Dunia Lingga

#CeritaBapak: Memastikan Menemani


Hari Ayah sudah berlalu 12 November lalu. Meski agak telat, saya menodong suami untuk jadi guest di blog saya ini. Oiya, kenalan dulu ya. Namanya Hafidz Muftisany, saya biasa manggil dia Aa, padahal doi Jawa tulen. 

Entahlah kenapa bisa panggil dia Aa, ngomong sunda aja doi gak bisa, haha. Kalau Arfa manggil dia Bapak. Kenapa Bapak? Karena ingin seperti Presiden Soeharto yang meskipun presiden tapi anak-anaknya manggil dia Bapak. HAHA, so cliche..

Topik yang saya minta seputar parenting dari kacamata seorang Bapak. Lalu, apa yang ada dipikiran doi tentang pentingnya kehadiran seorang ayah dalam hal apapun di rumah tangga? Here we goes...

BAPAK
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Tulisan Seno Gumira Ajidarma itu dingin tertempel di salah satu meja kerja di lantai 14 gedung perkantoran di bilangan Jakarta Selatan. Agar lebih dramatis, foto orang tua berkeriput dengan tatapan nanar dipajang sebagai pelengkap.

Seolah-olah orang tua hendak berkata, "Janganlah kau tiru diriku ini dengan jadi pegawai kantoran di Jakarta!" 



Saya tidak tahu apa yang ada di benak pemilik meja itu. Mungkin sedang terkagum dengan kata-kata sang sastrawan. Seakan jiwanya ingin berujar, "Kok bener banget sih." Mungkin juga ditempel untuk menghibur diri. Karena dari dalam dirinya ia sedang bersedih dan takut. Ia sadar sedang menjalani takdir yang akan berakhir seperti pak tua dalam tempelan itu.

Jakarta digambarkan tak memiliki masa depan bagi seseorang guna membangun "kehidupan". Hidup yang tak sekadar membuang syarat sah makhluk yang bisa hidup. Begitu menakutkan kota yang satu ini.

Tapi saya bergeming. Jakarta adalah tempat melihat realitas yang paling baik. Kota ini menampakkan diri bagaimana bentuk kehidupan itu sebenarnya. Poros kebaikan sampai mentok kanan kadang bisa mesra dengan gerombolan penjahat. Lain waktu mereka benar-benar bertengkar. Entah untuk tujuan drama atau bukan.

Kawan saya yang lain yang hidup dalam mode slow motion di Yogyakarta sana, suatu kali mengirimi pesan. Sama, sebuah stiker dalam bentuk digital. Kata-kata yang dikutip pun sama, dari seorang budayawan atau apalah. Sujiwo Tedjo namanya. Dalam stiker digital itu tertulis, "Pergi ke Jogja adalah caraku menertawakan kesibukan orang-orang Jakarta."

Sekali lagi entah apa maksud kawanku mengirimi pesan seperti itu. Mungkin, dan ini bisa saja salah, ia ingin menyampaikan pesan jika Jakarta hanyalah sebuah omong kosong yang pantas untuk ditertawakan. 

Tapi saya justru tertawa membaca pesan itu. Mungkin mas dalang Tedjo itu hanya menangkap realitas umum. Orang-orang Jakata kebanyakan. Namun saya tidak. Saya bukan orang Jakarta kebanyakan. 

Saya tak tua di jalan. Saya kerap memakai kaos oblong saat ke kantor. Sesekali pakai sendal kalau malas mengenakan sepatu. Saya tertawa sambil bekerja. Makin gemuk karena satu piring martabak gratis tersaji tiap malam. Bebas membaca buku agama berbagai mahzab. Disediakan makan besar saat buka puasa Ramadhan. Dan yang lebih enak, sangat bebas mengkritik pemerintah. Apa yang kurang?

Jakarta menemukan bentuk lainnya. Ia seumpama taman-taman yang di bangun Ridwan Kamil di Bandung. Lantas saya menyimpulkan, kota ini sangat layak untuk membangun kehidupan. Dan kehidupan itu pun terjadi.

Waktu tiga tahun di Jakarta cukup untuk menghadirkan dua sosok yang kerap menghiasi profil picture handphone. Istri dan anak. Seperti tiba-tiba saja. Setahun menikah, Gusti Allah sudah memberikan amanah anak laki-laki. 

Saya dan Lingga adalah penyendiri di kota ini. Kami tak memiliki siapapun. Mertua jauh, orang tua lebih jauh lagi. Gagap kala amanah anak datang. Pertanyaan besar yang mungkin dialami oleh semua orang tua baru, bagaimana cara yang baik membesarkan anak? 

