Dunia Lingga

Jalan Muram Ekonomi Nasional



Saya sempat mewawancarai Burhanuddin Abdullah di kediamannya di Cimahi Jabar. Ini sedikit petikan obral-obrol saya sama beliau yang diterbitkan di Republika belum lama ini.



Sikapnya ramah khas pengajar. Koleksi buku (sebagian besar tentang ekonomi) yang terjajar apik menandakan sang empunya masih berkutat dengan bidang yang membesarkan namanya. Beberapa buku karyanya seperti 'Menanti Kemakmuran Negeri' dan kumpulan puisi 'Tentang Kata Yang Terlupa' bahkan tak muat di lemarinya.

Meski tak lagi jadi figur nomor satu di bank sentral, ia masih berapi-api berbicara ekonomi. Kali ini ekonomi kerakyatan menjadi mimpi yang ia gamit. Seolah tak kapok dengan "masa lalu", seorang Burhanudin Abdullah masih yakin ia bisa berkontribusi besar di dunia ekonomi meski kini mantap di jalur pendidikan.

Siang itu, kepada Republika di rumahnya yang jauh dari hiruk pikuk dan sangat asri di Bandung, Burhanudin yang kini menjabat sebagai Rektor Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) mengurai pekerjaan rumah besar bagi ekonomi Indonesia. Ia menyoroti keadaan ekonomi makro yang sering dibangga-banggakan pemerintah saat ini.

Menurutnya, meski perekonomian Indonesia dilaporkan tumbuh mengesankan, keadaan Indonesia sekarang tak boleh dianggap enteng. Pasalnya, banyak elemen-elemen di dalam perekonomian yang harusnya memberi gambaran baik, namun berjalan tidak baik.

Burhanuddin yang juga aktif sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Gerindra ini mencontohkan, selama 15 tahun, baru kali ini transaksi berjalan Indonesia defisit.

"Walaupun di masa orde lama dan orde baru hanya dua sampai tiga kali surplus, tapi menjadi mengagetkan karena sekarang transaksi berjalan defisit," ujar Burhanuddin lugas.

Tak hanya transaksi berjalan, tetapi neraca perdagangan dan neraca pembayaran yang juga defisit. Sementara modal yang masuk tidak banyak dan hutang harus dibayar. Akibatnya, cadangan defisa tergerus dan nilai tukar Rupiah semakin memble.

Kenaikan BBM yang sebenarnya bagus, namun dianggapnya sudah sangat terlambat. Jika BBM naik dua tahun lalu saat perekonomian masih Indonesia bagus, subsidi Rp 400 triliun bisa digunakan untuk pos yang lebih penting, infrastruktur misalnya.

Pemerintah, ungkap pria kelahiran Garut ini, juga masih mengandalkan komoditi primer seperti pertanian dan bahan galian tambang. Padahal keduanya sangat padat modal dan teknologi tinggi.

"Inilah yang menjadikan Indonesia di jalan buntu dalam konteks pemerataan dan pembangunan,"ungkapnya  sambil sesekali menerima pesan masuk di telepon genggamnya.

Kenaikan BBM tersebut pada akhirnya menyebabkan mahalnya harga pangan dan transportasi telah melonjakkan inflasi tahunan atau Juli 2013 terhadap Juli 2012 sebesar 8,61 persen.

Burhanuddin yang didampingi Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerja Sama IKOPIN, Indra Fahmi mengatakan, inflasi ini tentunya menyebabkan ekses negatif yang besar untuk masyarakat miskin dan berpendapatan rendah. Masyarakat semakin dimiskinkan oleh situasi.

Ketimpangan pendapatan yang sangat jauh semakin besar. Orang-orang kaya mempunyai banyak alternatif sehingga hanya menderita sedikit dari kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini. Sementara orang miskin semakin melarat.

Dengan lugas namun santai ia mengungkapkan, tantangan utama Indonesia memang kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja. Pemerintah, kata dia, harusnya mampu menyediakan lapangan kerja yang tentunya akan meningkatkan  pendapatan. Kemudian secara simultan dapat mengurangi kemiskinan dan membuat ekonomi dalam negeri lebih tahan banting.

Ekonomi domestik, kata dia harus menjadi prioritas terutama berfokus pada pangan dan energi. Pasalnya, pangan dan energi adalah persoalan klasik setiap negara. Jalan satu-satunya tentu ekonomi yang berorientasi ke desa dan koperasi. Ia yakin koperasi menjadi alat untuk lebih memeratakan pendapatan dan menyelesaikan masalah perekonomian.

Ia mencontohkan bagaimana para pendiri republik ini bermimpi untuk suatu perekonomian yang disusun berasaskan kekeluargaan. Sehingga kemakmuran bukan untuk orang perorang tetapi untuk semua. Untuk itu, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar kekeluargaan. Bangunan perusahaan yang sesuai adalah koperasi.


Koperasi 'DNA' Masyarakat Indonesia

Koperasi dapat hidup di negara apapun.  Burhanuddin bahkan dengan sangat yakin mengungkapkan bahwa koperasi adalah DNA masyarakat Indonesia. Jika ada inisiatif atau gagasan untuk melakukan usaha bersama maka yang terpikir adalah mendirikan koperasi.

Sayangnya, ujar dia, peran yang dimainkan koperasi dalam perekonomian Indonesia masih belum menggembirakan. Dari 200 ribu jumlah koperasi di Indonesia, belum ada satupun yang bersanding di jajaran koperasi besar dunia Global 300. Padahal, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah memiliki koperasi kelas dunia.

Untuk itu, diperlukan keberpihakan atau aksi afirmatif pemerintah dengan memayunginya dalam aturan. Bukan seperti masa orde baru yang hanya memberi fasilitas sehingga pengurus koperasi berebut aset.

"Sehingga dahulu Koperasi Unit Desa lebih tersohor dengan kepanjangan Ketua Untung Duluan,"ujar dia.

Pemerintah harus memberi pelatihan baik dalam hal manajerial hingga pemasaran bersama produk koperasi. Hal ini dilakukan supaya posisi yawar pegiat koperasi meningkat. Selain itu, sumber daya manusia harus diyakinkan bahwa koperasi adalah jalan terbaik untuk mensejahterakan diri dan lingkungannya.

Pegiat koperasi harus memiliki modal pengetahuan yang cukup, keterampilan manajerial, fokus, profesional dan harus bekerja keras untuk bisa mandiri. "Ya harus bekerja keras untuk bisa mandiri. Everybody has to work damn hard" kata dia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jalan Muram Ekonomi Nasional"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)