Dunia Lingga

Masjid Salman ITB, Nuansa Spiritual dan Intelektual Jadi Satu!!





Selama tugas di Bandung, saya sangat sering transit di masjid yang satu ini. Masjid Salman ITB. Kenapa? Karena pertama, sangat sejuk dan adem. Setiap kali menempelkan dahi ke lantai ketika sujud, kedamaian itu sangat terasa. Gak heran makanya kenapa masjid ini selalu ramai. Bukan hanya sejuk. Kedua, masjid Salman kaya akan kegiatan yang memantik spiritualitas dan intelektualitas.

Pemandangan orang mengaji, solat wajib hingga sunnah sangat terlihat. Akhwat dan ikhwan berseliweran. Begitu pula siswa-siswi SMA sekitar yang ikut solat dan liqo di masjid ini. Meski sebagian ada yang memanfaatkan untuk tidur sejenak di masjid kampus ini, sebagian melakukan aktivitas terpelajar. Mulai dari bimbingan belajar siswa, membahas soal ujian atau rapat-rapat LDK di pelataran masjid.

pelataran masjid Salman sering dijadikan tempat diskusi, liqo, sampai bimbingan belajar

Saya sempat berbincang dengan Staf Ahli Pembina Yayasan Pembina Masjid Salman, Samsoe Basarudin selepas menunaikan solat di sana. Memasuki usia Masjid Salman ke-50, masjid kampus pertama di Indonesia ini terus mengembangkan kiprahnya dalam dunia dakwah dan masyarakat. Samsoe Basarudin mengatakan, YPM Masjid Salman tetap mengedepankan kepada pembinaan SDM atau kader dakwah.

Pria yang telah aktif di Masjid Salman sejak tahun 1979 ini juga mengatakan, sebenarnya kiprah Salman dapat dilihat dari visi dan misi yang digalakkan. Pertama, sebagai tempat pembinaan insan yang Islami, masyarakat yang Islami dan peradaban yang Islami.

"Pembinaan ini terciptanya intelektual muslim yang berakhlakul karimah,"ujar dia.

Selain fokus pada kaderisasi, Masjid Salman juga mempunyai lembaga amil zakat atau rumah amal untuk pemberdayaan di masyarakat. "Selama 50 tahun ini, Salman juga aktif salam program baik advokasi dan ekonomi. Rumah Amal misalnya, dalam satu tahun mengumpulkan dana zakat sekitar Rp 4,5 miliar,"ujar dia.

Meski begitu, ujar dia, jumlah ini dapat dikatakan sedikit karena legalisasi Rumah Amal masih dalam wilayah Jawa Barat. "Kami akan terus mengembangkan potensi zakat dari seluruh Indonesia, yakni misalnya bekerja sama dengan masjid kampus lainnya"ujar dia.

Lanjut Samsoe, alumni Masjid Salman yang multi kampus ini sering menjadi pioner dalam menggerakkan masjid kampus lainnya. Bahkan, beberapa tokoh nasional juga menggerakkan fungsi masjid di daerah juga baitul mal di lingkungannya masing-masing.

"Mereka rata-rata alumni yang tidak membawa-bawa nama Salman dalam setiap aktivitasnya,"ujar dia. Ia menyebut beberapa tokoh semisal Win Hartono, Didin Hafidudin, Imam Prasodjo, Hatta Rajasa, MS Kaban, dan Busro muqodas.

Salman yang sering dikenal dengan kaderisasinya yang kuat masih terus berbenah diri. Menurut Samsoe, fungsi dan peran Masjid Salman bisa jauh lebih besar dari capaian yang ada sekarang. "Alumni Salman itu ada di segala level begitu pula penyebaran wilayahnya. Jejaring inilah yang belum optimal. Pengaruh Masjid Salman belum luas. Padahal kader menyebar di seluruh dunia,"ujar dia.

Maka dari itu, perlu adanya introspeksi dan kerja sama dengan seluruh stakeholder, baik alumni Salman, juga masyarakat.  "Masjid Salman memang sering jadi pusat studi banding mulai pengkaderan sampai lembaga amil zakat.  Namun, perlu kepedulian lebih dari seluruh masyarakat dan orang di dalam Salman,"ujar dia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masjid Salman ITB, Nuansa Spiritual dan Intelektual Jadi Satu!!"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)