Dunia Lingga

Asyiknya Berbagi Ilmu di #TemuBunda2016 Mombassador SGM



Bertemu dengan bunda-bunda hebat dari pelbagai daerah adalah karunia luar biasa. Adalah komunitas Mombassador SGM yang menjembatani saya untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan bunda-bunda kece ini.

Siapa menyangka saya akan dipertemukan dengan blogger-blogger yang 'femeus' dengan prestasi gemintang. Ada bunda Suci Santy Risalah, Liswanti Pertiwi, Lidya Fitrian, Milda Ini dan seabrek blogger dan mompreneur lainnya dengan prestasi masing-masing. Saya banyak menimba ilmu dari bunda-bunda keren ini mulai dari dunia blogging hingga parenting. 

Day 1
Hari pertama sejatinya hari yang sangat melelahkan. Saya sudah terbangun sejak pukul 04.00 pagi. Entah mengapa rasanya mata ini sulit terpejam. Seperti biasa, saya tidak bisa tidur jika akan bepergian keesokan harinya. Kekhawatiran ada barang yang tertinggal hingga takut ketiduran padahal alarm sudah dipasang.

Awalnya supir dari travel SGM akan menjemput ke rumah pukul 05.30, namun dimajukan menjadi pukul 05.00 khawatir macet di jalan. Tahu sendiri bagaimana kondisi kemacetan ibukota yang kadang disebut jalur neraka entah saat jam kerja atau tidak.
Perjalanan ke Bandara Halim alhamdulillah lancar tanpa kendala apapun. Arfa juga tidur nyenyak di pangkuan saya. Sementara bunda Wulan juga sibuk dengan kegiatannya. Kami mengobrol sedikit kemudian lanjut memejamkan mata untuk sekadar mengistirahatkan tubuh.

Kami sampai di bandara pukul 06.30. Masih sangat pagi untuk ukuran penerbangan pukul 09.00. Tak apalah daripada terlambat dan harus berlari-lari mengejar pesawat. Konsekuensi dari datang lebih pagi, Arfa jadi cukup bosan dan mulai mencari pelarian. Playground pun sudah tak diliriknya lagi. Matanya mengincar sesuatu di salah satu toko mainan. Aduh, salah tempat duduk ini.

Mulailah senjatanya untuk merengek-rengek dibelikan mainan. Padahal, saya sudah membawa peralatan perang baik mainan maupun makanan.

Tetep kalau ada hal baru si anak pasti ingin tahu dan ingin memiliki. Jelaslah saya kalah dengan mainan spiderman yang diinginkan Arfa. Mainan kecil-kecil cabe rawit, walau kecil harganya pedas buat kantong. Maklum saja harga bandara.

Penerbangan kali ini lumayan lama. Harusnya hanya menghabiskan waktu satu jam. Tapi sayang, pesawat harus menunggu antrian untuk mendarat. Sekitar setengah jam pesawat berputar-putar di langit bandara. Tak ayal sebagian besar merasa jetlag karena terlalu lama di udara.

Sesampainya di bandara Adi Sucipto, Arfa dijemput oleh simbahnya. Alhamdulillah Arfa nggak menangis dan langsung nge-blend sama simbahnya. Saya kembali berkumpul ke rombongan. Kami dijemput oleh travel dengan bis wisata.

Mas Cahyo, sang pemandu kami menjelaskan itenerary acara. Hari pertama agenda tak terlalu padat. Kami akan check in di The Westlake Hotel and Resort Yogyakarta kemudian akan makan malam di Sekar Kedhaton.


Sesampainya di Westlake, kami registrasi dan foto profil terlebih dahulu dengan baju yang disediakan panitia. Sebagaimana ibu-ibu, kerempongan pun tak dapat dihindari. Ada yang ukuran bajunya kekecilan, baju kebesaran, sampai ada yang namanya tak terdaftar. Saya mahfum dengan keriuhan ini. Betapa tidak, panitia harus mengatur seratus lebih ibu-ibu dari berbagai daerah. Kondisi demikian tentu tak bisa dihindari.


Sebelum check-in, perut ini sudah tak kuasa untuk minta diisi. Piring besar sudah menunggu untuk diisi lauk pauk. Sambil makan, beberapa bunda sibuk mengisi kuesioner dan data diri dari SGM. Setelah merampungkan makan, saya pun ikut mengisi lembar demi lembar kuesioner tersebut.

