Dunia Lingga

Ramadhan, Nastar dan Oven Listrik

Sumber gambar: Resep hari ini

Bernostalgialah dengan masa lalumu yang manis. Lantas akan kau temukan senyuman terkembang tak kau sadari. Manis dan membahagiakan.

Kalau ngomongin nostalgia, apalagi ketika Ramadhan, ada saja yang terlintas. Mulai dari buka puasa bersama, sahur yang kesiangan, sampai menjawil teman saat tarawih. Yang paling diingat tentu harumnya nastar sehabis dikeluarkan dari oven oleh ibu.

Sebenarnya kalau cerita membuat nastar, ibuku tak ahli-ahli amat. Kerapkali nastar yang dibuatnya  gosong, terlalu keras atau terkadang terlalu lembek. Begitu pula kue-kue lainnya seperti kastangel dan kue putri salju. Tak ada yang benar-benar rasanya wah.

Sempat pada suatu masa, orang tua sahabatku yang jago baking dan juga jago memasak mendapat orderan kue nastar. Kebetulan, aku dan sahabatku, Dian namanya, bertetangga. Di Ramadhan itu –mungkin 20 tahun lalu-, aku selalu membantu mamahnya Dian untuk membentuk nastar. Bayarannya? Tentu kue nastar. 

Bukan hanya mengincar kue nastarnya saja sih, sebenarnya lebih ke bagaimana menghabiskan waktu yang produktif dengan membuat kue dan bercanda dengan Dian seraya bermain tepung yang bertebaran di lantai. 

Saat itu, ibuku yang selalu gagal membuat nastar menyuruhku untuk menyontek resep Mamah Dian. Alih-alih membuat nastar di rumah, aku selalu nongkrong di rumah Dian untuk membuat kue yang berisi selai nanas ini.

Sumber: AbiUmmi


Aku melihat kegesitan Mamahnya Dian membuat kue-kue itu. Entah berapa puluh atau ratus pesanan toples ketika itu. Aku lupa ada berapa oven dan loyang menumpuk di rumah Dian. Yang jelas, aku selalu ada di rumah Dian, pagi hingga sore. Hingga tak terasa pulang-pulang menghadapi azan Magrib dan menikmati nastar yang dibuat. 

Pulang ke rumah, ibuku justru menunggu kue buatan Mamah Dian. Ah ibu..kenapa tak kau tanyakan langsung resepnya pada Mamah Dian, dibanding aku jadi perantaranya? Hehee..

Saat itu, mamah Dian memang masih memakai oven kompor atau oven tangkring, begitu pun dengan ibuku. Mengapa? Karena saat itu, oven listrik belum banyak di pasaran. Belum lagi harganya yang masih mahal tentu membuat ibu-ibu di tahun itu cukup memakai oven kompor saja.

Kalau dilihat-lihat, proses membuat nastar tidak sulit-sulit amat. Meskipun begitu, bagi pemula seperti ibuku, membuat nastar jadi tantangan tersendiri. Mungkin istilah ala bisa karena biasa memang berlaku bagi ibuku.

Setelah ratusan purnama berlalu, kemampuan ibu membuat nastar semakin hebat saja. Rasanya pun jauh berbeda dibanding awal-awal ibu membuat kue nastar. Beranjak dewasa aku justru kerap menghabiskan waktu membuat nastar bersama ibuku. 

Saat-saat seperti inilah yang dirindukan saat Ramadhan, membuat kue nastar dengan ibu, dengan tepung dan mentega bertebaran di lantai dapur. Apalagi membuat nastar ketika bedug Magrib masih lama. Rasanya godaan untuk berbuka makin besar saja. 

Oiya ibuku masih memakai oven kompor loh. Ya semua ada pilihan ya. Kalau aku lebih memilih untuk menggunakan oven listrik karena lebih praktis, mudah dan efisien. Alasan utamanya sih rumahku sudah sempit jika ditambah oven kompor yang cukup besar itu. 

Selain itu, terdapat fitur pengendali temperatur dan timer otomatis pada oven listrik. Jadi, aku nggak khawatir kue nastar yang dibuat bakalan gosong atau belum matang. Sebenarnya ada tips mudah biar nastar nggak gosong.

Panaskan oven hingga panas sekali, kemudian setting low medium supaya mendapat panas yang stabil. Oven bisa dibuka tutup dan jangan lupa sering-sering memindahkan rak saat memanggang. Dari rak bawa pindah ke atas, rak atas ke tengah, rak rengah ke bawah dan seterusnya sampai nastar matang. Putar loyang searah dengan jarum jam ketika menukar posisi rak. Nah, pilih api kecil dan rajin-rajin membuka tutup dan memutar posisi sambil menukar rak.

Lantas bagaimana memilih oven yang cocok untuk dompet? Pertama, jangan lupa untuk mengecek berapa watt oven listrik tersebut. Jangan sampai beli oven pas sampai rumah malah byar pret. Eh bukannya sibuk bikin kue malah si oven teroggok tak berdaya di pojokan dapur. 

Kedua, tentu harus melihat ukurannya, jangan kebesaran dan jangan pula kekecilan. Istilahnya sih jangan sampai keinginan membuat kue tidak tertampung di oven listrik yang telah dibeli. Atau justru sebaliknya, membeli oven yang kapasitasnya besar padahal memanggang masakan atau kue hanya sesekali dan tidak banyak. Jadi memang harus mempertimbangkan ukurannya nih. 

Ketiga, perhatikan fitur yang terdapat pada oven listrik yang akan dibeli. Cobalah cek apa bahannya tahan panas, fungsi pemanasnya seperti apa hingga timer yang bekerja di oven listrik tersebut. 

Keempat, yang paling penting tentu mengecek harga oven listrik tersebut. Apakah harga tersebut merupakan harga yang pantas untuk oven listrik dan kalau bisa sih lebih murah dari toko online lainnya. Kalau aku sempat melihat-lihat oven listrik di toko online MatahariMall. Ternyata harganya bersaing dan ada yang cuma Rp 200-an saja. Ah, tambah mupeng membeli oven listriknya.


Ingin rasanya membuat kue nastar di saat Ramadhan bersama-sama. Nostalgia saat-saat membuat nastar bersama ibu. Dan kenangan itu, ingin sekali aku turunkan bersama anak-anakku kelak. Manis dan membahagiakan. 



Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to " Ramadhan, Nastar dan Oven Listrik"

  1. enaknya oven listrik dipakai krn udah terukur panasnya ya, jd gak gampang gosong, dan bisa jd alternatif di saat gas habis dan langka. Btw, aku suka bangeet sama nastar

    BalasHapus
  2. ternyata nggak begitu mahal ya Mba.
    Kirain bisa ampe 500an, tapi ada harga ada rupa ya. Kapasitas pemakaian dan lain-lainnya juga antara yang murah dan mahal beda.

    BalasHapus
  3. Halo mbak. Tahun ini rencananya mau buat nastar. Nastar emang ngangenin :)

    BalasHapus
  4. mba lingga kemana aja?? jarang keliatan di tele bp, bw jg baru kali ini..

    btw nastar kesukaanku pas lebaran. toples pertama yang dicari hihi

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)