Dunia Lingga

Bahagia Ditengah Kesusahan


Orang bilang, bahagia itu kita yang ciptakan
Bahagia itu sederhana. Apakah sesederhana itu?
Ba.ha.gia menurut definisi KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari hal yang menyusahkan)

Sejauh mana definisi bahagia itu?
Buat kalangan ibu-ibu, bahagia itu banyak versi. Anak doyan makan saja bisa bikin bahagia. Masakan dipuji enak, dibilang kurusan, dibilang awet muda juga bisa bikin bahagia. Atau sekadar ketiduran saat menyusui anak juga bikin ibu-ibu bahagia. Memang sesederhana itu.

Untuk bapa-bapa beda lagi. Mereka bahagia jika bisa tidur nyenyak. Hari libur dipakai untuk aktivitas tidur mungkin jadi kebahagiaan tersendiri untuk kaum adam ini. Atau mungkin tidak diganggu saat menonton bola dan maen winning eleven. Sesederhana itu. Iya, sesederhana itu.

Di kasus lain, bahagia mungkin tak sesederhana itu. Karena orang-orang ini melihat kebahagiaan justru dari kesusahan menurut versi kita. Adalah Siti Hajar yang ditinggal Ibrahim dengan Ismail yg masih merah. Berlari lari ia sampai tujuh kali di padang pasir, akhirnya menemukan zam-zam di kaki sang bayi. Bahagianya berawal dari kesusahan.

Adalah Bilal yang dipanggang terik, dahaga dan siksa namun lisannya terus berucap Ahad..Ahad..Apakah kita berani bilang Bilal bahagia? Ya.. inilah bahagianya Bilal. Bahagia dengan nikmat iman Islam. Adalah Rosulullah yang ketika hendak meninggal masih tetap memikirkan ummatnya. Ummati..ummati..ummati.. 

Apa ada diantara kita seperti mereka? Tentu ada. Lihatlah! Mereka yang memberi minum ketika ia sendiri dahaga, memberi makan padahal ia lapar, dan memberi senyum padahal ia penuh luka. Perasaan senang saat membuat orang bahagia, banyak orang-orang seperti ini.

Atau mereka yang iri melihat harta dan ilmu seseorang dan berjanji pada Allah bahwa akan berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi. Mereka yang bahagia saat tidak membagi kesusahan dengan orang lain. Mereka yang bahagia saat ditutup aib-aibnya dan dijadikan pribadi yang jauh lebih baik. Mereka yang bahagia karena mereka belajar menyukai apapun yang diperoleh, karena mereka tahu tak bisa selalu memperoleh apa yang disukai.

Apakah kawan-kawan sudah cukup bahagia? Selamat menemukan bahagia, dengan cara masing-masing. Kalau saya, sudah cukup bahagia ditelpon Diskominfo Depok untuk sebuah pekerjaan yang membahagiakan, namun harus melepasnya karena harus pindah kota. 

Kalau dari sudut pandang lain, melepas ini mungkin bisa jadi kesedihan. Tapi husnuzon sama Allah, karena bahagia bisa kita ciptakan. Seperti Hajar dan Bilal, juga seperti mereka yang berbahagia dan berhusnuzon di tengah kesusahan. 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Bahagia Ditengah Kesusahan"

  1. Mba...kok jarang keliatan. Udah pindah Jogja? Kota baru, kebahagiaan baru :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)