Dunia Lingga

Putih Kaya Hati

Masa muda penuh karya, masa muda penuh cinta, dan masa muda penuh warna. Cinta memang yang ada hanya keindahan dan bunga-bunga bermekaran, kata-kata yang aku simak baik-baik dari scenario film Laskar Pelangi. Namun sepertinya cinta itu akan sulit kugapai. Dia jauh, dia jauh di sana. Cyan, aku sudah lama menunggunya. Menunggunya untuk memilihku. Pria ini tak pernah lepas dari ingatku. Aku pernah bertemu dengannya kali itu di saat yang tidak tepat. Bayangkan saja, saat itu aku sedang masa perkenalan fakultas, wajahku yang imut ini tertutupi peluh dan coretan-coretan dari senior yang tak bertanggungjawab. Mungkin para senior wanita itu iri melihat wajahku yang imut ini. Aku pun sering dikerjai oleh mereka, mulai dari jalan jongkok, jalan ala kodok, dan dimarah-marahi di depan peserta lain saat aku tidak setuju dengan aturan yang mereka lontarkan. Saat itu mereka bilang, “Aturan pertama: Senior selalu benar..Aturan Kedua: Bila senior salah, lihat aturan pertama….” Ucap ketua perkenalan fakultas kali itu.

Aku memang pembangkang, aku memang tak kuasa melihat kezaliman yang mereka lakukan padaku dengan semena-mena. Aku merasa untuk apa sih ospek atau masa orientasi seperti itu, benar-benar tidak bermanfaat, kurang kerjaan, semena-mena.
“Woi, Jing! Ngelamun aja…! Cepet urus mahasiswa baru tuh, lo kan ketua tata tertibnya, masa kerjaannya cuma ngelamun!” Putih menegurku keras dan ia kembali memainkan tikus kecil itu, alat untuk mengerjai anak-anak baru. Lamunanku sewaktu aku yang diospek tahun lalu buyar seketika itu juga. Baiklah, aku akan tegas di depan mereka. Aku memang tegas, lihat saja, aku tidak akan semena-mena seperti ospek tahun kemarin.
“Perhatian kepada seluruh mahasiswa baru...dengarkan dengan seksama aturan-aturan yang akan saya sampaikan..”
“Aturan pertama, “ Senior selalu benar…
“Aturan kedua, “Bila senior salah, lihat aturan pertama…” dan aturan yang lain terus bergulir, bergulir keluar dari bibirku. Aku mengingkari janjiku sendiri. Apa lagi yang bisa aku lakukan, aku di dalam sistem teman…kalo menurut teori struktur fungsionalis, aku ini bagian dari sistem yang harus menjaga keharmonisan sistemnya. Aku membangkang pun takkan ada artinya.

Putih sahabatku semenjak kuliah tingkat satu itu memang sahabatku yang paling mengerti aku. Kita berdua sudah seperti saudara kembar, berawal dari nama kita yang berdasarkan nama, tukar-menukar barangpun sering dilakukan, mulai dari baju sampai hal-hal yang terkecil misalnya aku dan dia sama-sama suka warna hijau atau juga kesukaan kita sama grup band asal Lampung, Kangen Band, apalagi yang judulnya Yolanda, duh, ajib banget…Mengingatkanku pada Cyan…Kamu dimana, dengan siapa…dan seterusnya. Hanya ada satu perbedaan yang sering membuat aku dan dia berdebat dan tidak saling tegur selama tiga hari yaitu aku sangat suka saat hujan turun tetapi dia paling benci hujan. Aku tidak pernah tahu alasannya membenci hujan tetapi aku sering menceritakan kesukaanku pada hujan. Hujan bagiku adalah romantisme sejarah. Hujan pernah menahan dia untukku, walau hanya beberapa menit saja. Cyan di sampingku, Cyan dan aku sama-sama sedang menunggu hujan reda di salah satu mini market dekat kampusku. Beruntung kali itu aku tidak membawa payung, kalaupun aku membawa payung tidak akan aku keluarkan. Hujan saat itu membawaku lebih dekat dengannya, dekat dalam artian aku dapat melihatnya jelas, merasakan debaran yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sungguh, hujan kali itu adalah hujan paling berkesan dan bersejarah dalam hidupku.
