Dunia Lingga

Terimakasih Telah Menjadi Ibuku



Matanya berkaca-kaca. Tangisan kegembiraan tergambar di raut mukanya. Ibu memandangku penuh haru. Sang anak akhirnya pulang kampung. Datang menjenguknya. Ibu mengusap rambutku, mencium keningku, tersenyum padaku.

Setiap ingat aku, Ibu menangis. Menangis yang kerap disembunyikannya. Menangis karena hanya aku yang jauh darinya. Harus merantau jauh meninggalkannya karena menjemput rezeki.

Aku pun tak kuasa menahan tangis tiap kali mendengar suara Ibu di telepon. Aku rindu. Ibu rindu.

Bukan karena Ibu tak punya siapa-siapa di kampung. Ada kakak dan adik-adikku. Tapi Ibu rindu melihatku, melihat kekonyolanku. Melihat kenangan saat kecil ayahku masih ada.

Ibu menjanda di usia muda. Diwariskan banyak hutang oleh bapakku. Cibiran tak pernah reda. Semua gara-gara hutang, ditipu dalam bisnis pengecoran baja tradisional di kampungku..

Di usia muda ibu harus berjuang melunasi hutang-hutang tersebut. Dijauhi tetangga, dianggap sebelah mata. Tak ada yang mau memberi modal. Takut modalnya akan kembali merugi.

Ditipu ratusan juta oleh pelanggan jadi pelajaran berharga untuknya. Dunia bisnis memang kadang-kadang kejam. Si penipu melakukan pemesanan pengecoran baja, namun tak kunjung bayar setelah barang dikirim.

Ibu harus menanggung kami, kakakku, aku dan dua adiku yang masih bersekolah. Ibuku harus menanggung hutang ratusan juta. Menanggung semua beban di pundaknya. 

Saat itu aku belum mengerti apa-apa. Yang aku mengerti, aku dijauhi teman-temanku. Ya, cibiran karena dianggap anak penghutang.

Namun, bukan ibu kalau akhirnya menyerah. Ibu tak patah semangat. Semakin tak punya apa-apa, semakin ibu memberikan apa-apa kepada orang lain. Bahkan, ibu sempat menjual perhiasan hingga televisi untuk disedekahkan. Katanya, "Nak, kalau ada orang butuh, kasih apa yang kita miliki, karena harta tak akan kita bawa mati".

Ibu bangun kembali bisnis peninggalan ayahku. Ibu sempat mencari sang penipu hingga Surabaya, lapor sana sini, sambil menggendong adikku yang baru berusia 1 bulan. 

Perjuangan ibu sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Ibu bisa mencicil hutang. Lauk untuk makan pun tak melulu ikan asin dan tempe. Perlahan, lebih bervariasi. Aku pun bisa melanjutkan kuliah hingga bekerja, sementara kakakku bisa lulus dari kuliah D3-nya. Adik-adikku pun melanjutkan sekolah. Tanpa ada hutang, tanpa ada cibiran. 

Ibu juga tak pernah melupakan lingkungan sekitarnya. Baginya, harta yang dititipkan padanya hanya sementara. Dengan berbagi, maka Tuhan akan mengalirkan rezeki lebih banyak untuk kita. 

Itu pesan ibuku. 

Jadilah orang dermawan. 

Jadilah orang yang bisa berbagi apapun yang dimiliki.

Jadilah pahlawan di lingkunganmu sendiri. Dimanapun kamu berada.

Namun kini, wajahnya tampak sayu. Ia lebih sering keluar masuk rumah sakit karena komplikasi penyakit. Namun ia tak pernah mengeluh. Keluhan dilakukan di solat sepertiga malamnya kepada Tuhan.

Ibu, pahlawan kami. Pahlawan sejati di hati kami. Wahai Ibu, perjuanganmu melebihi pahlawan manapun di dunia ini bagi kami, anak-anakmu. Takkan pernah kami bisa membalas belas kasihmu. Kau abaikan semua keinginanmu dan kebutuhanmu untuk memberi apa yang anakmu butuhkan.

Benar kata pribahasa, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Takkan. Kami takkan mampu membalas segala pengorbananmu.

Aku tahu, aku salah satu orang yang beruntung. Tuhan telah menjadikanmu sebagai Ibuku. You are my truly hero. We love you, Mom.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terimakasih Telah Menjadi Ibuku"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)