Dunia Lingga

Menjadi Besar Karena Membaca



Keberadaan Negara Indonesia dikatakan gagal (failed state), enggan maju mundur pun tak mau. Sejak merdeka sampai hari ini, Indonesia tidak pernah bisa lepas dari masalah-masalah elementer seperti kemiskinan, kemelut pendidikan,  dan kekusutan politik.  Seolah-olah persoalan tersebut telah menjadi persoalan abadi  Indonesia.

Semua itu terjadi karena selama ini pemerintah tidak pernah serius membangun fondasi pembangunan yang kuat yaitu budaya baca. Sebenarnya apa pentingnya budaya baca dan bagaimana perkembangan perpustakaan di Indonesia? Saya sempat bertemu dengan Pustakawan Terbaik se-Asia Tenggara, Bapak Suherman.  Beliau ini semangatnya luar biasa dalam dunia membaca dan menulis. Berikut ini nih beberapa poin obrolan saya dengan beliau.


Apa pentingnya membaca?
Kalau kita ukur, sebuah peradaban menjadi soko guru peradaban dunia karena dilandasi dengan budaya baca masyarakatnya. Misal, Islam berjaya dari  600-1200 Masehi itu karena masa keemasan ilmu dan buku. Kalau kita bedah sejarah bagaimana para ulamanya, semua kutu buku.

Para ulama tafsir maupun sains seperti Ibnu Khaldun, mereka luar biasa terhadap tradisi membacanya. Ibnu Nafis sampai mengarang 400 judul buku karena membaca. Bagi mereka, membaca adalah jihad dengan aksara. Maka hasilnya, Islam jadi soko guru peradaban.

Bagaimana budaya baca masyarakat Islam dewasa ini?
Budaya baca umat Islam semakin menurun. Akibatnya, kejayaan direbut Barat. Budaya baca di umat Islam bergeser menjadi budaya lisan.  Penelitian terakhir dari Salim bin Muhammad menyatakan, budaya baca di negara Arab hanya enam menit dalam satu tahun. Sehingga kita tidak pernah melihat ada negara Arab yang maju. Arab Saudi misalnya, negara kaya tapi tidak maju. Pasalnya, tak ada satu pun teknologi baru berasal dari karya mereka.

Lagi-lagi karena ada missing link atau rantai yang putus dari tradisi umat terdahulu dengan umat sekarang. Yakni tradisi membaca. Budaya baca tinggi, pasti negara maju. Sebaliknya, negara-negara dunia ketiga dan terbelakang pasti budaya bacanya rendah, termasuk Indonesia dan negara Arab.

Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia pun tak ada bedanya, masyarakat belum banyak yang sadar akan pentingnya membaca buku.  Pemerintah juga tidak pernah serius membangun fondasi pembangunan yaitu budaya baca. Apabila keadaan budaya baca masyarakat masih rendah seperti sekarang ini rasanya  sampai kapanpun Indonesia tidak akan maju.

Kendala membangun budaya baca?
Membangun budaya baca menyangkut masalah ideologi. Suatu contoh, saya pernah mewawancarai petani di Jawa Barat yang merasa membaca pekerjaan orang malas. Mereka lebih memilih mencangkul yang langsung ada hasilnya.  Masyarakat sekarang lebih ke budaya instan, semua ingin instan dan serba cepat.

Hal terdasar untuk meningkatkan budaya baca?
Sebetulnya harus melakukan penyadaran ke seluruh segmen bahwa membaca adalah hal fundamental untuk meningkatkan taraf hidup. Baik di masyarakat, keluarga, pemerintah.  Kalau sudah sadar, mencari informasi bisa dilakukan dimana saja. Zaman dulu lebih berkualitas meski buku belum banyak karena kesadaran besar terhadap manfaat membaca.

Selain itu, optimalkan peran perpustakaan. Karena, fungsi utama perpustakaan adalah untuk membangkitkan kegemaran membaca. Apabila dianalogikan perpustakaan merupakan jantungnya pendidikan. Fungsi jantung di dalam tubuh adalah untuk mendorong darah ke berbagai bagian tubuh.  Sebenarnya perpustakaan yang ada di sebuah lembaga pendidikan dapat dijadikan indikator kualitas pendidikan di lembaga tersebut.