“Duh, kenapa sih hujan melulu, udah becek, ngebetein banget…” teriakannya sampai di gendang telingaku.
“Kenapa sih lo Put gak suka hujan?” aku merapikan letak kerudungku yang miring kesana kemari, maklum, baru memakai jilbab akhir-akhir ini.
“Hujan ya hujan…pokoknya membuat gue sebel, sudah becek, basah di mana-mana” katanya singkat. Tetapi aku melihat raut wajahnya yang berubah. Aku tahu ia sedang menyimpan suatu rahasia yang belum ingin ia sampaikan padaku. Putih memang sangat aktif, rajin dan supel. Ia adalah seseorang yang aku lihat banyak kepercayaan diri dan tidak pernah tidak mau menolong teman-temannya, khususnya aku. Aku tidak mengerti sebenarnya ada apa dibalik hujan hingga ia tidak mau menceritakan kisah yang mungkin menyedihkan baginya.
Hujan sudah mulai reda, aku melihat seutas senyum yang ia perlihatkan padaku. Semenjak itu, aku tidak pernah bertanya mengenai hujan, mengenai cerita di balik hujan. Biar waktu yang akan menjawab semua keingintahuanku mengenai sudut pandang Putih tentang hujan.
***
Putih adalah sahabat terbaik yang aku punya. Aku dan dia seperti jarum dan magnet di bawah meja, senantiasa melekat kesana kemari. Tidak heran jika kami sering dijuluki si kembar nyasar. Putih mempunyai nama yang unik. Akan tetapi menurutku namanya sangat sesuai dengan pembawaannya, Putih Kaya Hati. Entah terpikir dari mana asal namanya, tetapi aku salut pada orang tua Putih yang memberikan nama padanya, kata Putih namanya doa dari ibunya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Putih tidak pernah berkeberatan jika aku banyak meminta tolong padanya. Entah mengapa ia tercipta seperti itu, terkadang aku ingin mencari kelemahan yang ia punya, namun hingga saat ini ia adalah seseorang yang mampu berteman dan berkomunikasi dengan berbagai jenis orang, mulai dari tukang koran, tukang parkir, mas-mas yang selalu membawa laptop dosen, mahasiswa gadungan hingga mahasiswa berprestasi. Aku memang tidak seperti dia, tetapi aku sangat bangga menjadi temannya, darinya aku belajar ilmu hidup untuk hidup dalam kehidupan.
Berbicara mengenai sesuatu yang puitis, aku jadi ingat Cyan. Entah di mana dia sekarang, laki-laki yang senantiasa ada di hatiku itu. Tidak ada alasan untuk mencintai seseorang, rasa itu timbul begitu saja. Cyan bagiku seperti unforgettable story, cerita yang tidak dapat dilupakan. Ia sudah jauh meninggalkanku dengan kecerdasannya, meninggalkanku dengan cita-citanya yang luhur. Cyan hanyalah sebuah konsep yang masih abstrak di hatiku, berdegup, terkadang tubuhku terasa kejang-kejang seperti terserang epilepsi, kejang berulang-ulang dengan pelepasan elektrikal yang abnormal dari sel-sel saraf, aku rasa tubuhku merasakan seperti itu.
***
Hari itu Bogor hujan, dan ini bukan suatu hal yang aneh. Aku kembali teringat Cyan, lelaki abstrak dalam hatiku. Kini aku tahu cinta bukan saja untuk diucapkan, dirasakan, cinta bukan sekedar itu. Cinta sejati adalah ketika cinta itu mengalir menjadi sebuah doa agar menjadikan diri ini lebih baik. Aku paham itu, Cyan, paham akan keputusanmu memandang dunia, memandang cinta.
