Dunia Lingga

Ibu, tamasyaku di pagar Istana Bogor



Hari ini aku bahagia sekali,bu..

Aku melihat wajahnya penuh dgn kgembiraan.Aku melihat anak kecil dengan gulali di tangan kirinya,sedangkan tangan kanannya memegang seikat sayuran.

Binatang itu tiba-tiba mendekat..Kulitnya yg cokelat dgan tanduknya yg mirip ranting pohon.Semakin mendekat dan terus mendekat padanya.Ia girang bukan kepalang,diselipkan tangannya diantara pagar2 besi yg tinggi menjulang.Ia berikan sayuran di tangannya untuk kijang itu.

Ayah dan ibunya menatapnya penuh cinta namun penuh kehati-hatian.Mungkin mereka takut anaknya diserang oleh binatang itu.

Tamasyanya memang tidak memerlukan biaya.Tamasyanya tak perlu membuat kantong uang ayah ibunya menipis.Ia sadar,dia hanya orang miskin..Tidak mampu ke dufan,ancol atau tempat hiburan lain.

Dengan hiburan itu saja mungkin membuatnya bahagia.Bertamasya di depan pagar istana bogor yg penuh dengan kijang.Ya,halaman istana itu penuh dengan kijang-kijang.

Anak itu tidak menuntut bnyak dr ayah dan ibunya.Ia justru terlihat sangat senang,walaupun hnya melihat binatang itu dari balik pagar.

Selain menjadi sarana tamasya masyarakat bogor,juga menjadi sarana berjualan.Aku melihat banyak penjual sayur,terutama wortel,gulali,sampai mainan anak-anak.Yang membuat miris adalah,itu istana,kawan..Simbol negara..Mengapa sampai terjadi hal seperti itu.

Aku tahu,ini semua karena kurangnya wahana hiburan bagi masyarakat yg murah dan menyenangkan.Aku tahu bhwa ini terjadi karena masyarakat tak terpikirkan unt menghabiskan uang untk bertamasya.

Sebuah pembelajaran yg harusnya membuat aku lebih bijak mengatur hidup,mengatur keuangan dan belajar dari lingkungan bahwa masih banyak orang yg tidak seberuntung aku.

Dalam bis MGI,menuju bdg.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ibu, tamasyaku di pagar Istana Bogor"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)