Dunia Lingga

Pameran Alat Musik Nusantara Ajang Edukasi Masyarakat



Sebanyak 31 museum dari seluruh Indonesia mengikuti pameran keragaman alat musik tradisional nusantara di Balai Pengelola Museum Sri Baduga, Bandung. Sekitar 200-an alat musik yang terdaftar dalam pameran yang diselenggarakan sejak awal Juni hingga 5 Juli mendatang. Pameran alat-alat musik Nusantara yang bertema Mengurai Beda Merangkai sama ini tidak hanya sekedar memperkenalkan berbagai keunikan pada alat-alat musik tersebut, tetapi lebih dari itu, pameran ini dapat menjadi ajang pendidikan bagi masyarakat.

Kenyataan menunjukkan bahwa beberapa alat musik yang tersebar di beberapa  provinsi satu sama lain memiliki kemiripan, baik dari segi nama maupun bentuk dasarnya. Misalnya, bentuk dasar gong chime yang terdapat di Jawa, Sunda, Bali, Minangkabau, Kalimantan, dan sejumlah wilayah lainnya memiliki pola yang sama. Kemudian “nama” alat musik kordofon (alat musik dawai) di beberapa provinsi juga ada kemiripan, seperti kacapi (Sunda), hasapi (Toba), kulcapi (Karo), kecapi (Bugis), katapi (Toraja), kacaping (Makasar), dan sape (Kalimantan).

"Konsep pameran alat-alat musik Nusantara ini lebih mengedepankan pada “pemaknaan realitas,” baik perbedaan maupun persamaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk sama-sama dipahami guna menjalin kesatuan bangsa yang lebih harmonis,"kata Kurator Pameran yang juga Dosen STSI Bandung, Heri Herdini.


Menurut Heri, alat musik, di satu sisi dapat digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan kebutuhan musikal, baik secara kolektif maupun individu. Namun di sisi lain, ia pun berfungsi sebagai artefak  seni yang dapat digunakan sebagai jalan masuk untuk lebih memahami kebudayaan yang tumbuh dan berlangsung di berbagai suku bangsa. Bila di suatu daerah terdapat alat-alat musik yang sangat sederhana, baik dari segi bentuk maupun konstruksinya, dapat diduga bahwa alat musik tersebut dibuat oleh masyarakat yang tingkat kebudayaannya masih sederhana, demikian pula sebaliknya.

"Berdasarkan realitas yang ada saat ini, jenis-jenis alat musik yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia tampak beranekaragam mulai dari yang sangat sederhana sampai pada yang kompleks,"ujar dia.

Pameran juga bertujuan untuk memperkenalkan budaya tradisional melalui koleksi museum dari masing-masing peserta, khususnya mengenai potensi alat musik; yang pada gilirannya diharapkan dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk memahami perbedaan sebagai kekayaan budaya Nusantara. Lanjut Heri, pada sisi yang lain, ditengah gencarnya arus globalisasi dan industri media di masa kini, pameran keragaman alat musik ini diharapkan membangkitkan inspirasi untuk mengembangkan kekayaan alat musik tradisi sebagai sumber daya yang terbarukan.

Menurut Kepala Museum Sri Baduga, Ani Ismarini, pameran ini telah dilaksanakan sejak tahun 2010 dan secara bergiliran dilaksanakan di museum-museum daerah di Indonesia. Sebelumnya, pameran pertama dilaksana di Museum Nasional, Jakarta (2010), pameran kedua di Museum Negeri Jambi (2011), pameran ke tiga di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (2012), dan yang ke empat di  Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, Jawa Barat tahun 2013.

Lanjut Ani, penunjukkan tempat pameran untuk tahun berikutnya, ditentukan berdasarkan kesepakatan  bersama kepala museum pada saat pameran berlangsung. Pameran di Musuem Sri Baduga merupakan hasil kesepakatan para kepala museum ketika berlangsung pameran di Lombok, NTB (2012).

Pada pameran keempat ini, Balai Pengelola Musuem Sri Baduga menunjuk tiga orang kurator, dengan harapan pameran ini memiliki konsep kurasi yang dengan  pendekatan yang lebih komprehensip. Ketiga tim kurator itu adalah Endo Suanda (etnomusikolog), Heri Herdini (Dosen STSI Bandung), dan Reiza D. Dienaputra (Sejarawan & dosen UNPAD Bandung). Pameran kali ini tim kurator  mengambil judul “Mengurai Beda, Merangkai Sama”.

"Pameran ini merupakan wahana bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan kecerdasan lokal dan keragaman budaya yang tercermin didalam kreativitas alat musiknya,"ujar Ani.

Kegiatan Pameran Keliling Nasional ini pembukaannya bertepatan dengan hari jadi Museum Sri Baduga yang ke-33. Selain pameran juga diselenggarakan seminar tentang keragaman alat musik Nusantara dengan enam narasumber, workshop pembuatan alat musik bambu bekerjasama dengan PSN, dan pertunjukan kesenian.

Pembukaan pameran direncanakan akan dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat dan dihadiri oleh pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, para kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan kepala Museum peserta pameran, kepala Dinas Pendidikan se-Jawa Barat, kepala Museum se-Jawa Barat, seniman dan budayawan Jawa Barat, pemerhati museum, dan media massa.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Pameran Alat Musik Nusantara Ajang Edukasi Masyarakat"

  1. Attractive part of content. I just stumbled upon your site and
    in accession capital to say that I get actually enjoyed account your weblog posts.
    Any way I will be subscribing for your augment or even I fulfillment you get entry to persistently fast.


    Also visit my web page: seo companies

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)