Dunia Lingga

Pengendalian Diri


Dua buah kata yang mungkin begitu mudah diucapkan, tapi sangat sulit dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ya, pengendalian diri. Pengendalian diri adalah sikap mampu atau dapat menempatkan diri pada situasi apapun, dalam keadaan baik atau buruk sekalipun. Namun, pengendalian diri terkadang lenyap begitu saja ketika kita tidak dapat menahan hawa nafsu, tidak sanggup mengontrol emosi yang meluap-luap, dan tidak adanya pemikiran panjang mengenai apa yang akan terjadi apabila tidak adanya pengendalian diri.
Dapat kita ambil satu contoh, seorang Ibu tidak dapat mengendalikan amarah kepada anaknya yang nakal atau anaknya yang berbuat kesalahan, tanpa berpikir panjang sang Ibu memukul anaknya, menghardik dan mencaci-maki tanpa arah. Sang Ibu tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi pada anaknya, pada kehidupan anaknya yang dipenuhi kekerasan. Tentu saja sang anak tidak akan melepas kenangan buruk yang selalu dan akan terus menghantuinya.
Dapat mengendalikan diri dengan baik, dapat membuat seseorang bahagia, begitupula orang yang berada di sampingnya. Pemimpin yang dapat mengendalikan dirinya, dapat pula mengendalikan rakyatnya menuju kesuksesan. Pemimpin seperti Rosulullah bagai permata kemilau yang teramat indah dan akan selalu memesonakan siapa saja dari sisi mana pun dilihatnya. Karena apa? Karena Beliau pemilik pribadi agung yang kemuliaannya tidak aus dimakan waktu. Karena Beliau dapat mengendalikan diri dan menjaga hatinya.
Contoh-contoh yang saya sebutkan tadi, tentunya belum mewakili jika kita tidak dapat mengontrol emosi, tidak mengendalikan diri dengan baik. Mengendalikan diri hendaknya tidak hanya dimiliki seorang Ibu, seorang pemimpin, tapi setiap diri kita semestinya memiliki sikap mampu mengendalikan diri.
Oleh karena itu, setiap insan hendaknya berkaca, menelaah apa yang akan terjadi nanti apabila tidak dapat mengendalikan dirinya. Setiap jiwa seharusnya menyadari bahwa ada yang lebih penting daripada mengendalikan orang lain untuk menjadi lebih baik. Setiap manusia seharusnya tidak lagi menyalahkan seseorang, seperti pemimpin misalnya, atau menyalahkan Ibu yang tidak dapat mengontrol emosinya.
Setiap insan semestinya sadar akan posisinya sebagai manusia, makhluk yang diciptakan sempurna oleh Sang Pencipta. Patutnya berterimakasih kepadaNya dengan segala cara, yaitu salah satunya dengan mengendalikan diri dari segala perbuatan yang apabila dilakukan, akan menghujaminya dengan penyesalan dan penyesalan. Yang apabila dilakukan, penyesalan itu akan selalu membekas dan berdampak negatif bagi dirinya, keluarga dan masyarakat.
Ada beberapa kiat yang saya copas dari web ini, cekidot:
  1. Jaga mata atau indera penglihatan kita dari menatap segala sesuatu yang diharamkan. Tahan pandangan kita dari menatap hal-hal, kejadian, peristiwa yang bisa mengotori hati. Gunakan anugerah penglihatan kita untuk membaca ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah SAW, bacaan-bacaan berguna, dan tontonan yang mengandung hikmah kebaikan. Insya Allah, pandangan kita akan selalu sejuk
  2. Jaga hidung atau indera penciuman kita dari mencium segala aroma, yang bisa merusak kekhusyukkan. Gunakan anugerah penciuman kita untuk menghirup hawa segar dan wewangian natural yang berasal dari alam. Insya Allah, organ pernafasan dan tubuh kita akan selalu sehat, mudah dibawa khusyuk dan tetap bersemangat, ketika bekerja maupun saat menjalani ibadah.
  3. Jaga telinga atau indera pendengaran kita dari mendengar suara atau perkataan yang tidak berguna. Tutup telinga kita dari kabar-kabar burung, kalimat-kalimat ghibah, perkataan fitnah, atau musik dan lagu yang syairnya bisa membawamudharat, serta menjauhkan hati dari mengingat Allah. Gunakan anugerah pendengaran kita untuk menyimak lantunan ayat suci Al Qur’an, mendengarkantaushiyah ulama faqih serta perkataan orang-orang shalih. Insya Allah, ilmu kita akan bertambah, amal shalih akan meningkat, dan Allah akan menghiasi jiwa kita dengan hikmah- diri kita dengan akhlaqul karimah.
  4. Jaga lisan kita dari berkata hal-hal yang tidak baik, tidak bermanfaat, kebohongan, dan tidak mengandung nasehat kebaikan. Tahan lisan kita dari mengeluarkan kalimat umpatan, sumpah serapah, fitnah, ghibah, serta suara atau lagu yang bisa membangkitkan syahwat. Diamlah, jika memang lisan kita tidak mampu membaguskan lagu, kalimat dan perkataan. Insya Allah, diri akan lebih berwibawa, lebih bijak dan santun, dan terbebas dari segala kejahatan, yang biasa timbul dari lisan atau perkataan yang tak terjaga dan kurang tertata.
  5. Jaga tangan kita dari melakukan perbuatan dzhalim, yang bisa merugikan atau menyakiti sesama mahluk. Tahan tangan kita dari menyentuh apa yang bukan menjadi hak, semisal : mencuri, memukul, menjahili, melecehkan, atau menganiaya sesama mahluk Allah. Gunakan tangan kita untuk memperpanjang salam, mencari nafkah, membantu sesama mahluk, serta memberikan sedekah.
  6. Jaga kaki kita dari melakukan perbuatan dzhalim, yang bisa merugikan atau menyakiti sesama mahluk. Tahan langkah kita dari mengunjungi tempat maksiat, bepergian yang mubadzir, yang cuma memboroskan uang atau biaya saja. Perbanyak langkah ke masjid dan majelis ta’lim. Perkuat langkah untuk menyempurnakan ikhtiar dalam menafkahi keluarga. Insya Allah, perbendaharaan dosa akan terhapuskan oleh perbendaharaan pahala. Semangat kita dalam mencukupi kebutuhan hidup di dunia, semangat kita dalam mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat nanti, kelak menjadi spirit tersendiri dalam setiap gerak aktivitas kita.
*note: akhir2 ini otak gue agak bener kali yah,mungkin menjelan bulan puasa, yah sembari nunjuk idung diri sendiri biar sadar :P

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengendalian Diri"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)