Dunia Lingga

Seberkas Senyuman Untuk Kereta Api Indonesia di Masa Mendatang



Peluhku mengucur deras. Himpitan orang dengan peluh yang bermacam-macam baunya menjadi satu. Kau tahu, bau matahari, bau jamu hingga bau kaos kaki busuk bercampur memuakkan hidung. Kulihat seorang bapak membawa beragam panganan. Bapak lainnya membawa dua ekor ayam jantan hidup yang baunya tak kalah menyengat.

Kudekap tasku. Ada ponsel pemberian orang tuaku dan dompet yang uangnya tak seberapa namun banyak kartu-kartu penting mahasiswa. Sementara teman-temanku yang lain pun melakukan hal yang sama. Menjaga barang bawaan agar tak pindah ke tangan orang lain. Aku pernah merasakan hal itu dan tak mau kembali terulang. Tasku disilet dan ponsel raib ke tangan penjahat yang tak mengenal perjuanganku mendapatkan ponsel itu.

Aku dan teman-temanku yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Bogor saat itu hendak menuju Cawang dengan menggunakan KRL dari Bogor. Keadaan tak kondusif di KRL bahkan membuat salah satu temanku hampir pingsan. Saat itu tahun 2006 dan aku masih ingat betul betapa memuakkannya perjalanan itu. Naik kereta api menjadi tantangan luar biasa bagi anak kuliah yang belum mengerti keadaan kereta api saat itu.

Aku pun pernah mencoba menaiki kereta api dari Tanah Abang menuju Merak. Mencoba kereta api ini, karena ingin mengunjungi rumah orang tuaku di Cilegon. Mau mencoba lagi tanyaku saat itu? Jawabnya tidak. Kondisi perjalananku saat itu tak jauh berbeda dengan KRL Bogor-Jakarta. Gerbong kereta api yang kumuh, calo merajalela hingga tindak kriminalitas yang seolah tak terkontrol baik saat kereta berhenti atau saat melaju.
Sejak bayi sudah naik kereta























Setelah orang tua pensiun dan pulang kampung ke Sukabumi, praktis salah satu kendaraan yang dipakai adalah bis ataupun elf. Untuk warga Bogor yang ingin ke Sukabumi ataupun sebaliknya, jalur darat Bogor-Sukabumi adalah jalur 'neraka'. Berangkat pagi hari bisa sampai tujuan di sore hari. Padahal, jika tak macet, Bogor-Sukabumi hanya 2-3 jam saja. Aku ingat betul akupun hampir pingsan di bis. Selain jalannya yang cukup berkelok, terlalu lama mengarungi kemacetan menjadikan tubuhku tak kuat menghadapinya.

Alhamdulillah, sekitar tiga hingga empat tahun belakangan, pemerintah mereaktivasi jalur kereta Bogor-Sukabumi. Dan puji syukur kondisi moda transportasi ini semakin ramah penumpang. Saat kerja di Jakarta dan hendak mengunjungi orang tua, aku menggunakan fasilitas kereta api Bogor-Sukabumi-Cianjur. Aku tak perlu berebut kursi karena sudah menggunakan sistem check-in.

Dan sejak anakku Arfa lahir tahun 2014, dari Jakarta ke Sukabumi semakin nyaman saja. Arfa tak lagi merasakan yang ibunya rasakan dahulu, mabuk karena terlalu lama di jalan. Apa yang Arfa lakukan saat menumpang alat transportasi ini? Matanya tak henti-hentinya terlihat antusias melihat lokomotif kereta. Pun ketika kereta api sudah mulai bergerak, ia berjingkrak kegirangan. Senyumnya sumringah. 

Nyaman di kereta hingga tertidur
Perjalanan selama dua jam dari Bogor-Sukabumi-Cianjur seolah tak terasa. Arfa bahkan kerap tertidur lelap di pangkuanku atau sengaja kupesankan dua kursi untuknya agar ia bisa asyik tertidur. Dan ketika harus mudik ke rumah mertua di Klaten, pilihan utama tentu kereta api. Selain murah, naik kereta api perjalanan jauh juga sangat nyaman. Aku dan suami sering menaiki kereta api Senja Utama Solo. 

Setelah pindah ke Klaten, mudiknya menjadi terbalik, dari Klaten ke Sukabumi. Kami biasanya naik kereta bisnis atau eksekutif kereta api Lodaya Klaten-Bandung, kemudian lanjut bis ke Sukabumi. Bagaimana menghabiskan waktu selama lebih kurang delapan jam di kereta? Banyak cara. Colokan listrik tersedia, kami bisa menonton film dari leptop, main games dari ponsel, menonton televisi di depan gerbong, atau menikmati panganan yang disediakan di gerbong restorasi.

Transformasi yang Merekahkan Senyum

Dari apa kurasakan di atas, tentu sebagian besar penumpang merasakan hal yang sama. Dari kereta api yang kumuh, tindak kriminalitas yang tinggi, berdesak-desakan, hingga bergelantungan di atas kereta sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Namun, transformasi yang dilakukan PT KAI sejak tahun 2010 merekahkan senyum kami para penumpang setia. Pelayanan berbasis teknologi mulai digegapgempitakan. Hingga seluruh karyawannya harus melek gawai. Pelayanan berbasis teknologi dan informasi memang menjadi sebuah keniscayaan di usia PT KAI yang tak lagi muda, yakni 72 tahun. 

