Dunia Lingga

Menjejaki Hong Kong International Airport



Mataku ingin sekali terpejam, tapi suara pramugari membangunkanku. 

"Ibu mau minum apa? Ada orange juice, kopi, teh atau cola?" tanyanya padaku.

Seakan ingin mengurangi lelah, aku memesan orange juice agar mulut terasa lebih segar. Padahal penerbangan ini malam hari menuju Hong Kong, kuharap, tidak ada yang salah dengan pencernaanku nanti. 

Pramugari berwajah oriental itu kembali menawarkan makanan. Rupa-rupa pilihannya. Ada spagetti, lasagna, nasi goreng dan aku lupa menu lainnya. Aku sedang tak terlalu bersemangat untuk makan namun tetap kupesan satu menu, lasagna. Setelah menyantap makanan, aku mengisi arrival card di pesawat agar nanti tidak mengantri saat mengisinya di Bandara Hong Kong. Biasanya pramugari akan memberikan kartu ini sebelum pesawat mendarat.

bandara hong kong international airport
Tak lupa mengisi arrival card biar nggak ribet antri lagi di bandara Hong Kong
Suamiku berada di penerbangan lain karena tak bisa bersama terbentur urusan pekerjaan. Saat itu di sampingku duduk seorang wanita usia 40 tahunan dengan gaya yang cukup menarik perhatian. Rambutnya dicat ombre warna cokelat dengan pirang diujung rambutnya. Kulihat tindikan kecil di hidungnya. Satu set perhiasan lengkap memenuhi leher, telinga hingga pergelangan tangan. 

Pada awalnya kami tak bertegur sapa. Tapi aku penasaran. Mungkin lebih tepatnya kepo. Ternyata wanita itu adalah TKW yang sudah lama bekerja di Hong Kong. Ia bercerita banyak mengenai kehidupannya di Hong Kong. Ia juga sempat mengajariku bahasa dasar kanton untuk tawar menawar harga.

bandara hong kong international airport


Perbincangan terus berlanjut bahkan tanpa kami rasakan sudah hampir sampai bandara Hong Kong. Lima jam lamanya di pesawat namun tak terasa karena antusias mendengar cerita beliau. Bisa baca lebih lanjut di postingan ini. Baca: Di Balik Kisah Sukses Buruh Migran Indonesia di Hong Kong

Kami pun sempat bertukar nomor ponsel. Ya mungkin nanti aku bisa berkesempatan kembali liburan ke Hong Kong dan bertemu kembali dengannya. Kami pun berpisah saat sampai di Hong Kong International Airport.


Menjejaki Hong Kong International Airport
Sesampainya di bandara, gemerlap lampu memenuhi penglihatanku. Mayoritas bagian bandara adalah kaca-kaca putih yang konon didesain akan pecah jika datang badai topan datang. Fungsinya sih biar sih bangunan bandara HKIA tetap berdiri tegar (Rossa kalii). Bandara HKIA terlihat begitu bersih dan rapi. Kulihat sangat banyak pusat informasi untuk wisatawan. Maklum saja, bandara dengan luas 12,48 km2 ini mampu membuat tamu kebingungan.

bandara hong kong international airport


bandara hong kong international airport
Aduh pusiiing..luas bngeet bandara Hong Kong..ketawa katrok jadinya
Sesampainya di gate, aku menaiki skytrain untuk sampai di terminal satu. Kira-kira hanya tiga menit berada di skytrain ini. Sesampainya di gerbang imigrasi, pengunjung cukup padat sehingga harus mengantri cukup lama.

bandara hong kong international airport

Untungnya aku tak lagi diperlakukan saat berada di imigrasi Indonesia. Di sini meski mengantri namun tetap rapi. Meja imigrasi dibedakan antara warga Hong Kong asli, visitors luar negeri, hingga diplomatik. Juga pemilik passpor yang sudah terdaftar online dan secara frekuensi sering menuju dan keluar Hong Kong. Bandara HKIA ini juga disebut-sebut jadi salah satu bandara terbaik di dunia.
bandara hong kong international airport
antrian imigrasi Hong Kong yang mengular

Aku senang dengan nuansa serba putih karena bandara terlihat sangat bersih. Konon katanya, jika ingin melihat budaya suatu bangsa, lihatlah kebersihan toiletnya. Dan benar, toilet di HKIA ini benar-benar bersih dan kering. Mungkin untuk sebagian masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan toilet basah, toilet kering ini sungguh tak akan cocok. Maka, persiapkan segala sesuatunya ya, bisa baca artikel ini. Baca: 10 Tips Liburan Hemat ke Hong Kong.