Saya mendapat kamar nomor 182. Cukup jauh dari lobby, sehingga saya memilih untuk naik mobil listrik yang disediakan hotel. Hotelnya sangat asyik dan ternyata baru beroperasi lima bulan. Pantas saja masih terlihat baru dan sejuk. Cerita selengkapnya mengenai review hotel baca ini.



Saya sekamar dengan bunda Yoana, blogger kece asal Yogyakarta. Bunda Yoana punya dua anak lucu-lucu yang kerap ditulisnya di blog theprasetyos.com. Setelah saya kepo, Bunda Yoana ini kerap membuat DIY untuk permainan anak-anaknya. Mulai dari membuat busy book hingga DIY lainnya. Wah, saya jadi terinspirasi dengan bunda-bunda kece seperti ini.

Dari Asar hingga jelang magrib, kami habiskan waktu di kamar untuk sekadar leyeh-leyeh. Setelah magrib, rombongan makan malam bersama di Sekar Kedhaton. Restoran bernuansa Jawa Cina dengan warna dominan hijau ini sangat memanjakan mata kami. 



Seratus ibu-ibu baik dari Yogyakarta maupun luar daerah kompak mendengar paparan Connection Manager SGM, Naomi. Mba Naomia mengatakan, Mombassador dibentuk agar semakin banyak bunda-bunda paham mengenai nutrisi dan tumbuh kembang anak. Anggota Mombassador juga bisa mengajukan proposal untuk kegiatan sosial.


Ada sebagian bunda-bunda yang agak nyinyir sama saya, ngapain ikut komunitas ini, kan ini produk susu formula. Untuk menjawab ini, Mba Naomi bilang, SGM sendiri percaya dan mendorong ASI ekslusif untuk bayi hingga satu tahun. 

Susu formula sendiri, dalam hal ini produk SGM, menganjurkan sufor diberikan jika ada masalah dalam pemberian ASI atas anjuran dokter. Pemberian susu SGM sendiri, dianjurkan hanya 2x 180 ml dalam sehari. "Lebih pun boleh, namun kalau bisa ikut anjuran. Kalau lebih dari anjuran, biasanya anak sulit makan karena kenyang susu."katanya.

Saya sih sangat mengapresiasi sikap terbuka SGM yang mendukung masa menyusui. Meski tak bisa dimungkiri bahwa ada beberapa produk SGM yang diproduksi untuk bayi baru lahir dengan kondisi tertentu.


Setelah itu, kami menuju ke Alun-alun Kidul Yogyakarta menikmati mobil gowes berhias lampu. Sejenak melupakan kepenatan dengan memacu detak jantung untuk menggowes mobil yang lumayan membuat kami mengeluarkan keringat. Saya bertugas sebagai supir yang ternyata masih sering mengemudikan tak tentu arah. Waspadaa emak-emaak...im comiiing..

DAY 2

Saya dan bunda Yoanna merancang untuk berfoto saat sunrise di Westlake. Sayangnya, kami terlalu kelelahan hingga tak sadar fajar sudah menyingsing. Alhasil, kami tak sempat berfoto-foto mengitari Westlake yang sangat indah di subuh hari. 

Pukul sudah menunjukkan ke angka 06.00. Kami diminta makan pagi di hotel pukul 06.00 dan berangkat pukul 07.00 untuk workshop di Rama Shinta Resto, Prambanan. Workshop kali ini kami diminta untuk membuat poster edukatif mengenai nutrisi anak. Saya sekelompok dengan bunda Suci Santi Risalah, Bunda Destila, Bunda Indri, Bunda Nina dan Bunda Ima. 

Kami membuat pesan edukasi mengenai pentingnya nutrisi sejak kecil untuk masa depan yang lebih baik. Kami presentasi di depan Digital Media Manager Bapak Suhakri dan Mba Naomi. Bunda Suci bertindak sebagai pemapar. Meski tak menang, kami cukup puas dengan kekompakan kami. 

Setelah makan dengan nuansa Candi Prambanan yang eksotis, rombongan melanjutkan perjalanan ke pabrik Sari Husada di Kemudo. Perjalanan tak memakan waktu lama karena ternyata cukup dekat dari Prambanan. Sebelum tur pabrik, kami diberi briefing singkat mengenai sejarah pabrik dan peraturan yang harus dipatuhi pengunjung.


