan aku mampu melakukan yang aku mau.
Entahlah. Kini, aku tidak mampu lagi menulis sebuah kalimat dengan sempurna. Padahal mereka mengenalku dengan Dwi Si Pujangga Periang. Kini, aku tidak lagi seperti itu. Karena aku yang membuat keanehan ini semakin memuncak. Bukan, bukan aku! Tapi mereka! Mereka membuatku menjadi manusia paling aneh di dunia. Membuat aku semakin tidak terarah mengartikan hidupku. Membuat hidupku semakin jauh dari kenormalan.

Diam. Aku hanya ingin diam. Aku meneliti ulang apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ah, aku tidak apa-apa. Mereka yang melebih-lebihkan. Buktinya, aku masih bisa makan, minum, menggambar. Walaupun mungkin saat ini penglihatanku sedang terganggu untuk membaca tulisan. Tuhan, bantu aku...

“Dwi, kamu tuh makin hari makin di luar kebiasaan. Omongan kamu itu uncontrol! Aku semakin enggak ngerti sama kamu. Terutama tulisan-tulisan kamu yang seperti teka-teki ini. Kalau memang ada masalah, bilang saja sama aku! Enggak usah disembunyikan gitu dong, Wi!” ungkapnya panjang seraya menatap lekat padaku. Tatapan yang aku rasa penuh tanya.
Aku bergidik. Kali ini ia berkata seperti itu lagi. Setelah kupikirkan agak lama, aku tidak melakukan satu kesalahan apapun terhadapnya. Aku tidak melakukan apa-apa. Tahukah, aku yang tersiksa, Lika. Mengapa ia terus menjahiliku seperti itu. Dalam hatiku pun masih penuh dengan tanda tanya besar. Sebenarnya ada apa dengan kalian semua.
“Maksud aku apa? Maaf, maksud kamu apa Lika?” tanyaku dalam-dalam padanya karena aku takut, ia terpengaruh dengan teman-temanku yang lain. Aku pun terpojok.
“Maksudku, kamu sekarang berubah. Kata-kata kamu terkadang berceracau entah ke mana. Tadi pun kamu salah mengucapkan kata. Dan apakah kamu tahu, terkadang aku melihat kamu menyendiri, tidak mau sama sekali kami ganggu. Sebenarnya siapa yang salah? Kami atau kamu, Wi?” ia semakin meninggikan suaranya dan membuatku terhenyak kaget. Lika, begitukah pandanganmu padaku, aku tidak berubah. Aku tetap Dwi yang dulu. Justru kalian yang berubah.
“Semua orang jadi aneh. Termasuk kamu Lika!” tuduhku begitu saja padanya. Aku normal, aku hidup dalam dunia yang justru kuanggap tidak normal. Aku ingin hidup dalam kenormalanku. Aku takkan membiarkan mereka membuatku dalam keterasingan.
“Kamu sakit, Wi! Kamu lagi sakit!” ia menatapku iba dan tiba-tiba saja ia merangkulku penuh hangat. Memelukku seperti aku seorang anak ayam yang kehilangan induknya. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Aku tidak pernah secengeng ini, kawan. Lika, Lika. Aku tahu apa yang kau risaukan. Aku tidak apa-apa, Lika. Kau tenang saja.
Karena saat ini aku merasa, aku punya masalah. Aku tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan kuliahku yang baru ini. Aku, Dwina, yang dahulu sangat mencintai kata. Yang dahulu sangat mencintai rangkaian kalimat-kalimat. Rangkaian kalimat indah agar kususun menjadi sebuah tulisan. Dan kini, aku tahu aku tidak mampu melakukannya lagi.
Karena mereka belum tahu dan sampai saat ini pun aku belum tahu apa yang terjadi. Hanya Bu Andin dan Lika yang mengerti apa yang terjadi denganku. Walaupn aku tahu, mereka pun sama seperti yang lain. Tidak tahu siapa aku.

----- Di malam indah, kuterima kemasan pesan (Lika)
Na mai buan din. Kutulis seperti ini. Mungkin ini yang ada dalam pikiran Dwi saat ini. Kau tahu Dwi, kau sangat jenius. Tidak pernah kutemukan seorang teman yang mampu membuatku sadar bahwa persahabatan tidak mengenal kaya, miskin, cantik, tampan atau apapun itu. Tapi persahabatan adalah saat kau ingin jatuh, aku tidak akan ikut jatuh. Tapi aku akan menangkapmu supaya kau tidak terjatuh. Persahabatan adalah kau dan aku.

