Dunia Lingga

Belajar Nyunda di Rumah Baca Buku Sunda



Assalamualaikum,

Hari ini mau membahas tentang sebuah perpustakaan keren di Bandung.Nama perpustakaannya Rumah Baca Buku Sunda. Saya melihat ribuan buku tampak berjejer rapi di belasan rak kayu di rumah Jalan Margawangi VII Margacinta, Buah Batu, Kota Bandung ini. 

Ratusan buku lainnya yang tidak muat terpaksa harus tergeletak di lantai rumah Mamat Sasmita, sang empunya Rumah Baca Buku Sunda. Mamat Sasmita terlihat sedang menyambut pengunjung yang datang ke rumah baca yang berdiri sejak tahun 2004 itu.


Dari luar, rumah baca tersebut tampak seperti rumah pada umumnya. Tanaman hias dan bunga-bungaan tampak apik terawat. Namun, ketika menjejakkan kaki ke dalam, buku-buku, novel, hingga ensiklopedi berbahasa Sunda menghiasi rumah tersebut. 

Ruang tamu berukuran sekitar 4x3 meter persegi disulap jadi perpustakaan yang dipadati ribuan buku itu. Bisa dibayangkan, koleksi buku Mamat mencapai 6000 eksemplar. Jumlah tersebut juga tidak dihitung dengan tumpukan majalah yang ada di pojok ruangan.


Mamat mengumpulkan buku-buku tersebut selama ia bekerja. "Saya bekerja seringkali ke beberapa kota, sehingga tak lupa membeli buku dan referensi baru,"jelas Mamat. Mamat juga mengkategorikan buku-buku Sunda miliknya dengan cara yang unik. 

Di rak-rak katu itu tampak tempelan kertas yang mengklasifikasikan jenis buku mulai dari pantun, novel, carita, sajak wawatjan, bacaeun barudak, musik Sunda, carpon, inohong dan sejarah Sunda.

Sejumlah orang yang datang ke tempat Mamat tidak sekadar membaca buku di tempat, tetapi juga ada yang dibawa ke rumah. Semua orang yang pinjam buku ke rumah bacanya tidak dipungut bayaran. Salah satu pengunjung, Anwar, mengatakan, sedang mencari referensi untuk tulisan yang akan dibuatnya mengenai kesejarahan Sunda. Ia meminjam buku-buku di rumah baca ini dan tidak diharuskan untuk membayar biaya menyewa buku.



Mamat mengaku, rumah baca yang menyediakan fasilitas wi-fi ini memang tidak memetik biaya sewa untuk buku-buku yang dipinjam pengunjung. "Biar saja, rezeki datang dari mana saja. Yang penting silaturahim terjaga dan beramal untuk berbagi ilmu,"ungkapnya.

Rumah baca yang fokus ke kesenian Sunda, kata Mamat, memang jarang ditemukan karena buku-buku berbahasa Sunda sulit dicari. Namun, geliat dan minat baca masyarakat terhadap budaya dan kesastraan Sunda masih tampak besar. Beberapa penerbit, jelasnya, masih konsisten menerbitkan buku-buku lama berbahasa Sunda, tentu di samping buku-baru. 

Oleh karena itu, ia berani membuka rumahnya untuk siapapun yang ingin membaca buku. "Saya tidak tahu kesadaran masyarakat seperti apa, namun, yang jelas minat baca sastra Sunda masih sering dicari,"jelasnya. 

Buku-buku koleksi yang sudah dikumpulkan Mamat sejak tahun 1980-an ini sebagian besar berbahasa Sunda. Sementara sisanya, buku-buku umum berbahasa Indonesia khususnya bidag sastra, agama, dan humaniora. "Sekitar 60 persennya berbahasa Sunda,"jelas  pria yang memiliki satu orang anak ini.


Mamat yang pensiun dari Telkom ini memang menyukai membaca. Terlebih ketika ia masih kecil, ada rumah baca di dekat rumahnya. Namun, taman baca itu mengharuskannya membayar untuk biaya penyewaan buku. "Dari sana, saya akhirnya membeli dan mengumpulkan buku-buku berbahasa Sunda,"ujar Mamat, pria asal Ciawi, Tasikmalaya ini.

Pria dengan rambut sebahu ini mengatakan, keluarganya memang berperan sangat besar terhadap kegemarannya membaca buku. Sang Ayah, seringkali mendongeng dan membaca buku untuknya. Dari kebiasaan keluarganya, alhasil ia pun menjadi gemar membaca. Mamat kemudian ia bercita-cita untuk membuat sebuah rumah baca yang bermanfaat bagi orang lain, tidak hanya dinikmati sendiri. 

