Dunia Lingga

Erdogan dan Para Reporter Kudeta

Tulisan agak nyelenah tapi memang nyata terjadi. Betapa kita gatal membagikan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Ditulis oleh wartawan Republika yang ganteng dan manis Hafidz Muftisany, hahaha



Sudah ada tahu ada percobaan kudeta di Turki?

Menanyakan hal itu di zaman informasi seperti ini seperti bertanya ,"Apa benar menikah itu enak?" Ga usah ditanya lagi .

Media daring mengabarkan kejadian di Turki dengan cepat. Baik media bule maupun pribumi. Ada yang tak mau kalah cepat. Media baru bernama grup WhatsApp.


Tang tung tang tung notifikasi adanya pesan baru masuk tak berhenti, tak terbendung. Semua membicarakan Turki. Sedikit yang membicarakan masa depan.

Cepat sekali, terlalu cepat malah. Berseliweran informasi. Beberapa membagikan link berita, tak sedikit mengirimkan screenshoot dari timeline, Sebagian besar membagikan tulisan orang. Entah tulisan itu bertuan atau tidak, entah tulisan itu memiliki pertanggungjawaban sumber atau tidak . Pokoknya yang ada kata Turki, Erdogan dan Kudeta harus segera dibagikan, segera.

Saya takjub melihat begitu cepatnya informasi terdelivery. Bahkan dari mereka yang tak setiap hari berkutat dengan informasi. Melihat perkembangan digital yang amat pesat, hal itu sebenarnya menjadi wajar.

Ada beberapa cover pemberitaan model breaking news seperti percobaan kudeta di Turki. Polanya sebagian besar mirip saat Arab Spring. Wartawan media melaporkan perkembangan lewat Twitter, ya Twitter. Kumpulan tweet lalu diolah menjadi narasi berita daring.

Model pemberitaan seperti ini memungkinan setiap orang membagikan update berita dengan cepat. Lalu apa bisa dipercaya sumber berita dari Twitter? Di luar negeri cenderung bisa, di dalam negeri cenderung tidak.

Sudah menjadi pemandangan umum jika akun Twitter wartawan luar negeri adalah akun Twitter yang terverifikasi. Setidaknya dari verifikasi tersebut, tweetnya cenderung bisa dipercaya apalagi dilengkapi pictweet.

Kalau di dalam negeri? Kita justru lebih percaya akun anonim kan? Emang dukun di sini lebih laku.

Model pemberitaan yang baru adalah live stream. Video memang menjadi primadona dalam media sosial akhir akhir ini. Semakin besar akses internet semakin mudah video diakses. Rumah rumah penduduk sudah lazim dipasang Wi fi. Mengakses streaming sekarang sudah selancar mengakses biodata calon istri, mudah.

Dengan segala kemewahan itu maka menjadi wajar jika orang orang tiba tiba beralih profesi: menjadi reporter. Semua ingin mengabarkan, semua ingin yang tercepat. Saya dapat informasi yang sama persis di empat sampai lima grup berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Semua bisa jadi reporter.

Lalu apa ada yang salah? Endak, endak ada yang salah. Saya tak lagi sedang mencari orang yang salah lalu dituntut minta maaf dan mundur dari jabatannya, endak. Hanya fenomena ini akan sering sering kita temui ke depan. Apapun bentuk medianya.

Jika semua sudah bisa jadi reporter, saya harus memikirkan profesi baru. Tukang ojek paket bundling 5 jam berburu Pokemon nampaknya menjanjikan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Erdogan dan Para Reporter Kudeta"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)