Dunia Lingga

Kisah Centeng Pasar Induk Kramatjati

Mata Purwanto (40) menyorot tajam ke sekitar, menunggu truk yang membawa sayur agar segera datang. Ia mengelap keringat dengan handuk putih yang ada di pundaknya. Truk yang ia tunggu adalah truk yang berisi kwintalan cabai. Begitu pula Mukhtar (46), menunggu truk sambil menghisap rokok dan meneguk kopi manis. Menurut mereka, menjadi centeng cabai lebih mendatangkan keuntungan dibandingkan centeng sayur-mayur.

Dahulu, kita sering mendengar bahwa centeng adalah seorang pengawal yang gagah dan kekar mengawal majikan atau lingkungan sekitarnya. Sekarang definisi itu mulai berubah. Sebutan centeng kini didefinisikan sebagai seseorang yang mengambil dagangan dari seorang bandar (pedagang besar) dan mempunyai tempat jualan yang sempit dan terkadang tidak menetap. Para centeng ini dapat kita temui di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.

Truk yang ditunggu akhirnya datang, belasan dari centeng-centeng itu berebutan naik ke atas truk. Lebih cepat mereka naik ke atas truk, lebih besar pula harapan untuk memperoleh keuntungan maksimal dari cabai-cabai yang masih segar itu. Jika cabai-cabai itu masih segar, maka akan cepat terjual dan keuntungan cukup besar akan didapati mereka. Tanpa memerhatikan keselamatan, mereka memanjat ke badan truk, terjadilah tarik menarik antar centeng. Diantara mereka, sekitar lima orang terjatuh dari truk. Untungnya dari mereka yang terjatuh tidak ada yang terluka parah. Dua diantara mereka hanya lecet-lecet dibagian sikut dan lutut.

Ketika truk-truk berisi sayur-mayur datang ke lokasi pasar induk, belasan centeng-centeng itu sudah mengawal truk dari jauh. Bahkan untuk mendapatkan sayur-mayur yang bagus, centeng rela menunggu di tol Taman Mini dan Cikampek. Harapan mereka hanya satu, mendapatkan barang dagangan dan tentunya masih segar.

Purwanto termasuk centeng yang beruntung. Ia mendapatkan cabai-cabai yang masih segar dan kualitas bagus. Didapatinya tiga kardus besar cabai yang masing-masing kardus beratnya sekitar tiga kwintal. Setelah mendapatkan kardus tersebut, proses tawar menawar harga dengan bandar dimulai. Tawar-menawar ini berlangsung cepat karena terjadi kecocokan harga diantara mereka. Kecocokan harga sering terjadi, akan tetapi pernah ia merasa tidak cocok dengan harga yang ditawarkan bandar. Alhasil ia akan berkeliling pasar untuk memperoleh harga yang dianggapnya sesuai.

Para centeng ini adalah para pedagang luar biasa yang hidup di dalam pasar dikarenakan tidak adanya modal. Tawar-menawar harga dilakukan diawal dengan bandar, tetapi pembayaran kepada bandar dilakukan malam atau esok harinya setelah barang dagangannya habis terjual. Mereka hidup dengan bermodalkan kejujuran. Apabila mereka menggadaikan kejujuran itu dengan kabur membawa hasil dagangan maka mereka tidak akan bisa kembali lagi di pasar induk. Purwanto mengaku dalam sehari hanya mampu meraup uang dari keuntungan bersih rata-rata sebesar 40 hingga 70 ribu. Namun jika sedang mujur, 100 ribu rupiah akan dikantonginya dalam sehari.

Lain halnya dengan Mukhtar, ia tidak seberuntung Purwanto. Ia tidak kebagian barang yang diinginkannya. Maka pada akhirnya Mukhtar dan beberapa centeng lain akan berkerumun di sekitar pintu tol TMII yang menuju Jalan Raya Bogor untuk mencegat truk-truk yang ada. Mereka memberi tanda dengan spidol di tangan bahwa barang dalam truk adalah hak mereka untuk menjual barang tersebut. Namun sayang, keadaan ini terkadang dijadikan kesempatan oleh para bandar untuk menaikkan harga barang yang mereka miliki. Senada dengan Purwanto, Mukhtar juga mengaku rata-rata mendapat untung sebesar 40 hingga 70 ribu rupiah sehari.

Di tempat lain, Asna (55) sudah menggelar lapak dagangannya. Pria yang sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi centeng ini sudah tidak mau lagi berebutan seperti centeng-centeng yang lain. Ia merasa usianya tidak lagi muda untuk melakukan hal itu. “Sudah tua, gak ada tenaga, jadi nyuruh orang saja” paparnya seraya membenahi letak pecinya yang agak miring ke kanan. Ia mengaku sudah menjadi langganan salah satu bandar sehingga ia yang mengupah buruh untuk menjadi centeng.

Sebagian besar dari mereka hidup dipasar. Semua kebutuhan mereka dicukupi dengan berada di lingkungan pasar induk dari mandi, makan, tidur, mencuci sampai dengan kebutuhan biologis mereka tersedia lengkap di lingkungan pasar. Awalnya Purwanto tidak kerasan dengan kehidupan yang ia jalani. Bunyi bising, lantai yang dingin ketika tidur, juga bau sampah sayuran yang terkadang menggunung. Kini, ia sudah terbiasa. Bahkan ia tidak takut untuk bertempur otot dengan centeng lain. Hal yang ia takutkan adalah tidak dapat barang untuk dijual dan tidak mendapat barang dagangan yang bagus. Semua akan dilakukan oleh Purwanto dancenteng lain apapun resikonya. Alasannya tentu hanya satu, karena kerja keras mereka adalah jaminan mengepulnya asap dapur keluarga.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Kisah Centeng Pasar Induk Kramatjati"

  1. kerja keras mereka adalah jaminan mengepulnya asap dapur keluarga...suka kata-kata ini...

    BalasHapus
  2. gw juga pernah bikin liputan di kramat jati, begitu sampai sana lepas subuh rasanya semua mata melihat ke arah kami, centeng-centeng itu

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)