Dunia Lingga

Selamanya Kita Harus Berpikir



Bapak saya diberi nama oleh kakek nenek Aip Syaripudin yang artinya lelaki mulia. Anak kelima dari tujuh bersaudara ini lahir tahun 1957, saat itu mendekati peristiwa Deklarasi Djuanda. Jika menyukai sejarah pasti ingat. Saat itu Perdana Menteri RI Djuanda Kartawidjaja mendeklarasikan bahwa laut Indonesia dan kepulauan Indonesia jadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Lahir dari keluarga sederhana, Bapak tak punya banyak peluang untuk sekolah tinggi. Ia terpaksa mengalah terhadap adik-adiknya dan hanya menamatkan sekolah SMP. Semasa bersekolah pun, ia hanya berbekal satu buku tulis dan sepasang sepatu rombeng.

Bapak sempat bercerita bagaimana ia, kakak dan adik-adiknya harus makan satu butir telur yang dibagi menjadi empat. Ia sempat bercerita, bagaimana pengalamannya sesudah sekolah membantu nenek mengambil buah pala di kebun agar dapur tetap mengepul. Susah. Peluh dan perih. Bayangkan saja, pohon pala itu sangat tinggi, ada kemungkinan Bapak terjatuh.

Mencoba peruntungan di kota besar, Bapak merantau dari daerah terpencil di Jawa Barat ke ibukota Jakarta. Berbekal ijazah SMP, lamaran kerjanya sangat dipandang sebelah mata. Saat itu, perusahaan lebih memilih tamatan SMA untuk menjadi karyawan. Bapak muak. Lelah. Ia ingin sekolah. Ia ingin berpendidikan.

Sayang, keinginannya itu belum tercapai juga. Bapak tak terus berkecil hati. Pekerjaan apapun dilakoninya. Ia sering bercerita, sempat menjadi tukang kayu, penjual anggrek, tukang sampah, hingga pekerjaan apapun dilakukannya agar bisa sekolah kembali.

Beruntung, kemudian hari pabrik baja di Cilegon sedang membuka lowongan besar-besaran. Meski hanya menjadi pegawai kecil, Bapak sangat rajin dan tak pernah bolos kerja. Sampai pada suatu saat, tempatnya bekerja itu memberi peluang penyetaraan SMA atau paket C, Bapak senang bukan kepalang.

"Bapak sekolah lagi Ling,"kata bapak sambil berkaca-kaca bercerita saat itu.

Perjuangan Bapak sekolah lagi juga tak mudah. Ia harus membagi pekerjaan dengan sekolah. Namun, ia menjalaninya dengan senang. Baginya, bisa dapat memasuki bangku sekolah adalah anugerah terbesar dalam hidup. Tidak boleh ia sia-siakan.

Salawasna Urang Kudu Mikir (selamanya kita harus berpikir)

Karena merasa kesulitan jika tak punya ilmu pengetahuan dan pendidikan, Bapak selalu berpesan pada kami - anak-anaknya - untuk terus menimba ilmu. Sesulit apapun perjuangan menimba ilmu itu, kami tak boleh menyerah.

Bapak: "Coba Lingga lihat orang-orang besar di dunia dan Indonesia. Mereka besar karena terus berpikir. Berpikir dan bertindak. Bukan hanya berpangku tangan,"kata Bapak.

Baginya, manusia selama hidup harus terus berpikir. Dari pikiran dapat membangun peradaban. Pikiran tersebut diperoleh dari pendidikan dan utamanya membaca. Membaca, membaca, itulah yang ia contohkan kepada kami. Ia rela melakukan apapun untuk anak-anaknya agar dapat membeli buku dan tetap bersekolah. Pengalamannya yang pahit ketika kecil, tak mau terulang pada anak-anaknya.

"Biarpun Bapak tinggal digubuk, pakaian compang camping, sampai harus bekerja 'kesangan nepi ka bujur' (peribahasa Sunda perjuangan sampai titik darah penghabisan), Bapak tetap berjuang. Bapak ingin anak-anak pintar dan punya ilmu pendidikan,"kata Bapak disela-sela obrolan dengan saya.

Saya sempat bertanya kepada Bapak. "Pak, apa yang Bapak harapkan dari saya?" Saya menatap wajahnya dalam.

Bapak tersenyum dan kemudian mengatakan, "Cukuplah Lingga jadi anak yang bermanfaat, selalu beramal jariyah dan ilmu yang Lingga punya harus bermanfaat dan diamalkan,"seketika itu saya menitikkan air mata.

Wahai Bapak, perjuangan yang kau lakukan terhadap kami agar terus bersekolah tak akan kami lupa. Duhai Bapak, bukan hanya mencukupi makanan kami, namun engkau memberi kami kehidupan layak dan ilmu bermanfaat. 


PS: tulisan ini sempat diikutsertakan dalam sebuah lomba dan alhamdulillah dapet, sebuah paket make up, yang gak kepake sampe sekarang karena jarang make-up an. xoxoxx

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Selamanya Kita Harus Berpikir"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)