Pertanyaan bagi kami masih bertambah lagi,  bagaimana membesarkan anak tanpa kakek neneknya dan harus hidup di kota bernama Jakarta? Kota yang katanya mengerikan untuk hidup itu. Jujur saya pun tak tahu. Saya tak tahu benar cara yang baik membesarkan anak kami. Apa yang benar dan apa yang salah dalam mendidik anak, kami sama sekali tak paham.

Saya dan Lingga lantas berdiskusi. Apa yang bisa kita berikan ke anak lelaki ini. Kami sepakat pada akhirnya. Kami hendak memberikan sesuatu yang paling berharga dalam ukuran kota ini: Waktu.
Kami berjanji akan memberikan waktu yang lebih –tak sekadar cukup – bagi anak. Kami yakin dengan waktu, kami punya kesempatan lebih untuk belajar menjadi orang tua. 


Lingga mantap memutuskan keluar dari pekerjaan. Meski kami paham, dengan gaji saya seorang, tak mudah hidup bertiga di ibu kota. Istri memutuskan memilih bekerja, sebagai ibu. Lagi pula saya tak sanggup membayar gaji seorang baby sitter. 

Saya pun bersyukur tidak memiliki pekerjaan kantoran yang membosankan itu. Saya punya cukup banyak waktu setiap hari pagi hingga sore guna melihat si kecil buang air besar, ocehan pertama, gigi pertama, saat ia memanggil ba ba ba, tengkurap pertama, duduk pertama, berdiri pertama hingga melangkah berjalan pertama. Segala puji hanya milik Allah, yang menyediakan waktu kami berdua untuk banyak menemani anak.

Dua tahun kini umur anak saya. Pekerjaan saya bertambah . Tiap pagi dari jam 6-7 mengajak dia berjalan-jalan keliling komplek. Jam 7 mandi bareng, 10 menit kemudian sarapan bareng. Jam 8 melihat dia tidur kekenyangan, jam 9 ikut tidur kadang sampe Zhuhur. Habis Zhuhur makan bareng lagi, maen mobil-mobilan, loncat-loncat di atas kasur sampai Ashar. Begitu terus setiap hari. Kerjanya kapan? Di sela-sela itu sembari membuka laptop. Beres. Selesai.

Saya dan Lingga pun masih tak paham bagaimana menjadi orang tua yang baik. Kami generasi internet. Saat si kecil mencret empat hari berturut-turut, bukan orang tua atau mertua yang kami mintakan saran, tapi internet. Kami bahkan lebih percaya apa kata internet dibanding apa kata orang tua dan mertua saat mengurus anak.

Kami tak tahu apa itu benar atau salah. Kami berdua masih bertanya hingga kini.  Kami juga tak mengerti ilmu-ilmu parenting. Juga tak ada supervisi dari orang terdekat. Kami tak bisa menjanjikan apa-apa. Selain memastikan si dia punya waktu yang lebih bersama saya dan ibunya.


Saya tak punya banyak tips soal bagaimana menjadi bapak yang baik. Saya khawatir saya sendiri belum menjadi bapak yang baik itu.

Oh ya, saya belum bercerita kenapa saya ada di lantai 14 sebuah perkantoran. Saya ditawari pekerjaan baru dengan posisi yang lebih tinggi dan tentu saja gaji yang lebih banyak. Saat saya tahu jam kerjanya seperti orang kebanyakan, saya menjawab, “Maaf tidak. Saya butuh banyak waktu bersama anak. Karena hanya itu yang bisa saya janjikan.”

BUBU
Well, selesai pak curhatnya? Haha. Oiya, baca ini saya jadi ingat betapa 'menderita'nya kami jauh dari orang tua. Saat Arfa sakit, saya bingung. Jurus andalan ya buka internet dan bertanya sana sini. Meski begitu, kami ingin selalu belajar.

Terima kasih buat Aa yang selalu hadir dalam hidup saya dan Arfa. Setelah lelah bekerja pulang malam karena doi masuk sore. Paginya 'dipaksa' hadir untuk menemani Arfa karena Bubu sibuk di dapur. Tak sungkan memandikan, mengajaknya bermain, atau sekadar mendengar ocehan tak jelas dari Arfa. Padahal kami tahu, matamu ingin terpejam, badanmu ingin gogoleran di kasur, atau ingin leyeh-leyeh di sofa lapuk. 

Ah, kami tak mengerti seberapa banyak bebanmu di kantor, dan masalah-masalah di dalamnya. Yang kami tahu, engkau adalah ayah terbaiknya Arfa. Peluk dari Bubu dan Arfa. Selamat hari ayah, selamat merayakan cinta dari Bubu dan Arfa. Halaah.

Subscribe to receive free email updates:

20 Responses to "#CeritaBapak: Memastikan Menemani"

  1. Selamat Hari Ayah, Bapak Arfa!
    Arfa pasti seneng banget tiap hari ditemani bubu dan bapak.

    BalasHapus
  2. Selamat Hari Ayah buat Ayah Arfa dan semua ayah di dunia...