Dwi, kamu mau membuat teka-teki seperti apa lagi. Tahukah kau? Aku kini sudah memecahkan teka-tekimu itu. Na mai buan din. Kalimat yang seharusnya sungguh mudah kubaca, sungguh mudah aku tahu karena kala itu aku melihat Bu Andin menuliskannya di papan tulis. Tulisan Bu Andin terlihat seperti itu di matamu, tetapi tidak di mataku. Kenapa tak aku hiraukan sebuah kemasan pesan untukku darimu Dwi..Kenapa selama ini aku tidak sadar bahwa kau sakit. Bahwa kau butuh teman yang menemanimu saat kau sendiri atau di tempat keramaian. Saat kau memendamnya dan hatimu semakin hancur karena kau tidak mau orang lain tahu penyakitmu.
Na mai buan din. Atau kalau bisa ku bacakan adalah: Nama ibu andin. Saat itu Bu Andin memperkenalkan dirinya pada kami. Subhanallah! Kau teman terbaikku Dwi, kau teman yang membuatku bisa menuliskan cerita ini. Seorang teman yang sampai saat ini terus berjuang melawan penyakit yang jarang kutemui. Saat itu aku pun tahu, Dwi. Saat kau menangis dengan kencang dipelukanku. Dipelukan sahabat yang betapa bodohnya baru kutahu itu. Penyakit disleksia.
---------
“Ia mengalami disleksia, sebuah penyakit yang juga pernah menyerang ilmuwan Newton. Penyakit yang bisa ditemui pada anak-anak atau dewasa. Dwi enggak bisa merangkai kata dengan baik, membaca dengan baik, juga berbicara dengan baik” psikolog itu memberi keterangan langsung padaku saat aku menanyakan apa yang terjadi dengannya.
Dwi. Dwi sahabatku yang penuh dengan kehangatan. Lihatlah aku akan selalu menjadi sahabatmu walau apapun yang terjadi. Dwi, jadilah bintang di antara bintang-bintang. Karena aku ingin melihatmu terus bersinar dan memberi cahaya yang selama ini hampir redup. Karena kau adalah Dwi, sang penulis yang mengajarkan aku untuk menulis. Seorang teman yang mengajarkan aku caranya berteman. Aku bangga menjadi bagian dari alur hidupmu yang kini terasa semakin sulit, Dwi. Aku patut bangga padamu yang tidak lelah mempunyai harapan untuk maju. Dan aku sangat-sangat patut bangga pada perjuanganmu untuk hidup dalam ketidaknormalan yang kau rasakan. Dwi, aku sayang kamu.
-----
Hari cerah, kuberikan kemasan pesan Sebuah senyuman.(Dwina) Perkenalkan, namaku Dwina. Para pembaca cukup memanggilku dengan Dwi. Karena semua teman-temanku pun memanggilku seperti itu. Dan kalian akan tahu apa yang kusembunyikan saat ini. Akan kuberitahu semuanya kepadamu, kepada kalian yang membaca cerita ini.
Aku bahagia. Aku bahagia. Tentu aku bahagia. Dengan segala keterbatasanku yang baru kusadari saat aku masuk SMP. Saat mereka mengucilkan aku. Saat aku merasa aku lain dari pada yang lain. Aku sudah tahu itu. Disleksia.

Aku sudah tahu itu. Karena yang aku tahu, penyakit ini butuh terapi lama untuk menyembuhkannya. Dan aku mengingkari semua itu, Lika. Aku tidak mau orang lain tahu, dan terpaksa aku mengingkari semua itu.Sampai kutemukan seorang teman yang membuatku terus berjuang. Berjuang dari disleksia yang menyerangku semenjak kecil. Dan itu adalah kamu, Lika. Terima kasih untuk selalu bersamaku di saat aku ingin menceritakan kisah hidupku. Di saat aku ingin menuliskan kisahku pada semua orang. Di saat aku tidak bisa lagi berbicara dan menulis dengan baik. Di saat aku ingin semua orang tahu bahwa disleksia bukan berarti bodoh. Disleksia bukan bodoh, itu adalah sebuah penyakit yang bisa disembuhkan.

Untuk semua yang pernah merasakan hal yang sama denganku. Jangan menyerah, karena menyerah berarti kalah. Kita adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan untuk diberi kelebihan dan kekurangan tersendiri. Aku di antara manusia yang diberi kekurangan seperti ini tapi hidup ini adalah perjuangan dan butuh perjuangan untuk menggapai mimpi. Mimpiku menjadi seorang penulis yang bernurani walaupun semuanya akan terlihat sangat sulit.
Tetap berjuang, saudaraku. Ini bukan akhir dari semua masalahmu. Karena kita akan menantang zaman. Kita akan segera menyongsong masa depan yang terlihat suram untuk mereka, tetapi tidak untuk kita. Karena kita adalah cintaNya. Anugerah yang Tuhan berikan kepada kita tidak akan begitu saja hilang, teman. Disleksia bukanlah akhir dari segalanya. Karena aku yakin, aku bisa menjadi layaknya manusia normal. Manusia yang tidak menyia-nyiakan dirinya untuk sesuatu yang tidak berguna. Lihat, dan kini aku akan selalu memberi kalian sebuah kemasan pesan, sebuah senyuman. Senyuman cinta yang tidak akan pudar karena sebuah masalah.
---
Sebuah perenungan arti cinta
Salam cinta dari Dwi. Aku Lika. Sekarang ia ada di sampingku menatap layar monitor yang mungkin ia tak mengerti semua ini. Ia tetap berkata-kata yang mungkin kalian tidak mengerti tapi saat ini aku paham maksudnya. Ia memintaku untuk menuliskan kisahnya ini. Untuk kalian baca dan renungi bahwa ketidaknormalan bukanlah hal yang mestinya dicibir. Karena ia layaknya manusia normal yang mempunyai daya juang yang tinggi. Dan karena cinta tidak memandang batas, karena cinta adalah sahabat, karena cinta adalah hatiku dan hatinya. Hatimu sahabatku…

Dwi menangis. Dwi menangis bahagia saat aku menyelesaikan cerpen ini. Aku pun tak kuasa menangis untukmu Dwi...untuk perjuanganmu...untuk sebuah kemasan pesan yang selalu kuingat darimu, sebuah senyuman.

Dan Dwi menuliskan padaku untuk aku tulis dalam tulisan ini untuk kalian ingat bahwa te taplah berju ang!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Disleksia"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)