Dunia Lingga

Gerakan Literasi ala Perpustakaan Anak Maleber



Assalamualaikum,
Apa kabar sahabat pembaca? Baik-baik saja ya. Sahabatku, sering gak sih kita merasa diri ini tidak berguna untuk lingkungan sekitar? Sering terlintas dalam hati kok saya nggak bisa bermanfaat untuk orang lain ya?

Nah, ternyata bermanfaat untuk orang lain nggak harus ribet. Contohnya hal yang dilakukan para pemuda ini. Namanya Dedi Setiawan (22 tahun). Ia dan enam kawannya yang berinisiatif membuka taman bacaan bagi masyarakat sekitar di Maleber Utara.

Ia mengumpulkan teman-teman sekitar rumahnya untuk membuka perpustakaan yang diberi nama Perpustakaan Anak Maleber (PAM). Dedi mengatakan, pembentukan PAM di awal tahun 2009 dilatarbelakangi adanya kasus geng motor di kalangan remaja dan juga kasus anak-anak yang merokok di bawah umur.

Kondisi lingkungan di Maleber dianggapnya tidaklah sehat. Belum lagi pendidikan bukan jadi prioritas orang tua untuk bekal anak-anak mereka di masa mendatang. Dedi yang asli kelahiran Maleber ini  bilang, sangat jarang orang tua yang menyekolahkan anaknya hingga tamat SMA. Paling tinggi hanya SMP. Miris ya..


Sebelum ada PAM, remaja kampung juga masih sering bermain yang tak jelas dan sering nongkrong di warnet dibanding menghabiskan waktu mereka untuk belajar dan membaca. Masyarakat di kala itu melihat upaya yang dilakukan Dedi dengan pesimis dan apatis. Bagi mereka, membaca tidak memberika nilai dan manfaat apa-apa secara langsung.

Beruntung, upaya pemuda terhadap lingkungan Maleber ini dilirik sebuah yayasan Kokusai Volunteer Chokin Japan (Japan's Postal Saving for International Voluntary Aids) yang prakarsai oleh Indonesian Education Promoting Foundation (IEPF). Yayasan tersebut memberi hibah 2.000 buku untuk PAM. Bukan hanya buku, yayasan tersebut juga memberikan dana untuk menyewa rumah untuk PAM. Selama hampir lebih kurang dua tahun, PAM masih dibantu oleh yayasan Jepang tersebut. Namun, di tahun 2013, bantuan sudah tak berjalan dan PAM dengan terpaksa harus pindah lokasi.

Meski demikian, pemuda desa dan kawan-kawannya tak menyerah. Beragam cara mereka lakukan agar dapat membayar kontrakan secara mandiri dan tidak tergantung dalam operasional di perpustakaan. Misalnya, Dedi menerapkan uang kas untuk anggota PAM. Hanya dengan biaya mendaftar Rp 5.000 untuk anak SD dan Rp 10.000 untuk siswa SMP, anak-anak tersebut dibebaskan meminjam buku seumur hidup. Dedi juga membuka bidang usaha lainnya agar biaya operasional perpustakaan tertutupi. 

"Kami juga membuat usaha seperti pin, stiker, sampai jualan keripik,"kata Dedi.

Alhasil, perpustakaan yang berlokasi tepatnya di Jalan Maleber Utara RT 02 RW 06 Kelurahan Garauda Kecamatan Andir Bandung ini tetap eksis hingga sekarang. Bahkan, anggota perpustakaan sudah mencapai 300 orang. Meski lokasi perpustakaan tidak se-strategis yang dulu, anggota perpustakaan tetap aktif datang baik untuk meminjam buku atau membaca di tempat. 

"Anggotanya sekitar Maleber. Tapi ada juga yang datang dari Kiara Condong dan Cimahi,"katanya.