    Waktu memang mudah diucapkan tapi berat melaksanakan. Banyak pengorbanan yang harus dilalui untuk memberikan waktu buat keluarga...

    Semangat Mbak semoga sehat selalu dengan pekerjaan sebagai ibu. Salam dari saya yang memiliki pengalaman tak jauh beda 😊

    BalasHapus
  3. Yah tugas berat seorang ayah adalah sudah kewajiban mencari nafkah, meski semgan keruwetan dan kemacetan kota ya.
    Selamat hari Ayah, semoag kita semua selalu diberikan keberkahan ;)

    BalasHapus
  4. Aku malah belum pernah menginjak kota Jakarta :) Smoga Lingga dan keluarga selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam segala hal.
    Btw emang bener zaman internet seperti sekarang, klo ada apa-apa carinya di internet ya, aku juga gitu sih biasanya haha.

    BalasHapus
  5. Duh adem bacanyaaa... Semoga Tuhan selalu memberi rejeki kesehatan bagi keluarga Mbak Lingga.. aminn

    BalasHapus
  6. Arfaaa, bahagiaaanyaaa 😢
    Ngelap ingus *lhaa
    Iri pada moment waktu bersama2 dengan keluarga seperti dulu *dududu
    LDR ini menyedihkan, Fathan kadang yg malah suka tantrum, ngambek2 ga jelas, curhat ke saya ttg bapaknya 😅😅

    BalasHapus
  7. Keren...benar sekali apa yang bisa kita berikan kepada anak adalah waktu. Dengan alasan itu juga, suami meminta aku sementara jadi full time mother di rumah aja. Selain itu setiap hari libur jika memang suami ada pekerjaan kami selalu diajak menemani

    BalasHapus
  8. Selamat hari Ayah. Ayah tak pernah mengeluh ya dengan keadaan :)

    BalasHapus
  9. Aku tamat bacanya Teh. Duh tulisan sang ayah ini bagus banget. Semoga Arfa kelak menjadi pribadi yang kuat dan tegar karena kedua orang tua senantiasa hadir dan ada di sampingnya.

    BalasHapus
  10. Aku suka sekali tulisannya Mbak :)

    BalasHapus
  11. Wuaahh, Arfa seumuran anakku
    Alhamdulillah, dekat juga dgn ayahnya,,, iya waktu itu brrhRga
    Makanya sbg ort kami harus punya waktu buat anak

    BalasHapus
  12. "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."

    Bener juga ya mba, dan hidup itu pilihan..

    BalasHapus
  13. semoga ayah sehat selalu ya.... n makin sayang keluarga...

    selamat hari ayah... walau udah lewat..

    BalasHapus
  14. Salut untuk suaminya yang mau berkorban nggak ambil pekerjaan yang lebih besar gajinya hanya untuk punya waktu mendampingi buah hati tumbuh besar.

    BalasHapus
  15. Waah kita sama, kalo aku berdua anakku jauj dari ortu, mertua, dan suami

    BalasHapus
  16. Bpkku sdh dh pergi jauuhh mba, hiks jd sdih bacany kangen beliau...

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah, mbak Lingga beruntung punya suami yang selalu siap siaga. Begitu juga Arfa, beruntung punya ayah yang selalu punya waktu untuk dia.
    Aa, sosok yang bisa mematahkan pepatah yang mengatakan kalo negeri ini fatherless country.
    Selamat hari ayah ya...tetaplah selalu menjadi ayah yang baik :)

    BalasHapus
  18. Saya belum pernah tinggal di Jakarta. Sekali dua kali saja pernah singgah dan turut merasakan betapa waktu di jalan amat banyak.
    Apalagi mendengar cerita kawan sekampung yang jadi pekerja kantoran di sana. Ehm, pergi pagi pulang malam tiap hari.
    Pilihan yang langka Mba, mneyendiri di tengah deru kota yg dinamis.
    Btw, saya juga perantauan. Jauh dari saudara dan orangtua. Saya bisa merasakan Sedihnya ketika anak sakit harus opname, sementara gak ada yg njagain si bungsu. Terpaksa dibawa nginep, di rs. Hiks.

    BalasHapus
  19. hiks jd inget suami, beliau berfikiran yg sama, gak ngoyo kerja meskipun dgn gaji "cukup" bilangnya biar bisa kumpul sama anak2 di rumah.. Ayah Arfa, terimakasih sdh memberikan curhatannya

    BalasHapus
  20. Keluarga kecil kita sama2 penyendiri di (pinggiran) ibu kota mas, eh, mbak :)) Pengen deh Jkt suatu saat nanti lalu lintasnya/ kendaraan umumnya bisa kyk SIN, gak macet dan pulang kantor bisa lebih cepat, kpn ya hehe

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)