Keluarga, kata Mamat, memang menjadi kunci untuk menumbuhkembangkan minat baca anak-anaknya. "Buatlah perpustakaan di rumah sendiri, di pojokan pun tak apa. Asalkan dapat dibuka kapan saja dan mudah untuk mengakses bahan bacaan. Dari sana akan timbul dorongan untuk membaca,"ujar Mamat yang lahir pada 15 Mei 1951 ini.

Rumah baca yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Beberapa penerbit secara rutin mengirim buku untuk menambah koleksi rumah baca tersebut. Komunitas Orang Sunda yang berinteraksi lewat internet pun terkadang mengirim beberapa buku. 

Meski demikian, Mamat mengaku cukup khawatir dengan minat membaca para generasi muda sekarang. Terutama generasi yang mencintai budaya Sunda itu sendiri. Memang, rumah baca ini acapkali dikunjungi anak sekolah, guru dan mahasiswa. Namun, mereka datang biasanya hanya untuk tugas dari guru atau dosen mereka. "Sebagian besar kemari jika ada tugas dari guru atau dosennya saja,"ujar Mamat. 

Keprihatinan ini muncul, ungkap Mamat, setelah pihaknya mendata bahwa hanya sekitar satu orang per harinya datang ke rumah baca ini. Mamat prihatin, namun tetap yakin bahasa Sunda masih bisa bertahan terutama jika para orang tua menularkan kebiasaan membaca, khususnya mengenai bahasa Sunda. Sekolah juga, katanya, tidak hanya mencetak lulusan, tetapi menjadikan para lulusan itu orang yang mencintai budaya Sunda. 

Para orang tua, ujarnya, masih meminati karya-karya Sunda terutama novel seperti karya Memed Sasrahadiprawira dengan judul Mantri Jero, yakni  novel yang berlatar sejarah di sebuah kabupaten namun dibalut dengan sisi romantisme. Biasannya, mereka yang berkunjung juga senang membaca wawatjan, yakni cerita-ceita yang memakai lagu seperti kinanti dan asmarandana. 

Masyarakat yang datang, ujarnya, pasti akan mencari lagi buku-buku berbahasa Sunda untuk bernostalgia dan pengobat rindu. Tak luput pula novel roman pop yang diangap 'agar di luar' karya sastra Sunda seperti Neng Elah serta Si Buntung Jago Tutugan. 

Pemerintah Jawa Barat dan Kota Bandung, kata Mamat, sudah cukup baik dan menyadari membudayakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari dengan adanya Peraturan Daerah untuk menggunakan bahasa Sunda seminggu sekali. Namun, jangan sampai kekayaan berbahasa dilupakan. 

"Kekayaan bahasa itu unik karena setiap bahasa memiliki kekhasan-nya masing-masing. Jika kekhasan itu hilang, maka kekayaan bangsa hilang, begitu pula dunia internasional akan kehilangan hal itu,"jelas Mamat yang pernah menjadi pemimpin redaksi Cupumanik ini.

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Belajar Nyunda di Rumah Baca Buku Sunda"

  1. Perlu dibudidayakan blajar bahasa sundanya mbak ya. Apalagi biat generasi muda yg jadi cikal bak bangsa ^_^

    Aku jga punya impian bisa milikin perpustakan d rumah mbak. Hheee

    BalasHapus
  2. jadi inget waktu kecil di rumahku langganan majalah mangle buat belajar basa sunda

    BalasHapus
  3. Baru tau ada perpus sunda. Tp nyerah dulu deh, belum bisa2 bahasa sunda XD

    BalasHapus
  4. aku pengen main ke sanaaaa
    tapi ak juga ga bisa bahasa sundah ih :(
    semoga pak Mamat selalu diberi kesehatan dan semua yang mengelola rumah baca buku sunda, aamiin

    BalasHapus
  5. Baru tau, ternyata di Bandung ada rumah baca Buku Sunda. Pasti sangat membantu untuk yang ingin mendalami bahasa sunda ya...

    BalasHapus
  6. Aku yang bukan orang Sunda juga suka belajar bahasa Sunda yang sopan dan eu eu gitu seperti peuyeum :D

    BalasHapus
  7. Salut sama kang Mamat. Semoga makin banyak pengunjung ke rumah baca sundanya. Kalo nanti ke sana, kayanya bacaeun barudak deh kategori yg kupilih. Pasti banyak gambarnya daripada tulisan. Hehehe. Itu aja mungkin ttp roaming x_x

    BalasHapus
  8. Selama ini cuma bisa kata punten saja. :v

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)