Karena berbeda penerbangan, aku dan suami sampai bandara terpisah. Beruntung akses wifi gratis di bandara HKIA ini berada di sudut manapun.Tinggal aktifkan jaringan Wifi dan dapat ditemukan SSID #HKAirport Free Wifi. Setelah dikoneksikan, buka laman apapun kemudian ada pilihan untuk meng-accept-nya. Wifi langsung nyambung dan bisa Wifi-an secara gratis.

Di Hong Kong, konon banyak public space yang dipasang wifi dengan kecepatan dewa, salah satunya di bandara Hong Kong ini. Nggak seperti di Cina yang WA-nya di blokir, disini nggak ada blokir-blokiran, jadi langsung bisa kontak WA dengan suami yang ternyata berada di ruang kedatangan berbeda.

Setelah kontak-kontakan, alhamdulillah ketemu dan langsung berpelukan..hahaha...Di bandara, kami mencari-cari tempat makan yang sekiranya halal. Perut ini sudah tak tahan minta diisi. Restoran di bandara Hong Kong yang halal adalah Popeyes Lousiana Kitchen. Restoran ini menyajikan aneka ayam goreng, udang goreng, kentang goreng dan makanan siap saji lainnya. 

Lokasi Popeyes Lousiana Kitchen berada di 7T103, Level 7, Departures Check-in Hall aisle E, Terminal 1, Hong Kong International Airport. Sayangnya, kami sudah terlalu bingung di bandara seluas ini. Mencari restoran ini nggak ketemu-ketemu juga. Akhirnya mau nggak mau makan di restoran cepat saji lainnya yang belum dipastikan kehalalannya, hiks hiks.

bandara hong kong international airport


Suami pilih ikan fillet dan teh sementara saya memilih untuk makan camilan yang dibawa dari Indonesia, cari aman hehe. Untuk harga makanan di Hong Kong memang tergolong agak mahal. Untuk konversi satu dollar Hong Kong ke Rupiah saat aku pergi sekitar 1.700 Rupiah

*makan pagi di MCD: 30 HD ~ Rp 60 Ribu

Setelah mengisi perut,tujuan selanjutnya adalah membeli kartu sakti Octopus Card. Kartu ini semacam kartu EZ Link di Singapura, kalau di Indonesia kayak flazz BCA gitu deh. Bisa untuk membayar bus, kereta, makanan di Sevel, sampai ding ding tram. Membeli Octopus Card bisa di counter-counter yang bertuliskan airport express.
bandara hong kong international airport
Octopus Card
bandara hong kong international airport
Octopus Card bisa dibeli di counter2nya airport express
Untuk satu kartu Octopus Card seharga 150 HD dengan 50 HD nya untuk deposit yang bisa kita ambil saat pulang dengan cara memberikan Octopus Card tersebut kepada counter-counter yang melayani penukaran Octopus Card (ribet banget bahasa gue, haha).  Kenapa namanya Octopus Card ya? Mungkin karena bisa digunakan di berbagai tempat dan moda transportasi jadi seperti Octopus yang punya kaki banyak, haha random abis.

Alhamdulillah, setelah Octopus Card di tangan, kami berencana membeli sim card. Tapi setelah pertimbangan matang, rasanya nggak perlu-perlu amat karena praktis banyak wifi public space di Hong Kong. Karena kalau beli pun sayang uangnya, meski nggak mahal-mahal amat. Untuk sim card Discover Hong Kong khusus Tourist Card cuma 88 HD untuk 5 hari dan 118 HD untuk sekitar 8 hari. Fasilitasnya tentu dapat paket data, unlimited local csl Wifi, telepon gratis lokal, dan bisa juga dipakai di Macau dan Taiwan. 