Perpustakaan yang buka dari Senin hingga Sabtu ini diisi oleh para relawan yang rela tak dibayar. Mereka sebagian besar adalah siswa-siswi SMP, SMA dan siswa SMA yang menuju jenjang perkuliahan. Buku-bukunya pun relatif lengkap meski sekitar 60 persennya buku untuk anak-anak. "Sisanya buku-buku tentang pemberdayaan masyarakat,"ujar dia.

Untuk pengadaan buku, ujar Dedi, relawan mendapat buku-buku hibah dari masyarakat dan teman sekolah. Meski sebagian besar merupakan buku bekas, buku-buku tersebut terasa berguna untuk anak-anak Maleber. 

sumber: vikavikavika.wordpress.com

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh pengurus PAM, yang tak hanya menyoal tentang membaca. Misalnya, kegiatan melatih berbicara anak-anak dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Anak-anak pun diajari menulis, membuat puisi dan pantun serta menggambar. Menurut Dedi, anak-anak Maleber sesungguhnya sangat berpotensi untuk lebih mengembangkan kreativitasnya.  Bahkan, perpustakaan ini setiap akhir pekannya menyelenggarakan kelas drama dan bimbingan belajar untuk anak-anak yang akan menghadapi Ujian Nasional. 

PAM kemudian membuka diri untuk memberdayakan lingkungan sekitar terutama ibu rumah tangga. Meski khusus menangani perkembangan potensi anak, PAM mengajari ibu rumah tangga untuk mandiri secara ekonomi, seperti membuat kerajinan tangan dan makanan. 

"Kita menyasar orang tua agar tak hanya menonton gosip dan acara-acara televisi yang kurang penting,"ujar dia.

Perpustakaan ini juga menjalin kerja sama dengan beragam komunitas lain yang bergerak di berbagai bidang. Nantinya, komunitas ini bergabung untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat dan pendidikan anak. "Ada komunitas yang bergerak di bidang jurnalistik, pelatihan, hingga komunitas belajar,"ujar dia. 

Dedi mengaku, selama menjadi relawan PAM, banyak ilmu yang ia peroleh, terutama dalam hal kepemimpinan dan berorganisasi. Adik-adik relawan yang lain dan membantunya juga dapat mandiri dan dapat mengembangkan PAM lebih baik.

"Kita senang dapat membina relawan lainnya sehingga ada regenerasi di organisasi ini,"ujar dia. 


Subscribe to receive free email updates:

10 Responses to "Gerakan Literasi ala Perpustakaan Anak Maleber"

  1. semoga komunitasnya makin lancar dan bisa membantu sesama ya mbak :)
    sukses teruuus

    BalasHapus
  2. Menjadi relawan memang banyak ilmu dan pengalaman berharga yg bs dipetik ya mba, dan yg pasti bs bikin hidup lebih bermakna. Seperti Dedi itu

    BalasHapus
  3. Luar biasa sekali kiprah PAM ya mbak. Perpustakaannya juga bagus dan rapi. Senang membacanya. Semoga makin banyak orang yg meramaikan dan makin sukses. Aamiin

    BalasHapus
  4. Aku pengen banget punya mini perpus biar anak anak sekitar rumah bisa mudah mendapatkan buku bacaan... Blm kesampaian

    BalasHapus
  5. Ide dan usahanya patut diapresiasi, anak muda pisan. Duh semoga bisa menginspirasi anak-anak muda lainnya (saya juda nih hehe) agar bermanfaat untuk sekitar.

    BalasHapus
  6. Mbak...ini maleber yang dekat Bandara Husein Sastranegara ya..? Saya dulu juga tinggal di sekitar daerah itu.
    Wah, hebat juga ya, anak muda sekarang, begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Semoga bisa tambah berkembang ya...

    BalasHapus
  7. Selalu salut kalo liat anak muda yg berani bertindak utk berkontribusi thd sekitar. Lbh salut lagi dgn yayasan yg mau membiayai hal2 sosial seperti itu. Semoga semakin banyak ya gerakan seperti ini.

    BalasHapus
  8. salut liat anak muda seperti ini ........

    BalasHapus
  9. semoga komunitasnya semakin lancar aja

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)