Dunia Lingga

Weekend Kemana? Coba ke Bukit Cinta Bayat Klaten yang Lagi Kekinian Yuk

Selain sumber mata air yang sedang kekinian seperti Umbul Ponggok, Cokro dan Umbul Manten, Klaten juga punya beberapa objek wisata menarik lainnya.
Belum lama ini saya dan keluarga secara spontan berwisata ke Bukit Cinta Watuprau di Bayat Klaten. Sebenarnya tidak direncanakan, tapi mungkin Simbahnya Arfa ngeliat kita pada leyeh-leyeh nggak ada kerjaan, ia usul untuk jalan-jalan. Ya ternyata gayung pun bersambut. Apalagi Bayat nggak terlalu jauh dari tempat tinggal kami di Ceper Klaten.

Sebagai ibu hamil 6 bulan, agak-agak challenging karena yang namanya bukit pasti nanjak-nanjak dong. Tapi ibu hamil ini tak gentar, ahh namanya juga bukit, paling nggak terlalu curam naik ke atasnya. Sugesti yang dibarengi doa bahwa ini sekalian juga olahraga. Masalahnya kita berangkat ke Bukit Cinta Klaten ini lepas dhuhur. Jam 10-an saja Klaten sudah panas, apalagi abis dhuhur, hahaha..

Lokasi Bukit Cinta Watuprau Bayat Klaten
So, nggak banyak persiapan sih Bukit Cinta Bayat, karena kalau dari Google Maps, lokasinya ditempuh cuma 20 menitan saja dari rumah. Alamatnya di Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat Klaten, Jawa Tengah. Jaraknya cuma 19 kilometer dari kota Klaten. Kalau mau bisa ikutin via Google Maps. Kami sih lewat Pedan, Cawas terus lanjut ke Bayat.



Perjalanan lebih kurang 20 menit nggak berasa, kita menuju Bukit Cinta Bayat ini. Sebenarnya agak ragu karena kok ternyata masuk melewati gapura desa dengan jalan yang sudah dicor cukup bagus. Meski di beberapa ruas jalan masih ada perbaikan sih, tapi nggak jadi masalah. Kami terus lurus dan mobil sedikit digas. Nggak terlalu menanjak curam sih, malah terkesan landai.

Jalan menuju bukit cinta bayat yang sudah cukup bagus


Harga Tiket Masuk Bukit Cinta Bayat
Sesampainya di Bukit Cinta Bayat, ada pemuda yang menghentikan kami untuk membayar uang masuk. Sebenarnya belum ada tiket masuk sih karena masih dalam tahap pengembangan. Di sini kami diminta bayar sebanyak Rp 2000 saja untuk masuk per mobil. Dan ketika naik ke atas lagi, parkiran pun masih belum tertata.



Banyak saya lihat juga odong-odong yang mengantar para pengunjung. Odong-odong ini nggak bisa di parkir lebih atas lagi, harus berhenti di pemberhentian pemuda karang taruna tersebut. Ternyata ketika pulang, parkirnya bayar lagi sebanyak Rp 5000. Kami sih nggak mempermasalahkan ya, karena mungkin belum dikelola dengan baik sehingga masih ada pungutan lainnya. 

Fasilitas yang Disediakan di Bukit Cinta Bayat
Sebelum naik ke bukit, terdapat berbagai fasilitas terutama untuk anak-anak. Terdapat area bermain gratis dan juga yang berbayar. Area bermain gratis seperti ayunan, perosotan, jungkat jungkit dan bisa berfoto di gajah-gajahan di sekitar lokasi. Sementara area bermain yang berbayar seperti mandi bola, mancing ikan-ikanan sampai odong-odong. Buat orang dewasa juga disediakan fasilitas terapi ikan dan belanja oleh-oleh.

playground di Bukit Cinta Watuprau Bayat Klaten


Area ini masih belum tertata rapi dan terlihat gersang. Namun yang patut diapresiasi di Bukit Cinta Bayat ini disediakan banyak tempat sampah. Sebenarnya fasilitas ini sih yang diperlukan sehingga kita tidak buang sampah sembarangan. Saya tak sempat melihat kamar kecil area ini.

Tersedia banyak tempat sampah di Bukit Cinta Bayat
Mulailah perjalanan kami menaiki puncak bukit lebih kurang satu kilometer. Kalau nggak menanjak sih masih bisa diatasi, cuma ini nanjak dan lagi hamil. Waaww...luar biasa dah. Saya harus berhenti beberapa kali untuk melepas peluh dengan minum air mineral. Beruntung banyak gubukan bambu yang dibuat pengelola karang taruna setempat sehingga saya cukup terbantu.