Briefing kali ini disampaikan oleh Mba Ana Dwi Puspitaningrum, kalau saya tidak salah mendengar namanya ya, hehe. Sari Husada sendiri merupakan grup Danon sejak tahun 2008. Sejak 1954, Sar Husada berkomitmen dan memiliki misi bisnis dan sosial. 

"Kami berkomitmen memberikan produk bernutrisi yang berkualitas dan berstandar internasional, tentu dengan harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia,"kata dia.

Untuk diketahui, SGM sendiri telah dikonsumsi oleh 6,4 juta anak di Indonesia. Wah, angka yang fantastis ya. Nggak salah jika banyak dikonsumsi, karena SGM memiliki harga yang terjangkau untuk masyarakat Indonesia.

Mengapa SGM Murah?
Pasti sering deh dengar pertanyaan seperti ini. Bahkan banyak yang nyinyir susu ini tak berkualitas karena harganya yang terjangkau. Menurut mba Ana, susu SGM terjangkau karena SGM sudah memiliki gudang sendiri untuk menyimpan produk. SGM juga tak perlu bayar royalti untuk penyimpanan susu. Karyawan SGM juga multitasking sehingga tak banyak biaya yang dikeluarkan untuk support banyak SDM. Selain itu, SGM merupakan produk lokal yang meski bahan bakunya impor, namun dibeli sekaligus dalam partai besar. Alhasil, produk SGM terjangkau untuk masyarakat.

Berkunjung ke Sari Husada yang higienis
Untuk masyarakat awam, berkunjung ke pabrik Sari Husada memang memerlukan tahapan yang lumayan panjang namun bebas biaya loh. Berikut tahapan factory visit Sari Husada
1. Masyarakat perlu mengajukan proposal minimal satu bulan sebelum pelaksanaan kunjungan
2. Peserta minimum SMU/SMK sederajat
3. Jumlah peserta minimum 30 orang maksimal 120 orang
4. Hari kunjungan Selasa, Rabu dan Kamis pukul 09.30-11.30 WIB
5. Factory visit bertempat di SGM plant Jalan Raya Jogja-Solo Km 19

Di pabrik SGM, rombongan dibagi dua. Saya termasuk ke dalam rombongan kedua. Mengapa dibagi? Karena plant tour di area filling, packing dan warehouse maksimal 40 0rang. Kami harus berjalan berbaris mengikuti garis kuning yang sudah tersedia. Kami juga diminta untuk tak bermain handphone saat berjalan. Di dalam pabrik, kami pun dilarang untuk mengambil foto demi keamanan pabrik.


Plant tour pertama kami ke area filling (pengisian). Disini, Pak Agus Fitrianto memandu kami. Kami diberi penjelasan mengenai betapa strict-nya peraturan di dalam area filling. Satu rambut masuk dalam kemasan pun bisa menyebabkan error dan reject. Tahapan labnya pun bakal panjang. Menurut Pak Agus, probabilitas eror atau reject hanya 0,0xx persen.

Di area Warehouse, ada Pak Yustinus yang memandu rombongan. Pabrik ini, beroperasi 24 jam dengan sistem kerja sip dan non sip. Dalam 24 jam, sebanyak 40 ribu pack susu atau sekitar 400 ton susu diproduksi. Setelah dikemas, produk susu akan dikumpulkan di gudang yang sangaaat besar. Saya sampai terpukau melihat tumpukan karton susu di gudang yang sangat sangat besar. Untuk mengatur kapan produk keluar dari gudang, SGM menggunakan robotik sistem yang bisa mengetahui mana karton susu yang harus dikeluarkan mana yang menunggu giliran. 

Setelah tur selesai, kami mendengarkan pemaparan mengenai materi 1000 Hari Pertama Kehidupan dari ahli nutrisi SGM. Lebih lengkapnya nanti saya tulis mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan di postingan selanjutnya. 


