Dunia Lingga

Hujan safir

'Selalu ada impian di balik hujan'

Hujan adalah rahmat yang besar. Setiap rintiknya membawa inspirasi luar biasa bagi seorang Meyda Sefira. Bagi dara yang kini menjadi duta kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap ini, setiap peristiwa sesungguhnya selalu ada hujan. Baik itu 'hujan rahmat' maupun ‘hujan musibah’. Lewat hikmah hujan, lembar-lembar peristiwa ditulis Meyda.  Akhirnya,  menjadi sebuah buku yang diberi judul “Hujan Safir”.

“Hujan” adalah rahmat, dan “Safir” adalah filosofi dari keindahan. Dalam buku ini, sosok Meyda melihat hidup ini berkepribadian penuh rahmat dan indah bagi sekitar. Dalam istilah agama, rahmatan lil ‘âlamîn. Meyda berharap, catatan ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.  Tentu ia berharap, buku ini menjadi bahan pengingat diri untuk senantiasa mewaspadai setiap ledakan peristiwa kehidupan yang tentu misteri.

Buku dengan konsep songbook ini  berisi lima buah lagu yang dinyanyikan langsung oleh Meyda Sefira dengan Lutfiah Hayati. Di antaranya Hujan Safir, Kulihat Dunia Menangis, Hijabku Impianku, Untukmu Calon Imamku, dan Rindu Ayah Ibu. Semua lagu dinyanyikan dengan cinta yang tulus untuk memberikan kerinduan akan kehidupan yang Allah rahmati.

Banyak hikmah yang dapat diambil dari songbook setebal 187 halaman ini. Songbook yang ditulis di Bandung ini menceritakan bagaimana Meyda kecil harus mengalami lumpuh layuh dan dirawat di rumah sakit. Juga bagaimana Meyda yang tidak dapat masuk universitas yang diinginkannya. Saat kuliah, Meyda harus bekerja part time di restoran cepat saji sebagai pelayan. Dari pengalamannya ini, Meyda mendapat hikmah selama bekerja. Ia bisa belajar ramah dan sabar.

Termasuk saat Meyda menemukan jati dirinya dan menemukan nikmat iman dan Islam.  Allah menuntunnya untuk menjadi manusia baru dengan mengenakan hijab. Meyda yang saat itu terbilang tomboy merasa kenyamanan yang tidak dapat dilukiskan saat memutuskan untuk menutup aurat.  Dalam buku ini, Meyda menunjukkan identitasnya tanpa rasa malu dan takut. Inilah yang diharapkan Meyda agar seorang muslimah menjadi garda terdepan dalam nilai-nilai agama di keluarga, mencetak generasi terbaik. 

Pelbagai situasi buruk menerpa gadis kelahiran tahun 1988 ini. Namun bagi sosok wanita berdarah minang ini, tidak ada yang buruk dalam situasi seburuk apapun. Tidak ada yang merugikan dalam situasi sekurang beruntung apapun. Baik dan tidak, beruntung dan kurang beruntung, adalah soal mindset, bukan pada situasinya.
Di dalam buku ini, bercerita sebuah kisah dimana hikmah menjadi benang merah atas rasa syukur yang kita panjatkan. Buku ini pun menceritakan mengenai betapa manis dan pahit perjuangan Meyda menjadi publik figur yang dapat menginspirasi. Bangkit dari keterpurukan,
tetap tersenyum meski tertekan, bersabar atas musibah, dan tentu saja bersyukur atas semua berkah. 

Bagi Meyda, hidup itu peduli. Peduli itu hidup dan menghidupkan. Kepedulian yang sudah dipupuk kedua orang tuanya sejak kecil membuat Meyda lebih peka dan tersentuh hati. Kepeduliannya terhadap saudara-saudara muslim yang dianiaya di berbagai belahan dunia mengantarkannya menjadi duta kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap. Atas jiwa kepeduliannya ini, Meyda mendidikasikan royalti buku untuk saudara-saudara muslim yang terkena bencana termasuk para pengungsi di Suriah.



Tentang penulis
Meyda Sefira, lahir di Bandung pada 20 Mei 1988. Anak ketiga dari lima bersaudara, dari pasangan Ir. H. Irvin Murad dan Hj.Annie Maryani. Masa kecil pernah tinggal di Ambon dan Surabaya. Sekarang menetap di Bandung bersama keluarga tercinta. Mey–sapaan akrab Meyda Sefira–adalah sarjana Teknik Lingkungan di ITENAS Bandung. Ia tercatat sebagai mahasiswa terbaik dan berprestasi di kampusnya dengan predikat cumlaude.

Mey saat ini dikenal sebagai aktris muslimah. Namanya melejit setelah memerankan Ayatul Husna dalam megafilm Ketika Cinta Bertasbih, besutan dari novelnya Habiburrahman El Shirazy. Ia pun telah memerankan dengan sukses film-film Islami berikutnya, antara lain: Dalam Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Berkah, dll.
Mey, merupakan sosok pecinta dunia pendidikan dan lingkungan.

Hingga kecintaannya mengantarkan ia menjadi dosen di almamaternya, di ITENAS Bandung sampai sekarang.
Selain menjadi aktris dan dosen, ia pun sekarang aktif sebagai pembicara di berbagai seminar, talk show, dan kajian-kajian kemuslimahan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hujan safir"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)