*Octopus Card: @150 HD ~ Rp 250ribu


Menuju Causewaybay dengan bus
Setelah menghabiskan waktu beristirahat dan makan pagi di bandara HKIA, perjalanan kami berlanjut menuju hotel di Causewaybay. Sebenarnya, banyak cara menuju pusat kota, ada bus, taksi dan ada kereta airport ekspress yang bisa langsung ke Hong Kong Station, tapi kami memilih menggunakan bus karena lebih murah. Bukan itu aja sih alasannya, dengan menggunakan bus, kita bisa melihat secara langsung kehidupan masyarakat Hong Kong sesungguhnya. 

bandara hong kong international airport

bandara hong kong international airport

Mulai deh drama di sini. WE LOST..hahaa..secara HKIA ini gueede banget meski banyak pusat informasi tetap saja kita pusing mencari terminal bus-nya, hahaa KATROOK maksimal. Tapi inilah enaknya travelling tanpa tour guide, challenging banget kelayapan di negara orang sambil bawa-bawa tas ransel.

Aa: Neng ke sebelah sini!
Gue: Kesini kalii tuuh sambil nunjuk2 papan
Aa: percaya sama Aa, kesebelah sini
Gue: Masa sih..
Aa: Yo wis sakkareppmuu *mulai emosi gak ketemu2 tuh terminal padahal dah tanya2
Dan teruus perdebatan yang tiada ujungnya menjadikan hikmah jalan2 ini penuh perdebatan, hahaa

Alhamdulillah terminal busnya ketemu juga. Hebatnya tuh, setiap jurusan punya jalur tersendiri dan ada papan informasinya, jadi kita bisa tahu dimana kita harus menunggu jalur antrian. Karena Causewaybay terdapat di Hong Kong Island, maka cari papan informasi yang mengarah ke Hong Kong Island. Untuk ke Causewaybay bisa menggunakan bus A11, E11 atau E11A. 

Kami berdua mengantri di lajur A11 yang sudah penuh oleh manusia, haha. Tapi asiknya memang busnya terus datang lima menit sekali jadi si bus nggak padet bahkan tergolong sepi. Biaya yang dikeluarkan dari Bandara Hong Kong menuju Hong Kong Island dengan bus hanya 40 HD setara dengan Rp 70 ribu. Ya harganya mirip-mirip damri bandara dari Depok ke Bandara Soekarno Hatta lah, murah meriah.

bandara hong kong international airport
nyamannya bus di Hong Kong

bandara hong kong international airport
menikmati jalanan di Hong Kong

Sudah antri kemudian masuk dan tap si kartu Octopus Card di muka pintu bus. Kami memilih duduk di tingkat dua biar lebih asyik melihat Hong Kong. Dan memang nyaman sekali moda transportasi yang satu ini, selain ber-AC, kita bisa melihat layar bergerak untuk pemberhentian selanjutnya. Jadi nggak usah bertanya-tanya sudah sampai mana perjalanan kita. 

Selama di perjalanan, kita asyik mengobrol sambil menikmati pemandangan kota Hong Kong. Kami kerap melewati terowongan yang mulanya berasal dari gunung yang dibelah, ahh apalah itu namanya aku lupa. Perjalanan dari bandara Hong Kong ke Hong Kong Island hanya sekitar lebih kurang satu jam.  Nanti aku lanjutkan lagi ya cerita perjalanan ke Hong Kong ini. Semoga yang belum berkesempatan ke sini, bisa jalan-jalan ke sini juga ya..







Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to "Menjejaki Hong Kong International Airport"

  1. aku mupeng sama dji osmo nya mbak lingga :D

    dan tentunya kembali ke HK, perjalananku dulu ke HK foto2nya ilang karena hdd nya rusak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto2 di blog masi ada kn koh..lmyn terselamatkan ya meski sedikit

      Hapus
  2. Aku gak Salah baca kan Mba, kaca di airport didesain untuk pecah saat badai? Hehe

    Bandaranya bersih dan megah ya. Ini baru intro aja idah seru, aku tunggu ceria selanjutnya Mba Lingga ��

    BalasHapus
  3. Kenapa aku ikut deg2an yaaa baca ini. Aku ngeri tersesat juga wkwkwk... Kalo tersesat bagreng mah masih agak mendingan deh, lah klo sndirian. Nangiss ngga yaaa akuh ����

    BalasHapus
  4. wooo keren mba, aku suka baca baca postingan perjalanan seperti ini. banyak informasi yang bisa aku dapat. btw itu kaca air port didesain untuk pecah saat badai jadi efisien banget ya mba, jadi tinggal pasang kaca lagi kalo rusak, trus desainnya air portnya juga ngurangin kemungkinan kerusakan pondasi/kerangka bangunan juga. ntab djiwa

    BalasHapus
  5. Kalau tersesat di negara orang kayaknya saya bakal takut, Mbak :D

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)