Malam harinya, bunda dari batch 1-4 Mombassador berkumpul di acara gala dinner di Venue Galla Dinner Westlake Resort. BBU Mainstream Director Danone ELN Indonesia Joris Bernard hadir memberi sambutan. Ia percaya bahwa, komunitas ini akan semakin dapat berkembang dan dapat mengedukasi bunda-bunda lainnya mengenai pentingnya nutrisi. 

"Mombassador adalah keluarga besar Sari Husada,"ungkapnya.

Saat gala dinner, kami dihibur oleh MC yang super duper kocak. Kalau mau jasa mereka bisa kepoin instagram mereka di @jabangbayi dan @tako.mintardja. Sumpah, mereka berdua ini gokil parah. Candaannya bak komedian kelas dewa yang mengocok perut tanpa henti. "Jhujurlaah tsaayaang.."

Di saat gala dinner juga diumumkan siapa saja pemenang workshop tadi siang dan juga bertaburan doorprize dan voucher belanja bagi yang bisa menjawab pertanyaan gila MC.

DAY 3 

Hari terakhir lebih gloomy dari hari sebelumnya. Bukan hanya harus berpisah, tapi juga puncak kangen sama anak. Nggak heran kenapa di hari ini banyak bunda yang menitikkan air mata, saya di antaranya.

Sebelum cerita kenapa pada sedih, di hari terakhir kami workshop mengenai ide kegiatan sosial yang bisa dirancang oleh Mombassador. Nantinya, ide kegiatan sosial ini bisa diajukan kepada pihak SGM untuk direalisasikan.


Saya bergabung dengan kelompok 2, salah satu anggotanya Mba Milda Ini, blogger asal Bengkulu. Kami mengangkat tema "Hamil Bebas Stres" dengan target ibu-ibu hamil di lingkungan rumah. 

Setelah memaparkan hasil workshop, pihak SGM memperlihatkan TVC baru SGM. Temanya tentang #saatpertamabunda. Karena temanya tentang ibu, tak heran jika sebagian dari kami menitikkan air mata. Bukan karena hanya ingat anak, saya sendiri jadi ingat orang tua saya. Aih, TVC ini sukses bikin saya baper. Jadi ingat #saatpertamabunda mendengar kata pertama Arfa, #saatpertamabunda bangga sama Arfa, pokoknya saat pertama bunda yang bikin baper. 

Setelah workshop dan makan siang, waktunya untuk doorprize dan pengumuman pemenang workshop. Sayangnya, kelompok kami kurang beruntung karena nggak menang workshop ini. Banyak oleh-oleh yang saya dapat dalam kegiatan #TemuBunda2016 ini.

Bukan soal oleh-oleh makanan bahkan batik cantik dari panitia. Tapi oleh-oleh ilmu, pertemanan, dan pengalaman. Oleh-oleh agar sekembalinya dari Yogyakarta, saya bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat. Menjadi manusia bermanfaat seutuhnya, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat.






  


Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Asyiknya Berbagi Ilmu di #TemuBunda2016 Mombassador SGM"

  1. Aku jadi kangen dirimu say... betewe, itu si bujang gak rewwl kan...salam ama Mbahnya ya, pasti capek jagaian anak2 kita demi kesuksesan emaknya

    BalasHapus
  2. Asik bgt acaranya, aku ngikutin keseruan kalian dari timeline instagram :D

    BalasHapus
  3. seru banget pasti acaranyaaa :D
    itu sehari bisa sampe 40ribu pacak beneran mbak SGM produksinya? lumyan banyak juga ya :O

    BalasHapus
  4. Seru ya mba acaranya, aku seharusnya juga ada diantara kalian hehe...tapi belum takdir. Sukses buat SGM..

    BalasHapus
  5. Waah...SGM kerreen yaa, mba.
    Ngundang banyak Ibu untuk memberikan ilmu yang bermanfaat.

    Semoga kalau ada lagi, saya bisa terpilih..
    *wish

    BalasHapus
  6. Asyikkk... selain seru ternyata juga banyak ilmu ya mba dari acara ini... hmm pasti akan jadi pengelaman tak terlupa banget ya mba.. :-)

    BalasHapus
  7. Senangnyaaa semoga tahun depan aku terpilih ikut (kalau Sid udah disapih, heheh)

    BalasHapus
  8. Dari pertama pengumuman, linimasa saya udah rame dengan acara ini. Kebayang serunya...bisa kumpul sama blogger-blogger ngetop...

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)