Mengapa tertarik menjadi pustakawan?
Awalnya saya berpikir, orang yang banyak pengetahuan, tidak susah hidupnya.  Dengan pengetahuan, kita punya banyak gagasan dan ide. Berawal dari sini saya memiliki keyakinan untuk ikut mencerdaskan bangsa melalui pintu menjadi pustakawan.  Akhirnya saya tertarik ke dunia literasi dan membuat Masyarakat Literasi Indonesia pada tahun 2007.

Latar belakang pendidikan?
S1 Jurusan Perpustakaan Unpad dan S2 Ilmu Komunikasi Unpad.  Awalnya sejak di LIPI sudah kerja di perpustakaan. Karena tuntutan kantor harus sesuai bidang pekerjaan. Dulu kuliah sambil bekerja. Masuk LIPI tamat SMP, jadi pegawai rendahan, kemudian melanjutkan sekolah malam SMA. Dulu tidak ada bayangan bisa masuk SMA karena latar belakang keluarga yang kurang.

Bagaimana bisa terpilih menjadi pustakawan terbaik se-Asia Tenggara?
Perpusnas mengadakan lomba pustakawan terbaik. Tahun 2011 dipilih dari semua yang terbaik untuk mewakili Indonesia ke tingkat Asia Tenggara yaitu Congress of Southeast Asian Librarians (CONSAL). Saya maju dan Alhamdulillah terpilih dan dapat medali emas. Ini sejarah pertama kali untuk Indonesia. Sebelumnya hanya perunggu. Selama 40 tahun lebih Indonesia tak pernah dapat.

Apa saja rekam jejak Bapak dalam dunia baca dan perpustakaan?
Saya telah menyambangi lebih dari 30 kabupaten/kota dan beberapa provinsi  dalam rangka roadshow  untuk menyadarkan pentingnya membaca bagi masyarakat. Bergerilya ke sejumlah  institusi pendidikan (PAUD, SD,SMP, SMA, Universitas/PT, dan tempat-tempat peribadatan, majelis taklim) di Pulau Jawa,  Kalimantan, dan Sulawesi dalam rangka kampanye pentingnya membaca sebagai fondasi kemajuan bangsa dan perpustakaan adalah jantungnya pendidikan. Saya juga melakukan sosialisasi budaya baca kepada 353 kepala desa, 1000 kelompok tani, 227 PPL, 678 pesantre, dan 450 narapidana.

Sementara pada bulan September 2012 atas biaya  dari The Asia Foundation, saya berkesempatan mewakili Indonesia untuk  mengikuti study tour mengunjungi berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Kegiatan ini diikuti oleh sembilan yaitu Indonesia,  Sri Lanka, Kamboja, Laos, Myanmar, Nepal,  Pakistan, Mongolia, dan Vietnam.

Apa kunci sukses menjadi pustakawan berprestasi?
Menurut saya menjadi pustakawan jangan setengah-setengah. Saya pernah jadi pejabat struktural PNS tapi akhirnya saya tinggalkan. Saya benar-benar serius menjadi pustakawan dan bisa lebih bebas berekspresi.  Kemudian, harus tekad dan semangat. Kompetensi juga harus terus dipupuk. Jangan lupa jejaring, kerja keras dan konsisten. Dan yang paling penting doa.

Bagaimana kondisi umum perpustakaan di Indonesia?
Kondisi secara umum sangat memprihatinkan. Setelah saya berkeliling untuk sosialisasi budaya baca di Jabar misalnya, tidak dijumpai bentuk-bentuk promosi perpustakaan yang cerdas dan  menggugah terutama di bidang layanan. Tidak ada upaya yang serius dan profesional dalam mengemas product knowledge perpustakaan. Juga sangat minim dalam membuat media atau rambu yang memudahkan pengguna dalam mencari informasi.

Pengembangksn SDM baik secara kualitas maupun kuantitas, banyak mengalalami hambatan terutama di daerah-daerah yang kepala daerahnya tidak memiliki kepedulian kepada perpustakaan. Masalah utamanya adalah pendanaan dan prioritas pembangunan perpustakaan masih berkutat pada infrastruktur.  Kreativitas dan inisiatif masih jarang dijumpai. Juga masih lemah dalam membangun jejaring. Sebagian besar perpustakaan tidak memiliki perencanaan yang baik atau sistem yang sudah mapan, sehingga siapa pun yang memimpin tinggal bekerja menurut sistem yang sudah ada.

