Dunia Lingga

Mereka yang Bertahan di Tengah Era Internet




Berbagai persoalan minat baca masih sering diperdebatkan berbagai kalangan masyarakat. Untuk menumbuhkan minat dan kecintaan membaca, memang tidak sekadar membudayakan membaca, tapi juga penyediaan tempat dan pengadaan buku yang murah menjadi persoalan yang tak kalah pentingnya.

Sebagian masyarakat, baik individu maupun kelompok berinisiatif untuk mendirikan taman baca di lingkungannya. Inisiatif ini berangkat dari adanya keprihatinan akan pengadaan buku-buku bacaan oleh perpustakaan khususnya pemerintah.

Fenomena maraknya taman baca yang terjadi sejak tahun 1970-an disinyalir lebih mengarah ke media bisnis dan sumber pendapatan pemiliknya. Meski di tahun 1980-an taman baca hadir dengan sesuatu yang lebih humanis dan non komersial, taman baca rupanya banyak yang berguguran karena beragam persoalan. Di antaranya gempuran krisis ekonomi dan hadirnya era internet.

Hal ini pula yang dirasakan oleh beberapa taman bacaan di Bandung. Seiring berjalannya waktu, taman baca semakin berkurang bahkan beberapa diantaranya gulung tikar. Namun, beberapa taman baca di Bandung mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan usahanya tersebut. Sebut saja taman baca Kineruku di Jalan Hegarmanah No. 52 Bandung dan Taman Baca Gubuk Dongeng di Jalan Ciumbuleuit 151 A Bandung.

Memang bukan hal yang mudah untuk mempertahankan taman baca dan berkembang cukup lama. Setidaknya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pengelola taman baca. Kineruku yang berdiri sejak tahun 2003 misalnya, masih tetap eksis melayani pengunjung. Pendiri Kineruku, Ariani Darmawan bilang, pengelola taman baca hendaknya memulai dari yang kecil.

Ia mencontohkan, beberapa taman baca gulung tikar karena ingin terlihat 'wah' dengan tempat atau lokasi yang besar. Padahal, taman baca yang kecil misalnya di sebuah garasi, bisa jadi lebih berkembang dibanding taman baca yang mempunyai ruangan besar.

"Biasanya mereka menyewa tempat dan kemudian bingung untuk membayar sewa,"ujar dia.

Menurut dia, taman baca miliknya bisa bertahan karena kontennya yang bagus dan menarik. Kalau isinya tidak bagus, tentu pengunjung atau peminjam buku malas datang ke taman baca tersebut. Kineruku, kata dia, selama 10 tahun tidak pernah mengubah konten dan berupaya fokus dengan konten yang telah ada.

"Akan bisa bertahan dan sukses jika taman baca fokus ke arah mana akan dituju,"ujar dia.

Selama ini, Kineruku fokus menjadi alternatif pusat referensi seputar tema humaniora yang meliputi genre fiksi, budaya, filsafat, seni, desain, arsitektur dan buku anak. Sekitar 4.000-an buku yang menjadi sumber referensi ada di taman baca ini.

Setelah cukup berkembang, kata Ariani, pengelola taman baca dapat meningkatkan pelayanan dengan menyelenggarakan program kegiatan lain penunjang kegiatan utama membaca dan pinjam-meminjam buku serta berupaya mengusahakan pendanaan yang memadai demi kelangsungan taman bacaan.

Salah satu cara yang dilakukan Kineruku adalah menyimpan koleksi musik dan film. Koleksi musik meliputi pop rock, jazz, klasik, alternatif hingga world music. Sedangkan film mencakup semua genre namun lebih dikhususkan pada judul yang memiliki kontribusi terhadap dunia sinema seperti Art House International, American Independent dan film-film lainnya.

"Kami juga mengadakan acara khusus yang berhubungan dengan buku, musik, dan film semisal peluncuran buku, pemutaran film, pertunjukan musik dan diskusi lainnya,"ujar dia.

Untuk pendanaan taman baca, Kineruku menerima kerja sama titip jual dengan penerbit lokal dan nasional meliputi buku, majalah dan stationary. Pada perkembangannya, Kineruku juga menerima kerja sama titip jual CD musik. Selain itu, Kineruku menjual DVD dan poster film.

Ariani mengatakan, Kineruku juga ingin mendobrak anggapan masyarakat bahwa buku dan perpustakaan adalah sesuatu yang angker dan kurang bersahabat. Oleh karenanya Kineruku sengaja didesain senyaman mungkin dengan konsep rumah dan menyediakan makanan serta minuman untuk teman saat membaca.

