Dunia Lingga

Sisi Kelam Industri K-Pop (tulisan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan)

ada tulisan menarik dari wartawan senior Republika, Teguh Setiawan. Saya coba share di blog semoga Pak Teguh berkenan. Menyoal budaya k-pop dan perkembangannya.




Sukses K-Pop mendongkrak ekspor in dus tri manufak tur Korea Selatan, tapi pa ra selebritisnya mendapat bagian pa ling minim.

Suatu kali, beberapa orang tua anggota Rainbow girl band Korea yang beranggotakan tujuh gadis mengeluhkan honor yang diterima putri-putri mereka. Rainbow bekerja siang-malam selama dua tahun, tapi penghasilan yang diperoleh sama sekali tidak sepadan.

Bernie Cho, kepala distribusi DFSB Kollective, mengatakan artis-artis top Korea lebih suka konser di Jepang ka rena uang lebih mudah diperoleh. Artis Korea bisa mengumpulkan, sebut saja 100 ribu dolar AS, dalam satu pekan kunjungan ke Jepang. Di Korea, untuk meraih jumlah sebanyak itu, seorang artis harus bekerja tampil di banyak panggung dan aktivitas lainnya selama satu tahun.

Apa yang terjadi dengan industri budaya pop Korsel, dan artis-artisnya? K-Pop adalah big business, gemerlap, dan bernilai jutaan dollar AS. Jika tahun 2009 ekspor K-Pop bernilai 30 juta dolar AS, tahun berikutnya meningkat lebih dua kali lipat, dan tahun 2011 meningkat 112 persen menjadi 180 juta dolar AS.

Super Junior, 3NE1, KARA, Rainbow, Rain, dan beberapa artis K-Pop papan atas lainnya menjual jutaan keping CD di sekujur Asia. Mereka berpindah dari satu ke lain kota-kota besar di Asia, menggelar pertunjukan, dan menciptakan histeria massa remaja perkotaan.

Tidak hanya di Asia, negara-negara Eropa; terutama Inggris dan Prancis, serta negara-negara Amerika Latin, ke ranjingan K-Pop. Leading Labels, perusahaan yang melahirkan artis-artis K-Pop, meraup keuntungan besar. Na mun, sempatkan menyimak pasar K-Pop di dalam negerinya.

Masyarakat Korsel dimanjakan oleh koneksi internet tercepat di dunia. Setiap orang bisa mengunduh apa saja sedemikian mudah, murah, dan hampir tanpa masalah. Setiap orang Korsel membayar 9 ribu won, atau delapan dolar AS, per bulan agar bisa mendengar musik populer untuk 150 trak. Jadi, penggemar musik Korsel hanya perlu mengeluarkan 30 won per trak untuk mengunduh musik yang disukai.

Bandingkan dengan harga layanan serupa di banyak negara. Di Eropa, misalnya, pencinta musik harus menge luarkan 99 sen dolar AS, atau 1000 won, per trak saat mengunduh musik yang di inginkan. Di Jepang, harga yang harus di keluarkan penggemar musik lebih banyak lagi.

Di Korsel, penjualan musik lewat in ternet menghasilkan 430 juta won, sa ngat kecil jika dibandingkan penjualan di Jepang, negara Asia lainnya, dan Eropa. Di Eropa, AS, dan Jepang, 70 persen hasil penjualan musik dinikmati label dan artisnya. Di Korsel, harga 30 won per trak harus dibagi ke label, artis, mu sisi, dan penulis lagu. Seorang bos SM Entertainment salah satu label terkemuka di Korsel mengatakan penghasilan dari satu juta unduhan pun tidak bisa menutupi biaya produksi.

Ada beberapa alasan mengapa ni lai jual musik digital di Korsel begitu rendah. Pertama, kekhawatiran terhadap pembajakan. Kedua, bisnis jasa layanan musik digital sistem langganan dikuasai beberapa perusahaan, yang menyebabkan daya tawar label berkurang.

Asumsinya, masyarakat mencari barang bajakan karena harga yang lebih murah. Pelaku industri K-Pop terpaksa memberikan harga yang lebih murah, agar masyarakat tidak menyerbu barang bajakan. Cara ini memang cukup bisa menekan praktek pembajakan, karena para pembajak tidak tahu lagi berapa harus menjual harga barang bajakannya.

Oligopoli dalam bisnis layanan ber langganan menyebabkan SM Enter tainment hanya bisa meraup 1,9 miliar won dari penjualan musik digital pada kuartal pertama 2012, jumlah yang terlalu kecil jika dibandingkan penjualan CD yang mencapai tiga miliar won.

SM Entertainment, dan pemasok pro duk budaya Korsel lainnya, berupaya menutupi kekurangan ini untuk me lanjutkan kelangsungan hidup. Caranya, dengan mengeksploitasi semua artisnya; muncul di berbagai variety show televisi, menawarkan para bintangnya menjadi model iklan, atau apa pun.

Label-label Korsel menjadi mahir memeras keringat para bintangnya un tuk menghasilkan uang. Mereka me madatkan jadwal kerja para artis; mulai dari tampil di variety show, pemotretan, konser, terlibat dalam promosi produk barang-barang elektronik, dan kerjakerja yang menghasilkan uang. 

Menyedihkan 
K-Pop adalah industri dengan investasi mahal. Untuk membentuk citra sebuah grup, dan membuatnya populer di dalam dan luar negeri, label harus lebih dulu mendidik artis-artisnya ber nyanyi, menari, memberi akomodasi, dan biaya hidup, selama bertahun-tahun.