Masih di Dasar Bukit Cinta Bayat

Terdapat hiasan payung-payung
Beberapa kali simbahnya Arfa bertanya apakah saya kuat untuk naik ke puncak Bukit Cinta ini. Katanya muka saya sampai merah, haha...tapi dengan tekad kuat, masa hamil jadi halangan. Apalagi sudah setengah jalan, sayang kalau tidak diteruskan ke atas. Penderitaan sebenarnya adalah ketika Arfa minta gendong naik ke puncak bukit, hahaa...kalau ini nyerah. Tapi Alhamdulillah Arfa bisa diberi pengertian dan dia mulai asyik menaiki anak tangga menuju puncak Bukit Cinta. 

Terdapat hammock di pinggiran bukit dan juga ayunan yang cukup panjang talinya. Saya lihat cukup ramai ibu-ibu beristirahat di sini sambil melihat anak-anaknya bermain. Sesampainya di pertengahan bukit, terdapat tulisan Bukit Cinta dan terdapat becak hias yang bisa digunakan untuk berfoto. Pemandangannya sih belum terlihat bagus, mungkin karena panas siang hari dan bukit yang tampak gersang. Terdapat dua tapak jalan, sebelah kiri untuk naik, sebelah kanan untuk pengunjung yang turun. Saya dan keluarga naik lagi menuju puncak Bukit Cinta.

Becak hias di Bukit Cinta Bayat


Yang keren adalah simbah-simbahnya Arfa yang semangat naik ke puncak Bukit Cinta Bayat ini. Nggak habis pikir darimana itu tenaganya padahal usia sudah lebih dari 60 tahun, hahaa...orang dulu emang kuat-kuat deh. Naik ke puncak bukit banyak penjual makanan di pinggiran bukit. Sebagian besar menjual minuman, snacks dan juga ojek pentol atau cilok. 


Sampai di puncak Bukit Cinta Bayat, terdapat dua gardu pandang cukup besar untuk menikmati pemandangan Klaten dan sekitarnya dari ketinggian. Gardu pandang membentuk simbol cinta dengan diameter lebih kurang tiga meter. Gardu pandang lainnya seperti gardu pandang biasa untuk melihat pemandangan. Bukit Cinta Bayat ini sendiri luasnya lebih kurang 5 hektare mulai dari puncak hingga dasar bukit. Di dasar bukit, pengunjung bisa menikmati batu besar yang disebut dengan watuprau dengan panjang 30 meter dan lebar enam meter.


Kenapa Dinamakan Bukit Cinta Watuprau?
Menurut sejarahnya nih, lebih tepatnya legenda warga setempat sih, batu itu awalnya perahu yang pernah dinaiki oleh Joko Tuwo saat melamar Roro Denok. Watuprau diartikan batu perahu dalam bahasa Indonesia. Ceritanya mirip-mirip Roro Jonggrang nih. Rawa Denok nggak menaruh hati kepada Joko Tuwo sehingga meminta syarat agar Joko Tuwo membuat perahu besar sebagai maskawin.

Dengan bala bantuan jin, Joko Tuwo hampir menyelesaikan syarat tersebut dalam semalam. Roro Denok pun mendapat ide untuk mengusir jin dengan cara menyalakan lampu di kandang ayam sambil mengetuk-ngetuk tumpang sebagai tanda sudah masuk waktu pagi. Ayam pun berkokok dan para jin pergi menghindari pagi. Gagal-lah semua rencana Joko Tuwo untuk mempersunting Roro Denok. Ia muntab dan menendang perahu itu hingga terbalik. Ya kira-kira begitulah legenda yang ada di masyarakat hingga saat ini.

Saya sendiri belum sempat ke Watuprau ini padahal satu lokasi dengan Bukit Cinta Bayat. Kami buru-buru pulang karena mendung dan hujan gerimis. Mungkin lain kali akan diagendakan bersama kembali ke sana. Dengan si jabang bayi yang sudah bisa dibawa-bawa naik puncak bukit. 

Buat teman-teman yang berencana ke Bukit Cinta Watuprau Bayat, nggak perlu banyak persiapan kok. Pasalnya sudah banyak fasilitas yang ada di tempat wisata ini meski belum terlalu lengkap. Jadi, selain bermanja-manja dengan ikan di Umbul Ponggok, teman-teman bisa sekalian mampir ke Bukit Cinta Bayat ini dan menikmati sensasi sunrise atau sunset di sini. 


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Weekend Kemana? Coba ke Bukit Cinta Bayat Klaten yang Lagi Kekinian Yuk"

  1. belum pernah kesini boleh ni nanti ke klaten mampir

    ReplyDelete
  2. Skarang makin banyak tempat wisata yang di handle dengan baik dan diberikan ornamen yang menarik ya mba. Dan itu termausk bukit cinta ya mba. Aku blm pernah ke Klaten sih dan pastinya menarik kalau ke Klaten dan mampir ke sini :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)