"Buku kecipratan kopi tidak masalah buat saya, justru buku yang lecek dan kotor itu memberi kepuasan tersendiri karena sebagai simbol buku itu sering dibaca,"ujar dia.

Kineruku juga membuka toko kecil Garasi Opa yang menjual barang-barang antik zaman dahulu seperti telepon, kacamata, mesin cuci hingga kulkas. "Ini salah satu sumber pendanaan untuk Kineruku dan cukup berhasil,"ujar dia.

Ia berharap, Kineruku dapat terus memfasilitasi publik untuk mendapatkan informasi dan referensi dengan mudah. Hingga Mei 2012, kata Ariani, Kineruku melayani 1769 anggota taman baca. Ia ingin Kineruku terus menambah kelengkapan koleksi dan membuka diri kepada publik dengan acara-acara khusus, publikasi lebih luas lewat internet dan media cetak.


Gubuk Dongeng Beri Promo Menarik Untuk Mahasiswa

Salah satu taman baca yang juga bertahan sampai sekarang adalah Taman Baca Gubuk Dongeng di Jalan Ciumbuleuit No.151 A Bandung. Lokasi taman baca ini tepat bersebrangan dengan Kampus Universitas Parahyangan.

Meski hanya berupa ruko kecil, taman baca ini bertahan dari gempuran era internet. Petugas taman baca, Yudi Setiawan mengaku, dari sekitar empat taman baca di Jalan Ciumbuleuit, hanya Gubuk Dongeng yang masih bertahan. Gubung Dongeng bahkan membuka cabang di kawasan Universitas Maranatha Bandung.

Menurut dia, bertahannya taman baca karena kerap memberikan promosi kepada mahasiswa. Meski internet membuat peminjam buku dan komik cukup menurun, Gubuk Dongeng tetap menjadi primadona di kalangan mahasiswa. Mahasiswa Unpar hanya dikenakan biaya pendaftaran Rp 10 ribu. Sementara mahasiswa di luar Unpar namun memiliki KTP Bandung hanya Rp 25 ribu. Adapun jika peminjam adalah mahasiswa non Unpar dan berasal dari luar Kota Bandung hanya dikenai Rp 30 ribu.

"Kalau ada penerimaan siswa baru biasanya kami promo dengan mengurangi biaya pendaftaran,"ujar dia.

Taman baca yang menyediakan puluhan ribu komik Jepang dan Indonesia ini juga tak mematok harga tinggi untuk setiap kali peminjaman.  "Harga sewa relatif tergantung dari bandrol harga komiknya. Biasanya 10 persen dari harga komik,"ujar dia.

Selain komik, Gubuk Dongeng juga menyediakan novel terjemahan luar negeri dan dalam negeri. Buku-buku lain seperti biografi juga tersedia di taman baca ini. Gubuk Dongeng yang buka Senin-Jumat pukul 9.00-21.30 dan Sabtu-Ahad pukul 10.00-21.00 ini juga memberikan pelayanan sebaik mungkin untuk peminjam buku.

"Kalau di sini kami selalu menyapa dan mengajak ngobrol peminjam, dengan begitu bisa lebih akrab dengan mereka,"ujar dia.

Gubuk Dongeng juga sering dikunjungi warga asing dan juga menjadi member di taman baca ini. Di antara mereka biasanya yang bekerja di Indonesia dan menyukai novel-novel berbahasa Inggris. "Meskipun dulu jumlahnya lebih banyak. Sekarang mungkin beralih baca lewat internet,"kata dia.

Agar lebih meningkatkan pelayanan, Gubuk Dongeng selalu memperbaharui koleksi komik dan novel. Bahkan, buku-buku yang belum ada di toko buku, Gubuk Dongeng langsung memerolehnya dari penyuplai. "Peminjam buku bahkan sudah memesan ke kami buku-buku baru tersebut, padahal belum kami masukkan rak,"ujar dia.

Salah satu peminjam, Firda Fauzia, mengaku senang dengan pelayanan petugas. "Kalau mau pinjam saya dikasih tahu dengan jelas syaratnya apa. Bahkan saya dapat promo pinjam lima buku gratis satu,"ujar mahasiswa jurusan Manajemen Unpar angkatan 2012 ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mereka yang Bertahan di Tengah Era Internet"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)