Hujan begitu derasnya, ketika itu aku memang benar-benar tidak membawa payung. Aku terjebak di kerumunan orang yang menunggu hujan reda. Aku melihat seseorang laki-laki renta membawa tiga buah payung, satu dipakainya dan dua lagi ia tawarkan kepada kami, para pengunjung mall tersebut. Lelaki tua itu penuh dengan uban, entah berapa umurnya, yang pasti lebih dari lima puluh tahun. Aku begitu empati melihatnya, melihat perjuangannya mempertahankan hidup dan tetap bekerja menjadi ojek payung di usianya yang renta. Di mana anak-anaknya, di mana sanak saudaranya, apakah mereka tidak kasihan melihat lelaki renta itu tetap bekerja. Ada yang aneh dari diri lelaki tua itu, ia tidak mau dibayar ketika aku sudah menumpang payungnya.
“Gratis neng, teu kedah bayar!” ia kembali bergegas menuju para pengunjung mall, memberikan mereka beberapa payung yang dibawanya. Aneh sekali pikirku, untuk apa lelaki tua itu berbuat demikian, bukan hanya padaku, tetapi pada pengunjung lain. Aku hanya berpikiran positif bahwa mungkin ia ingin berbuat baik. Yang ada dalam pikiranku aku hanya ingin mengunjungi sahabatku, Putih. Komunikasi kami sempat terputus karena libur panjang.
“Pupuuut…!” aku menyeru namanya ketika aku lihat ia ada di teras rumah. Putih hanya diam, wajahnya penuh sayu dan tidak tampak sekali ia merindukan aku. Atau jangan-jangan, ingatannya hilang sehingga memorinya tentang aku terhapus begitu saja, layaknya sinetron-sinetron Indonesia, hehehe. Aku mendekatinya, mengeluarkan selaksa senyuman tetapi Putih hanya diam kemudian melihatku dari atas ke bawah.
“Gila lo ya…mana oleh-olehnya, ya ampun Jing…gue kangen banget ma lo…” tiba-tiba saja ia memelukku hangat, untunglah, pada mulanya aku kira dia sedang terkena amnesia.
Aku menyeruput teh manis hangat yang dibuatkan Putih untukku, pas sekali karena cuaca masih mendung seusai hujan lebat tadi. Putih terlihat amat khawatir, entah apa yang dipikirkannya. Walaupun aku melihat dia sangat senang dengan kehadiranku di rumahnya, tetapi aku bisa membaca gelagatnya yang aneh. Kau tahu, sepertinya ia sedang menunggu seseorang.
Tiba-tiba saja aku melihat seorang lelaki mendekati rumah ini. Sepertinya aku baru saja melihatnya di mall yang aku kunjungi siang tadi, seorang lelaki renta baik hati, seorang ojek payung. Untuk apa dia kemari, jangan-jangan dia mengikutiku dan berubah niat untuk meminta bayaran ojek payungnya tadi.
“Pak, parantos atuh pak..teu kedah kaditu deui…!” aku tidak mengerti dengan jelas perkataan Putih barusan tetapi sepertinya tersirat Putih memintanya untuk tidak kesana lagi. Sebenarnya ada apa ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Lelaki tua itu hanya mengacak-ngacak rambut Putih dan segera berlalu dari Putih menuju dalam rumah. Aku yang kebingungan semakin bingung.
Putih terdiam, terduduk sepi. Entah apa yang dipikirkannya, ia sepertinya sudah tidak menyadari aku menunggu penjelasan darinya. Akan tetapi ternyata, tiba-tiba saja Putih berbicara sangat lambat padaku.
“Jingga, lo belum tau kan alasan gue benci sama ujan? Gue kasih tau sekarang! Gue benci sama bokap gue…benci sama dia” pandangan matanya seperti kosong tetapi ia tetap berbicara padaku. Aku ingin bertanya padanya, tetapi ia sudah melanjutkan kata-katanya yang cukup perlahan. “Lelaki tua tadi bokap gue, lo sebelumnya pasti gak tau karena gue gak kasih tau elo sebelumnya. Maaf, gue sengaja enggak kasih tau elo, gue enggak mau penderitaan gue menjadi penderitaan orang lain. Gue enggak mau elo sedih karena gue, karena gue tau, lo suka banget kalo turun hujan” Putih mulai menatapku kemudian menundukkan kepalanya.