Selain itu, kondisi buruk juga ditunjang dari pembangunan perpustakaan di daerah adalah tidak adanya jaminan keberlanjutan karir. Kebijakan rotasi pegawai yang sangat cepat, akibat dinamika poltitik praktis yang masuk ke dalam birokrasi, mengakibatkan sangat sulit mencetak tenaga yang profesional dalam bidang perpustakaan.

Rekrutmen SDM yang memillki latar pendidikan perpustakaan terhambat dengan kebijakan moratorium PNS sehingga banyak perpustakaan memanfaatkan karyawan yang ada “disulap” menjadi pustakawan. Hasil dari cara seperti ini banyak pengelola perpustakan yang tidak  memiliki komitmen dan juga tidak memiliki kompetensi. Belum ada perpustakaan yang secara kreatif  merekrut relawan perpustakaan untuk sama-sama membangun perpustakaan di daerahnya.

Seperti apa perpustakaan yang dikelola baik?
Fungsi utama perpustakaan  untuk membangun budaya baca. Ini tertuang dalam Undang-undang tentang perpustakaan No 43 tahun 2007. Juga memfasilitasi dan memudahkan  pemustaka untuk mendapatkan informasi. Berbagai macam sistem yang ada sebenarnya mengacu ke sana, misalnya sistem otomisasi perpustakaan, sistem informasi perpustakaan dan sebagainya pada hakikatnya untuk memudahkan informasi kepada pemustaka.

Apa yang harus dikembangkan perpustakaan?
Dua hal yang harus dikembangkan, yaitu koleksi dan koneksi. Dahulu masih terpatok koleksi harus sekian juta eksemplar, tapi juga koneksi dengan terhubung internet. Selain itu, perpustakaan juga harus punya program yang baik. Diantaranya dengan dikelola oleh sumberdaya manusia yang berkualitas.

Perpustakaan mana yang bisa dijadikan proyek percontohan?
Ada beberapa perpustakaan yang sudah bagus pelayanannya, namun tidak merata. Saya pernah datang ke salah satu perpustakaan sekolah di Jawa Timur, sangat bagus dan niat sekali membangun perpustakaan.

Apa yang harus dilakukan perpustakaan untuk menarik minat baca?
Mungkin melakukan gerakan penyadaran itu juga tugas perpustakaan. Selain itu, infrastruktur harus dibenahi agar pemustaka bisa nyaman dan aman di perpustakaan. Koleksi buku juga dibuat menarik. Perpustakaan itu indikator kemajuan sebuah negara.

Saya belum lama berkunjung ke tiga negara bagian Amerika melihat perpustakaan disana. Sangat terlihat kemajuan suatu negara dengan kemajuan perpustakaannya. Perpustakaan jadi modal sosial.  Misalnya perpustakaan di Sacramento dan San Francisco seperti mal. Sekitar 2.000 orang pengunjung setiap hari. Perpustakaan daerahnya minimal mempunyai gedung lima lantai. Di San Francisco setahun sekitar enam juta pengunjung.

Bagaimana anggapan membaca buku akan digantikan membaca melalui perkembangan teknologi dan sosial media?
Tidak benar anggapan itu. Salah satu perpustakaan besar Amerika Serikat misalnya, satu lokasi dengan Silicon Valley tempat lahirnya IT seperti Apple. Meski begitu, perpustakaan tetap banyak dikunjungi dan pemustaka meminjam banyak buku. Kalau kita perhatikan mencari sumber dari internet tidak dapat mendalam. Tetap, harus dari buku.

Biodata
Tempat tanggal lahir: Sumedang, 27 Oktober 1987
Pendidikan: S1 Jurusan Ilmu Perpustakaan (1994) dan Pascasarjana (2004) Universitas Padjajaran Bandung
Pekerjaan: Pustakawan Ahli di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI).
Prestasi: Pustakawan Berprestasi Terbaik Jawa Barat  (2009). Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional (2011), Pemenang Medali Emas CONSAL (Congress of Southasia Librarians) Outstanding Librarian Award, Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Asia Tenggara (2012-2015).
Karya: Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah (2008); Bacalah!: Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban (2010);  Pustakawan Inspiratif (2011); dan Mereka  Besar Karena Membaca (2012).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Menjadi Besar Karena Membaca"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)