Dunia Lingga

Cinta Rahwana




Wanitaku, sayang senja di lantai 4 tak seindah kemarin. Ia terburu-buru menyembunyikan matahari. Tapi tak apa, masih ada tulisanmu yang terus menggurat senyum. Terima kasih cinta. Terima Kasih atas ketulusanmu. Alhamdulillah Allah menjodohkan kita. Kamu mengerti bahasa candaku, dan aku terhibur bahasa tawamu. Aku yakin Arfa nanti akan diidolakan adik-adiknya karena ia pandai melawak. Suatu saat nanti.

Wanitaku, maukah engkau sejenak duduk mendengar celotehku? Mumpung aku sedang berhasrat. Sayang, aku kini tahu kenapa Mahabarata begitu digilai orang-orang. Salah satu pentolan kisahnya, Ramayana begitu romantis. Romantis justru tidak bermuara pada percintaan Rama dan Sinta, tapi Rahwana dan Sinta.

Mau kah kau menyimakku? Aku tahu ini bukan kisah cinta gendong-gendongan Siti Aisyah dan kanjeng Nabi, bukan pula kisah cinta gilingan tepung Siti Fatimah dan Ali Karamallahu Wajhah. Itu nanti suatu saat aku ceritakan. Aku ingin mengajakmu berkeliling sebentar di cerita orang-orang Hindu. Sekadar untuk hiburan, tak lebih.

Wanitaku, apa yang terpintas saat aku sebut kata Rahwana? aku tebak tak jauh dari raksasa, bergigi tajam, bengis dan tukang culik istri orang. Tak salah memang perawakannya seperti itu. Rahwana seperti yang kau tahu berkepala sepuluh. Setiap kesempatan, ia selalu memenggal kepalanya satu per satu. Hingga tersisa kepala terakhirnya. Saat ia bersiap memenggal kepala terakhirnya, Dewa pun turun. "Duhai Rahwana janganlah engkau bunuh dirimu. Dunia butuh keseimbangan. Dunia butuh orang-orang jahat."

Rahwana ternyata lebih memahami makna Alquran surah Al Baqarah ayat 30. Ia memilih menghormati perannya di bumi sebagai khalifah itu. Namun dengan satu syarat, ia tak terkalahkan dan diizinkan menikahi Dewi Sri. Tahukah kau kepada siapa Dewi Sri menitis? Benar, kepada Sinta istri Rama. Duhai sebenarnya demi keseimbangan jagat, Sinta adalah pasangan sah dari Rahwana. Tapi lihatlah cerita selanjutnya.

Rama yang ganteng, sakti mandraguna, titisan Dewa Wisnu dan tentu saja six pack itu diusir dari kerajaan. Tapi ia menolak rintihan Sinta yang memaksanya ikut ke dalam hutan. Lelaki seperti itu bukan? ingin yang terbaik bagi wanitanya mengkerangkeng di dalam kuil emas bertahta berlian. Meski sebenarnya perempuan lebih ingin menjalani duka berdua dengan pasangannya. 13 tahun Rama meninggalkan Sinta. Pertanyaan aa, wanita mana yang sanggup?

Baik, langsung saja ke inti ceritanya. Di tengah kesendirian itulah Rahwana menculik Sinta. Diiming-imingi kijang yang berkilauan. Ah wanita memang suka yang berkilau-kilau bukan.

Mari kita masuki kerajaan Rahwana yang indah itu, Alengka. Sinta diculik Rahwana selama 13 tahun. Di tempatkan di taman terindah di Alengka. Rahwana selama 13 tahun itu sama sekali tidak pernah menyentuh sang Dewi. Ia menghormati kesucian Sinta. Mungkin satu dua kali ia habis melahap tafsir Ibnu Katsir bab mahram. Namun raksasa itu punya kesetiaan melampaui apapun. Rahwana selama 13 tahun itu memiliki ritual yang setiap pagi ia lakukan. Membacakan puisi untuk Sinta.

Sesekali ia membawakan puisi Sapardi Djoko Damono.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada "


Sesekali ia membawakan puisi Sutarji Chalzoum Bachri
"Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera
Kucinta kau
Aku ke kau ke kau aku
Akulah kauku kaulah ku ke kau
Kita ?
Biarlah antara kita saja
Siapa kau, perempuan tak terbilang"


Aku ingin tanya wanitaku, perempuan mana yang tidak klepek-klepek jika selama 13 tahun ia dibacakan puisi setiap pagi di taman paling indah di sebuah negeri?

Rahwana sedang menyadarkanku wanitaku. Aku yang gagap mengucap cinta ini ingin belajar merenda senja. Aku ingin menemani senja pulang dengan kata-kata. Untukmu tentu saja. Aku ingin setiap hari mengirim kisah-kisah untukmu. Mengobati luka laramu. Setidaknya di depanmu aku bisa berkata, "Aku bisa menulis hanya bila untukmu sayang."


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cinta Rahwana"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)