DSP, label yang menangani banyak artis, tidak membentuk Rainbow da lam semalam, sepekan, atau sebulan, tapi sekian tahun. Perusahaan ini mem pekerjakan banyak manajer, koreografer, wardrobe assistant, musisi, dan pekerja kreatif lainnya.

Jauh sebelum diperkenalkan kepada publik, boy band atau girl band harus berlatih selama berjam-jam setiap hari. Jadwal latihan mereka sangat ketat, terkadang menyita waktu tidur mereka dan kesempatan berkumpul lebih lama bersama keluarga.

Setelah menjadi populer, mereka ma sih harus bekerja lebih keras lagi un tuk memapankan diri dalam persaingan yang super berat, agar menjadi tambang uang bagi label. Para manajer sibuk mem persiapkan konser di dalam dan luar negeri, serta menjual image mereka se banyak mungkin ke banyak perusahaan besar.

Seorang direktur DSP tidak membantah asumsi bahwa Rainbow, atau artis-artis lainnya, menghasilkan ba nyak uang dari semua aktivitasnya. Namun, sebelum keuntungan dibagi rata antara artis dan label, perusahaan harus lebih dulu menutupi biaya-biaya yang telah dikeluarkan.

“Memang jumlah yang tersisa untuk para artis menjadi lebih sedikit,” ujar sang direktur.

Penyebab semua itu, menurut sang direktur, tidak memadainya penghasilan dari penjualan musik digital dan murahnya tiket konser di dalam negeri. Sebagai perbandingan, di Indonesia harga tiket konser musisi dalam negeri paling rendah Rp 150 ribu. Di Korsel, harga tiket konser artis top biasanya tampil bersamaan dalam beberama jam hanya Rp 50 ribu. Bayangkan, berapa besar penghasilan yang diterima label dari konser murah itu, dan seberapa banyak yang dinikmati artis-artisnya.

Moon Jae-gap, mantan salah satu di rektur di Serikat Artis Korsel, yakin in dustri K-Pop akan mengalami pergo lakan hebat karena yang terjadi saat ini sangat tidak mendukung kelangsungan bis nis budaya pop negeri itu. Jae-gap mem perkirakan kelak pekerja industri kreatif akan mengalami kesulitan men cari nafkah.

Mungkin tidak perlu waktu lama untuk melihat keadaan yang diramalkan Jae-gap. Cerita-cerita tak sedap sepu tar kehidupan artis K-Pop di luar panggung mulai dinikmati penggemar produk budaya pop di berbagai belahan dunia. Situs-situs anti-K-Pop kerap menampilkan sisi gelap kehidupan artisartis Korea sebagai pekerja seks papan atas untuk membiayai kehidupannya. 

Dampak K-Pop 
Jadi, siapa yang diuntungkan K-Pop? Choon Keun-lee direktur Korea Crea tive Content Agency (KOCCA) mengatakan K-Pop membuat revenue industri Korsel mencapai 3,8 miliar dolar AS pada tahun 2011, atau mening kat 14 persen dibanding tahun sebe lumnya.

Data lain menunjukan, sepanjang 2012 industri mobil Korsel meraup 2,7 triliun won, dan industri lainnya; games, makanan, pariwisata, dan elektronik, menikmati penghasilan 12 triliun won. Pemerintah Korsel memperkirakan penjualan produk industri Korsel akan menjadi 19,8 triliun won pada 2015, dan mencapai 57 won pada tahun 2020.

Riset KOCCA menunjukan setiap 100 dolar AS penjualan K-Pop, ekspor elek tronik dan teknologi informasi Korsel meningkat rata-rata 395 dolar AS. Samsung, LG, Hyundai, dan pelaku industri barang-barang elektronik dan mobil Korsel lainnya, adalah pihak yang paling diuntungkan oleh sukses K-Pop di dunia. Namun, pengaruh K-Pop pa ling mencolok terlihat di industri pariwisata.

Tahun 2003, ketika K-Pop mulai menjamah berbagai negara di Asia, wisatawan yang berkunjung ke Korsel sebanyak 2,8 juta. Dua tahun kemudian meningkat menjadi 3,7 juta.

Tahun 2007, 6,7 juga wisatawan man canegara mengunjungi Korsel dan me nempatkan negeri itu di urutan 36 dalam daftar negara tujuan wisata penduduk dunia. Lonjakan kunjungan wisatawan ma sih terus berlanjut. Wikipedia mela porkan tahun 2010, sebanyak 10 juta wisatawan mancanegara mengunjungi Korsel.

Korean National Tourism Organi zation (KNTO) mengatakan hampir se ba gian besar wisatawan datang da ri negara-negara ras kuning; Cina, Jepang, Taiwan, dan Hongkong. KNTO memanjakan para wisatawan dengan menggelar banyak pertunjukan K-Pop, dan menjadikan selebritis papan atas Korea sebagai duta wisata ke seluruh Asia dan dunia.

Pemerintah Korsel sangat berke pentingan dengan kelangsungan sukses K-Pop di luar negeri, agar bisa terus ber saing dengan Jepang dan negaranegara Eropa di pasar manufaktur Asia dan dunia. Fenomena K-Pop juga mengubah model bisnis Korsel, yang semula mengandalkan pasar dalam negeri sebelum menginvasi negara lain, menjadi langsung melakukan invasi tanpa lebih dulu memperkuat posisi di dalam negeri.

Beberapa pelaku industri manu faktor Korsel telah melakukannya. Me reka menggunakan popularitas artis-artis K-Pop sebagai model iklan saat akan menaklukan pasar Jepang, Cina, dan negara-negara Asia lainnya. Pertanyaannya, masihkah artis Korea menjadi pihak yang paling minim menikmati sukses K-Pop?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sisi Kelam Industri K-Pop (tulisan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan)"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)