Menunggu dengan nyaman di peron

Aku merasakan betul perubahan besar pada sumber daya manusia PT KAI yang berintegritas dan memberi pelayanan terbaik kepada penumpang. Pelayanan terbaik inilah yang aku rasakan betul sebagai penumpang. Stasiun menjadi ramah penumpang dengan perparkiran yang baik, terdapat fasilitas lengkap seperti restoran KA, Loco Cafe, Loko Kiosk hingga katering. Aku pun bisa mencicipi makanan khas lokal yang disajikan oleh pihak anak perusahaan KAI. 

Di dalam kereta sendiri, keamanan terjaga karena ada Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api) yang bertugas dan setiap gerbong diberi nomor telepon petugas yang berjaga saat itu jika penumpang mempunyai keluhan. Toiletnya pun bersih dan gerbongnya selalu diberi pengharum ruangan. Setiap kursi diberi kantung plastik untuk menyimpan sampah. Perjalanan jauh seakan tak terasa berat karena layanan yang diberikan kepada penumpang sangat ekstra. 

Dan yang paling kami rasakan, kemudahan dalam membeli tiket. Membeli tiket bisa dimana saja baik di minimarket atau online ticketing. Membeli tiket seperti membeli permen karena sangat mudah mendapatkannya. KAI Akses yang diluncurkan KAI juga sangat berguna karena memuat jadwal kereta terbaru, berita seputar kereta api hingga informasi lainnya. 

Alhasil, kami tak lagi menemukan calo tiket karena penumpang dengan mudah membeli tiket. Kami juga tidak perlu antre berhari-hari demi mendapatkan tiket lebaran, karena semua tinggal klik. Tiket kereta juga sudah bisa dipesan 90 hari sebelum penerbangan. Jika ingin membatalkan tiket yang dibeli pun sangat mudah, seperti yang pernah kutulis di blog ini. 


Konfirmasi pengembalian uang tiket pun langsung sampai ke ponsel penumpang. Alhamdulillah.. Jikapun ada yang ingin ditanyakan atau keluhan tertentu, kita tinggal telepon ke Call Center di 121. Mudah sekali bukan?


Terus Berbenah dan Memberi Pelayanan Terbaik, Saat Ini dan Masa Mendatang

Sebagai pelanggan setia, di usia KAI yang tak muda lagi, tentu banyak harapan disematkan. Transformasi yang dilakukan memang sudah sangat baik, namun masih perlu peningkatan di sana sini. Terutama ketika 'drama' menjelang hari raya karena banyak penumpang yang tidak mendapatkan tiket melalui sistem online. Terkadang, saya pun tak kebagian tiket dan berharap ada tiket tambahan untuk mudik. 

Drama lainnya adalah armada KAI yang berusia tua. Sangat diharapkan supaya KAI terus berbenah dengan melakukan peremajaan armada. Dengan armada yang sehat, tentu kami sebagai penumpang akan semakin merasa nyaman dan aman naik kereta. Satu hal lagi, dengan adanya peremajaan armada, kami akan semakin bangga naik kereta. 

Selain itu, di usia 72 tahun KAI, kami berharap program penataan stasiun semakin gencar dilakukan. Di Stasiun Sukabumi misalnya, ruang parkir sangat kecil sehingga ketika penumpang datang dan keluar terlihat sangat  padat. Di stasiun ini juga belum banyak fasilitas yang bisa dinikmati oleh penumpang.

Reaktivasi jalur Bogor-Sukabumi sangat-sangat kami apresiasi sebagai penumpang. Sebagai penumpang setia kereta api, diharapkan juga adanya reaktivasi lintasan kereta api lainnya yang sudah mati. Meski memang kewenangan ada di tangan pemerintah, kami berharap KAI bersiap untuk mengoperasikan jalur-jalur yang dihidupkan pemerintah nantinya. Betapa menyenangkannya jika jalur-jalur tidak aktif tersebut kembali aktif dan bisa digunakan oleh warga yang membutuhkan, terutama warga yang tidak dapat dengan mudah mengakses moda transportasi.

Dokumen PT KAI
Kami sangat mengapresiasi transformasi yang telah dilakukan KAI sejauh ini. Adanya kereta api sleeper, kereta api kelas presiden, kereta api cepat,  KA Pariwisata dengan one stop services tourism, juga berdirinya motel di stasiun-stasiun yang bisa menginap hanya 3 atau 6 jam. dan inovasi lainnya yang menunjukkan perbaikan demi perbaikan terus dilakukan demi kenyamanan dan keamanan penumpang. 

Diharapkan ada inovasi-inovasi baru yang lebih memanjakan penumpang, agar penumpang semakin setia dan semakin bangga dengan moda transportasi yang satu ini. Sehingga konotasi kereta api untuk golongan menengah bawah berubah. Alhasil, wajah kusam dan kumal kereta api saat lalu menjadi merekah penuh senyum dan keceriaan saat kini dan masa yang akan datang. Selamat Ulang Tahun PT KAI yang ke 72, semoga bisa menjadi moda transportasi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia dengan memberikan keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan kenyamanan bagi masyarakat Indonesia. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seberkas Senyuman Untuk Kereta Api Indonesia di Masa Mendatang"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)