Dunia Lingga

Salawasna Urang Kudu Mikir (Selamanya Kita Harus Berpikir)

Hari itu, saya lupa tepatnya kapan, sekitar tahun 2007, ketika saya officially menjadi mahasiswi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, IPB, saya bertemu dengan beliau. Saya langsung terpesona kepadanya (sambil muter lagu Glen Fredly yang Terpesona, hohoo). Mungkin, kepintaran dan wawasan yang beliau miliki menjadi magnet untuk tahu lebih banyak mengenai dirinya. Teman-teman melihat saya aneh. Aneh karena tersihir oleh beliau. Ya, benar, saya kagum padanya.

Tidak ada yang aneh dari penampilannya, layaknya dosen, berpakaian rapi, berjilbab dan berkacamata. Sepertinya tidak ada yang tidak diketahui oleh beliau, mulai dari mata kuliah komunikasi, ilmu penyuluhan, gender, pendidikan orang dewasa, agraria dan banyak mata kuliah lain yang sepertinya sudah tercetak di memori ingatannya. Karena kepintarannya tersebut, mahasiswa akan dimabuk kepayang dengan banyaknya materi yang beliau sampaikan (sampai benar-benar mabuk). Apalagi ketika para mahasiswa KPM menghadapi ujian yang mata kuliahnya diasuh olehnya. Sebut saja mata kuliah Komunikasi Massa dan Ilmu Penyuluhan yang ujiannya sangat luar biasa keren. Saya melihat raut muka mereka, termasuk raut muka saya, seperti terkena down syndrom (baca: cacat mental) ketika selesai menghadapi ujian tengah ataupun akhir semester.

Soal ujian tidak tanggung-tanggung dipersiapkan sebaik mungkin oleh beliau, sehingga mahasiswa tidak berkesempatan untuk cheating karena dibagi menjadi soal A dan soal B. Bentuk soal yang diberikan terdiri dari pilihan berganda 25 soal, 25 soal pilihan benar salah, dihalaman selanjutnya menjodohkan. Hey, hey, itupun belum tuntas, masih ada soal essay yang mesti dikerjakan, beserta anak-anak dan turunannya. Dari semua soal, bukan hanya kita harus hapal, tetapi juga harus senantiasa berpikir kritis dan analisis. Sampai saat ini saya masih dapat merasakan bagaimana ruangan GKA menjadi ruangan terhoror di kampus karena berlangsung ujian matkul dari beliau. Keringat sebesar biji jagung bercucuran, tangan berkeringat dingin, mulut bergumam, hanya doa yang bisa menyelamatkan, heheehe. Soal ujian yang diberikan layaknya kalian menghadapi psikotest. Gah. Karena setiap kali saya menghapal untuk ujian mata kuliah beliau, semakin pula hapalan itu seperti pohon jati yang meranggas, rel kereta yang memuai, dan air yang menguap karena dipanaskan, wakakaka.

Awalnya teman-teman mensangsikan mengapa saya memilih beliau menjadi dosen pembimbing, karena memang julukan beliau adalah dosen killer di kampus. Tapi, tidak ada alasan, hanya..., begitulah, saya mengaguminya sejak awal masuk kuliah. Terkadang, tidak ada alasan kau menyukai seseorang, karena ya...kau menyukainya saja, itu saja, titik.

Selama dibimbing olehnya, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Bukan hanya soal metode penelitian dan metode penulisan yang baik dan benar, tetapi juga metode tentang kehidupan. Meskipun sering saya mengecewakan dirinya, contoh umum adalah saya terkadang tidak langsung menjawab panggilan sms atau telepon menanyakan perkembangan penelitian. Atau juga, terkadang menjadi bayi yang step-step di hadapan beliau karena tidak dapat menjawab pertanyaan kritis darinya.

Bukan hanya ujian terdasyat, metode-metode penelitian hingga penulisan yang saya dapatkan dari dirinya, tetapi ada satu kalimat yang selalu menempel di memori saya sampai sekarang:

Salawasna urang teh kudu mikir!

(selamanya kita harus berpikir!)

Kata- kata tersebut adalah kata-kata dari dosen tersebut, yang juga menjadi dosen pembimbing skripsi ketika kuliah S1 di Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, IPB. Beliau adalah Ibu Ir. Siti Sugiah Mugniesyah, MS. Beliau merupakan dosen senior di IPB yang mempunyai jam terbang tinggi di bidang penelitian dan pendidikan.

Ia berkata bahwa memang selamanya kita harus berpikir, supaya otak kita tidak beku, supaya kita tetap hidup. Berpikir disini diartikan sebagai kegiatan bernalar sebagai bentuk keseriusan dalam aktivitas akal manusia. Dengan kata lain, melalui proses berpikir kita berharap untuk bisa menemukan jawaban-jawaban terhadap masalah yang kita dihadapi, entah itu berpikir melalui in the box, out of the box, atau bahkan accross to other boxes. Yang harus digarisbawahi adalah kita sebagai seorang muslim, berpikirlah kita untuk media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab dengan berpikir, manusia menyadari posisinya sebagai hamba dan memahami fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi. Tugas kita hanyalah menghambakan diri kepada Allah SWT dengan beribadah dan berusaha. Dengan berpikir juga, manusia mengetahui betapa kuasanya Allah menciptakan alam semesta dengan kekuatan yang maha dahsyat, dan dirinya sebagai manusia sangat kecil dan tidak berarti di hadapan Allah Yang Maha Berkuasa.

Al-Qur'an berkali-kali merangsang manusia, khususnya orang beriman, agar banyak memikirkan dirinya, lingkungan sekitarnya, dan alam semesta. Karena dengan berpikir itu, manusia akan mampu mengenal kebenaran, yang kemudian untuk diimani dan dipegang teguh dalam kehidupan. Bukankah berpikir merupakan perintah pertama dalam Islam? Seperti ketika Allah SWT menitahkan Nabi Adam untuk menyebutkan nama-nama benda. Seperti ketika Nabi Muhammad diperintahkan Allah melalui Jibril untuk membaca. Juga kala kita menghadapi ujian kehidupan. Maka, selamanya kita harus berpikir..., salawasna urang kudu mikir. Berpikirlah, maka kita ada.Wallahu'alam.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Salawasna Urang Kudu Mikir (Selamanya Kita Harus Berpikir)"

  1. kaaaaa kalo kuliah KPM nantinya jadi apa?

    ReplyDelete
  2. kaa kalo masuk kpm kerjanya dimana? trus anak ipa masuk jur ini nyambung gak?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)