Dunia Lingga

A Taxi Driver Review



A Taxi Driver review. Sudah lama nggak mereview film dan kali ini tertarik nonton A Taxi Driver karena jadi box office di Korea Selatan. Dalam 11 hari, film telah ditonton 7 juta masyarakat Korea Selatan. Bahkan, nggak kalah dari film yang digadang-gadang jumlah penontonnya seperti Battleship Island. Sebenarnya sih mau nonton A Taxi Driver karena Ryu Jun Yeol yang aktingnya di Reply 1988 menarik minat ahjumma kayak gue..haha..

Selain itu, cerita A Taxi Driver ini merupakan kisah nyata yang meliputi dunia jurnalis yang juga saya pernah berkecimpung di dalamnya, meski cuma sebentar saja. Ini menarik perhatian saya untuk menonton film ini sih pada akhirnya.

A Taxi Driver sendiri mengambil latar tahun 1980-an di Gwangju Korea Selatan. Dikomandoi oleh sutradara Jang Hoon yang sebelumnya sukses dengan The Front Line nya, meski saya belum nonton film ini sih.

A Taxi Driver menceritakan tentang sopir taksi duda beranak satu bernama Kim Sa Book (Song Kang Ho) yang kesulitan keuangan untuk membayar uang sewa rumah. Sebelumnya ia bekerja di Arab Saudi dan kembali pulang ke Korea menjadi sopir taksi. Uang selama bekerja di Saudi habis untuk mengobati istrinya yang sakit. Dan mobil taksi menjadi satu-satunya sumber penghasilan Kim.

Di tahun tersebut, banyak demonstrasi dimana-mana melawan diktator Chin Doo-hwan. Karena banyaknya demo di Seoul, Kim sangat sebal dengan pendemo karena penghasilannya sebagai sopir taksi menurun drastis. Kenapa para mahasiswa harus berdemo padahal tugas wajib mereka adalah belajar? Duh kata-kata Kim ini mengingatkan saya akan peristiwa yang sama saat kerusuhan Mei 1998.

Well, lanjut lagi, di sisi lain, ada seorang  wartawan asal Jerman yang bertugas di Jepang, bernama Jürgen Hinzpeter (Thomas Kretschmann)  merasa terpanggil untuk meliput kelamnya represi yang dilakukan para tentara Korea Selatan kepada para pendemo. Sayang, kekejaman itu hanya berhembus menjadi isu semata karena media dibredel. Koran dan televisi menceritakan hal sebaliknya. Bahwa korban ada di pihak tentara yang melawan gangster bayaran.

Hinzpeter atau Peter akhirnya masuk ke Korea Selatan dan mengaku berprofesi sebagai misionaris. Ia bertugas di gereja-gereja di Seoul. Ia kemudian menyewa taksi untuk membawanya pulang pergi dari Seoul ke Gwangju. Gwangju sendiri adalah daerah yang di locked down oleh militer. Di sanalah kekerasan dan represi terjadi dengan korban yang tak terhitung jumlahnya.

Karena butuh uang, Kim menerima tawaran menjadi sopir ke Gwangju. Di sinilah cerita dan ketegangan dimulai. Kim yang pada awalnya sangat antipati terhadap pendemo, menjadi saksi mata terhadap kebrutalan militer saat itu. Kim yang awalnya berselisih dengan Peter menjadi sadar bahwa misi jurnalis yang dilakukan Peter sangat penting. Dan ia akan melakukan apapun agar Peter dapat mengabarkan kepada dunia akan kebrutalan tentara pada masyarakat sipil.

Film ini memperlihatkan transformasi dari Kim yang selfish, menjadi Kim yang membantu Peter untuk membuat video jurnalisme, meski ia harus mempertaruhkan nyawanya. Yang saya ingat adalah ketika Kim melihat tentara memukuli dan menembaki demonstran tanpa ampun. Mengapa tentara melakukan itu? Tak seharusnya mereka menembak orang-orang itu, kata Kim.

Akting Song Kang Ho memang nggak diragukan lagi. Dari seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri, menjadi seorang pahlawan yang jasanya mungkin tidak tertulis. Apalagi saat ia pergi ke Seoul untuk menghindari kerusuhan di Gwangju, ia justru kembali lagi ke daerah tersebut untuk menuntaskan misinya membantu Peter.

Sementara Peter, aktingnya juga bagus meski nggak terlalu develop perannya seperti Kim. Yang saya suka adalah kegigihan Peter untuk mendapatkan berita yang utuh meski terlihat sangat down ketika kehilangan penerjemah yang juga calon musisi Ryu Jun Yeol (yeahh spoiler hahaha). Ada kata-kata yang saya ingat dari si Peter ini.  I'm a reporter. Reporters go wherever there is news," and "Once this footage airs, the entire world will be watching. You're not alone.

Secara keseluruhan, film ini watchable banget. Mulai dari akting para pemainnya, latar tahun 1980 yang apik hingga kostum para pemainnya. Seperti film-film Korea pada umumnya, ada sisi humanity yang menyentuh dan pesan-pesan yang membuat kita berpikir, bahwa, menjadi pahlawan tak harus punya nama besar. Menjadi pahlawan dari hal-hal kecil bisa kita lakukan asal ada simpati dan empati terhadap lingkungan sekitar kita.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini seakan membawa ingatan saya saat peristiwa 1998 di Indonesia. Meski saat itu saya baru 10 tahun, saya jadi tahu bahwa nggak selamanya berdemo itu buruk. Berdemo mungkin bisa jadi salah satu cara untuk reformasi dan melawan kediktatoran yang sewenang-wenang.

Selamat menonton.. :)


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "A Taxi Driver Review"

  1. 2 hari lalu aku juga baru selesai nonton ini Mbak Ling.
    Awal-awal aku nggak ngeh kalau ada Jung Hwan di film itu.
    Baru ngeh pas dikasih tau temenku, malem harinya XD. Beda banget.

    Aku suka pas part akhir-akhir mau selesai itu. Pas si taxi driver kejar-kejaran sama petinggi-petinggi dari kota Gwangju.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)