Aku semakin tidak mengerti, Putih…mengapa kamu masih menganggap aku orang lain? Mengapa hanya untuk mengaku ayahmu bekerja sebagai ojek payung saja kau malu padaku. Sebenarnya siapa yang tidak mengenal siapa, aku tidak mengerti itu Putih, benar-benar tidak mengerti.
“Gue tahu Jingga, gue tahu elo pasti kecewa sama gue” ungkapnya padaku, ditundukkan lagi kepalanya. “Waktu itu ibu gue baru pulang dari supermarket. Keadaan ibu gue memang enggak terlalu baik, dia lagi sakit, yang jelas dia harus istirahat di rumah, enggak boleh kemana-mana. Ibu gue bandel, dia malah belanja buat makan ayah, kakak, dan gue. Dan ternyata hari itu hujan, ayah terlambat menjemput ibu di supermarket. Kata ayah saat itu ada kecelakaan lalu lintas sehingga jalanan macet. Ibu tanpa pikir panjang menerobos hujan yang begitu derasnya, ia terlalu lama untuk menunggu ayah”
“Ibu tumbang, ibu akhirnya sakit berhari-hari dan meninggalkan kami” kenangannya sekelibat tentang masa lalu membuat raut wajahnya semakin bersedih. Putih kembali bercerita bahwa Ayahnya benar-benar kecewa karena datang terlambat, ayah Putih menyalahkan dirinya, menyalahkan orang-orang di sekitar ibu yang tidak mau meminjamkan atau berbagi payung untuk istrinya. Ayah Putih trauma, ayah Putih tidak ingin kejadian itu kembali berulang pada ibu-ibu lainnya. Ayah Putih pun tumbang, tidak lagi mau bekerja semenjak kematian ibu. Ia hanya menunggu hujan dan menunggu, agar ia dapat membantu orang lain. Dan hal itu masih terjadi sampai sekarang. Putih bilang, dengan menjadi ojek payung, rasa bersalah Ayah seperti terobati, rasa rindunya pada sang istri dapat diatasi. Putih sedih karena setiap kali hujan, ayahnya pasti keluar hujan-hujanan dan menjadi seorang ojek payung padahal hidup mereka berkecukupan karena bantuan kakaknya yang sudah bekerja.
Aku memaklumi bahwa Putih tidak menceritakan ini sebelumnya padaku. Aku paham itu Put, kau adalah representasi dari namamu, Putih Kaya Hati. Kau memang kaya hati, sampai kaya hatinya, engkau tidak mau menceritakan pedihmu, engkau hanya ingin melihat orang lain bahagia, engkau tidak ingin orang lain bersedih karena masalahmu. Selazimnya sahabat memang seharusnya selalu ada dalam suka dan duka. Tetapi engkau selalu ingin membagi keceriaan pada orang-orang di sekitarmu, memberi tanda bahwa kau memang layak untuk dijadikan teman dan sahabat.
Hari ini kutemukan satu pelajaran baru mengenai kehidupan, bahwa hidup adalah belajar dari kehidupan, belajar dari orang-orang yang mencintai kehidupan. Putih adalah bentuknya, Putih adalah jawaban dari beberapa pelajaran mengenai kehidupan. Darinya aku belajar cara mencintai, belajar menghargai, belajar menjadi seorang teman sekaligus sahabat yang baik, belajar mengerti bahwa cinta bukan hanya sebentuk cinta yang diungkapkan melalui kekaguman, kefanatikan, bahwa cinta adalah putih, seputih hati Putih yang sebenarnya sangat mencintai ayahnya teramat dalam.
“Gue makan ya Put…”setelah kami berdiam diri, aku mencomot makanan ringan yang disuguhi Putih.
“Hidup emang kayak makanan ya Put, kadang makanan tuh enak, kadang enggak enak…tergantung juga sama hati kita saat makan makanan itu, lo tau gak, makanan ini enggak enak Put, benar-benar enggak enak, karena di depan gue tuh elo, lagi manyun kayak bajaj, gue jadi mau uwee…”candaku ringan padanya dan Putih dengan kebiasaannya berteriak padaku.
“Jahaaaaat ya lo Jing…”teriaknya padaku.
“Please, panggil nama gue tuh yang lengkap, Putiiiih…Emang gue anjing…!”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Putih Kaya Hati"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)